
Kabar menggembirakan itu, langsung Yena sampaikan pada sepupunya, Sia. Tentu saja, Sia menyambut kabar gembira itu dengan penuh suka cita.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Lalu ... apakah Zaid akan menemui Mommy untuk melamarmu?" tanya Sia antusias saat keduanya mengobrol di ruang keluarga.
"Ya. Rencananya begitu. Hanya saja, menunggu Bibi pulang dulu. Oh, aku benar-benar bahagia, Sia. Zaid memintaku untuk mempelajari sedikit demi sedikit tentang agamanya. Lalu katanya, penting bagiku untuk mempelajari bahasa Arab agar aku bisa ikut membaca kitabnya. Selain itu, mengingat aku dicalonkan menjadi anggota Dewan Sekretariat, aku harus bisa minimal 3 bahasa. Aku rasa ucapan dia ada benarnya," jawab Yena dengan mata berbinar.
Sia memeluk sepupunya erat dengan senyum merekah begitupula sebaliknya. Yena melepaskan pelukannya perlahan dan menatap Sia yang terlihat murung.
"Belajarlah yang giat. Jangan sepertiku. Aku gagal belajar bahasa Indonesia. Aku hanya bisa bahasa Inggris dan Rusia, sama sepertimu. Aku benar-benar payah," keluhnya.
"Seingatku, kau dulu bisa bahasa Mandarin. Oia, aku lupa. Ingatanmu dihapus oleh ayahmu, Julius Adam," sahut Yena mendesah.
"Benarkah? Kau tahu dari mana?" tanya Sia terkejut.
"Bibi pernah bercerita padaku. Dulu kau pernah tinggal di Hongkong, mansion milik Victor, tapi kini menjadi milik Tuan Han. Kau sekolah di sana dan di sanalah Bibi pertama kali bertemu dengan nyonya Vesper. Di sana juga ia melahirkan si kembar," imbuh Yena yang lagi-lagi mengejutkan Sia.
Namun terlihat, jika anak pertama Amanda seperti marah. Yena menatapnya seksama.
"Ayahku sungguh keterlaluan. Apa yang dia pikirkan hingga sekejam itu padaku? Bahkan sampai Daddy meninggal, aku masih belum bisa mengingat kenanganku dengannya," ucap Sia geram dengan nafas menderu.
Yena memegang tangan Sia erat dan menatapnya lekat.
"Sudahlah, Sia. Orang-orang itu telah tiada. Lebih baik, kau fokus pada kehamilanmu. Selain itu, segera selesaikan pekerjaanmu sebelum suamimu terbangun nanti. Oke?" ucap Yena menasehati dan Sia mengangguk pelan.
Sia dan Yena kembali ke kamar masing-masing. Sia kembali memandangi wajah suaminya yang terlihat seperti orang tertidur pulas, tapi tak kunjung bangun.
"Will ... mau sampai kapan kau berbaring di sini? Apa kau tak merindukanku? Apa kau tak ingin melihat anakmu lahir?" tanya Sia kembali sedih dan mencium kening suaminya lembut.
Sia membaringkan tubuhnya di samping William. Ia ikut menyelimuti tubuh sang suami malam itu. Sia menyenderkan kepalanya ke lengan suaminya dan memegang tangannya erat.
Tak terasa, pagi sudah menjelang. Manda yang diberikan kabar mengejutkan oleh Zaid, segera kembali ke Amerika tanpa sepengetahuan Sia dan Yena.
Amanda mendukung keputusan Yena dan tak mempermasalahkannya asalkan keponakannya itu bahagia.
Namun, Amanda kembali ke New York karena ingin mengecek keadaan Jason. Zaid dan Yena diminta untuk datang ke sana, membicarakan tentang niatan Zaid untuk menikahi anak tunggal dari mendiang Roberto-Mila.
"Mm, ya begitulah, Nyonya Manda. Aku sangat bahagia karena Yena akhirnya bisa seiman denganku," jawab Zaid gugup saat Amanda, Q, Renata dan Jason duduk di depan sepasang calon suami isteri itu.
"Zaid tak memaksaku, Bibi. Aku yang menginginkannya. Ini keputusan dan pilihanku. Zaid lebih memahami tentang agamanya ketimbang aku. Aku harap, Bibi bisa mengerti," sahut Yena cemas.
Amanda tersenyum, begitupula lainnya.
__ADS_1
"Bibi hanya ingin kau bahagia, Sayang. Apapun keputusanmu, akan Bibi dukung. Ditambah, kau akan menikah dengan Zaid, Bibi semakin senang. Dia lelaki baik, yah meski ... kita hidup dalam dunia mafia. Namun Bibi rasa, dari semua mafia dalam jajaran Vesper, Zaid yang paling lurus ketimbang yang lain," ledeknya.
Zaid terkekeh. Namun, ia malah merasa perkataan Amanda sebuah hinaan bukan pujian. Semua orang terlihat bahagia.
Hari itu, Amanda terlihat sibuk bersama yang lain, untuk menyiapkan pesta pernikahan. Rencananya akan dilangsungkan tahun depan saat musim semi di kediaman Zaid, Lebanon.
Namun, Yena masih ragu di mana ia akan menetap nantinya. Zaid tak mempermasalahkan hal itu.
Lelaki itu sadar jika Yena juga mengemban banyak amanat yang dipercayakan padanya untuk membantu mengurus bisnis Amanda.
Kabar gembira ini tentu saja membuat orang-orang dalam jajaran Vesper bahagia. Jonathan tak henti-hentinya meledek saudara satu nenek itu.
