Secret Mission

Secret Mission
Menujukkan Bukti


__ADS_3

Akhirnya, William sepakat untuk ikut dengan Amanda dan timnya ke Jepang. Penerbangan dengan pesawat pribadi kurang lebih 5 jam, digunakan oleh Amanda dan timnya sebaik mungkin.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Apa ini?" tanya William yang terkejut saat Buffalo memberikan sebuah map berwarna hitam di hadapannya cukup tebal.


"Pengakuan Cecil sejak ia bergabung dengan The Circle di bawah kedok CIA. Ini asli. Yuri dan Maksim yang mengambil dokumen ini langsung tepat sebelum Cecil menghembuskan nafas terakhirnya," jawab Amanda berwajah serius.


William meraih map itu gugup dan membuka halaman pertamanya perlahan.


"Meskipun 13 Demon Heads dan The Circle berselisih, setidaknya dokumen ini membuat kita tahu jika selama ini kita hanya dipermainkan dan dirugikan olehnya, William. Buka mata dan pikiranmu lebar-lebar," sambung Amanda tegas menatapnya sembari menyilangkan kaki.


"Olehnya? Siapa?" tanya William dengan kening berkerut.


"Madam. Sierra Becca dengan nama alias Selviosika Bianca Feros. Persis seperti dugaan suamiku, Boleslav. Kami menyelidiki pemimpinmu selama sebulan ini. Ia telah bersembunyi sekian tahun lamanya dari dunia, William. Hal mengejutkan ada dalam pengakuan Cecil pada lembar ke 37. Bacalah," jawab Amanda menunjuk map hitam tersebut.


William menarik nafas dalam dan membuka halaman yang disebutkan oleh Amanda.


Sebuah tulisan tangan yang dibuat Cecil untuk menunjukkan keaslian dari pengakuannya. Jantung William berdebar.


"Hari ini, salah satu anak buah Lucifer Flame mendatangiku di hujan yang cukup lebat. Paris, kota Besançon. Dia membawa seorang gadis remaja kepadaku. Mereka berdua basah kuyup dan terlihat berantakan. Bahkan lelaki itu terlihat seperti terluka saat membawanya. Aku menanyakan siapa nama gadis itu dan ia mengatakan jika bernama Sierra Becca. Aku diminta membawanya pergi sejauh mungkin dan aku pun melakukannya. Aku membawa gadis berambut pirang panjang itu kembali ke Amerika. Selama perjalanan hingga kami tiba di Amerika, dia diam saja sampai akhirnya ia meminta padaku untuk membawanya ke sebuah tempat di Ohio. Ya, itu adalah Kastil tempat aku dan William melakukan pelatihan di bawah naungan The Circle."


Praktis, mata William melebar seketika. William segera membalik kertas yang dijadikan seperti buku berjilid itu dengan jantung berdebar.


"Kastil itu ternyata miliknya. Ia meminta padaku agar membuat identitas baru dengan nama Selviosika Bianca Feros dan aku pun menurutinya. Entah kenapa, semua permintaannya kukabulkan begitu saja. Gadis berwajah dingin dan beraksen tegas itu meminta banyak hal padaku dan sebagai gantinya, aku diberikan emas-emas batangan yang cukup banyak. Dia mengatakan jika emas-emas itu adalah miliknya dan aku pun mempercayainya. Aku menerimanya sebagai bayaranku."


William melirik Amanda yang masih menatapnya tajam begitupula Buffalo dan lainnya. William melanjutkan membaca tulisan yang sudah mulai pudar karena sudah lama.


"Aku diminta untuk menjadi pelindungnya, tapi aku yang masih bekerja pada CIA tak bisa mangkir dari pekerjaanku terlalu lama. Gadis cantik itu memintaku untuk merahasiakan tempat tersebut dan memberikan nama khusus bagiku. Ya, TC-C-001. Akulah orang pertama yang dijadikan oleh Sierra sebagai salah satu penjaganya. Aku meninggalkan gadis cantik itu dengan segala jenis alat komunikasi dan senjata yang kupunya. Dia mengatakan agar jangan menghawatirkanku. Aku berjanji akan menjenguknya ketika sedang libur. Aku menepati janjiku. Aku kembali lagi ke tempat itu setelah 3 bulan. Aku khawatir jika gadis itu akan sakit atau bahkan mati. Namun, dugaanku salah."


William menarik nafas dalam dan melanjutkan membaca. Ia membalik lembar selanjutnya.


"Ternyata, dia membuat sebuah kelompok yang beranggotakan para wanita. Kedatanganku disambut baik oleh mereka. Delapan wanita dengan berbagai jenis ras berkumpul pada hari itu. Ternyata setelah aku selidiki, mereka adalah para wanita Lucifer Flame yang dikumpulkan oleh Sierra, tapi apa tujuannya, sampai sekarang aku tak tahu karena Sierra Becca, tak mengatakan padaku alasannya."


"No Face. Itulah asal mula kelompok berisi para wanita itu terbentuk, William. No Face berisi para wanita Lucifer Flame yang mengandung anaknya. Sierra Becca atau yang kau sebut Madam, mengumpulkan mereka. Sierra membesarkan anak-anak itu dan menjadikan kelompok baru bernama 8 Mens. Namun, yang menggelitik dari catatan Cecil di situ tertulis, jika Sierra Becca adalah satu-satunya isteri sah Lucifer Flame yang dinikahi olehnya. Sayangnya, catatan Hashirama tak mengatakan demikian. Oleh karena itulah, kita akan menyamakan bukti yang dimiliki Cecil dengan Hashirama di Jepang," ucap Amanda tegas.


William terlihat bingung dengan hal ini. Ia memejamkan matanya sejenak terlihat memikirkan ucapan Amanda serta tulisan Cecil yang dibacanya.


William meneruskan membaca catatan dari Cecil mulai dari lembar pertama hingga halaman terakhir.


Amanda dan anak buahnya menatap gerak-gerik William seksama yang terlihat begitu fokus dalam membaca.


"Kau sudah amankan salinannya 'kan, Buffalo?" tanya Amanda dari pesan elektronik yang ia kirimkan diam-diam melalui ponsel.


Buffalo yang duduk di kursi lain mengangguk pelan dengan ponsel dalam genggaman.


Amanda mengantisipasi aksi William yang bisa saja membelot suatu saat nanti seperti yang terjadi ketika ia berpura-pura sedih, tapi ternyata tujuannya membunuh Cecil saat wanita itu lengah.

__ADS_1


Akhirnya, penerbangan mereka berakhir. Pesawat Amanda mendarat di Bandar Udara Internasional Kansai keesokan harinya.


William yang masih menjadi tahanan oleh Amanda dijaga ketat oleh Buffalo dan timnya ketika memasuki mobil penjemput untuk membawa mereka ke Markas Hashirama di Kyoto, Jepang.


William ditatap tajam oleh Amanda dan lelaki bermata biru itu tertunduk. Entah kenapa, tiap Amanda melihatnya, rasa bersalah muncul dalam hatinya.


Tak lama, mereka tiba di salah satu markas Vesper, peninggalan mendiang ayahnya, Hashirama.


William melihat sekitar di mana ini pertama kalinya ia mendatangi sebuah markas di Jepang, terlebih milik salah satu anggota dewan 13 Demon Heads.


"Masuk," ucap Agent S menunjuk kursi di dalam sebuah sel dan William menurut.


William menatap orang-orang yang terlihat seperti membicarakan sesuatu di luar selnya.


Amanda dan Buffalo masih berada di depan jeruji besi bersama lelaki yang mengaku bernama S. William diam memperhatikan.


CEKREK!


William tertegun saat seorang wanita masuk ke dalam ruangan diikuti oleh dua lelaki memakai yukata hitam dan pedang katana yang disarungkan dikedua pinggul, terlihat garang dan tangguh.


"Letakkan di sana," pinta wanita berambut hitam menunjuk ke sebuah meja yang diletakkan di depan jeruji besi.


William beranjak dari kursinya dan ikut mendekati jeruji. Ia melihat sebuah buku kuno berukuran besar dengan tulisan Jepang.


"Bisa bahasa Jepang?" tanya wanita cantik itu. William menggeleng.


"Namun, Anda cukup hebat untuk hal lainnya, Vesper-sama," sahut lelaki di sampingnya tersenyum.


"Vesper? Kau Vesper?!" pekik William lantang menatap Vesper tajam.


"Ya. Kenapa? Apa aku salah satu target yang harus kau bunuh?" tanya Vesper menatap William santai.


"Bukan. Kau satu-satunya anggota dewan yang tak boleh kubunuh."


Vesper dan lainnya tertegun.


"Kenapa? Baru kali ini aku lolos dari incaran pembunuhan. Oh, aku sangat penasaran. Boleh tahu alasannya?" tanya Vesper gembira seketika.


"Entahlah. Tessa dan Nokomis mengatakan jika Vesper bukan target, tapi sisanya ya. Oh, termasuk empat anakmu. Sandara, Lysa, Arjuna dan Jonathan. Mereka juga bukan target."


Vesper dan lainnya kembali terkejut. Vesper mendatangi William dan menatapnya lekat.


"Boleh kutahu, kenapa Tessa sangat menginginkan Arjuna?" tanya Vesper menatap William seksama.


"Aku hanya tahu jika Tessa mencintainya. Soal tiga anakmu lainnya, aku tak tahu alasan The Circle tak menjadikan mereka target," jawab William serius. Vesper mengangguk pelan.


"William. Kau sudah membaca catatan dari Cecil. Apa kau sudah merekamnya dalam otakmu yang bermasalah itu?" tanya Amanda terlihat membencinya. William mengangguk pelan.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan gunakan alat translator ini. Aku tahu kau tipe orang yang butuh kejelasan akan sebuah bukti. Biarkan alat ini yang menerjemahkannya untukmu. Setuju?" tanya Vesper sembari menunjukkan sebuah pulpen berwarna hitam yang ternyata alat translator. William mengangguk.


William berdiri menghadap buku besar itu. Vesper berdiri di samping buku sembari mengarahkan pulpen seperti orang sedang mengeja. Tak lama, suara wanita dari mesin translator berbunyi.


William terkejut karena alat itu berfungsi dengan baik bahkan menerjemahkannya dengan sempurna.


William mendengarkan dengan seksama penuturan dari terjemahan tulisan Jepang di hadapannya.


"Aku. Kai Hashirama. Ketua 13 Demon Heads yang pertama. Kutinggalkan catatan ini sebagai bukti sejarah terbentuknya kekaisaran mafia di dunia. Kami menyebut diri kami, para Dewan. Hanya 13 orang mafia terkuat yang bisa duduk di kursi kebesaran ini," ucap alat translator.


Semua orang diam mendengarkan. Vesper kembali mengarahkan pulpen itu ke kalimat berikutnya dengan tenang.


"Lucifer Flame, adalah orang yang akhirnya kami ketahui sebagai pencetus terbentuknya 13 Demon Heads. Pencarian panjang kami selama bertahun-tahun terkuak setelah kami berhasil mencari petunjuk dari inisial D yang berarti Death atau kematian."


William menelan ludah, entah kenapa ia menjadi tegang mendengar pengakuan dari lelaki bernama Hashirama.


"Kami memburu Lucifer Flame. Hingga akhirnya, kami mengetahui di mana keberadaannya dan siapa saja keturunannya. Lucifer hanya memanfaatkan dendamnya pada pemerintah dengan menggunakan kami sebagai bonekanya."


William terdiam. Ia seperti mulai menelaah dan membandingkan cerita dari Tessa, Cecil serta Hashirama.


"Lucifer dianggap penghianat karena membebaskan sandera seorang pembunuh keji bernama Sierra Becca. Seorang penjahat wanita asal Italia. Lucifer menghianati negara karena jatuh cinta pada wanita itu. Hanya saja, cinta Lucifer dan pengorbanannya tak terbalas. Sierra malah membuat Lucifer menderita dan diburu militer."


Mata William melebar seketika. Ia seperti kaget mendengar pengakuan itu.


"Sierra mengkambinghitamkan segala tindakan kriminalnya kepada Lucifer. Lucifer yang dulunya Jenderal diberhentikan dan menjadi buron di seluruh dunia. Lucifer yang tahu seluk-beluk dunia militer mulai mencari para penjahat kelas berat untuk membantu aksinya membalaskan dendam pada Sierra dan pemerintah. Kamilah ... ketiga belas penjahat yang masuk dalam daftar hitam agensi militer di seluruh dunia."


Mulut William menganga lebar termasuk Buffalo yang kembali terkejut karena ia hampir lupa dengan cerita itu.


"Kami adalah ... aku, Kai Hashirama. Fernandez Oskav, Rivera Yosephine, Alexandro Derama, Valentino Hermi, Nirama Alexsi, Miguel Sancez, Keanu Javar, Gatot Sukoco, Malkovich Denan, Alfonso Jedi, Abigail Musafah dan Kikio Yamato."


William menatap Vesper seksama yang mengangkat pulpen translatornya. Vesper memandangi William yang terlihat bingung akan hal ini.


"Jadi ... Madam alias Sierra Becca, memanfaatkan nama Lucifer Flame untuk membentuk No Face dan 8 Mens demi menghancurkan musuhnya, 13 Demon Heads. Madam menganggap 13 Demon Heads sebagai ancaman karena Lucifer memberikan misi pada mereka untuk membunuh Sierra Becca dan balas dendam kepada Pemerintah yang sudah membuatnya menderita karena pengorbanannya untuk kedamaian umat," ucap Vesper menjelaskan.


Nafas William terasa tercekat. Ia berjalan mundur terlihat pusing memikirkan hal ini sembari memegangi kepalanya.


"Kau, dimanfaatkan, William. Semua video yang kau tonton selama ini adalah kebenaran. Sedang ucapan Tessa dan lainnya, itu adalah kebohongan. Orang tuamu meninggal karena The Circle. Mereka mengincarku, William. Hanya karena ayahmu, Miskha menolongku saat itu. Apa salah, jika ayahmu menolong seorang wanita yang tersesat di hutan dan memberikannya tempat untuk beristirahat walau semalam? Apa salah jika aku membalas kebaikan ayahmu dengan memberikannya uang? Kenapa bagi The Circle yang kulakukan dianggap sebagai kejahatan? Mereka membunuh kedua orang tuamu karena kebaikan hatiku saat itu. Siapa yang gila di sini, William?! Aku atau mereka?!" teriak Amanda dengan mata berlinang melampiaskan amarahnya yang selama ini terpendam.


William memegangi kepalanya dengan wajah tertunduk. Terlihat jelas, ia tertekan akan semua hal yang masuk ke kepalanya dalam waktu bersamaan.


***


panjang nih epsnya khusus buat para reader yg bisa move on dan tetep semangat untuk membaca next eps biar alasan bang tony wasalam terkuak.


trims tips koinnya. besok masih dobel eps. semangat😘


__ADS_1


__ADS_2