
Ceko, Bengkel Mobil Modifikasi Jonathan Innovation.
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia campuran.
"Wokeh, terus-terus ... pelan-pelan ... yup, stop! Pas! Pas!" teriak Hadi memberikan arahan pada Arjuna yang datang membawa mobil sport milik ayahnya, Kim Han Bong.
"Hehe, makasih loh, Kak Juna. Mobil ini akan Nathan rawat dengan baik," ucap Jonathan dengan senyum terkembang.
Arjuna keluar dari mobil dan mendatanginya dengan wajah bengis. Senyum Jonathan sirna berubah gugup.
"Pastikan beres. Kalau nggak, Kakak ambil mobil BMW sport milikmu sebagai ganti rugi," ucapnya menunjuk wajah Jonathan.
"Iya, ish! Apa sih nunjuk-nujuk? Tar kecolok mataku tau!" bentak Jonathan kesal menampik telunjuk Arjuna di depan matanya.
Arjuna bertolak pinggang dan mendesis kesal. Naomi yang ikut dengan Tuan Mudanya hanya bisa tersenyum di kejauhan sembari memberikan berkas-berkas kepemilikan dan memeriksa surat kesepakatan antara Jonathan dan Arjuna.
"Tuan Muda, aku sudah memeriksanya. Silakan ditanda tangani," ucap Naomi sembari menyodorkan berkas tersebut yang dilapis map tebal sebagai papan.
Arjuna masih terlihat tak rela melepaskan mobil sport merah miliknya itu, tapi Jonathan sudah duduk di bangku kemudi dan mulai menjamahi mobil tersebut.
"Sungguh, aku tak sanggup melihat dia memperkosa mobilku, Naomi. Bawa aku pergi dari sini," pinta Arjuna terlihat tertekan memalingkan wajah.
Orang-orang yang mendengar terkekeh termasuk Jonathan. Naomi merangkul lengan Arjuna dan membawanya ke dalam mobil.
Arjuna bahkan tak berpamitan dan orang-orang memakluminya. Mereka sudah tau tabiat dari anak kedua Vesper tersebut.
"Terima kasih semuanya, sampai jumpa," ucap Naomi mewakili Tuan mudanya melambaikan tangan.
"Bye, Kak Naomi! Jagain Kak Juna ya! Daaa!" balas Jonathan melambaikan tangan dari bangku kemudi dengan senyum merekah.
Hadi, Bayu dan Paman BinBin mendekati Jonathan yang terlihat siap untuk mengendarai mobil barunya.
"Ajak kita jalan-jalan dong. Bosen nih. Cariin cewek cantik, Bos Jojo," ucap Hadi merayu.
"Oke! Come on, come on!" jawab Jonathan semangat.
Paman BinBin dengan sigap naik ke bangku depan, tapi Hadi dan Bayu bingung. Bangku itu hanya berisi dua tempat duduk.
BROOM!!
"Bye bye, Losers! Hahaha!" ledek BinBin saat ia pergi bersama Jonathan dengan mobil barunya meninggalkan bengkel.
"Woo! Tua bangka edian! Insap oi insap! Udah mau mati masih ganjen!" teriak Hadi kesal bukan main.
Bayu garuk-garuk kepala. Ia pasrah dan kembali pada pekerjaannya dari pada terus-terusan protes tak ada guna karena bagaimanapun, Jonathan bosnya.
***
Pagi itu, Sia dan William pergi mengendarai mobil Mustang hitam menuju ke Montana, Kediaman Rika.
Perjalanan selama 32 jam itu tentu saja membuat keduanya lelah, tapi harus tetap waspada.
Sia dan William diberikan beberapa peralatan pendukung dari Yes untuk menyelesaikan misi melenyapkan Denzel Flame dan The Circle.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
__ADS_1
"Sia. Aku yakin jika semua alat itu memiliki pelacak. Jadi, CIA akan tahu kemana kita akan pergi," ucap William menganalisis dan Sia mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan Tessa? Bukankah No Face bagian dari The Circle?" tanya Sia mengambil sebuah kacamata khusus yang ia dapatkan dari koper pemberian Yes.
