Secret Mission

Secret Mission
Mencari Solusi*


__ADS_3

William terlihat tertekan karena ia merasa di posisi yang dirugikan. Kepalanya terasa panas.


William memutuskan untuk berhenti sejenak ke sebuah bar untuk menenangkan diri dengan minum dan makan malam.


William menelengkupkan kedua tangan di atas meja dan meletakkan dahinya ke atas punggung tangan.


Bartender mendatangi William dan menanyakan minuman. William memesan whiskey dan bartender itu pun segera menyiapkannya.


William menghembuskan nafas panjang, ia memijat kepalanya yang mendadak terasa berat dengan mata terpejam.


Saat ia merasa gelas pesanannya diletakkan di samping tangannya dan William membuka mata, ia terkejut ketika mendapati seorang gadis cantik berambut pirang sedang menatapnya dengan senyum terkembang.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Hai. Alone?" tanya gadis cantik itu dengan senyum menawan.


"Oh, yes. You?" tanya William sungkan sembari memegangi gelasnya.


"Yep," jawabnya yang lalu meminta minuman yang sama kepada bartender.


William menatap gadis cantik yang tak dikenalnya itu seksama sembari menyeruput whiskey miliknya. Gadis itu melakukan hal yang sama.


"What is your name?" tanya gadis itu kembali dan kini memposisikan tubuhnya ke hadapan Agent muda di depannya.


"William," jawabnya jujur.


"Ada yang ingin kubicarakan padamu, Will. Di tempat yang lebih privasi."


"Tentang apa? Aku tak masalah berada di tempat ini," jawab William yang merasa gadis di depannya ini seperti mengenalinya.


Mata William memindai sekitar, tapi tak ada satupun mata dari orang-orang itu yang menatapnya. Pandangan William kembali ke gadis cantik yang masih memandanginya.


"Menolak, ini kesempatan terakhirmu bertemu Sia."


Mata William terbelalak. Gadis itu beranjak dari dudukannya dan kini berjalan meninggalkan William yang masih terkejut.


Namun, William dengan cepat mengikuti gadis tersebut yang membawanya ke sebuah ruangan di lantai atas bar. William bersiaga dan merasa ancaman baru datang.


"Masuklah dan buat dirimu nyaman," ucap gadis itu membuka pintu dan mempersilakan William duduk.


William masuk dan tak ada siapa pun di sana. Ia duduk di sebuah kursi begitu pula gadis yang duduk di seberangnya.


Wajah ramahnya berubah serius seketika. William menyiapkan dirinya.



"Kemana tujuanmu setelah ini?" tanyanya to the point.


"Kau siapa?"


"Aku Tessa. Aku masih satu keluarga dengan lelaki yang kau temui tadi, Denzel Flame."


Sontak William langsung mengeluarkan pistol dari balik pinggang dan diarahkan ke gadis berambut pirang itu.


Namun, Tessa terlihat tetap tenang dan malah menyilangkan kedua kakinya, berpose menggoda.


"Aku tahu, kau sedang dalam posisi sulit, begitupula denganku dan kelompokku," ucapnya tenang.


William masih tak menurunkan pistolnya, ia menatap Tessa tajam.


"Oh ya? Sejauh mana kau bisa memberikan solusi dari kesulitanku?" tanya William yang sudah muak dengan segala nepotisme kelompok mafia yang ditemuinya.


"Tujuan utamamu hanya Sia 'kan? Ada yang lain?" tanya gadis itu masih bertahan dengan posenya.


William mengangguk.


"Setelah kau menikahinya, apa selanjutnya?"


William diam sejenak, ia terlihat memikirkan ucapan gadis itu. William menurunkan pistolnya dengan wajah tertunduk.


"Keluar dari agensi? Menjadi warga sipil dengan menjalankan usaha? Layaknya para pensiunan pemerintah? Jika ya, aku bisa mengabulkan. Kau tak akan terlibat dalam dunia polisi-mafia lagi," ucapnya yang praktis membuat William kembali menaikkan pandangan.

__ADS_1


"Kau sepertinya berselisih dengan Denzel, Nona Tessa," tebak William.


