
Di luar kasino tempat Axton menginap. Shamus yang dulunya mantan petinju itu mengawasi pergerakan di luar gedung untuk memberikan informasi dari hasil pantauannya.
"Blue eyes, over," ucapnya dari sambungan earphone di balik topi yang ia gunakan untuk menyamar.
"William, over."
"Limousine yang membawa Axton dan Nandra meninggalkan kasino. Aku akan mengikuti mereka," ucap Shamus melaporkan dimana ia mengendarai sebuah mobil Chevrolet lawas dan bergaya layaknya koboi sebagai penyamarannya.
"Roger that."
William memijat kepalanya saat melepaskan headphone yang terkoneksi dengan dua kawannya yang berada di lapangan.
Rahul terlihat panik dan mondar-mandir di dalam kamar melihat jasa pembersih mayat Vesper memasuki kasino dan membersihkan kekacauan yang terjadi di roof top dan lift.
Tiba-tiba, pintu kamar tempat Rahul menginap dibuka dan munculah Ace yang bertugas sebagai sniper.
Rahul yang marah itu menghampirinya dan mencengkeram kuat kerah jasnya. Semua orang terkejut seketika.
"Kau tak bisa diandalkan, Ace. Kau membiarkan buruanmu kabur," ucap Rahul geram menggertakkan giginya.
"Itu bukan salahku. Aku bahkan tak tahu jika ada pihak lain yang mengincar Axton," jawab Ace membela diri.
William segera berdiri mendatangi Rahul begitupula Rajesh.
"Seharusnya itu menjadi kesempatanmu untuk membunuh Axton. Kita dibantu pihak lain dan AKU TAK PEDULI MEREKA SIAPA! AXTON HARUS DILENYAPKAN DAN KAU MEMBUAT NANDRAKU JATUH DALAM PELUKANNYA! ARGGHHH!" teriak Rahul tiba-tiba mengamuk dan menghajar Ace.
Ia memukuli Ace membabi buta hingga Ace roboh dan meringkuk di atas lantai menutupi kepala dengan kedua tangannya karena Rahul menendangi dan menginjaknya dengan brutal.
William segera memegangi Rahul dan menariknya agar menjauh dari Ace yang sudah berdarah di wajahnya.
Rajesh ikut memegangi Rahul dan membawanya pergi dari ruangan itu.
"FVCK! FVCK! Axton membawa Nandraku! Kita harus menyelamatkan Nandra! Harus!" pekik Rahul dengan emosi meledak-ledak.
"Oke ... oke, calm down, Rahul. Aku menjanjikan padamu Nandra akan kembali pada kita. Tenanglah, sebaiknya kita fokus untuk segera pergi dari tempat ini begitu team dari Vesper sudah selesai bertugas. Jika kita keluar sekarang, akan menimbulkan kecurigaan," ucap William yang kini berjongkok di samping Ace.
Rahul mendengus keras dan bertolak pinggang. Ia terlihat frustasi akan misinya yang terbilang gagal ini.
Rajesh berdiri di samping Rahul menatapnya seksama seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Kau yang menyerahkan Nandramu pada Axton. Jangan salahkan orang lain atas keputusan bodohmu, Rahul," ucap Rajesh tajam dan sontak Rahul melotot padanya.
"Woah ... wah! Hahahaha ... wow! Kau berani mendekteku. Kau kini berani bicara seperti itu padaku, Rajesh. Apa karena kau tangan kanan kakakku? Hei, ingat. Kau itu hanya bodyguard. Bawahan. Pesuruh. Jamal tetap memihak padaku meski aku membuat kesalahan fatal sekalipun. Jadi, jangan mengguruiku dan menjauhlah dari hadapanku. Aku sedang benar-benar marah, jangan membuatku kesal, Ra-jesh," ucap Rahul penuh penekanan menunjuk dada Rajesh kuat hingga tubuh bodyguard Jamal itu terdorong.
Rajesh diam saja mencoba untuk tetap tenang tak terpancing emosi. Rajesh paham posisinya dan ucapan Rahul ada benarnya.
Meskipun Rahul melakukan kesalahan, Jamal akan tetap memihaknya. Hubungan persaudaraan dikalangan keluarga Khrisna begitu kuat.