"Soal Tessa kita urus nanti. Fokus kita pada Denzel Flame terlebih dahulu," jawab William melirik Sia yang kini memakai kacamata hitam.
Terlihat William seperi mencurigai sesuatu. "Apa fungsi dari kacamata itu?" tanyanya penasaran.
"Seperti kacamata biasa, tapi aku tak yakin. Mungkin ...," ucap Sia menggantung. William diam menunggu kelanjutan tebakan Sia.
"Kacamata ini seperti mata pengganti yang terkoneksi dengan satelit. Yah, bisa dianggap seperti sebuah kamera live. Apa yang kulihat ketika menggunakan kacamata ini, akan dilihat juga oleh orang-orang CIA di pusat kendali," jawab Sia lugu.
Di pusat kendali, CIA.
"Very clever, dia bisa menebaknya," ucap Yes terlihat menikmati pertunjukkan dari peralatan yang ia berikan pada William saat itu.
William mengangguk paham. Sia menutup kacamatanya dan tampilan layar di pusat kendali pun terputus.
BRAKK!
"Sial! Gadis itu mempermainkan kita. Awas saja," geram Yes karena tak bisa menguping dan mengintip lagi.
"Masih banyak alat lainnya, Sir. Tunggu saja," sahut Liev menenangkan dan Yes mengangguk pelan.
Jack yang membuat alat-alat itu hanya bisa diam. Ia melihat dari tempatnya duduk saat dua lelaki tersebut menggunakan kantornya sebagai pusat kendali selama William menjalankan misi darinya.
Jack pura-pura tak mendengar obrolan Liev dan Yes dengan mengotak-atik sebuah tablet yang ia pasangi pelacak di dalamnya.
Sia terlihat penasaran dengan alat-alat di dalam koper khusus itu. Ia mengamati dan mengotak-atiknya.
William diam saja melihat gerak-gerik isterinya yang terlihat tertarik dengan segala hal yang berbau senjata dan teknologi.
"Oh! Aku ... entahlah, rasanya seperti mimpi, Sia. Dulu aku hanya bodyguard-mu lalu kini aku menjadi suamimu. Sekarang kau menjadi partner kerjaku. Semua hal ini ... tak pernah aku bayangkan sebelumnya kecuali menikahimu. Yup, itu prioritasku setelah aku memutuskan jalan hidupku," jawab William terlihat serius.
Sia terlihat tertarik akan sesuatu. "Memang, dulu apa yang kau pikirkan?"
William menghela nafas. "Yah, dulu yang kupikirkan adalah ... aku tak mau lagi hidup seperti orang susah. Sederhana dan direndahkan. Untuk mencapai titik ini, banyak pengorbanan dan usaha keras yang kulakukan, Sia. Setiap misi yang kulakukan, semua harus sempurna. Aku selalu mengharapkan pujian, promosi, bonus dan sebagainya. Lebih tepatnya, untuk kesenangan pribadi. Namun, aku mulai bosan saat merasa jika hidupku monoton hingga aku bertemu denganmu," ucapnya terdengar begitu jujur.
Sia terharu akan ucapan dari kekasihnya itu. Sia tersenyum dan mengecup bibir William sekilas dan malah meninggalkan bekas lipstick di sana. Sia terkekeh dan menghapusnya dengan ibu jarinya.
William terlihat bahagia karena salah satu mimpinya bisa menikahi wanita pujaan hatinya terwujud. Sia kembali fokus dengan alat-alat di pangkuannya.
Tak terasa, malam menjelang. William memutuskan untuk mengajak Sia menginap di salah satu hotel yang masih dilewati oleh jalur mereka untuk menuju ke Montana.
William menggabungkan misi dengan jatah honeymoon-nya dan Sia tak keberatan. Daerah Minneapolis sebagai salah satu tempat tujuan istirahat sepasang suami isteri itu.
Sia dan William dibuatkan identitas palsu oleh CIA dengan penyamaran yang mereka gunakan saat ini. William sengaja membawa Sia ke sebuah hotel mewah untuk memanjakannya.
"Ini bagus sekali, Will," ucap Sia terkagum-kagum dengan fasilitas kamar yang ia dapatkan. William tersenyum lebar.