"Your car is my car. Check," ucap Tessa dan membuat William segera membuka dompetnya untuk melihat surat kendaraan pemberian Denzel.


William terkejut karena yang dikatakan Tessa benar. Gadis itu terlihat kesal dan William memanfaatkan kesempatan ini.


"Apa yang kau inginkan?" tanya William memasukkan dompetnya lagi ke saku belakang celana.


"Apa yang Denzel minta darimu?"


"Banyak. 5 nyawa kawanku ditukar dengan 5 orang dalam jajaran 13 Demon Heads. Sia, menjadi jaminan," jawab William jujur.


"Siapa saja 5 orang dalam 13 Demon Heads?" tanya Tessa serius menyipitkan mata.


"Jamal, Rahul, Axton, Boleslav dan Arjuna."


"What? Arjuna? Kim Arjuna? Anak Vesper?" tanya gadis itu langsung duduk dengan tegap. William mengangguk lugu.


Tessa mendesis kesal dan langsung melemparkan sepatunya ke arah dinding. William kaget dan mematung seketika.


"Denzel menginginkan kau membunuh Kim Arjuna?!" pekiknya memastikan. William kembali mengangguk.


"Kau, tidak boleh membunuhnya. Sisanya, aku tak peduli," tunjuk Tessa tegas sampai tubuhnya condong ke arah William.


"Why?" jawab William yang merasa jika pertikaian antara Denzel dan Tessa semakin panas.


"Dia, calon suamiku. Sampai kau membunuh Kim Arjuna, aku tak segan meledakkan Sia di depanmu, William Tolya," ucapnya bengis.


"Dengar. Denzel mengancamku. Kau juga mengacamku. Kau tahu betapa tertekannya diriku karena permintaan aneh kalian? Bahkan agensiku saja tak berlebihan seperti kalian," jawab William yang sudah tak peduli lagi dia Agent CIA.


Tessa terkekeh dan malah bertepuk tangan. Kening William berkerut.


"Kau tahu William, dari sekian banyak agent yang pernah berurusan denganku, hanya kau yang paling masa bodoh dengan misi. Biasanya para agent itu ketika aku mengancam mereka atau mengajak kesepakatan, mereka berpegang teguh pada misi yang diberikan, bahkan rela mati demi negara. Namun, kau? Hahaha ... sepertinya mentalmu bermasalah, William," ucap Tessa kembali tertawa meski bagi William tak lucu sama sekali.


William memalingkan wajah. Tessa masih tertawa geli melihat Agent muda itu yang mendesah kesal.


"Aku tahu, dalam lubuk hatimu kau lelah dengan semua hal ini 'kan? Menangkap para penjahat, memenjarakan mereka, menerima pujian, naik jabatan, mendapat bonus, yah, klasik," ucapnya yang membuat suasana di ruangan yang tadinya tegang berubah santai seketika.


"Sepertinya kau tahu banyak tentang dunia militer, Nona Tessa?"


William diam sejenak. Ia merasa ucapan Tessa ada benarnya.


Para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads yang sudah ditemuinya malah memiliki gaya aneh, tak seperti saat ia berurusan dengan Rio sebelumnya di mana ketegangan sungguh terasa.


"Anggota 13 Demon Heads tak takut mati, William. Bagi orang seperti Axton, Boleslav, bahkan Vesper, merekalah kematian itu. Mereka bangkit dari kematian berulang kali. Mereka tak bisa mati, William dan kau harus percaya itu," ucap Tessa serius.


"Tak bisa mati? Hah, mana mungkin," kekeh William merasa ucapan mistis mulai dibahas dalam pembicaraan ini.


"Pernah mencoba membunuh Axton? Apa berhasil?"


William menggeleng pelan, Tessa tersenyum.


"Kuberi tahu kau satu rahasia, William, jika kau sepakat denganku. Biarkan Kim Arjuna lolos, aku akan berikan Sia padamu. Aku akan melindungimu dari pengawasan Denzel Flame. Deal?"