Meskipun Rajesh sudah menjadi tangan kanan Jamal belasan tahun, tapi hal itu tak membuatnya mendapatkan posisi menguntungkan.
Rajesh mengangkat kedua tangan dengan wajah tertunduk. Ia mundur menjauh dan tak ingin bicara lagi.
William membangunkan Ace yang babak belur. Rahul berdiri dengan bertolak pinggang menatap dua orang Amerika itu seksama.
__ADS_1
Tiba-tiba, panggilan kembali masuk. Shamus memberikan informasi jika Axton akan terbang meninggalkan Las Vegas.
Menurut laporan dari jadwal penerbangan, Axton akan terbang ke Boston. William menyimpulkan jika Axton akan kembali ke mansion-nya.
"Sebaiknya kita bersiap. Axton kembali ke Boston. Ia membawa Nandra ke mansion-nya," ucap William melaporkan dan Rahul mengangguk paham dimana ia sudah mulai terlihat tenang.
William menatap Rahul seksama yang meminta kepada anak buahnya dan Rajesh untuk merapikan semua peralatan.
"Tuan Rahul. Kau masih menyimpan mobil Mustang itu 'kan? Bisakah kita pakai saat kita mendarat di Boston nanti?" tanya William serius.
"Huh, kau lupa? Itu adalah mobilku, William. Kau bisa mengendarainya saat aku mengizinkannya. Kau tak bisa memakainya sesuka hatimu. Haruskah posisimu juga kuperjelas?" ucap Rahul terkekeh dengan tatapan menghina William.
William diam saja menatap Rahul dengan tenang.
"Kau itu hanya bodyguard. Pesuruh sekaligus pelindungku. Jangan berlagak," ucap Rahul menekankan dan pergi dari hadapan William menuju ke kamar yang terkoneksi dengan ruangan yang dipakai untuk pengamatan.
"Kita akan terbang besok. Aku terlalu lelah untuk pergi lagi," ucap Rahul sembari berjalan memunggungi semua orang.
William dan lainnya hanya menghela nafas. Ace yang kesakitan itu segera diobati oleh William.
Rajesh mendekati William dan ikut duduk di samping Ace. William meliriknya dalam diam.
"Kita harus menyelamatkan Nandra, William. Kalian berdua mungkin tak tahu. Namun, Nandra itu salah satu calon isteri Rahul. Ada hubungan bisnis dalam keluarga mafia antara Tuan Raja Khrisna dengan keluarga Khan. Jika Nandra sampai terluka dan hal buruk terjadi padanya, hubungan kerjasama bisa hancur. Itu akan membuat petaka dan nyawa kita akan terancam," ucap Rajesh menjelasakan yang terlihat tertekan akan hal ini.
William dan Ace tertegun mendengar hal itu karena mereka memang tak tahu.
William tak habis pikir dengan sikap Rahul yang menjadikan Nandra sebagai umpan dan memperlakukannya seperti wanita simpanan, bukan layaknya seperti calon isteri.
Namun, William tak mau memikirkan hal itu. Ia kini malah terjebak dalam dunia mafia yang rumit.
Jamal, Rahul dan Rohan yang sampai kini ia belum berjumpa dengan sosok lelaki India itu akan menjadi mangsa empuk agent muda itu.
Semua orang beristirahat di kasino malam itu. William yang penasaran akan sniper yang mencoba membunuh Axton mencoba mendatangi TKP di roof top untuk mencari tahu.
Ia melihat sekeliling dimana ia ingat betul dimana posisi Axton dan Nandra duduk semalam.
Sebuah pot yang pecah dan bodyguard Axton yang tewas, terekam jelas di otaknya. William mencoba merekayasa ulang kejadian.
Meskipun lokasi sudah dibersihkan, tapi kemampuan William menganalisa situasi pasca kejadian membuatnya semakin bersemangat untuk mengungkap kasus ini.
William duduk di kursi tempat bodyguard Axton kehilangan nyawa dan membalik tubuhnya dimana lelaki itu tewas tepat di tengkuknya.
William meneropong untuk mencari sudut pandang dimana sniper itu berada saat penembakan.
William melihat sebuah gedung yang lebih tinggi dari kasino tersebut. Ia menandai gedung itu dalam ingatannya.
William lalu beranjak dari tempatnya duduk dan menghampiri pot yang pecah meski serpihannya sudah dibereskan.
