
William terlihat gugup saat menyadari jika ia berada di rumah lamanya. Buffalo dan para lelaki yang berada di tempat itu tersenyum tipis. Buffalo memberi kode dengan matanya agar William masuk ke dalam rumah.
Segera, William mendekati teras rumahnya. Padahal seingat William, rumah itu sudah dijual sebagai biaya hidup ketika keluarganya memutuskan untuk kembali ke Amerika dan menetap di sana.
William memegang gagang pintu rumahnya yang terlihat sedikit berubah, lebih rapi, asri dan bersih tak seperti saat ia pergi. William menarik nafas dalam, ia sudah siap untuk bertemu Madam.
CEKREK!!
William melirik dari tempatnya berdiri. Sebuah ruang tamu dengan sofa set dan segala jenis perabotan masih berada di tempatnya, sama persis seperti saat ditinggalkan.
William melangkahkan kakinya perlahan dengan ragu, tapi ia merasakan kehangatan dan kedamaian saat memasuki ruangan tersebut.
Sekilas, muncul bayangan ayah ibunya ketika menyambut kepulangannya ketika ia selesai bermain bersama teman-temannya.
William tersenyum sembari meraba perabotan-perabotan penuh kenangan itu.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Rumahmu lumayan, Will," sahut Buffalo ikut masuk dan kini berdiri tegap di sampingnya.
"Lalu ... di mana Madam?" tanya William penasaran.
Seketika, William langsung menoleh ke arah suara yang berada di bagian belakang rumah. William melangkahkan kakinya begitu saja mendatangi asal suara di mana terasa seperti ada sosok lain di rumahnya.
Buffalo dan timnya memilih untuk tetap berada di tempatnya, mengamankan keadaan.
William menuju ke dapur dan mendekati seorang wanita berambut cokelat digulung ke atas sedang duduk menikmati secangkir teh di meja makan yang tersedia.
"Madam?" panggil William lirih.
Wanita itu menoleh seketika dan tersenyum, tapi William malah tersentak karena kaget. Tiba-tiba saja ia gemetaran seperti mengenali sosok itu.
"A-Anda ...," ucapnya sembari menunjuk dengan gugup.
"Hai, masih mengingatku? Dulu aku pernah menginap di rumahmu walau hanya satu malam. Aku menceritakan dongeng dan kita tidur bersama. Apa kabarmu, William Tolya?" sapa Amanda yang kini duduk menghadapnya.
William mengangguk meski ia sedikit kaget karena ia mengenali wanita bernama Madam. William mendekati Amanda dan menarik kursi perlahan, duduk di seberangnya.
"Anda ... Madam? Ketua The Circle? Big Mother?" tanya William menebak. Amanda tersenyum.
"Sayangnya bukan."
William kembali terkejut, keningnya berkerut.
__ADS_1
"Aku Amanda Theresia. Isteri dari Antony Boleslav, Ibu dari Sia, isterimu."
Praktis, mata William melebar seketika. Ia terlihat panik dan mengawasi sekitar seperti akan kabur.
"Kau mau kemana? Aku tak melakukan hal buruk padamu. Aku bahkan tak menyakiti ayah ibumu dan kau. Apa ucapanku benar, William Tolya?" tanya Amanda dengan wajah sedih.
William yang tadinya sudah siap untuk beranjak dari kursinya kembali duduk. Ia merasa jika ucapan Amanda ada benarnya. William kembali duduk meski terlihat takut.
"Menurutmu ... aku wanita yang seperti apa? Aku ingin tahu," tanya Amanda menatapnya sendu.
"Anda ... sangat baik pada keluargaku, Nyonya Manda. Anda memberikan uang pada keluargaku. Kami berhutang banyak padamu. Kedua orang tuaku bahkan tak henti-hentinya memujimu dan selalu bercerita tentang kebaikan hatimu. Katanya, selama mereka hidup, mereka tak pernah diperlakukan baik, padahal kita hanya bertemu satu kali. Malah, hem ... ibu berpikir kau itu seperti malaikat yang sengaja didatangkan oleh Tuhan untuk membantu perekonomian keluarga kami," jawab William berucap banyak dan Amanda terlihat senang mendengarnya.
"Jika saja aku tahu jika keluargamu mengalami kesulitan setelah aku pergi, aku pasti akan datang kembali untuk membantu. Sayangnya, Tuhan berkehendak lain. Bahkan, saat kita bertemu lagi, banyak kematian yang merenggut orang-orang yang kita sayangi," ucap Amanda tertunduk terlihat sedih.
William menarik nafas dalam. Ia terlihat bingung dengan kondisi ini.
"Aku tahu yang terjadi padamu, William. Ada yang ingin kutunjukkan padamu. Jika kau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, ikut denganku. Aku tahu, dalam hati dan pikiranmu ada banyak pertanyaan serta keraguan dalam tiap aksi yang kau lakukan. Apa tebakanku benar?" tanya Manda lirih dan William mengangguk membenarkan.
"Hmm baiklah. Aku tak menyalahkanmu atas kematian suamiku. Aku juga sudah melihat rekaman itu. Aku sedih dan kecewa karena kau berubah terlalu banyak, William. Kau dulu sangat manis dan baik, tapi siapa sangka, kau malah menjadi lelaki berhati iblis dan ... seorang pembunuh keji."
William tertohok dengan ucapan Amanda berusan, ia makin salah tingkah.
Tiba-tiba, Amanda mengeluarkan sebuah benda dari tas yang ia letakkan di atas meja. William menatap alat itu seksama seperti gelang.
"Katamu ... kau ingin agar benda di lenganmu lepas. Aku bisa membantumu," ucap Amanda sembari menggenggam sebuah alat berbentuk seperti gelang dari besi berwarna silver.
Amanda beranjak dari dudukkannya dan mendekati William lalu duduk di sebelahnya.
William melihat pergelangan tangannya dipakaikan alat seperti gelang yang ternyata bisa mencengkeram kuat dan dilonggarkan dengan fleksibel.
Amanda lalu menekan sebuah tombol yang tak terlihat dengan telunjuknya pada gelang tersebut. Seketika, lampu berwarna biru menyala.
Alat tersebut seperti melakukan pencarian di mana letak dari alat yang tertanam pada lengan William karena Amanda menaik-turunkan alat itu dari atas siku sampai ke lengannya.
PIP! PIP! PIP!
William terkejut karena gelang besi tersebut bisa menemukan alat yang tertanam di lengannya dengan akurat.
Amanda lalu mengencangkan gelang besi itu hingga lengan William dicengkeram kuat.
Jantung William berdebar saat Amanda meletakkan telunjuknya lagi di gelang yang menemukan letak alat tersebut. Seketika, lampu berwarna merah menyala.
Amanda melirik William yang terlihat pucat saat suara nyaring dari alat itu berbunyi seperti akan meledak.
__ADS_1
Amanda menggenggam tangan William erat di mana mantan agent CIA itu terpejam erat.
PIPIPIPIPIPI ... PIP!
Amanda tersenyum tipis, tapi William serasa ingin pingsan karena takut akan meledak. Lampu berwarna hijau menyala dan Amanda melonggarkan gelang tersebut lalu melepaskannya dari pergelangan tangan William.
"Alat itu sengaja tak dicongkel, tapi dinonaktifkan. Kami mengetahui tentang alat itu dari informasi yang Cecil berikan. Ledakan di laut, kami sengaja membuatnya agar seolah-olah dia meledak, padahal tidak. Butuh waktu sebulan untuk membuat alat ini agar tak membunuhmu, William," ucap Amanda terlihat sedih sembari memandangi gelangnya.
"Thank you," ucap William menatap Amanda lekat.
"Apa dengan berterima kasih, bisa mengembalikan suamiku, William?" tanya Amanda balas menatapnya dengan mata berlinang.
William tertunduk kembali merasa bersalah. Mata Amanda masih terkunci pada sosok lelaki di depannya.
"Aku sangat mencintainya, Will. Kami sangat kehilangannya. Dia memiliki pengaruh besar dalam hidupku dan orang-orang yang pernah ditolong olehnya," ucap Amanda mulai meneteskan air mata.
William masih diam tertunduk. Perasaan bersalah kembali menghampiri dirinya.
"Bukan aku yang membunuhnya, Nyonya Manda, tapi memang keputusannya," jawabnya membela diri. Amanda mengangguk setuju.
"Apa kau pernah menanyakan pada orang-orang The Circle itu? Apa alasanmu membunuh Rika, Cecil, Boleslav, Rahul, Axton dan lainnya meski tak semua orang-orang itu kau bunuh?"
William menggeleng.
"Kenapa kau tak bertanya? Apa kau takut pada mereka?" tanya Amanda makin menekannya.
"Aku ... aku tak tahu. Aku hanya mematuhi perintah."
"Kau saja tak pernah bertemu dengan pemimpinmu yang memerintahkan hal itu. Apa kau pernah bicara dengannya secara langsung? Menerima perintahnya langsung darinya? Apa imbalanmu dari semua kejahatan yang kau lakukan, William?"
Kening William berkerut dengan wajah tertunduk. Amanda tak melepaskan tatapannya dari lelaki bermata biru tersebut.
"Ikut aku ke Jepang. Ada yang ingin kutunjukkan lalu putuskan jalan apa yang kau ambil nantinya. Aku hanya ingin membuka pikiranmu yang sudah rusak itu. Aku memiliki banyak bukti yang mengatakan, jika kau selama ini hanya dimanfaatkan, diperalat dan dijadikan boneka The Circle untuk mewujudkan mimpi mereka. Jika kau memiliki hati nurani, kau akan tahu, siapa yang seharusnya kau bela dan kau basmi," ucap Amanda serius.
William diam dengan wajah tertunduk memikirkan ucapan Amanda seksama. William melihat lengannya sekilas dan alat yang masih dipegang oleh isteri Boleslav tersebut.
"Baiklah, aku ikut dan akan kuputuskan memihak siapa setelah kau tunjukkan semua bukti padaku," ucap William serius menatap Amanda tajam dan wanita tersebut mengangguk pelan.
***
Makasih ya tips koinnya. Lele terharu. Lele salut sama kalian2 yg ttp bs move on setelah tau babang Tony wasalam dg baca next epsnya.
Oia, lele mau infoin kalo nanti tanggal 10 Juni 4 YOUNG MOBSTERS S2 siap publish.
__ADS_1
Jangan lupa untuk langsung difavoritkan agar gak ketinggalan jalan ceritanya dengan jam up 5pm. Bonus eps pukul 7pm kalau ada yang tips koin. Tengkiyuw💋💋💋