Secret Mission

Secret Mission
Berburu Denzel Flame


__ADS_3

Malam harinya, Portsmouth, Amerika.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Kita diminta untuk menyerang dan membunuh Denzel oleh Rahul, tapi lihat. Orang itu benar-benar mempermalukan dunia mafia," ucap Ace kesal karena diberikan persenjataan minim.


"Dia sepertinya sengaja ingin mengumpankan kita. Usai kita menghabisi Denzel, aku punya firasat, ia akan membunuh kita semua," sahut Shamus sembari mengecek seluruh persenjataan dan amunisi dalam sebuah tas pemberian Rahul.


"Apa kalian ketahuan?" tanya William bertolak pinggang menatap dua kawannya yang duduk di batuan pinggir sungai.


"Sepertinya tidak. Apa kau meremehkan kemampuan acting kami?" tanya Ace mulai kesal.


William terkekeh. Ia lalu mengajak dua kawannya itu untuk ikut dengannya. Ace dan Shamus berjalan di belakang William. Mereka terlihat cuek saat William membuka bagasi mobilnya.


KLEK!


"Wow!" pekik Ace dan Shamus langsung melotot, melihat banyak jenis senjata dan amunisi dalam bagasi mobil William.


"Berhenti mengeluh dan segera selesaikan. Kita kembalikan semua senjata dan amunisi pemberian Denzel. Senjata makan tuan, heh?" kekeh William menaikkan salah satu alisnya.


Shamus dan Ace tersenyum lebar.


Pukul 12 malam waktu Portsmouth, New Hampshire, Amerika.


"Blue over," panggil Rajesh dari sambungan radio frekuensi khusus.


"Blue stand by," jawab William duduk di bangku kemudi dengan Shamus di sampingnya.


"Ada pergerakan di sisi timur. Ada iring-iringan mobil dan truk keluar dari kediaman Denzel. Mereka sepertinya akan menyeberang," ucap Rajesh menginformasikan.


"Ikuti, jangan sampai lolos dan cari tahu kemana perginya konvoi itu," perintah William.


"Copy that."


William melirik Shamus yang kini menghubungi Ace.


"Ace, over," panggil Shamus.


"Masih ada aktivitas di dalam rumah dan ... wait," jawab Ace menggantung.


"Ada apa?" tanya Shamus terlihat serius seketika.


"Lelaki, setelan eksekutif, rambut rapi, sekitar 50 tahunan. Ia dilindungi banyak orang bersenjata menuju ke ... helipad ramai! Helipad ramai! Gagalkan? Itukah Denzel?" tanya Ace yang sudah membidik sosok yang diyakini Denzel.


"Jangan biarkan Denzel terbang, Ace!" sahut William yang segera menyalakan mesin mobilnya.


"Roger that," jawab Ace cepat.


William melaju mobilnya menuju ke sasaran dengan manuver-manuver apik di dalam gang yang hanya muat satu mobil saja.


Shamus bersiap dengan senjata dalam genggaman. Namun, Shamus terlihat panik ketika William seperti ingin menabrakkan mobilnya ke bangunan di depannya dan terlihat sebuah kaleng beer di atas tangga.


"William!" teriak Shamus panik hingga matanya melotot dan spontan memegang benda apapun sebagai pegangannya.


Kening Shamus berkerut ketika William membuka dashboard mobil dan menekan tombol berwarna merah.


KLIK!


SWOOSH! BLUARRRR!


"Wow!" pekik Shamus terkejut ketika mengetahui jika mobil Mustang yang ditumpanginya memiliki misil dan menghancurkan bangunan di depannya.


BROOM!!


"Damn!" pekik Shamus lagi saat lubang yang William buat ternyata sebuah lorong rahasia menuju ke suatu tempat.


Namun, DODODODODOOR!


"Agh! Shit!" pekik Shamus langsung menutupi kepalanya karena dari luar dihujani peluru.


William terlihat tetap fokus pada kemudinya meski diberondong lusinan peluru dari dinding lorong yang ternyata memiliki senjata otomatis.


Namun, Shamus segera menyadari jika mobil William anti peluru. Senyum Shamus merekah, ia kembali duduk tegak dan bersiap dengan senjata Denzel.