William berjongkok dan kembali meneropong dari tempat pot tersebut pecah.
William menyipitkan mata dan kembali menerpong dimana matanya kembali tertuju pada gedung di seberang roof top tersebut.
Ia juga menengok ke arah gedung tempat Ace membidik. William merasa jika sniper tersebut sudah tiba lebih dulu ketimbang Ace. Ia memang mengincar Axton.
__ADS_1
Saat William akan turun melalui tangga darurat, ia terkejut saat Rajesh ternyata mengikuti dan mengawasi gerak-geriknya sedari tadi. William dan Rajesh saling bertetapan tajam.
"Apa yang kau temukan?" tanya Rajesh penasaran.
William lega karena Rajesh seperti berpihak padanya kali ini. William membalik tubuhnya dan menunjuk sebuah kasino di seberang kasino tempat mereka menginap.
Rajesh mengikuti arah telunjuk William dan mengangguk paham.
"Baiklah. Kita ke sana," ucap Rajesh yang mengajak kerjasama.
William keluar dari kasino bersama dengan Rajesh menuju ke gedung tersebut tanpa penyamaran kali ini.
Mereka menaiki lift menuju ke lantai yang sejajar dengan roof top kasino tempat Axton diserang.
Saat William mencoba mencari jalan untuk bisa mengintip dari salah satu kamar yang dicurigainya, tiba-tiba sebuah pintu kamar terbuka.
William dan Rajesh terkejut karena koridor itu sangat sepi. Mereka berdua segera bersembunyi di balik dinding dan berjongkok.
William menutupi dirinya pada sebuah pot besar yang ada di sana dan Rajesh berlindung di balik dorongan rak stainless yang diletakkan begitu saja oleh petugas house keeping di koridor.
Seorang lelaki berjas dan berambut rapi melewati koridor sembari menggendong sebuah tas punggung panjang berwarna hitam.
Menggunakan sarung tangan dan memakai sepatu boots ala militer. Mata William melebar seketika. Ia mengenali lelaki itu.
Lelaki yang memintanya untuk bergabung saat di pantai. William kabur dari kejaran komplotannya hingga akhirnya ia bertemu dengan Rahul.
Lelaki itu memasuki pintu lift dan turun ke lantai dasar. William segera keluar dari persembunyiannya dan berusaha mengejar lelaki itu dengan menuruni tangga darurat.
Rajesh kebingungan dan ikut mengejar William, meski ia tak tahu apa yang terjadi.
"Will! Will! Ada apa?" tanya Rajesh sambil berlari menuruni tangga.
"Kau ingat wajah lelaki yang melintasi kita tadi? Ikuti dia, jangan sampai kehilangan jejak," jawab William sambil menuruni tangga dengan tergesa.
Rajesh mengangguk hingga akhirnya mereka tiba di lantai dasar dan kini sibuk mencari keberadaan lelaki berpenampilan rapi tersebut.
"Will, di sana!" pekik Rajesh menunjuk lelaki berjas itu memasuki mobil van hitam yang sudah menjemputnya.
William segera mengeluarkan ponselnya dan berlari mengejar mobil itu.
Ia merekam plat mobil tersebut saat ia tahu jika tak mungkin bisa mengejarnya. Mobil itu melaju pesat dan menghilang dari pandangan mereka dalam hitungan detik.
Rajesh dan William ngos-ngosan di pinggir jalan. William melihat ponselnya kembali dan mengecek hasil rekamannya.
Rajesh mendekatinya dan ikut menonton. William terheran-heran karena mobil itu tak terlihat nomor platnya dan hanya sebuah simbol terpampang ditengah plat itu.
William dan Rajesh saling memandang. Rajesh menggeleng tanda ia tak tahu tentang logo itu.
William memejamkan mata mencoba untuk berpikir. Ia tahu kemana harus mencari informasi tentang logo tersebut, hanya saja ia harus menyingkirkan Rajesh agar tak mengikutinya.
William menatap Rajesh yang berdiri di depannya dimana ia sedang mengelap keningnya yang berkeringat dan tak sadar jika William mengamati gerak-geriknya.
-----
__ADS_1
yg belom rate bintang 5 boleh loh berikan ratemu sekali seumur idup utk novel ini biar lele mkin semangat upnyaš tengkiyuwš