
William merenung sejenak. Ia sungguh kebingungan kali ini. Jika saja Sia tak meninggalkannya waktu itu, mungkin ia akan tetap ngotot seperti tujuan awal mengorbankan dirinya untuk ikut dalam dunia mafia demi membawa Sia kembali.
Namun, keadaannya kini berbeda. William yang baru menyadari jika cintanya bertepuk sebelah tangan itupun akhirnya memilih untuk tak terlibat dengan Sia lagi karena hal itu malah membuatnya akan semakin sakit hati nantinya.
"Bagaimana caraku agar bisa memancing The Circle keluar seperti saat itu, Cecil?" tanya William serius.
"Kau ingin masuk ke dalam sana? Bergabung bersama mereka? Kau gila! Mereka itu kumpulan para psikopat melebihi para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads. Oleh karena itulah, mereka tak bisa dikendalikan," pekik Cecil langsung melotot seketika.
"Huh, psikopat apanya? Semua mafia sama saja. Penjahat, pembunuh, apalagi? Aku sudah terbiasa dengan semua hal itu. Darah, pukulan, kematian, sama saja," kekeh William yang merasa jika ucapan Cecil berlebihan.
Tiba-tiba, Cecil memegang kedua lengan William yang berotot itu dengan cengkraman kuat dan menatapnya tajam. William balas menatapnya.
"Alasan kau masih hidup sampai sekarang adalah, keluarga Sia melindungimu. Mereka membalas budimu karena kau berhasil membuat Sia keluar dari cengkraman Julius Adam. Kau membebaskan Sia dan membawanya kembali pada ibunya. Apa kau tak sadar hal itu, William?" tanya Cecil menegaskan dan sontak William seperti tertegun akan ucapan Cecil tersebut.
"Ba-bagaimana kau tahu semua ini, Cecil?" tanya William balas menatap Cecil tajam.
Cecil terlihat kikuk seketika. Ia melepaskan cengkramannya dan perlahan duduk kembali dengan wajah tertunduk.
"Cecil ... apa yang kau sembunyikan? Kenapa kau bisa menyimpan begitu banyak rahasia tentang mafia? Jangan bilang kau terlibat juga di dalamnya," tanya William makin mendetail memojokkan agent pensiunan itu.
Cecil beranjak dari dudukkannya. Ia terlihat bingung.
"Akan aku ceritakan saat kita sudah menemui Rika. Aku lelah dan ingin istirahat," ucap Cecil yang hanya melirik William sekilas terlihat enggan untuk membicarakan hal tersebut.
William menatap Cecil seksama. Ia kini semakin yakin jika wanita tua itu menyimpan banyak misteri yang bahkan mungkin CIA tak mengetahuinya.
"Baiklah, kita lanjutkan besok. Selamat malam," ucap William sembari beranjak dari dudukkannya dan kini keluar dari kamar Cecil, kembali ke kamarnya.
Cecil segera menutup pintu dan memejamkan mata. Ia lega untuk kali ini meski esok ia harus menceritakan segalanya pada agent muda itu.
Cecil tak mau membebani pikirannya. Ia memilih untuk segera beristirahat karena esok ia masih harus melanjutkan perjalanan menuju kediaman Rika di Montana.
Di kamar William.
Pikiran agent muda itu makin berkecamuk. Ia kalut dan malah semakin banyak pertanyaan dalam pikirannya.
"Kenapa harus menunggu sampai di rumah Rika? Apa dia juga terlibat dalam dunia mafia? Aku ingat ekspresi mereka saat aku meledek Vesper. Apa mereka pernah bertemu dengan ketua 13 Demon Heads itu? Membuat perjanjian dengannya mungkin? Gila, jika benar mereka berdua sungguh gila," pekik William tak habis pikir dengan keputusan Rika dan Cecil jika mereka melakukannya.
Namun, William terhenyak sejenak. Ia sama gilanya dengan Cecil dan Rika karena ia juga malah bekerjasama dengan Axton.
"Arrghhh!! Ini semua karena Sia! Jika bukan karena gadis itu, aku tak perlu sampai bertindak sejauh ini! Dimanfaatkan oleh mafia untuk melakukan pekerjaan mereka. Arghh! Sial! Sial! Sial! Sia pembawa sial!" teriak William kesal setengah mati memukul-mukul bantal di sampingnya dengan nafas menderu hingga ia melempar selimut dan kaos yang dipakainya hingga kini ia hanya bertelanjang dada, tengkurap memeluk bantal yang tadi dipukulnya.
__ADS_1
"Aku tak peduli lagi padanya. Aku tak peduli. Ini sungguh menyakitkan, gadis sialan. Dia mempermainkanku," gerutu William kembali membenci Sia karena mencampakkannya.
William memaksakan dirinya untuk segera tidur karena ingin tahu kebenaran tentang Cecil dan Rika esok hari.
***
Akhirnya, pagi yang dinantikan itu tiba. Matahari sudah menunjukkan sinarnya yang hangat dan ia kini sedang menikmati sarapan pagi dengan Cecil di cafe yang berada di lokasi hostel itu.
Sosis panggang, scramble egg, kentang goreng, tumisan sayur dengan racikan bawang bombay dan bumbu nikmat lainnya serta segelas orange jus menjadi menu lezat untuk perut dua orang agent yang kelaparan itu.
Selesai makan, mereka segera meninggalkan hostel dan kembali melaju menuju ke tujuan akhir, Montana. Cecil yang duduk di sebelah William menyadari sesuatu dan melihat sekitar.
"Ini, mobil siapa?" tanya Cecil heran yang merasa jika mobil yang ditumpanginya berbeda dengan milik William sebelumnya.
