Secret Mission

Secret Mission
Tak Bisa Ditolong


__ADS_3

Daniel waspada seketika dengan ikut menodongkan pistol ke arah William begitupula Arthur.


Boleslav diam saja di kursi kayunya dengan tongkat beruang dalam genggaman tangan kanan. Ia masih menatap William tajam yang juga ikut memandanginya tanpa rasa takut.


Cecil menarik baju Yuri seperti membisikkan sesuatu padanya. Yuri mendekatkan wajahnya dan mengangguk paham.


"Cecil ... Sir!" panggil Maksim panik saat Cecil mulai terlihat memejamkan mata.


"Hei! Berani pergi dari tempat ini, aku tak segan menembakmu juga, Big guy," ucap William mengarahkan pistol ke tubuh Maksim.


"William! Cecil selama ini melindungimu!" teriak Maksim kesal.


"Ya. Memang itulah tugasnya, sebagai pelindungku. Apa kau tak ingat yang kukatakan? Cecil juga salah satu targetku. Jadi, satu mangsaku sudah berhasil kulenyapkan lagi. Baguslah dan kini tinggal kau, Tuan Antony Boleslav," jawab William dengan seringainya tanpa merasa bersalah.


"Jadi ... lepaskan kalung di leherku. Keluarkan aku dari tempat bodoh ini lalu aku akan menembakmu. Mudah 'kan?" ucapnya santai.


Nafas semua orang menderu karena sikap William sungguh menjengkelkan. Boleslav masih terlihat tenang menanggapi ancaman menantunya itu.


"Bisakah kau menjanjikan satu hal padaku, William, jika aku melakukan semua yang kau minta? Janji sebagai seorang lelaki bukan karena kau mengabdi pada The Circle," ucap Boleslav terlihat serius.


"Sir!" sela Arthur, tapi Boleslav tak menggubrisnya.


"Kau, diam!" teriaknya menunjuk Arthur. "Oke. Sesama pria. Baiklah, apa itu?" tanya William terlihat serius.


"Kulihat kau tak bisa disembuhkan ... saat kau bertemu Sia nanti, tolong bersikap baiklah padanya meskipun itu hanya pura-pura."


William tertegun begitupula semua orang.


"Tuan ...," sela Daniel menatap majikannya tajam.


Boleslav meminta Daniel untuk diam tak ikut campur dan asisten kepercayaan mantan anggota dewan itupun mengangguk pelan meski terlihat terpaksa.


"Itu mudah," jawab William tersenyum licik.


"Jangan menyakitinya karena Sia mengandung anak kalian berdua. Jangan sakiti anak itu, bagaimanapun ... dia anak kandungmu."

__ADS_1


William terdiam dan tetap menatap Boleslav tajam. Entah kenapa, ucapan Boleslav malah membuat sesak dada semua orang yang mendengar.


"Jika kau tak bisa hidup bersama Sia dan anakmu, pergilah dengan cara baik-baik. Kau bisa minta tolong pada Daniel, Maksim atau Yuri untuk membuat kau seolah-olah mati, tapi setelah itu, jangan pernah muncul lagi di hadapan Sia dan anakmu untuk selama-lamanya," ucap Boleslav dengan suara mulai bergetar.


William terdiam di tempatnya duduk tak menjawab. Ia terlihat memikirkan ucapan Boleslav dengan serius.


"APA KAU BISA MENJANJIKAN HAL ITU PADAKU, WILLIAM TOLYA?!" teriak Boleslav yang mengejutkan semua orang karena tiba-tiba suaranya menggelegar di ruangan.


William mengangguk pelan dengan jantung berdebar.


"Daniel, Maksim, Arthur dan Yuri saksinya, William Tolya. Apa yang terjadi di ruangan ini semuanya telah direkam. Tak menyadarinya, huh? Kau lengah," ucap Boleslav menyindir dan mata William melebar seketika, mencari kamera tersembunyi yang ternyata ada di balik proyektor yang terpasang di atap ruangan. Nafas William menderu.


"Jika kau melanggar, jangan harap, hidupmu akan damai, William. Akan kupastikan, kau mati dengan mengenaskan bahkan mayatmu tak akan ditemukan. Tak ada yang akan menangisi kematianmu yang sesungguhnya karena kau adalah sebuah ... aib."


William menatap Boleslav dengan wajah bengis terlihat begitu marah dengan ucapannya.


Namun, semua orang terkejut ketika Boleslav tiba-tiba berdiri dan mendatangi jeruji besi dengan tergopoh.


Daniel dan Arthur panik. Saat mereka berdua berusaha untuk menolong Tuannya, Boleslav melarang.


Cecil yang telah tewas di pangkuan Yuri dan Maksim membuat dua pria bertubuh besar itu meletakkan jasadnya perlahan di lantai lalu ikut berdiri.


"Kemarilah. Aku lepaskan kalung pemenggal di lehermu, sesuai permintaanmu. Maaf, saat kau dulu begitu baik pada Sia dan keluargaku, aku tak pernah menganggapmu hingga kau menjadi seperti ini. Aku minta maaf, William. Aku bersungguh-sungguh mengatakannya," ucap Boleslav mengulurkan kedua tangan bahkan membiarkan tongkat kepala beruangnya jatuh.


Maksim, Yuri, Arthur dan Daniel terkejut. William masih mengarahkan pistolnya ke tubuh Boleslav saat ia berjalan mendekatinya.


"Tuan, jangan!" teriak Arthur panik karena Boleslav tetap berdiri di depan jeruji bahkan kedua tangannya telah masuk ke dalam celah.


William berdiri tepat di hadapan mantan ketua anggota dewan tersebut. William terlihat gugup saat mendekatkan kalungnya ke dua tangan Boleslav yang kini ada di kanan kirinya.


"Aku akan menembakmu setelah kalung ini terlepas, Boleslav. Itu kesepakatannya," ucap William menatapnya tajam.


"Aku tahu, aku tak sepikun itu."


"Tuan! Jangan!" teriak Daniel panik dengan pistol masih ia arahkan ke tubuh William di kejauhan.

__ADS_1


William dan Boleslav saling bertatapan tajam. Boleslav meletakkan kesepuluh jarinya di sekitar besi yang melingkar di leher William.


Semua orang tegang seketika. William bisa merasakan jika Boleslav menekan kesepuluh jarinya bersamaan.


"MISKHA. THANK YOU."


KLEK!!


William tertegun saat menyadari jika password untuk membuka kalung pemenggal itu adalah nama ayahnya.


Boleslav tersenyum saat mengambil besi dari kalung tersebut dalam genggamannya perlahan.


"Aku ... akan sampaikan pada ayah dan ibumu jika kau tumbuh menjadi lelaki kuat, William. Jangan khawatir, aku tak akan mengatakan apapun tentang kejahatanmu selama ini. Aku pastikan, mereka akan bangga padamu, Son. Jaga Sia baik-baik dan katakan, aku sangat menyayanginya," ucap Boleslav menepuk pipi William dengan tangan besarnya.


DOR! DOR! DOR!


"TUAN!!"


BRUKK!!


William terkejut dan matanya terbelalak seketika saat melihat Boleslav roboh di hadapannya, tergeletak dengan mata terbuka, tewas di hadapannya.


"NO!! MR. ANTONY!!" teriak Daniel dengan air mata langsung lolos begitu saja saat melihat Tuan besarnya tewas karena menembak dirinya sendiri dengan pistol dalam genggaman William.


William ikut berlinang air mata. Pistolnya terjatuh begitu saja dari genggamannya. Ia melihat Boleslav langsung dikerbungi semua orang bahkan banyak orang masuk ke dalam ruangan untuk menolongnya.


William meneteskan air mata tanpa ia sadari. Rasa sesak menyelimuti hatinya. Semuanya terasa begitu tak masuk akal di pikirannya.


Ia melihat Boleslav di bawa keluar ruangan bersama Cecil yang juga tewas karenanya.


William membalik tubuhnya dan kini berjalan gontai mendekati ranjang, duduk di sana sembari memegangi kepalanya dengan rasa sesak di dada.


"Apa yang sudah kulakukan?"


***

__ADS_1


Khusus eps kali ini, lele gak mau balesin komen. Lele nangis. Huhu, maaf bang Tony, tapi ... memang beginilah alur ceritanya. Maaf semua reader. Lele padamu. Makasih juga tips koinnya, besok masih dobel eps ya. Lele mau berkabung dulu.



__ADS_2