
Diolokin bukan krn typo naskah tapi karena lupa hari. Kwkwkwkw. Lupa sumpah😆
Efek ngantuk tak tertahankan.
Smlm bs up naskah meski di timer publish jm7 pagi udh alhamdulilah bgt itu.
Sampe hp tau2 mati sdri pdhl lagi parkun (parkir akun) di room gegara kehabisan batre.
Paling anak2 di room pada batin Aju ilang gak pamitan. Maaf ya😁
Baiklah ditunggu vote kopinya biar lele kembali melek meski aslinya udh minum kopi tetep aja ngantuk😅
Selamat hari minggu~
---- back to Story :
Keesokan harinya, sesuai jadwal. Jordan dan lainnya pergi meninggalkan Guatemala menuju ke Rusia, Kastil Krasnoyarsk.
Namun, bagi Jack, Catherine dan Ara malah terlihat menikmati penerbangan panjang itu.
Mereka tak merasa seperti tahanan. Ketiganya diperlakukan sama layaknya para mafia yang duduk di sekitar mereka dengan kesibukan masing-masing.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Kalian tak takut dengan kami? Bagaimanapun, kami orang CIA," tanya Catherine dengan BinBin duduk di depannya sembari membaca majalah fashion.
"Heh, CIA. Apa kalian tak ingat jika aku dulunya orang militer? Kehidupanku setelah memilih jalan mafia hampir tak ada bedanya saat bergabung dengan militer. Malah, hidupku sekarang lebih santai, gaji lebih besar, jam kerja sesuai dengan permintaanku dan laporan utamaku hanya kepada Vesper. Ibarat langsung kepada Presiden. Jangan bandingkan bekerja dengan Pemerintah yang memiliki pemimpin berlapis, pesan berantai untuk sampai ke atasan tertinggi kadang sudah dimanipulasi, tak akurat lagi. Sedang kami, berbeda," jawab BinBin panjang lebar terlihat santai.
"Kudengar Vesper sangat kejam. Kalian tak takut dengannya?" tanya Ara semakin penasaran.
"Memang dia sangat kejam, tapi itu pun jika dia dan orang-orang dalam jajarannya diusik. Kalian bisa lihat sendiri selama bersama kami beberapa hari ini. Apa kami melakukan hal-hal yang membahayakan dunia? Kami tak melakukan apapun. Kami sedang bersantai tau-tau diserang. Jika seperti itu kondisinya, wajar jika kami marah dan membalas. Apa kau paham yang kukatakan?" jawab BinBin lagi seperti juru bicara dari para mafia yang berada di pesawat.
Jack, Ara dan Catherine mengangguk setuju. Mereka merasa yang dikatakan oleh BinBin ada benarnya.
Mereka diselamatkan, difasilitasi bahkan dilindungi. Semua kabar dari agensi yang mereka terima tentang para mafia seperti sebuah kesalahan.
"Lalu bagaimana dengan para teror*s yang melakukan penyerangan pada suatu negara? Mengancam dengan nuklir mereka yang akan membumi hanguskan, mengambil suatu wilayah bahkan penyebaran virus hingga membunuh jutaan orang?" tanya Jack penuh selidik.
BinBin menutup majalahnya.
"Itu bukan orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads. Sejak dulu, tak ada satupun keinginan dari para pemimpin dewan yang ingin menjadi presiden atau penguasa tunggal. Mengurus kekaisaran mafia kami sendiri saja sudah kerepotan, apalagi harus menjadi pemimpin negara yang selalu terlibat politik dengan beberapa negara lainnya. 13 Demon Heads ibarat pemerintahan kecil yang menaungi segala jenis kegiatan ilegal di seluruh dunia. Jika sampai ada nuklir meluncur dan kejahatan ekstrim lainnya, itu ulah dari pemerintahan negara itu sendiri. Ambisi haus kekuasaan dan ingin membuktikan dirinya yang terkuat, tapi melibatkan seluruh penduduknya. Sangat egois dan tak bertanggungjawab. Kalian sendiri yang merusak kedamaian itu, tapi kami yang disalahkan. Jikapun kami ingin menghancurkan sesuatu hingga ke akarnya, kami akan langsung melenyapkan yang bersangkutan. Lebih cepatnya, langsung bunuh Presiden tersebut."