William tertegun. Ia tak menyangka jika Cecil menyadarinya.
"Aku mencurinya. Mobilku sudah diambil oleh mafia India, Rahul karena ulah Axton yang menjualnya tanpa sepengetahuanku. Para mafia benar-benar suka bertindak semena-mena," gerutu William kesal.
"Hmm, kau menghina Axton, tapi kau sama saja seperti mereka. Mencuri mobil," ledek Cecil terkekeh.
William diam saja. Ia tak mau berkomentar apapun karena sebenarnya, mobil yang dikendarainya adalah milik Axton yang dipinjamkan olehnya.
Sebuah Chevrolet Camaro berwarna hitam model sport dengan dua dudukan dan kap atas bisa dibuka.
William sempat menawarkan untuk menginap satu malam lagi di Dakota Utara, tapi Cecil menolak.
William yakin jika penolakan Cecil karena ia enggan ditanyai lagi olehnya tentang para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads. William pun menahan rasa ingin tahunya sampai mereka tiba di rumah Rika.
Perjalanan selama 18 jam itupun akhirnya dituntaskan hari itu juga. Hingga akhirnya, mereka tiba di Montana di malam yang sudah sangat larut dimana semua terlihat gelap dan hanya langit yang bercahaya terang karena taburan bintang dan bulan.
William menyukai tempat tinggal Rika yang hampir mirip dengan rumah Roberto di Tyumen saat William bersama Sia dulu.
William yang kembali teringat akan kenangan dengan kekasihnya itupun hanya bisa menghela nafas dan mencoba melupakan meski terasa sulit.
Sebuah rumah yang dikelilingi pepohonan rindang, jauh dari hiruk pikuk padatnya kota metropolitan.
Cecil turun dari mobil dan mendatangi rumah berunansa putih ditumbuhi bunga-bunga di sekitarnya.
William ikut serta dengan senyuman terpancar dari wajah tampannya meski ia merasa lelah dengan perjalanannya itu.
Tiba-tiba, pintu kayu itu terbuka. Penghuni rumah sepertinya menyadari jika ada tamu yang datang malam itu di rumahnya.
__ADS_1
Senyum William merekah saat melihat sosok Rika muncul dari balik pintu dengan sebuah piyama tidur terlihat letih.
Namun, saat William akan mendatangi untuk memeluknya, ia terkejut ketika mendapati seorang lelaki muda yang kira-kira seumuran dengannya bertelanjang dada, berdiri di belakang Rika memeluknya dan hanya memakai celana kain panjang ikut keluar dari balik pintu terlihat ia menahan kantuk.
Cecil berdehem dan dua penghuni rumah itu terkejut. Rika tergesa mendorong lelaki itu masuk ke dalam rumah dan lelaki itu hanya kebingungan menuruti permintaan Rika.
Kening William berkerut dan melirik Cecil tajam. Cecil yang tahu jika agent muda itu butuh penjelasan, hanya menjawab seperlunya saja.
"Don't ask," jawabnya menolak memberi penjelasan.
William menghembuskan nafas panjang. Ia makin penasaran dengan sisi lain Rika yang tak diketahuinya itu.
William masuk ke dalam rumah yang terlihat bersih, nyaman dan hangat di dalamnya. Rika mempersilakan para tamunya untuk duduk sembari mengusap wajah dan merapatkan jubah tidurnya.
William tak enak hati karena datang di malam yang sudah menunjukkan pukul 2 pagi.
"Maaf, kami datang tanpa pemberitahuan," jawab William sungkan.
"Jangan terlalu formal, ini bukan di kantor," jawab Rika yang terlihat lebih santai.
William mengangguk. Tiga orang itu malah terlihat canggung. Saat William baru akan membuka mulutnya untuk menanyakan hal yang mengganjal di hatinya, Rika sudah menimpanya.
"Yang jelas dia bukan anakku apalagi keponakanku," ucap Rika cepat dan William mengangguk paham.
Cecil malah ikutan salah tingkah dan berdehem. Rika juga ikut gugup sembari membenarkan dudukkannya. William mengusap mulutnya dengan salah satu tangan lalu merapikan jaket kulit yang dikenakannya.
"Sebaiknya, kalian istirahat dulu. Kamarmu di atas, William dekat tangga dan Cecil. Yah, kau tahu dimana kamarmu," ucap Rika lelah.
William dan Cecil segera beranjak dari dudukkannya. Kamar Rika berada di lantai bawah, dilewati oleh William dan Cecil sebelum menaiki tangga.
"Selamat malam," ucap Rika sembari masuk ke kamar lalu menutup pintu dimana lelaki muda tadi sudah menunggunya di kasur.
"Malam," jawab William kikuk dan segera naik ke atas menuju kamar bersama Cecil.
"Mengejutkan, hem?" ledek Cecil dan William enggan berkomentar.
Cecil hanya tersenyum saat berjalan menuju ke kamarnya dan William segera masuk ke kamar tempatnya beristirahat.
Ia segera membersihkan diri dimana ada kamar mandi dalam di sana. William yang membawa pakaian ganti juga segera berganti dengan kaos dan celana kain santai.
William merebahkan tubuhnya yang letih itu sembari menatap langit-langit kamar entah apa yang dipikirkannya hingga akhirnya matanya terpejam dan ia tertidur lelap.
__ADS_1
-----
maap ya lama gak up. Lele on going 4 novel dan dubbing 2 novel jadi padet banget ini kegiatannya. Terus dukung dengan jempol like dan vote yg berlimpah ya. Lele padamu😘