
Kwkw dari kemarin mau bilang, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang melaksanakan kok lupa mulu elah.
Semoga puasanya lancar ditengah kerjaan segunung seperti lele. Ampe kadang suka keder yang mana dulu mau dikerjain😆
Baiklah meski lebaran masih lama, tapi boleh lah ya nyicil maaf-maafkan. Intinya saling maafin aja deh antara author dan reader.
Semoga novel Secret Missions cukup menghibur selama menjalankan ibadah puasa karena tiap novel yang lele sajikan selalu dibuat berbeda rasa antara satu dan lainnya terlebih ini sisi polisi di mana sebelumnya rasa mafia dominan.
Penasaran, apakah pikiran dan hati kalian bisa diajak untuk berbelok untuk memihak polisi, tapi kok keknya yg didukung tetap mafianya. Hahahaha😆
Itu aja dari lele dan jangan lupa like, komen, vote hadiah poin, koin, vocer ya. Kwkwkw. Lele kasih bonus bang William biar semangat puasanya.
------ back to Story :
Pagi itu, Sia dan William bangun lebih awal karena suara ketukan pintu. William membuka pintu dan mendapati kawan tim-nya dulu.
Ace dan Shamus membawakan sarapan untuknya dan Sia. William mempersilakan keduanya masuk.
Sia terkejut dan langsung duduk di kursi saat Ace meletakkan sarapan di meja lalu duduk.
Keempat orang itu terlihat saling mencurigai satu sama lain. Shamus ikut duduk di sebelah Ace. Mereka menatap William dan Sia tajam.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Kau membohongi kami selama ini, Will. Bahkan, kau bisa lolos dari serum yang diberikan oleh Sergei saat kita berada di mansion Axton," ucap Ace terlihat kesal.
Sia bingung dan memilih untuk segera menyantap sarapannya. Sebuah sandwich dan susu cokelat dalam kemasan.
Sia memberikan sarapan milik William dan Agent tampan itu segera duduk di samping sang isteri.
"Meski aku seorang Agent, apa pernah melukai kalian berdua? Melukai Rahul dan kawanannya? Bahkan kita yang malah berencana untuk membunuh Axton menggunakan Nandra. Hingga akhirnya, aku terjebak bersama Axton karena menangkap salah satu anggota The Circle karena aksi kita malam itu," tegas William ikut kesal sembari membuka sandwich yang dibungkus dengan aluminium foil.
Ace dan Shamus saling memandang. Sia terkejut mendengar kesaksian dari William yang tak diketahuinya. Sia memilih diam dan terus menyimak.
"Lalu, soal serum. Hanya kita bertiga yang lolos. Apa kau tahu yang disuntikkan oleh orang-orang Axton saat itu ke tubuh kita?" tanya Shamus masih terfokus pada William.
Agent muda itu menggeleng sembari mengunyah makanannya.
"Rajesh yang memberitahuku. Itu adalah serum pembunuh. Jika kita memiliki penyakit mematikan, serum itu akan mempercepat proses kematian kita. Kita beruntung karena sehat dan tak memiliki penyakit kronis. Hanya saja, efek saat serum itu mencari kelemahan kekebalan tubuh kita, sungguh terasa bagai siksaan. Aku menderita semalaman dan berpikir akan mati, tapi ternyata hidup," ucap Shamus terlihat pucat mengingat saat itu.
"Aku juga demikian," jawab William dan Ace bersamaan.
__ADS_1
Tiga lelaki itu terkekeh pelan bersama karena satu pemikiran. Sia merasa jika dua lelaki di depannya ini seperti berteman cukup akrab dengan William.
"Sepertinya kalian bertiga cocok. Kenapa harus bermusuhan hanya karena Rahul? Dia yang untung, kalian yang rugi," ledek Sia sembari terus makan.
Tiga lelaki itu melirik Sia tajam. Sia tertunduk mencoba mengabaikan sorot mata mematikan itu.
"Ace, Shamus. Saat kita menyerang Denzel nanti, aku ingin kalian tetap bersamaku," tegas William seperti sebuah permintaan.
"Memang itulah yang diminta oleh Rahul. Kita yang maju ke dalam peperangan bersama Rajesh dan anak buahnya. Rahul akan memantau di luar jarak serangan. Dia ... hmpf, selalu mengumpankan kita," jawab Ace terlihat pusing.
"What?" sahut Sia dan William bersamaan. Ace mengangguk membenarkan.
"Rahul ingin kau yang memimpin tim untuk melenyapkan Denzel Flame seperti saat kita menyerang kediaman Axton," imbuh Shamus menambahkan.
William menghembuskan nafas panjang dan mengangguk pelan. Sia melirik suaminya yang berpura-pura seperti orang tertekan padahal memang inilah yang menjadi tujuan dari misi mereka berdua. Sia tersenyum tipis.
Walaupun kehadiran Rahul di luar rencana, tapi keduanya sepakat untuk memanfaatkan anak dari anggota dewan tersebut meski ada perubahan dari strategi Sia sebelumnya.
Tak lama, TOK! TOK! TOK!