__ADS_1


"Sam! Pastikan Rahul sudah disergap," perintah William yang akhirnya tiba di ruangan luas dengan banyak lelaki bersenjata sedang mengangkat peti ke sebuah truk.


Orang-orang itu terkejut dan kini membidik Mustang William.


Shamus segera menghubungi Yes meski bising karena suara peluru memekakkan telinga hampir tak berjeda, terus memberondong mobil Mustang William.


"Yes!" panggil Shamus lantang.


"Ya, aku sudah melihat kodenya dari ledakan William. SWAT sudah bergerak. Kerja bagus, serahkan Rahul pada kami. Aku pastikan Sia aman," jawab Yes tenang.


Shamus mematikan panggilannya dan menoleh ke arah William dengan anggukan. Agent muda bermata biru itu sengaja menabrakkan moncong mobilnya ke arah peti-peti hingga isinya berserakan di lantai.


"Now, Sam! Go! Go!" pekik William ketika ia berhasil membuat para penjaga di ruangan itu kocar-kacir dan terluka karena aksi gilanya.


Shamus segera keluar dari mobil dan berlari menuju ke sebuah pintu yang sudah diarahkan oleh William dalam strateginya menangkap Denzel.


William yang sengaja tak ingin menunjukkan kemampuan dari mobil Jonathan secara terang-terangan di hadapan Shamus itupun segera melakukan aksinya.


"Mobilmu memang keren, Jonathan. Aku tak segan menghabiskan seluruh amunisinya," ucap William tersenyum miring membidik sebuah truk yang ternyata berisi muatan ganja dan narkoba siap kirim.


KLIK!


BLUARRRR!!


Di sisi lain.


Mereka bicara dalam bahasa Indonesia campuran.


"Hehehe ... si William ini lumayan juga, Paman BinBin. Keknya kaca anti peluru dan lapisan dalam mobil cukup kuat nahan dorongan peluru, tapi Nathan penasaran kalo kena misil meledak gak ya?" tanya Jonathan yang ternyata menyaksikan pergerakan mobil William dari kamera tersembunyi yang dipasang anak buahnya kala itu pada bagian grilles mobil.


"Keknya tetep meledak, Jo. Itu mobil kalo kelindes tank ya tetep gepeng. Di dunia ini gak ada yang sempurna, tapi berusaha untuk memaksimalkan potensi patut diapresiasi. Hasil karyamu itu udah lebih dari cukup. Om aja bangga kok sama kamu," sahut Hadi memuji.


"Hehe, ya dong. Nathan gitu. But, eh, malah ikut nonton. Mana popcorn-nya, ish," keluh Jonathan yang duduk berselonjor kaki di sofa empuk ditemani BinBin dan Bayu The Kamvret.


"Njeh, Ndoro," jawab Hadi sebal dan berpaling pergi.


Kembali ke kediaman Denzel.


William memanfaatkan fiture pengendali mobil otomatis yang membuat Mustang-nya terus bergerak dengan berputar di lantai basement membentuk lingkaran.


KLANGG!


BUZZ!


William melemparkan kaleng gas ke beberapa sudut dari balik jendela mobil hingga tempat itu tertutupi asap pekat.


William keluar dari mobilnya dengan pengendali mobil ia bawa. Agent bermata biru itu melemparkan granat-granat ke para anak buah Denzel yang berusaha mengejarnya di balik kepulan asap.


BLUARRR!!


"Agh!" rintihan kematian terdengar bersahut-sahutan di lantai basement itu.


William berlari menaiki tangga masuk ke rumah Denzel. William bertemu dengan banyak anak buah Denzel yang kini mendatanginya karena suara ledakan di ruang bawah tanah.


William membidik orang-orang itu dengan bersembunyi di balik dinding.


Seketika, DOR! DOR! DOR!


BRUKK!


William menembaki orang-orang itu dengan pistol dalam genggaman. Namun, saat William akan keluar dari tempat persembunyiannya, ia terkejut karena orang-orang itu kembali bangun seperti manusia anti-peluru.


"What?!" pekik William kaget bukan kepalang karena tiga lelaki yang ditembaknya bangkit dan kembali menyiagakan senjata.


"William! Pasti baju pelindung itu bukan pakaian tempur biasa!" ucap Yes yang melihat pergerakan William dari kacamata bening khususnya.


"Yes, Sir. Aku sepakat denganmu," jawab William segera mengambil granat dari dalam tas dengan tergesa.


SWINGG!


BLUARRR!


"Argh!!" rintih anak buah Denzel saat terkena ledakan granat yang dilemparkan William.

__ADS_1


Namun, persediaan granat miliknya telah habis. Kini ia hanya mengandalkan peluru-peluru tajam dari berbagai jenis senjata api yang ada di tasnya.


William segera bangun dan mendatangi orang-orang yang menggelepar di lantai karena bagian tubuhnya menghilang dari tempatnya.


William miris melihatnya. Ia segera menuntaskannya dengan menembaki orang-orang itu tepat di wajah dan kepala.


DOR! DOR! DOR!


"Peace in hell," ucapnya tanpa ekspresi dan kembali melangkah mencari keberadaan Denzel.


Markas CIA, Kantor Jack, Virginia.


Mereka bicara bahasa Inggris.


"Dia masih hebat seperti dulu. Kenapa baru sekarang kita melihat tayangan live pertempuran seperti ini?" tanya Ara heran yang ikut menyaksikan.


"Berterima kasihlah padaku," sahut Jack terlihat bangga pada dirinya.


"Focus, Guys," celetuk Yes dan praktis, semua orang di ruangan itu diam seketika.


Kediaman Denzel, tempat William berada.


"Ace! Report!" panggil William yang berjalan di pinggiran tembok dengan pistol dalam genggaman.


"Aku berhasil melumpuhkan helikopternya, Will! Denzel dan anak buahnya kembali masuk. Helipad bersih!" jawabnya lantang.


"Good! Jangan biarkan anak buah Denzel lolos dari sini!"


"Yes, Sir!" jawab Ace yang kembali membidik dan menembaki anak buah Denzel yang mencoba kabur menggunakan mobil di halaman Mansion.


"Sam!" panggil William dari radionya.


"Yes, Will! Hah ... aku berada di barat bangunan. Aku kehabisan amunisi," jawab Shamus terdengar sudah terdesak.


"Aku akan ke sana," jawab William cepat.


Namun, saat William sedang menyusuri lorong menuju ke sisi barat bangunan, tiba-tiba sebuah pintu di sampingnya terbuka.


DUAKK!!


SRAKK!!


"Agh!" rintih William ketika tangannya yang membawa pistol ditendang hingga senjatanya jatuh.


BUAKK!


BUK! BUK! BUK!


Dengan segera, lelaki bertubuh besar dan memiliki janggut panjang itu memukul wajah William kuat hingga ia mundur ke belakang beberapa langkah terpepet tembok.


William yang linglung karena merasakan sakit di wajahnya, kembali mendapatkan serangan dari kepalan tangan lelaki berkepala gundul bertubi-tubi di wajah dan perutnya.


"Uhuk!"


BRUKK!


William roboh saat pukulan kuat menghantam perutnya. William meringkuk di lantai karena lawannya kali ini terlihat seperti orang terlatih.


GRAB!!


"Aggg!"


Mata William melotot saat rompi anti pelurunya ditarik ke atas bersama tubuhnya hingga kakinya tak memijak lantai lagi.


William berusaha melawan dengan menendanginya, tapi tubuh lelaki itu bagai berperisai baja.


Semua serangannya tak memberikan dampak apapun pada lelaki bertubuh besar yang kini siap membenturkan kepalanya ke dahi William.


Namun tiba-tiba, "Arghhh!"


Lelaki itu merintih ketika Shamus muncul dan memegangi leher serta kepala lelaki besar itu. Shamus menariknya ke belakang sekuat tenaga hingga ia mengerang.


"Will! Aku akan urus dia! Kau gagalkan Denzel! Ia akan kabur dari barat! Cepat!" pekik Shamus lantang dan William segera berlari menuju ke tempat yang Shamus maksud.

__ADS_1


"Cari lawan yang seimbang, Bung," ucap Shamus saat ia melepaskan dekapannya dan kini berhadapan dengan lelaki besar berwajah angker itu.


__ADS_2