
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
------ back to Story :
Hari itu, William usai sarapan sudah terlihat siap untuk memulai bekerja. Namun, lelaki bermata biru itu terlihat gugup saat membawa mobil Sia sendirian.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Hehe, kau kenapa, Sayang?" tanya Sia terkekeh saat melongok di bingkai jendela mobil dan melihat suaminya gelisah memainkan stir.
"Aku ... bagaimana jika aku membuat kesalahan?"
Sia tertawa. "Kau bosnya. Jika sampai membuat kesalahan, anak buahmu pasti hanya bisa diam dan memakluminya," jawab Sia santai.
"Aku tak mau menjadi bos yang seperti itu. Huff," desahnya terlihat tak yakin akan kemampuannya.
Sia meraih kepala belakang William dan mendekatkan ke wajahnya. Sia mencium bibir suaminya lembut dan William balas mencium sang isteri tercinta.
"Kau akan baik-baik saja. Kau belum terbiasa saja dengan keadaanmu yang sekarang. Mereka pasti akan menolongmu. Dan ingat, tak perlu kerja lembur. Awas saja sampai pulang terlalu malam. Akan kusegel bengkelmu," ucap Sia mengancam, tapi membuat William tertawa.
"Yes, Mam!" jawabnya mantab sembari hormat. Sia tersenyum dan melambaikan tangan ketika William melaju mobilnya keluar dari halaman mansion.
Sia masih berdiri di teras menatap kepergian suaminya dan perlahan senyumnya meredup.
"Kami akan mengawasinya, Nona Sia. Anda jangan khawatir," ucap P-807 mendatanginya dan berdiri di sampingnya.
"Terima kasih. Aku sangat mengandalkan bantuan kalian. Oia, aku ingin berkunjung ke perusahaan asuransi ayahku. Hanya saja, aku tak yakin karena sebentar lagi akan melahirkan," ucap Sia menoleh ke salah satu bodyguard-nya.
"Demi keselamatan Anda, sebaiknya tetap dilakukan secara virtual saja. Anda memiliki banyak orang kepercayaan, Nona Sia. Jika mereka bisa melakukannya, kenapa Anda harus turun tangan langsung?"
Sia tersenyum dan mengangguk setuju. Sia pamit masuk ke dalam untuk menyelesaikan mendekor kamar untuk calon buah hatinya.
Namun, Sia terkejut. Ternyata William telah merampungkannya.
"Ia pasti begadang semalaman. Oh, ini indah sekali," ucap Sia tersenyum melihat ruangan yang telah dihias oleh William saat ia tertidur lelap semalam.
Sia memegang box bayinya dengan penuh rasa haru. Ia memejamkan mata sembari menghapus air matanya.
Ia teringat akan kebaikan Boleslav yang bahkan memberikan mansion-nya di Los Angeles untuk dirinya.
__ADS_1
Sia mengintip ruangan yang telah disulap oleh William. Sia tak menyangka jika suaminya merelakan almarinya untuk pakaian anak perempuannya nanti dan memindahkan koleksinya ke satu lemari pakaian dengannya.
Sia tersenyum penuh haru. Ia tak ingin banyak menangis karena kebahagiaan yang akhirnya bisa ia rasakan setelah cukup lama hidup dalam tekanan sejak bersama mendiang Julius Adam dan keluarga mafianya.
Saat Sia berjalan di koridor menuju ke ruang kerja, ponselnya berdering. Sia tersenyum ketika mendapati Jordan meneleponnya, tak seperti biasa.
"Yes, Jordan. Bagaimana keadaanmu?" tanya Sia ramah sembari membuka pintu ruang kerja.
"Buruk. Kak, aku sudah tahu semua. Kematian daddy, itu semua karena William. Dia membuat daddy bunuh diri. Aku meminta izin untuk membunuhnya."
Sontak, mata Sia melebar seketika. Tubuhnya mematung dengan pandangan tak menentu. Tangannya gemetar, hingga ponselnya terlepas dari genggamannya. Sia merasa kesulitan bernafas seketika.
Sia baru menyadari perbuatannya. Saat ia mengambil ponselnya lagi dengan susah payah yang jatuh di samping kakinya, Jordan telah memutus panggilan itu. Sia langsung keluar ruangan dengan jalan tergopoh.
"He-help! Help!" teriaknya lantang dengan mata berlinang menyender ke dinding karena kakinya terasa lunglai seketika.
"Nona Sia!" panggil salah satu penjaga yang mendatanginya dengan panik saat melintasi persimpangan koridor.
Dua lelaki dengan pakaian layaknya bodyguard serba hitam, segera mendatangi Sia dan memegangi tubuhnya yang hampir jatuh karena shock.
"Anda kenapa? Apa sudah waktunya melahirkan?" tanya penjaga itu cemas.
"Ada apa?" tanya P-807 bergegas mendekat setelah melihat dari pantauan CCTV.
"P ... hiks, P, Jordan ... hiks, Jordan akan membunuh William. Tolong," pintanya sedih memegang kedua lengan pria tersebut.
Mata P-807 berikut dua bodyguard itu melebar seketika. P-807 mengangguk paham dan segera berlari sembari menghubungi seseorang dari ponsel di saku celananya.
"Hallo! Maaf, Nyonya Verda. Bisa kau jelaskan padaku apa yang terjadi dengan Jordan di Camp Militer?" tanya P-807 tegang sembari terus berjalan ke pusat kendali.
"Jordan kabur dari Camp! Kami sedang mencarinya. Kami juga belum tahu alasannya, tapi pasti ada hal yang begitu mendesak hingga ia nekat," jawabnya terdengar panik.
"Terima kasih atas informasinya. Akan aku selidiki lebih lanjut," jawab P-807 sembari masuk ke pusat kendali.
Semua petugas di ruangan itu langsung menatap P-807 tajam yang berdiri di balik pintu.
"Laksanakan protokol Evacuate! Amankan William!" pekiknya lantang.
Semua orang langsung bersiaga dan menghubungi petugas di bengkel. Tentu saja, Rohan yang mendapat kabar itu kaget bukan main. Ia segera melaksanakan protokol ancaman itu.
Rohan menghubungi Sia karena petugas mansion mengabarkan jika kabar ancaman itu datang darinya.
__ADS_1
Rohan dan semua orang di bengkel bersiaga di mana William terlihat serius dalam melakukan pekerjaannya dibantu oleh Black Armys level M yang memakai seragam pegawai bengkel.
"Sia?"
"Hiks, Rohan. Tolong jaga suamiku, aku sangat takut," jawabnya sedih dari sambungan telepon.
"Ada apa? Siapa yang melakukan ancaman?" tanya Rohan tegang seketika.
"Hiks, Jordan. Dia ... dia bilang jika William penyebab matinya Boleslav. Aku tak tahu apa yang terjadi. Aku tak tahu, Jordan mendapat informasi mengerikan seperti itu dari siapa? Aku takut jika ia sengaja dihasut oleh seseorang. Tolong hentikan dia, Rohan, kumohon," ucap Sia terdengar begitu cemas.
"Baik, aku mengerti. Kau sebaiknya mencoba mencari tahu kebenaran berita itu. Kami sudah bersiaga akan segala kemungkinan terburuk," jawab Rohan mencoba menenangkan dan segera menutup telepon.
"Kabar itu benar?" tanya Balraj ikut menyimak. Rohan mengangguk.
Balraj segera turun ke bawah dan terus mendampingi William. Semua CCTV mengawasi seluruh pergerakan di bengkel itu.
Waktu terus berjalan hingga waktunya bengkel akan tutup. Semua orang tetap siaga akan kedatangan Jordan yang bisa muncul kapan saja.
Namun, Rohan merasa jika itu hanya gertakan Jordan saja meski tak dapat dipungkiri, ancamannya membuat semua orang panik seketika mengingat sosok anak Boleslav itu memang terkenal keji tak memilki belas kasih.
"Will, pulanglah. Kau bisa melanjutkan besok lagi," ucap Rohan mendekati William yang terlihat masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Oh, oke. Aku sampai lupa waktu. Aku juga berjanji kepada Sia untuk pulang tak larut malam. Terima kasih sudah mengingatkan, Rohan," jawab William sembari mengelap kedua tangannya dengan kain yang terkena angus.
Rohan mengangguk dengan senyuman. William pun segera merapikan perlengkapan bengkel dan bersiap untuk pulang.
Semua pintu ditutup rapat begitupula jendela oleh para pekerja bengkel. Hanya disisakan satu pintu menuju ke halaman parkir pegawai. Namun, tiba-tiba ....
"Eh? Apa yang terjadi? Pemadaman listrik? Ini aneh," tanya William terkejut saat melihat semua lampu di bengkel padam dan membuat ruangan gelap seketika.
William masih terlihat tenang, meski ia terkejut. Sedang semua orang di bengkel panik.
"Cepat nyalakan! Ini berbahaya! Dia pasti sudah di sini!" teriak Rohan di kegelapan di mana tak terlihat satupun manusia di tempat itu.
Hingga tiba-tiba, SRINGG!!
Mata semua orang yang melihat sebuah kilau cahaya terang berwarna merah menyala di jalan keluar satu-satunya terbelalak seketika.
Mereka tahu, siapa sosok yang berdiri di sana meski wajahnya tak terlihat. Sedang William, masih berdiri di tempatnya dengan kening berkerut. Ia tak tahu cahaya apa itu termasuk orang yang menyalakannya.
***
Okeh. Hari ini udah dobel eps. Lunas ya. Semoga lele bisa lunasin eps novel 4YMS2. Wah ada tips koin masuk. Kwkw besok dobel eps dah. Tengkiyuw lele padamu💋💋💋
__ADS_1