Praktis, tiga orang CIA itu tersentak hingga tubuh mereka terperanjat dari dudukan kursi pesawat.
BinBin terkekeh melihat ekspresi Ara, Jack dan Catherine yang sampai melotot terlihat takut. Para anggota mafia lainnya memilih diam dan tetap sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Jack, Ara dan Catherine saling berpandangan entah apa yang mereka pikiran. Mereka langsung diam tak lagi bertanya.
Di sisi lain, tempat William berada.
"Kita tak bisa berlama-lama di tempat ini. Aku yakin jika orang-orang 13 Demon Heads mencari keberadaan William," ucap Tessa terlihat repot dengan beberapa barang siap untuk dipindahkan lagi dalam truk besar.
__ADS_1
Black, lelaki bertato mengangguk setuju. Saat orang-orang terlihat sibuk dengan urusan kepindahan mereka yang dijadwalkan akan meninggalkan Belize malam hari, tiba-tiba sebuah helikopter memasuki pintu palka super besar dengan landasan heli di dalamnya.
Tessa dan orang-orangnya menoleh seketika. Black mendekati helikopter setelah mesinnya di matikan dan baling-balingnya tak berputar lagi.
"Hem, langsung saja, Blacky. Aku tau kau mencariku. Ada perlu apa?" tanya Tobias sembari menyalakan rokok di apitan bibirnya.
"Nona Tessa meminta kaki robot milikmu untuk dipakai oleh budak barunya, William," jawab Black cepat.
Tobias melirik Tessa yang berdiri di kejauhan enggan berdekatan dengannya. Tobias tersenyum miring.
"Kau menginginkannya? Kemarilah, aku ingin kau yang memintanya sendiri padaku," ucap Tobias sengaja bersuara lantang agar Tessa mendengarnya.
Tessa masih memalingkan wajah enggan bicara.
"Kau menolak, aku tak bisa menjamin keselamatan King D," ucap Black yang praktis membuat mata Tobias melotot tajam padanya.
"Berani menyentuh anakku atau sampai dia menangis, aku pastikan, kau akan menjadi tengkorak sungguhan, Blacky. Jangan berani mengancamku," tegas Tobias menunjuknya dengan bara rokok diarahkan ke wajahnya.
Black diam. Tessa mendengus keras, tapi pada akhirnya dia berjalan mendekati Tobias dengan wajah kesal. Tobias tersenyum licik.
"Sayangnya kaki itu tak ada di sini, Tessa sayang. Kau harus ikut denganku untuk mengambilnya," ucap Tobias dengan senyum penuh maksud.
Nafas Tessa menderu, ia terlihat marah, tapi pada akhirnya menurut. Dengan gusar, Tessa masuk ke helikopter Tobias dan duduk di sana.
"Black, urus semuanya dan temui aku di Cuba," perintah Tessa sebal dengan wajah ditekuk.
Tobias tersenyum lebar. Ia berjalan dengan gaya tengilnya menuju ke helikopter ditatap semua orang tanpa ada satupun yang berani mengarahkan senjata ke lelaki bertato tersebut.
Padahal Tobias bertelanjang dada dan hanya mengenakan jas menutupi tubuh bagian atas serta celana kain dan sepatu fantovel.
Anak buah Tessa menutup pintu helikopter dan membiarkan Tobias pergi membawa Tuan mereka. Black berdiri diam melihat benda terbang itu meninggalkan markas.
Black berjalan perlahan mendekati William yang masih memejamkan mata, tertidur dalam mimpi ilusi buatan tim dokter Tessa.
William dipakaikan sebuah benda terbuat dari besi berwarna silver yang mengikat kepalanya dengan beberapa lampu berwarna biru di sekelilingnya, menandakan benda tersebut sedang bekerja.
"Segera masukkan dia ke dalam peti dan pastikan William tetap tertidur sampai kita tiba di pulau," tegas Black dan orang-orang berpakaian putih No Face mengangguk paham.
Akhirnya, malam itu. Tubuh William yang disembunyikan dalam sebuah peti mayat siap diseberangkan dari Belize menuju ke Isla de la Juventud, Cuba.
Selama penerbangan dengan helikopter, Tessa hanya menunjukkan wajah masam di depan Tobias.
