
“SIA!” teriak William yang muncul tiba-tiba dari belakang Sia dan Sia pun langsung menoleh ke arahnya. William lengah dan,
DOR!
“Agh!”
Kaki William ditembak oleh Rio seketika. William langsung roboh dengan darah merembes dari balik kainnya.
Sia tertegun, William tersungkur di aspal ...
DUAKK!
SREKK ...
BUGH!
“Agh!”
Rio mendatangi William dan langsung menendang kepalanya dengan kuat. Pistol William terjatuh dan ditendang jauh oleh Rio.
Namun, tak cukup sampai di situ. Rio kembali menendang bahu William hingga ia jatuh terlentang. William merintih kesakitan.
Sia masih shock dengan apa yang ia lihat. Rio kembali menarik tangan Sia. Terlihat William mencoba meraih kaki Sia yang akan pergi meninggalkannya.
Sia berlinang air mata, entah kenapa ia tak ingin meninggalkan William. Sia nekat
melepaskan paksa cengkraman Rio ditangannya dengan menembak lengannya.
DOR!
“Aaaghhh ... arrggh ...”
Rio merintih dan langsung melepaskan cengkeraman tangannya.
Lengan Rio berdarah hebat. Ia memegangi tangannya yang berdarah dan menyender pada kursi pesawat.
Sia mengarahkan pistolnya ke tubuh Rio dengan gemetaran. Rio menatapnya seksama dan menelan ludah. Ia panik.
"Kau ... membunuh ayahku."
DOR! DOR! DOR! DOR!
KLEK ... KLEK ....
Sia menembakkan seluruh pelurunya hingga tak bersisa ke tubuh Rio hingga tewas. William terkejut.
Dia bangun dengan susah payah dan mendatangi Sia yang berada dalam pesawat.
William memegang tangannya yang masih menggenggam pistol. Sia menahan air matanya.
William mengambil pistolnya dan melemparkannya jauh. Ia memeluk Sia erat. Sia menangis terisak dipelukan William.
Baku tembak berakhir. Mayat-mayat dari pihak Rio tewas mengenaskan, bergelimpangan di seluruh tempat.
Tak lama terdengar suara sirine iring-iringan mobil polisi. Sia dan William keluar dari pesawat dan menatap para polisi itu dari tangga pesawat.
Cecil mendatangi mereka dengan tergesa. Ia melihat apa yang William dan Sia lakukan, ia terlihat puas. William mencoba membuat kesepakatan pada Cecil.
“Cecil, bisakah kami kembali ke mansion? Sia ingin melihat ayahnya,” ucap William memohon.
Sia melepaskan pelukannya dari William dan menatapnya. Cecil mengangguk. William terlihat senang.
Ia dan Sia segera kembali ke mansion. Cecil dan para polisi membereskan keributan yang William buat.
Terlihat Sia masih gemetaran dikursi depan mobil William. William memegang tangan Sia erat. Sia pun balas memegang erat tangan William dan menciumnya penuh perasaan.
William terlihat bahagia meski kakinya harus terluka untuk melindungi wanita yang dicintainya.
William berusaha menahan sakitannya dan melaju kendaraannya kencang kembali ke
mansion.
Terlihat mansion kacau balau. Baik mayat pemerintah ataupun bodyguard Rio bergelimpangan disegala tempat.
Sia dan William turun dari mobil dengan kaki pincang. Sia membantu memapahnya. Ternyata di sana sudah ada Rika, Catherine dan Jack.
Mereka melihat kedatangan mereka berdua dan menatap mereka seksama. William didudukkan di sofa. Medis langsung mendekatinya dan mengobati luka di kaki William.
Mayat Julius sudah dibawa turun dan dimasukkan dalam kantong mayat. Sia berjalan mendekati mayat ayahnya.
Dia meletakkan kedua tangannya di dada ayahnya dan menangis sedih. William menatap Sia iba.
Kepala Agent Rika, Catherine dan Jack mendatangi William yang duduk dan menatap Sia yang menangis sedih karena kepergian ayahnya dari kejauhan.
"William. Misimu sudah selesai. Aku akan buat laporan jika Sia membantu kita. Jadi ... ia tak akan dipenjara. Sia akan dibebaskan dan bisa melanjutkan hidupnya kembali," kata Rika pelan.