Baginya, semua uangnya kini hanya untuk memanjakan sang isteri. William memeluk Sia dari belakang dan mengajaknya mandi bersama sebelum tidur. Sia menyambut ajakan suaminya itu dengan senyum terkembang.
Keduanya merendam tubuh letih mereka dalam bath up air hangat dan busa mewah. Terlihat, Sia dan William menikmati malam mereka dengan segelas wine menemani acara mandi di tempat peristirahatan itu.
Namun, saat Sia dan William saling mengeringkan tubuh pasangannya, ponsel William berdering.
__ADS_1
Ia terkejut saat mendapati Cecil menghubunginya. Sia menatap suaminya yang terlihat gugup saat menerima panggilan itu.
"Will, kau di mana?" tanya Cecil terdengar serius.
"Mm, Minneapolis. Kenapa?"
"Oke, tunggu kami. Aku dan Rika akan mendatangimu. Montana tidak aman," ucap Cecil dan membuat William terkejut.
"Baiklah, hati-hati," jawab William sembari menutup panggilan teleponnya.
"Ada apa, Will?" tanya Sia mendekati suaminya dengan handuk masih membungkus tubuhnya yang polos.
"Entahlah, tapi sepertinya bukan hal baik. Segeralah bersiap dan aku lihat ... pakaian khusus pemberian Boleslav cukup tangguh. Kau sebaiknya kenakan itu. Ayahmu membuatnya pasti untuk melindungimu," ucap William serius dan Sia mengangguk paham.
Sia segera mengambil pakaian tempur pemberian Jordan dan mengenakannya termasuk sepatu magnet.
Sia melihat William bersiap dengan senjata pemberian Denzel yang ia simpan dalam koper khusus.
Namun, cukup lama hingga mereka berdua ketiduran di sofa ruang tamu menunggu kedatangan Cecil dan Rika. Hingga tiba-tiba, TOK! TOK! TOK!
Sia dan William terperanjat karena kaget. Mereka bangun dari tidurnya karena suara ketukan pintu yang cukup kencang. Sia dan William dengan sigap menyiagakan pistol dalam genggaman.
William mendekati pintu dan berdiri di samping, siap untuk membukanya. Sia berdiri di balik pintu dengan pistol dalam genggaman.
Sia dan William saling berpandangan, memberikan kode dengan anggukan kepala jika keduanya telah siap.
CEKREK!
"Oh!" pekik William kaget saat melihat Cecil dan Rika muncul di balik pintu terlihat berantakan.
William segera membuka pintu lebih lebar dan mempersilakan keduanya masuk. Sia menurunkan pistolnya dan melihat dua wanita tua itu terhuyung.
BRUKK!
"Rika!" pekik William panik saat melihat Rika roboh terlihat pucat.
"Ada apa? Kalian kenapa?" tanya Sia kebingungan saat melihat Cecil mengambil gelas dan segera menuangkan air mineral lalu meneguknya hingga habis seperti orang kehausan.
"Kalian diserang?" tanya Sia lagi menebak.
William membopong Rika dan merebahkannya di sofa. William terlihat cemas melihat Rika hampir tak sadarkan diri.
Sia melihat ada yang aneh dan segera membuka jaket kulit yang dipakai mantan Agent CIA tersebut.
"Will!" pekiknya ketika melihat luka tembak di lengan Ibu angkat William.
William segera mendudukkan Rika dan Sia dengan sigap melepaskan jaket yang dikenakannya.
Cecil terlihat waspada. Ia membuka tirai jendela seperti memastikan mereka dibuntuti atau tidak.
"Sia, tolong tekan lukanya. Aku akan mengambil peralatan medis," pinta William memberikan handuk kecil dari kamar mandi dan Sia mengangguk cepat.
Rika memejamkan mata dengan nafas tersengal. Sia melihat Rika menahan kesakitannya.
Sia lalu menyenderkan tubuh Rika di sofa panjang sembari melirik Cecil yang terlihat mencurigai sesuatu.
__ADS_1
"Siapa yang melakukannya? Apakah ... orang-orang Daddy-ku?" tanya Sia merasa bersalah.
Cecil menutup tirai perlahan dan membalik tubuhnya. Sia menatap Cecil dengan jantung berdebar karena pensiunan Agent senior itu menatapnya tajam.