William mengangguk karena merasa jika Tessa bisa membantu misinya kali ini meski ia tak mengharapkan banyak hadiah seperti kesepakatannya dengan Denzel Flame.


"Anak-anak dari penerus kursi dewan lemah. Oleh karena itu, Sia gagal dalam tes. Mereka tak sekuat orang tua mereka yang sudah duduk di kursi dewan. Aku yakin banyak informasi yang tak diberikan CIA padamu. Kau sama dengan para anak-anak mafia itu. Diragukan dan kurang bisa diandalkan. Menyakitkan bukan?" sindirnya dan William setuju akan hal itu.


William merasa ia mendapatkan banyak bocoran tentang misinya malah dari orang lain seperti Cecil, Rika, Axton, Denzel dan kini Tessa.


"CIA memanfaatkan kemampuan dan keluguanmu, William. Seperti kakek buyutku, Lucifer Flame. Ia sudah memberikan banyak untuk negara. Jiwa, raga, semuanya, tapi apa balasan pemerintah untuknya? Kematian yang sangat menyakitkan. Meninggalkan luka yang begitu mendalam hingga aku bisa merasakan penderitaannya," ucap Tessa dengan wajah bengis.


William menelan ludah. Pikirannya kini seperti berperang antara ucapan Cecil kala itu dengan Tessa saat ini. Ia tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.


"Kau ... keturunan Flame. Kau ... anggota The Circle?" tanya William dengan jantung berdebar.


"No Face lebih tepatnya. Dan aku ingin, kau membantuku membunuh Denzel Flame sialan itu. Musnahkan 8 Mens. Tak perlu penerus dari 8 Mens karena tak ada lagi lelaki yang tersisa kecuali satu Flame, tapi kami memutuskan dia untuk hidup. Dia layak hidup, ia sudah menderita karena para ibu kami yang memperlakukannya dengan keji," ucap Tessa tiba-tiba terlihat sendu.


"Dia? Siapa?"


"Bukan urusanmu. Tugasmu membunuh Denzel. Lakukan saja perintahnya. Bunuh Rahul, dia sasaran mudah. Hanya saja ia dikelilingi oleh banyak bodyguard. Namun, aku bisa membantumu," ucap Tessa yang kini menekan remote televisi.

__ADS_1


William menoleh ke arah televisi yang terpasang di dinding, tapi ia terkejut ketika mendapati dinding itu bergeser seperti pintu.


Tessa berdiri dan meminta William ikut dengannya. William menurut dan mengikutinya masuk ke dalam lift rahasia tersebut. Lift turun hingga ke basement.


"Tinggalkan mobil Audi-ku. Aku tahu, mobil itu tak cocok dengan seleramu," ucap Tessa sembari mengajak William berjalan di sampingnya ketika pintu lift terbuka.


Tessa menunjukkan sebuah mobil Mustang hitam yang terlihat begitu menawan di mata William. Senyum William merekah.



"Aku memberikan modifikasi tambahan. Kaca anti peluru serta senjata pemberian Denzel telah dipindahkan dan dimasukkan dalam bagasi mobil ini. Selain itu ...," ucapnya menggantung saat Tessa duduk di bangku kemudi dan mengambil sebuah pengendali dalam genggaman tangan yang ia ambil dari dashboard.


William bingung dan menatap Tessa seksama yang menurunkan kaca mobil agar apa yang ia lakukan terlihat.


"Wow!" pekik William terkejut saat moncong senapan muncul dari balik grilles dan bumpers.


Tiba-tiba, dari dinding depan mobil itu muncul papan sasaran tembak. Seketika, KLIK! DODODODODOOR!!


William menutup kedua telinganya rapat karena suara peluru-peluru memekakkan telinga.


Tessa tersenyum lebar saat memainkan joystick dan membuat mobil itu bergerak.


William melongo melihat Tessa dengan santai pindah ke dudukan belakang seakan mobil tersebut bisa mengemudikan sendiri.


"Wow," ucap William terkagum-kagum ketika mobil Mustang itu berputar mengelilinginya dengan Tessa duduk di bangku belakang mengendalikan mobil menggunakan pengendali dalam genggamannya.