William mengangguk. Ia terlihat senang. Tak lama, William sudah selesai diobati.
Peluru yang bersarang di kakinya sudah dikeluarkan, kakinya pun sudah diperban.
William berjalan gontai mendekati Sia dan berjongkok di sampingnya. William memegang kedua bahu Sia lembut.
Sia menghapus air matanya dan menenangkan hatinya. Ia mengatur nafasnya agar berhenti menangis. Sia masih menatap wajah ayahnya yang kini sudah tiada.
"Sia. Ikutlah denganku. Hidup bersamaku. Kau mau ‘kan?" tanya William serius menatap Sia tajam.
Sia terkejut dengan perkataan William. Jantungnya berdebar kencang. Mata Sia membulat lebar menatap William seksama.
Agent Rika, Catherine dan Jack pun ikut tertegun dengan ucapan William. Mereka tak menyangka bahwa William benar-benar mencintai Sia.
"Aku mencintaimu, Sia. Menikahlah denganku. Hidup bersamaku. Kau tak perlu terlibat dalam kehidupan mafia lagi. Kau bisa hidup layaknya orang normal. Bukankah ... itu keinginanmu selama ini?" ucap William sembari menyentuh kedua pipi Sia.
__ADS_1
Sia hanya terdiam. Ia tak bisa menjawabnya.
"Aku ... aku akan memikirkannya," jawabnya
terbata.
William terdiam, jawaban Sia tak seperti yang ia pikirkan. William tersenyum padanya.
"Baiklah, aku tak akan memaksamu. Sepertinya waktuku kurang tepat. Aku tahu kau pasti sangat kehilangan ayahmu," ucap William memegang dagu Sia lembut.
Sia hanya tertunduk dan diam. William mengajak Sia berdiri dan pergi. William meminta agar Rika memberikan sebuah pemakaman layak untuk Julius dan Sia harus
menghadirinya. Rika menyanggupi.
William juga meminta izin agar Sia bisa bermalam di rumahnya. Ia berjanji akan membawa Sia ke markas CIA besok untuk
memberi kesaksian. Rika pun memberikan izin.
William membawa Sia pergi meninggalkan mansion menuju ke rumahnya. Sepanjang perjalanan Sia hanya diam menatap jalanan dan bangunan-bangunan yang ia lewati.
Bahkan ketika sudah di rumah William, saat ia mengajaknya mandi bersama, Sia hanya diam saja.
Saat William menggosok tubuhnya pun, Sia tak merespon. Biasanya dia yang begitu bergairah dan mengajak William bercinta terlebih dahulu, tapi hari itu Sia tak seperti biasanya, entah apa yang ia pikirkan.
Saat makan malam, Sia makan dengan malas. William ikut terdiam melihat sikap Sia
yang tak biasa. Sesekali Sia tersenyum padanya.
William hanya berfikir jika Sia masih merasa shock dengan kepergian ayahnya. Selesai makan William mengajak Sia tidur bersama.
Bahkan saat William mengajaknya bercinta malam itu, Sia hanya pasrah aja. Tak ada desahan dan keringat ditubuh Sia.
Sedang William merasa sangat puas dengan aksinya malam itu. William terkapar lemas di ranjang. Ia menyelimuti tubuh mungil Sia dan memeluknya mesra. William tertidur pulas sedang Sia masih terjaga.
Sia menatap wajah William saksama.
"Ada apa denganku? Bukankah ini yang kuinginkan selama ini? Menikah dengan William dan menghabiskan sisa hidup
bersamanya," batin Sia resah.
Malam itu ia memandangi langit malam dengan perasaan berkecamuk dalam pelukan William. Lelah berpikir, tak lama Sia tertidur pulas.
***
Tak terasa pagi sudah menjelang. William sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Ia membangunkan Sia dengan mesra.
"Sia ... bangunlah ... sudah pagi."
CUP ... CUP ... CUP ...
William mengecup lengan, pipi dan pelipisnya lembut. Sia tersenyum tipis dan masih memejamkan matanya yang malas. William menatapnya dan mendekatkan tubuhnya pada Sia.
"Sarapan sudah siap. Makanlah," ucap William sembari menyingkirkan rambut panjang Sia yang menutupi wajahnya.