Lelaki bertato itu tahu jika perempuan cantik di depannya ini tak menyukainya malah sangat membencinya.
Namun, bagi Tobias, semakin ia dibenci, ia malah makin bersemangat.
"Kau berani mengancamku menggunakan King D. Kau benar-benar membuat kesalahan yang sangat besar, Tessa. Ingat posisimu," ucap Tobias dengan rokok dalam apitan jemari, duduk dengan kaki menyilang menatap Tessa seksama.
Tessa diam saja tak menjawab. Wajah sebalnya berubah seperti ketakutan akan ucapan Tobias barusan.
"Kau tak akan kulepaskan sampai aku memutuskan kau boleh pergi," ucapnya lalu melemparkan putung rokok keluar jendela helikopter ke lautan di mana terlihat sebuah yacht mewah dengan landasan heli di sana.
__ADS_1
Tessa terlihat tertekan, tapi tak bisa menjawab. Tobias tersenyum licik. Helikopter mendarat dengan mulus di landasan helipad.
Terlihat beberapa lelaki sudah menunggu kedatangan mereka berdua di sana. Tessa seperti kehilangan kekuasaannya di hadapan Tobias. Ia mengikuti kemanapun Tobias melangkah dan kini berakhir di kamarnya.
Tiba-tiba, terdengar suara dering telepon dari kamar yang kini di tempati Tobias dan Tessa dalam yacht mewah tersebut.
"Yes," jawab Tobias yang kini hanya mengenakan celana boxer-nya saja dan Tessa yang menutupi tubuh polosnya di atas ranjang.
"Para gagak itu bergerak. Yes kabur setelah kalah bertempur dengan orang-orang 13 Demon Heads. Dan ...," ucap pion Damian menggantung.
"Dan apa?"
"Sepertinya Lysa menemukan akses menuju ke Belize," jawab Damian melanjutkan.
Tobias diam sejenak.
"Biarkan King D menemui ibunya dan jangan lupa sisipkan surat di dalam tasnya," jawab Tobias terlihat serius. Tessa diam saja mendengarkan.
"Oke."
Tobias menutup panggilan telepon dan kembali berjalan mendatangi Tessa. Wanita berambut pirang itu gugup saat Tobias memberikannya kode untuk melakukan sesuatu.
Tessa merangkak mendekati Tobias dan kini duduk bersimpuh di hadapannya. Lelaki bertato itu diam saja sembari mengambil botol wine dan meneguknya langsung.
Tessa menurunkan boxer Tuannya dengan canggung. Tobias menuangkan wine ke batang keperkasaannya dengan senyum licik hingga miliknya dimandikan cairan memabukkan itu.
"Jika sampai kau gagal memuaskanku, jangan harap kau bisa mendapatkan kaki robot dariku," ucap Tobias menunjuknya penuh penekanan.
Tessa menarik nafas dalam dan mengangguk. Ia memegang pinggul Tobias dan mulai memanjakan kejantanannya di mulutnya.
Tobias menunjukkan wajah tanpa ekspresi saat Tessa berusaha memuaskan lelaki bertato itu. Tobias terus meneguk wine dari botol bahkan hampir habis.
PRANG!!
Tessa terkejut dan langsung melepaskan kulu*annya menatap Tobias dengan gugup.
"Agh! Aku bosan! Dasar tidak berguna! Pergi dariku!" pekik Tobias kesal mendorong bahu Tessa kuat hingga wanita cantik itu jatuh tersungkur di atas ranjang tanpa selimut menutupi tubuh polosnya.
"Keluar!" teriak Tobias dengan mata melotot menunjuk pintu.
Tessa segera meraih selimut di atas ranjang dan menutupi tubuh indahnya. Ia bergegas keluar kamar dengan tergesa.
Nafas Tobias menderu. Ia begitu marah karena Tessa tak bisa memuaskannya. Tobias menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dengan tubuh tengkurap tak melakukan apapun.
Perlahan Tobias mengangkat wajahnya dan merayap mendekati laci samping ranjang. Ia membuka salah satu laci tersebut dan mengambil sebuah bingkai foto.
Tobias memandangi foto di dalamnya dan mendekapnya, menjadikan teman tidur hingga ia memejamkan mata tertidur pulas.
***
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE