Secret Mission

Secret Mission
New Guy


__ADS_3

Dua mobil SUV hitam melaju kencang menuju ke kawasan dekat markas CIA, Langley, Virginia.


William baru menyadari jika markas tempat ia bernaung selama ini dekat dengan sasaran melaksanakan misi.


Sopir dari kedua mobil sengaja memarkirkan mobilnya jauh dari markas besar dengan posisi berbeda.


William dan orang-orangnya bersiap dengan persenjataan yang akan mereka gunakan untuk menangkap Yes hidup-hidup.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"One, over," panggil dari mobil SUV team dua yang mengambil posisi di sisi timur.


"One, copy," jawab petugas di mobil William.


"Sesuai dengan rutinitas. Mobil Yes keluar dari markas. Dia akan melewati kalian," ucap salah satu petugas komunikasi dari team dua.


"Copy that."


William menyiapkan pistol khusus yang ia sembunyikan di balik pinggang. Lelaki bermata biru itu sengaja tak memakai pakaian tempur seperti lainnya.


William melirik orang-orang yang semobil dengannya. Pemimpin tim memantau dari tampilan layar tablet dalam genggaman.


"Now, Will," ucapnya serius.


William segera melangkah keluar dari pintu tengah mobil. Ia berjalan menyeberang perlahan di mana jalanan aspal terbilang sepi karena masih pagi.


William sengaja menunjukkan dirinya untuk memancing Yes. Dan benar, rencana Tessa berhasil.


William berjalan santai di pinggiran aspal dengan brewok yang sengaja ia tumbuhkan agar terlihat seperti orang tak terawat. William hanya mengenakan pakaian casual seperti warga sipil.


Mobil yang disinyalir ditumpangi oleh Yes melintas. William pura-pura tak melihatnya. Seketika, mobil itu langsung merapat ke bahu jalan dan berhenti.


"William? William!" teriak seseorang yang muncul dari balik pintu.


William menoleh seketika dengan pistol siap ia keluarkan dari persembunyiannya untuk menembak Yes, tapi malah wajah lain yang muncul di hadapannya. Kening William berkerut.


"Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau bermaksud kembali? Cepat masuk ke dalam," ucap lelaki itu sembari menarik tangan William dan tanpa sengaja, William malah menjatuhkan pistol biusnya.


William bingung karena tiba-tiba ia ditarik paksa oleh lelaki yang tak ia kenal dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Dua orang pria keluar dari mobil sedan tersebut dan mengarahkan pistol ke berbagai sudut seperti bersiaga dari serangan.


"Go! Go!" perintahnya lantang sembari menepuk sandaran kursi.

__ADS_1


"Budak ditangkap! Kuulangi, budak ditangkap!" ucap petugas dari team satu yang mengawasi gerak-gerik William.


Terlihat, William bingung dengan hal ini. Ia ingin memberontak, tapi insting polisinya yang sudah mendarah daging dalam dirinya tak bisa dihapus oleh Tessa.


William yang penasaran memilih untuk ikut dengan lelaki tak dikenalnya, tapi ia yakin jika lelaki tersebut mengenalnya. William menatap lelaki itu seksama.


"Kau siapa?" tanya William dengan kening berkerut.


Lelaki itu langsung menoleh dan balas menatap William tajam. Matanya kini terfokus pada kalung yang dipakai olehnya. Orang itu kaget.


"Kenapa kau bisa memakai kalung ini? Kau sudah bertemu dengan Boleslav? Bagaimana kabar adikku? Apa kau tahu, jika Selena tewas bahkan kini Yena ikut menghilang? Katakan padaku, William. Aku yakin kau tahu semua," ucapnya terlihat serius.


Namun, William diam saja. Ia sungguh tak tahu apa yang terjadi.


"Kau siapa?" tanyanya lagi.


Pria itu menatap William tajam. Seketika, BUAKK!


"AGH!" rintih William saat wajahnya tiba-tiba dipukul kuat oleh pria tak dikenalnya dengan kepalan tangan kanan.


"Lempar dia!" teriak pria tersebut memerintahkan anak buah yang duduk di samping William.


Mantan agent CIA itu terkejut. Ia tak mau dilempar dari mobil yang membawanya.


Saat William berusaha melepaskan cengkraman tangan lelaki yang duduk di samping kirinya tepat di bahunya, William melihat dari kaca belakang jika mobil timnya ikut mengejar. William tersenyum miring.


Pria itu melotot. Ia menengok dan mendapati dua buah mobil SUV mengejar mobilnya. Para bodyguard berjas dari lelaki tersebut panik dan segera menyiagakan senjata.


"Penyerang!" pekik pria tersebut.


Seketika, DODODODODOR!!


PRANG!!


"SHIT!" pekik pria tersebut langsung merunduk ketika jendela kaca belakang mobilnya pecah karena diberondong oleh serencengan peluru dari dua mobil yang mengejarnya.


"Apa Boleslav yang mengirimmu? Apa Manda sudah melupakan kakaknya?" tanya lelaki itu dengan nafas tersengal menatap William tajam.


William yang masih berusaha melawan pria di sebelahnya yang memborgol salah satu tangannya dengan tangan lawannya, kembali bingung. Kini, banyak pertanyaan muncul di pikirannya.


Pria tersebut melakukan serangan balasan. Ia menembakkan seluruh pelurunya dari pistol yang ia genggam melalui pecahan kaca belakang.


Suara tembakan bersahut-sahutan. William sibuk berkelahi dengan lelaki yang memborgolnya. Ia berusaha melepaskan borgol itu, tapi tidak bisa.

__ADS_1


William membenturkan dahinya ke hidung lawan dengan kuat hingga bodyguard itu linglung dan langsung memejamkan mata.


William ikut pusing, tapi ia masih bisa menahannya. Ia mencari kunci borgol di balik saku jas pria tersebut dengan tangan kanannya yang tak terbelenggu.


Pria yang mengenali William melihat mantan agent tersebut berusaha untuk meloloskan diri. Lagi-lagi, DUAKK!!


"Agh!"


Rambut belakang William dijambak dan wajahnya dibenturkan ke kaca jendela samping dengan kuat. William jatuh menimpa lelaki yang terborgol bersama dirinya.


Bodyguard pria yang hampir seumuran dengannya itu segera melepaskan borgol di tangannya dan mengaitkan ke kaki kursi mobil agar William tak kabur.


William di dorong hingga ia kini jatuh pada karpet dan punggungnya diinjak oleh bodyguard pria tersebut sebagai pijakannya yang akan meluncurkan misil.


Namun, bodyguard itu ceroboh karena pengait borgolnya tak kuat bahkan kunci borgol terjatuh di depan wajah William. Lelaki bermata biru itu menyeringai.


"Stabilkan!" ucap bodyguard itu lantang ketika bosnya ikut melindungi dengan terus menembaki bagian depan mobil lawan.


"Ledakan mereka!" teriak pria yang mengaku mengenalinya lantang.


Namun, "Ugh!"


SWOOSHH!! BLUARRR!!


William tertegun. Ia yang sengaja tiba-tiba bangun untuk menggagalkan peluncuran ke mobil timnya, malah membuat misil itu meluncur dan mengenai mobil tim dua.


William kaget begitu pula semua orang. Pria pemanggul RPG jatuh ke depan hingga peluncur RPG dalam genggamannya terlepas dan malah terdorong ke balik kaca yang pecah.


Senjata itu kini tersangkut di atas bagasi belakang mobil. William yang duduk bersimpuh di atas karpet celah dudukan mobil saling berpandangan dengan pria tak dikenal.


"Kau ingin melawanku atau menolongku, William?" tanyanya bingung.


William yang bingung dengan aksi tak disengajanya diam. Namun, ia sudah bersumpah setia pada Tessa.


CEKREK!


Pria yang mengenali William langsung mengangkat kedua tangan ketika pria bermata biru tersebut menarik pistol dari balik pinggang bodyguard yang memborgolnya tadi dengan cepat.


Kini, moncong pistol itu diarahkan ke wajah pria di hadapannya.


"Siapa namamu?" tanyanya dengan sorot mata tajam.


"Tak mengenaliku ya? Baiklah, kita berkenalan lagi. Konstantin. Ayah dari Selena dan Tomy yang telah tewas karena dibunuh oleh orang-orangmu, William," ucapnya dengan penuh kebencian.

__ADS_1


"Konstantin?" tanya William memastikan.


"Yes, Konstantin. Ingat itu baik-baik," jawabnya serius dengan mobil masih melaju kencang, mencoba kabur dari kejaran mobil SUV yang tersisa.


__ADS_2