Shamus berdiri dan membuka pintu. Terlihat Rajesh dan Rahul datang bersama anak buahnya. Ruangan terasa sesak seketika.
Sia terlihat gugup meski ia berusaha untuk tetap tenang. William berdiri di samping Sia menatap orang-orang di depannya serius.
"Tidak bisa! Itu mobil milik Jonathan. Jika kau mengambilnya, dia akan marah," sahut Sia tiba-tiba sebelum William menjawab.
Rahul dan lainnya terkejut.
"Oh, benarkah? Bagaimana kau mendapatkannya?" tanya Rahul heran.
"Hadiah ulang tahunku dari Daddy. Itu mobilku bukan mobil William," jawab Sia mantab.
William tersenyum tipis. Ia tak menyangka jika Sia lebih baik dalam bersandiwara ketimbang dirinya.
Ia merasakan jika Sia memang sudah banyak berubah, tapi William yakin jika wanita cantik yang kini menjadi isterinya tetaplah Sia yang dulu.
"Jadi ... mobil itu memiliki senjata? Seperti yang dikatakan oleh orang-orang tentang karya Jonathan?" tanya Rahul memastikan dan Sia mengangguk pelan meski ia terlihat ragu.
Senyum Rahul merekah.
"Kita memiliki mobil tempur! Ini akan hebat! Aku tak sabar melihat aksi mobil itu nanti. Baiklah, ayo pergi sebelum manusia terakhir dari keturunan Flame kabur," ucap Rahul memerintahkan anak buahnya untuk menjaga ketat Sia dan William.
Suami isteri itu terkejut saat kedua lengan mereka dipegangi kuat. Hingga tiba-tiba, KLEK!
__ADS_1
"Rahul! Apa ini?" pekik William panik ketika dipakaikan kalung besi di lehernya.
"Jangan coba-coba dilepaskan. Itu ... kalung pemenggal. Dia memiliki detektor denyut. Jika kalung itu tak lagi merasakan denyut di lehermu, maka ... Kras! Pisau tajam akan muncul di sekelilingnya dan kepalamu akan menjadi pajangan indah di rumahku, William. Hehehe ...," kekeh Rahul terlihat begitu puas.
Sia dan lainnya tertegun. Ia panik melihat suaminya dijadikan jaminan dalam misi kali ini.
"Kau sengaja melakukannya! Kau memang berkeinginan untuk membunuh William!" teriak Sia dengan mata membulat penuh melepaskan paksa cengkeraman di kedua lengannya. Ia mendatangi Rahul.
"Kau ingin kupakaikan juga? Kau ingin tahu bagaimana melepaskannya?" tanya Rahul menyeringai.
"Ba-bagaimana?" tanya Sia terlihat tak yakin dengan permintaannya.
"Temui Daddy-mu. Minta ia melepaskan benda itu. Karena, kalung itu ... hadiah pernikahan dari Boleslav. Hahahaha!" tawa Rahul menggelegar.
Sia tertegun dan melangkah mundur hampir roboh, tapi dengan cepat ditangkap oleh William. Rahul terlihat begitu bahagia dengan kepanikan Sia dan William.
"Kemanapun kau pergi, Boleslav akan tahu, William. Nyawamu kini di tangan mertuamu. Selamat datang di dunia mafia, Mr. Tolya. Hahaha! Let's go!" teriak Rahul dengan tawa kemenangan mengajak orang-orangnya keluar dari kamar William untuk segera melakukan misi.
Sia menatap William dengan air mata berlinang. William terlihat pucat dan memeluk Sia erat.
"Will," tangis Sia pada akhirnya.
"Aku tak apa. Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir," ucap William mencoba menenangkan isterinya yang ketakutan meski hal sama juga dirasakan olehnya.
Shamus, Ace dan Rajesh terlihat iba pada kondisi William, tapi mereka tak bisa berbuat apapun. William dan Sia sudah bersiap di mobil.
Ace, Shamus dan Rajesh mengendarai SUV hitam di belakang Mustang William. Rahul di mobil paling belakang bersama anak buahnya yang tersisa.
Tiga buah mobil hitam melaju kencang menuju ke Portsmouth, New Hampshire. Mobil William sebagai pemandu jalan.
Terlihat selama perjalanan, Sia masih meneteskan air mata karena tak percaya jika Boleslav setega itu pada suaminya.
William juga terlihat tegang dan tak nyaman dengan kalung besi di lehernya. William berulang kali seperti mencoba untuk memegangnya, tapi ia urungkan.
"I'm sorry, Will," ucap Sia lirih kembali meneteskan air mata melihat sang suami tak lagi menampakkan senyum manis sejak kalung itu bersemayam di lehernya.
"Sudahlah, jangan menangis. Kau fokuslah pada tujuan kita untuk melenyapkan Denzel dan The Circle. Begitu misi selesai, kita akan cari cara untuk melepaskan kalung ini," ucap William tanpa senyuman di wajahnya dan Sia mengangguk cepat sembari menghapus air matanya.
William memejamkan matanya sejenak. Pandangannya kini fokus ke jalanan di mana membutuhkan waktu hampir 5 jam untuk sampai di kediaman Denzel.
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
__ADS_1