
Vesper mendatangi jeruji William dan menatapnya tajam.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Apa kau tak lihat bagaimana Boleslav mengakhiri hidupnya, hanya karena sebuah kesepakatan denganmu? Sebagai sesama lelaki? Ia bahkan merelakan nyawanya agar kau diberi kesempatan untuk memilih hidup seperti mimpimu dengan Sia saat itu, William," ucap Vesper tegas berdiri di hadapannya.
"What?" tanya William bingung.
Vesper tersenyum tipis. Ia mengeluarkan sebuah jam tangan dan menekan layarnya.
Terdengar, rekaman suara Vesper dan Sia, ketika Vesper memberikan sarannya pada Sia kala itu di Kastil Borka. Amanda bahkan sampai terkejut karena tak mengetahui hal ini.
"Aku ingin, kau menuruti semua permintaan Boleslav padamu, Sia. Ia ingin kau menggantikan kursinya 'kan? Turutilah. Kau bilang sendiri jika kau sangat menghormati dan menyayanginya melebihi ayah kandungmu sendiri, Julius Adam. Selagi kau masih ada di sisinya, sebelum impianmu untuk hidup bersama William terwujud, kabulkanlah permintaannya. Buatlah kenangan manis bersama Daddy-mu dengan setulus hatimu. Kau bisa?" tanya Vesper yang suaranya cukup santer terdengar.
Semua orang menatap Vesper seksama yang hanya menunjukkan wajah datarnya.
"Apakah ... jika aku melakukan hal itu, bisa membuat Daddy-ku bahagia, Nyonya Vesper?" tanya Sia yang terdengar ragu dengan saran Vesper barusan.
"Meskipun Daddy-mu terlihat menakutkan, tapi aku bisa melihat dari matanya ketika ia khawatir dengan keadaanmu. Aku yakin, tak ada satupun orang tua di dunia ini yang ingin melihat anaknya menderita. Kau bahkan bukan anak kandungnya, tapi ... kau lihat? Dia memberikan kursi dewan padamu termasuk sebagian asetnya. Itu bukan hal sepele, Sia. Ia tak memberikannya pada Jordan dan Jason yang jelas-jelas darah dagingnya, tapi padamu. Kenapa? Apa kau tahu alasannya?" tanya Vesper terdengar tegas.
"A-aku tak tahu."
"Karena ia menyayangimu. Ia percaya padamu. Kau harapan terbesarnya selain Jason dan Jordan."
Praktis, percakapan Vesper dan Sia membuat semua orang terkejut. William terlihat makin serius memikirkan semua hal yang didengarnya hari ini. Meski ia tak bisa mengingat satupun kenangan bersama Sia yang disebut sebagai isteri sahnya.
William yang menjadikan cincin pernikahan peninggalan dari ibunya itu sebuah liontin kalung, memandanginya lekat.
__ADS_1
"Aku yakin jika suatu saat nanti, Daddy dan Mommy akan mengerti dengan keputusanku."
"Ya, Sayang. Buatlah momen indah bersama keluarga mafiamu selagi masih ada waktu. Buatlah mereka bahagia dengan kau berada di sisinya. Karena setelah kau pergi bersama mimpimu, hal itu akan sangat mustahil bisa terjadi lagi. Kau akan dipaksa untuk membendung rasa rindu pada mereka dan hal itu sangat sulit karena hanya ada kau dan William saja. Kau harus merelakan keluarga mafiamu."
"Haruskah?"
"Keputusan ada di tanganmu. Mantabkan hatimu. William atau keluarga? Sekali kau pilih William, jangan mundur lagi, apapun yang terjadi. Meskipun keluargamu akan membencimu atau bahkan mencapmu sebagai penghianat," jawab Vesper tegas.
Semua pendengar tegang seketika. Amanda melirik sahabat wanitanya tajam. Vesper masih berdiri diam memperdengarkan rekaman dari jam tangan dalam genggamannya.
"Jika kau memilih keluarga mafiamu, lupakan William. Bunuh dia, selesaikan semua. Biarkan kematian menjadi penyesalan terbesar dalam hidupmu karena kau membunuh lelaki yang sangat kau cintai. Mungkin, kau tak akan pernah bisa mencintai lelaki lain seperti saat kau mencintai William," imbuh Vesper.
William shock akan pilihan yang Vesper berikan pada Sia. Jantung William kembali berdebar kencang.
"Namun, aku pastikan satu hal. Kau memilih William, para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads tak akan mengusik hidup kalian. Hanya saja, kalian bagaikan yatim piatu di dunia ini. Tak memiliki saudara, tak memiliki kerabat. Ketika kalian mengalami musibah, kalian harus menghadapinya berdua tanpa melibatkan keluarga mafiamu lagi. Kau akan hidup diantara orang-orang sipil dan hidup layaknya mereka," sambung Vesper menegaskan.
Semua orang dibuat mati penasaran akan lanjutan dari rekaman itu. Mereka menunggu jawaban dari Sia karena cukup lama tak terdengar suara darinya, hingga suara Vesper kembali muncul.
Jantung semua orang berdebar. William sampai mencengkeram kuat jeruji besi dalam jemarinya, ia sangat penasaran dengan keputusan Sia.
"William. Aku memilih William," jawabnya mantab.
Nafas William tersengal. Ia terlihat kaget dengan pilihan Sia yang merelakan keluarganya untuk memilih dirinya.
Amanda menundukkan wajah. Ia tak menyangka jika Sia lebih memilih William ketimbang keluarganya. Vesper mematikan perekam di jam tangan miliknya itu.
"Kau harus menghormati pilihannya, Amanda. Aku merasa, jika Boleslav tahu keinginan Sia. Seandainya kita bisa mengorek isi hatinya sebelum ia meninggal. Sayangnya, sampai hal itu terjadi, ia sudah memilih pergi dengan membuat kesepakatan bersama William," ucap Vesper menatap Amanda dan William bergantian.
__ADS_1
Dua orang itu terlihat lesu, duduk di kursi masing-masing. Buffalo dan lainnya yang ikut mendengarkan hanya bisa diam tak ikut campur urusan keluarga mereka.
"Sia sudah memutuskan, William. Kini giliranmu. Apakah usaha Sia selama ini akan sia-sia? Jika ya, segera selesaikan. Temui dia dan jelaskan semua jika kau tak bisa mewujudkan impiannya. Namun setelah itu, jangan pernah muncul lagi di hadapannya untuk selama-lamanya termasuk ketika anakmu lahir nanti. Kau, hanya akan menambah kepedihan dalam hidupnya," ucap Vesper yang praktis membuat mata William melebar.
Ucapan Vesper mirip dengan Boleslav saat itu. Vesper lalu meminta kepada Amanda pergi dari ruangan tersebut untuk beristirahat.
Mereka sengaja membiarkan William merenung di penjara yang dulu digunakan oleh Tora ketika ia pertama kali ditemukan.
William terlihat berpikir keras memikirkan semua ucapan yang ia dengarkan dan terekam jelas di kepalanya.
"Sia sangat mencintaiku ... Tessa. Apa dia sengaja menghapus semua ingatanku dan hanya menyisakan kenangan bersama orang tuaku? Pantas saja rasanya ... aku seperti melupakan banyak hal," ucap William dalam hati memandangi cincin pernikahan di telapak tangannya.
Malam itu, William sengaja dibiarkan untuk merenung memikirkan semua di sel. Amanda masih shock mendengar pengakuan anak perempuannya yang memilih untuk hidup bersama William ketimbang keluarga mafianya.
"Amanda. Kau harus menghargai keputusan anakmu. Dia mungkin sudah lelah. Dia trauma melihat banyaknya kematian di sekitarnya. Sia akan menjadi ibu, ia pasti tak ingin anaknya meneruskan jalan kelam ini. Seperti Theresia, ibumu yang menyembunyikan identitasnya karena tak ingin kau mengikutinya, tapi akhirnya ... semua terbongkar. Sia sudah berani mengambil langkah penuh resiko di hidupnya dan kita harus mendukungnya," ucap Vesper menasehati sahabatnya.
Amanda mengangguk mengerti meski tak dapat dipungkiri, ia akan kembali kehilangan setelah perginya Boleslav untuk selamanya.
"Ini sangat menyakitkan, Vesper. Hiks, aku kehilangan dua orang yang sangat penting di hidupku," ucap Amanda tak bisa menutupi kesedihannya lagi.
"Aku tahu. Namun, masih ada Jason dan Jordan yang membutuhkanmu. Sia sudah mengambil jalannya. Kita mungkin masih bisa mengawasinya diam-diam. Seperti saat dia bersama keluarganya dulu. Kulihat, kau bisa melewati masa sulit itu, Amanda. Kau wanita kuat baik fisik maupun mental. Jujur, kadang aku suka iri padamu," ucap Vesper memonyongkan bibir tiba-tiba.
Amanda tertegun mendengar pengakuan sahabat karibnya itu. Ia tak menyangka, seorang Vesper bisa iri padanya. Amanda mengangguk mengerti.
***
Wah, ada tips lagi. Makasih ya. Nah, mendekati publishnya 4YMS2 siapin mental! Karena nanti di 4YMS2 akan habis-habisan.
__ADS_1
Untuk dapet dobel eps di 4YMS2 tips koin tetep di SM dulu aja ya sampai nanti status novel SM End. Itu aja infonya dan tengkiyuw. Lele padamu.