William mendekatkan tubuhnya ke dada Sia. William menatap wajah Sia dalam, ia terlihat bahagia.
"Sia. Bagaimana dengan pertanyaanku kemarin? Apa kau sudah bisa memberikanku
jawaban?" tanya William dengan jantung berdebar.
Sia tersenyum.
"Tentu saja. Hidup bersamamu sudah menjadi salah satu mimpiku," jawab Sia dengan senyum merekah.
William terlihat begitu bahagia. Senyumnya mengembang. Dia menciumi Sia dengan gemas.
Sia tertawa terbahak. William malah melepaskan kaosnya dan bertelanjang dada.
Sia terkejut.
"A-apa yang kau lakukan? Katanya mau sarapan?" tanya Sia bingung dan masih menyelimuti dirinya yang telanjang di atas ranjang.
"Yup! Aku akan menyantapmu dulu. Makanan pembukaku, armm ..." ucap William genit sembari menggigit gemas lengan Sia.
Sia tertawa dan berteriak minta ampun karena William begitu agresif padanya.
William begitu menyukai tubuh Sia yang mungil itu. Berbeda dengan Selena yang sintal dan berotot. Tubuh Sia begitu polos.
Setelah puas bercinta, merekapun mandi bersama. Sia dan William terlihat begitu bahagia di meja makan. Mereka sarapan
bersama.
"Mm, Will. Hari ini apa yang akan kita lakukan?" tanya Sia penasaran.
"Kau akan ikut aku ke kantor CIA," ucap William santai sembari meneguk kopinya.
Sia tertegun. Ia menatap William seksama.
"Apakah ... aku ... aku akan ditangkap? Aku akan dipenjara?" tanya Sia gugup.
William tersenyum.
"Tidak, Sayang. Kau sudah bekerjasama dengan baik pada kami, kau dibebaskan."
"Oh syukurlah. Aku benar-benar panik. Mm ... tapi, Will. Bisakah aku kembali ke mansion dulu? Bisakah aku mengambil barang-barangku?" tanya Sia memohon.
"Oh, tentu saja. Aku akan mengantarmu," ucap William sembari menghabiskan kopinya.
Sia mengangguk senang dan segera menghabiskan makanannya. Tak lama, merekapun selesai sarapan dan langsung menuju ke mansion Rio sebelum ke kantor
CIA.
__ADS_1
Terlihat garis batas polisi dan beberapa petugas sudah berada di sana untuk mengambil beberapa bukti.
William memegang bahu Sia lembut, ia tahu jika Sia masih tergoncang akan kejadian kemarin. Sia melangkah perlahan memasuki
mansion.
"Sia, kau ambil saja barang-barang yang kau perlukan. Aku ada urusan dengan para penyidik di sini. Tak apa 'kan jika ku tinggal?" tanya William cemas.
"Yup, it's oke," jawab Sia dengan senyum merekah.
Sia segera naik ke lantai dua dan berjalan menuju ke kamarnya. Saat dilorong, ia bertemu pelayan yang masih berada di mansion.
Sia merasa tak mengenal pelayan lelaki itu. Lantai dua sepi tak ada orang. Lelaki itu menyerahkan sebuah surat padanya dan segera bergegas pergi.
Sia bingung. Ia langsung masuk ke kamarnya
dan mengunci pintu kamarnya. Sia membuka surat itu.
Sia kaget bukan kepalang. Matanya melotot dan mulutnya menganga lebar. Ternyata itu surat dari ibu kandungnya, Amanda yang ternyata masih hidup.
Tangan Sia gemetar. Ia membaca surat itu dengan saksama yang ditulis dalam bahasa Inggris.
Dear my beloved daughter, Sia.
Ibu sangat merindukanmu. Maaf, Ibu tak memberi kabar padamu selama ini demi keselamatanmu. Nak, temui ibu, pergilah bersama lelaki yang memberikanmu surat tadi, ia adalah bodyguard kepercayaanku. Ibu menunggumu.
With love,
Amanda.
Jantung Sia berdebar kencang. Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintunya. Sia segera mengamankan surat itu. Ia menyelipkan di bawah bantal di tempat tidurnya.
Sia membuka pintu kamarnya perlahan. Sia terkejut ternyata itu William kekasihnya. Sia diliputi kebimbangan. William tersenyum manis padanya.
William meraih tangan Sia dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celanya. Sia diam terpaku melihat yang William lakukan padanya.
Jantung Sia terasa berhenti seketika. Itu adalah sebuah cincin yang akan William berikan padanya.
"Dia benar-benar serius ingin menikahiku, ya Tuhan ... apa yang harus kulakukan?" batin Sia berkecamuk.
Dengan senyum mengembang, William memakaikan cincin itu dijari manis Sia dan
berjongkok di depannya sambil meringis menahan sakit di kakinya.
Sia hanya diam dan berlinang air mata menatap William yang tersenyum padanya.
"Sia, menikahlah denganku. Cincin ini memang tak mewah dan bersinar, tapi cincin ini sangat berarti untukku. Ini milik ibuku, satu-satunya wanita yang paling kucintai seumur hidupku. Hingga aku bertemu denganmu, kini kaulah satu-satunya wanita yang kucintai. Kau mau 'kan hidup bersamaku dan menjadi isteriku?" tanya William dengan penuh harapan dimatanya.
Sia berlinang air mata. Ia bingung, pikirannya berkecamuk. Sia hanya diam tak tahu harus bagaimana, ia dihadapkan dengan pilihan yang sulit. Sia tersenyum padanya.
"Aku mencintaimu William, aku sangat mencintaimu ... hiks ..." ucap Sia meneteskan
air mata. Ia menangis.
William langsung berdiri dan memeluknya erat. Sia balas memeluknya dan membenamkan wajahnya didada William.
"Hei, kenapa menangis? Apakah itu tangis kebahagiaan? Jika ya, aku akan sangat bahagia Sia," ucap William dengan senyum merekah diwajahnya.
Sia makin tak bisa membendung air matanya. Ia menangis terisak, William tak tahu akan
surat itu. William melepaskan pelukannya. Ia menghapus air mata Sia. Tiba-tiba,
TOK ... TOK ...
Sia dan William tertegun. Seorang lelaki berjas seperti seorang agen berdiri di depannya. William menatapnya seksama dan
DOR!
Sia terkejut. Lelaki yang tadi menyamar menjadi seorang pelayan itu menembak
William.
Tubuh Sia gemetaran, William roboh seketika. Sia menatap William yang tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
Lelaki itu mendekati Sia dan memegang tangannya kuat. Sia terkejut dan menatap lelaki itu saksama.
"Ibumu sudah menunggu bertahun-tahun lamanya, Nona Sia. Dia sangat merindukanmu. Apakah sepadan dengan dia?" ucap lelaki itu tanpa ekspresi di wajahnya.
Ia melepaskan paksa cincin dijari manis Sia dan membuangnya di depan wajah William. Mulut Sia menganga lebar, ia bingung dengan keadaan ini.
"Tenang saja. Aku hanya membiusnya. Ia tak mati. Bagimanapun ia sudah melindungimu
dengan baik selama ini,” ucapnya sembari menyarungan kembali pistol dibalik pinggangnya.
“Kita ini mafia, sampai kapanpun tak akan bisa hidup bersama dengan seorang polisi. Kau harus sadar akan hal itu."
Sia kembali meneteskan air mata. Lelaki itu menarik tangan Sia dan memaksanya keluar kamar meninggalkan William yang tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
Harapannya untuk menikah dengan William hanya akan menjadi mimpi saja bagi Sia.
Ia begitu sedih, tapi ia juga sangat merindukan ibunya yang telah pergi selama ini.
Ia mengira ibunya, Amanda telah tewas dalam kecelakaan ambulance beberapa tahun silam.
Namun, saat mengetahui ibunya masih hidup, hati Sia begitu lega meskipun harus merelakan cintanya dan meninggalkan William untuk selama-lamanya.
Sia pergi bersama bodyguard ibunya. Ia melepaskan cintanya pada William demi ibunya.
Sia menangis sedih sepanjang jalan karena harus meninggalkan William, kekasih yang sangat dicintainya.
------
__ADS_1
ini eps terkahir yang ada di novel, tapi akan lele kembangin sampai beberapa eps menuju ke SM2. Nantikan eps selanjutnya yg upnya tak terjadwal😆
jangan lupa like, vote dan komennya ya. Trims~