"Keren bukan?" tanyanya saat mobil Mustang itu berhenti di samping William berdiri.


"Yes! Kau memodifikasinya?" tanya William melongok ke dalam di mana ia melihat interior mobil itu tak berubah sedikitpun.


"Berterima kasihlah pada remaja tampan bernama Jonathan. Ini salah satu karyanya. Beruntung ia tak menyadari jika yang memesan kendaraan ini adalah musuh dari 13 Demon Heads," ucap Tessa membuka pintu mobil dan William segera masuk ke dalam.


"Jonathan? Mafia?"


"Yes. Anak ketiga dari Vesper. Mobil ini tak sepadan dengan Audi milikku, William. Ini hanya ada satu dan Jonathan pasti mengenali karyanya. Ia hanya membuat satu untuk tiap tipe kendaraan. Ia tak suka karyanya dijiplak. Jadi, berhati-hatilah ketika bertemu dengan remaja tampan ini," ucap Tessa sembari menunjukkan foto Jonathan dari layar ponselnya.


Namun, mata William terbelalak. Kening Tessa berkerut.


"Jordan?"


"Bukan, Sayang. Jonathan. Kau tuli?"


"Bu-bukan. Aku sudah bertemu dengannya saat aku lawan tanding dengan Kim Arjuna. Lelaki yang kau bilang Jonathan ini mengaku bernama Jordan, adik dari Sia," jawab William antusias menjelaskan.


Tessa terbengong-bengong. Ia merasa otak William bermasalah.


"Ya sudah terserah kau saja. Intinya, kita barter. Mobil Audi itu sudah diotak-atik oleh Denzel dan aku harus membongkarnya," ucap Tessa terlihat kesal.


"Tessa," panggil William menatap gadis pirang itu seksama. Tessa menoleh dan menaikkan kedua alisnya.


"Sepertinya, Kim Arjuna dijodohkan dengan kekasihku, Sia. Kulihat mereka bersama," ucap William serius.


"Aku tak peduli. Ketika aku sudah memutuskan Kim Arjuna pasanganku, hanya dia yang boleh menjadi suamiku. Jangan berdebat denganku, William. Lakukan saja tugasmu dan ini, ponsel khusus. Tentu saja ada pelacaknya, aku harus memastikan kau pergi kemana saja. Mobil ini aman, tak ada pelacak, tak ada peledak otomatis seperti Audi-ku," ucap Tessa terlihat meyakinkan dan William mengangguk paham.


"Ini bar milikku. Kau menginaplah malam ini dan pergilah besok. Jangan sampai CIA mendapatkan mobil ini, William. Jangan beritahukan pada siapapun tentang kesepakatanmu dengan Denzel dan aku. Kau tak tahu siapa kawan dan lawan dalam agensimu. Kau saja pintar bersandiwara apalagi para seniormu. Agensimu penuh kebohongan, William dan kau sadar hal itu," ucap Tessa tegas sembari memberikan pengendali mobil pada William.


Agent muda itu terlihat merenung, memikirkan ucapan Tessa.


"Pintu di sebelah sana akan terbuka besok pagi. Kau tidurlah di tempat ini," ucap Tessa melenggang menuju ke lift meninggalkan William di basement itu sendirian.


"Oke!" jawabnya lantang.


William melihat sekeliling hanya ada sebuah sofa panjang untuknya tidur, sebuah lemari es, oven dan bilik toilet di dekat pintu tempatnya keluar besok.


William memegang pengendali di tangannya dan tersenyum miring.


"Jonathan licik, kau mengelabuhiku. Hmm, tapi aku jadi penasaran seperti apa Jordan," ucap William yang kini mencoba pengendali itu untuk mengemudikan mobil dan mengaktifkan senjata.


William begadang semalaman untuk melihat dan mengecek kinerja mobil modifikasi karya Jonathan.


William kagum pada remaja yang ditemuinya saat penyeleksian di mansion Arjuna.

__ADS_1


ILUSTRASI


SOURCE : GOOGLE


__ADS_2