"Kau juga segeralah menyusul, Jonathan. Aku doakan semoga kau segera bertemu dengan Sierra dan hidup bahagia dengannya untuk selamanya," ucap Zaid dari sambungan telepon.
"Ya ya aku tau. Brisik. Akan aku siapkan pesta meriah untukmu, Kak Zaid," jawab Jonathan terdengar gembira.
"Terima kasih, Jo. Kau memang saudaraku yang sangat bisa diandalkan. Sampai nanti," ucap Zaid lalu menutup teleponnya.
Sedang di waktu yang sama. Yena juga menghubungi sepupunya, Sia.
"Ahhh, aku sungguh bahagia mendengarnya. Kau sangat baik sekali memikirkanku, Yena. Kau sengaja memilih tahun depan saat aku sudah melahirkan. Aku harap, aku bisa menghadiri pernikahanmu dengan William nanti," ucap Sia dengan senyum merekah di wajahnya.
"Aku juga berharap demikian, Sia. Ya sudah, aku kini ikut dikejar waktu. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaan segunung ini sebelum pernikahanku dilangsungkan. Ya Tuhan, tanganku sampai berkeringat dingin karena bahagia," jawabnya terdengar sumringah.
Ia sangat bersyukur karena Yena telah menemukan sosok pendamping hidup dan tak menjalani proses rumit seperti dirinya dan William.
Sia kembali mengecup kening sang suami dan segera beranjak untuk menyelesaikan pekerjaan di ruang kerjanya.
Arthur kini yang membantunya. Sia merasa sangat terbantu karena Arthur sangat bisa diandalkan.
"Aku akan ke California nanti malam. Julia mengatakan jika dia dan kelompok Red Skull berhasil menghimpun 50 orang lagi. Ini sangat bagus, Sia. Selanjutnya aku akan ke Rusia menemui Bykov. Dia juga berhasil merekrut 50 orang. Semua anggota akan aku kumpulkan di markas bawah tanah peninggalan Rio sebelum aku serahkan pada Rohan nantinya," ucap Arthur menjelaskan dan Sia mengangguk pelan.
"Terima kasih, Paman Arthur. Kau sangat membantu," jawab Sia dengan senyum terkembang.
"Kau fokus saja pada usaha legal yang akan kau kelola nantinya. Perusahaan Asuransi ayahmu, Julius Adam. Perusahaan itu telah dibeli oleh daddy-mu, Antony Boleslav, untukmu. Jadi, jalankan dengan baik, Nona CEO," ledek Arthur.
Spontan, Sia menepuk lengannya kuat terlihat sebal.
"Hempf, aku beruntung, semua pemegang saham adalah orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads," imbuh Sia sembari membaca berkas berisi daftar pemegang saham di mana nama-nama anggota dewan tertulis di sana.
Malam itu, Arthur pergi meninggalkan mansion Boleslav di Los Angeles bersama empat orang Black Suit menuju Los Angeles.
Mansion semakin sepi. Hanya tersisa 10 orang Black Suit penjaga, 5 pelayan mansion dan 3 orang tim medis termasuk Roza.
__ADS_1
Sia kembali ke kamarnya karena merasa lelah. Kehamilannya yang semakin membesar, membuat pergerakannya semakin lambat.
Sia rutin mengkonsumi makanan sehat untuk kesehatan janin serta asupan multivitamin pemberian dokter.
Tak terasa, kehamilan Sia sudah memasuki 8 bulan dan belum ada tanda-tanda William akan sadar.
Sia tetap membersihkan tubuh sang suami dengan telaten setiap hari. Menyisir rambutnya dan merapikan brewok serta kumis yang menutup sebagian wajahnya.
Roza terpaksa kembali ke Rusia karena Bykov membutuhkannya untuk metode pelatihan bagi para anak buah Rohan khusus kelompok wanita.
"Aku tak apa. Jangan khawatir. Aku bisa mengganti infus dan mengecek organ vital William. Kau 'kan sudah mengejariku. Akan aku hubungi perkembangan William setiap harinya. Terima kasih atas bantuanmu, Roza," ucap Sia dengan senyum terkembang.
Roza dan dua tim medis miliknya memeluk Sia erat bergantian. Tiga wanita itu diantar oleh dua buah mobil SUV dalam penjagaan ketat Black Suit.
Sia kembali ke kamarnya pagi itu dan berencana untuk beristirahat. Ia begadang semalaman karena mempelajari cara merawat William dengan teknis medis yang diajarkan oleh Roza.
Sia merebahkan dirinya di samping suaminya yang sudah wangi dan tampan seperti biasa karena sang isteri yang selalu merawatnya.
"Good morning, Will," ucap Sia lalu mencium bibir William lembut.
Sia kembali merebahkan kepala di samping kepala sang suami di pagi yang cerah. Sia langsung tertidur lelap karena kelelahan.
Suasana mansion sepi karena mulai ditinggalkan penghuninya. Namun siapa sangka, sebuah keajaiban terjadi.
William membuka matanya perlahan dan terlihat bingung. Ia melihat tangannya diinfus dan sebuah selimut merah muda menutup sebagian tubuhnya.
Saat ia menoleh, betapa terkejutnya, ia mendapati wajah seorang wanita cantik tidur di sebelahnya terlihat begitu pulas memegangi tangannya.
William mengedipkan mata berulang kali. Ia melepaskan tangan wanita itu perlahan dari lengannya. Sia yang tak sadar jika suaminya terbangun, masih memejamkan mata, tapi kini terlentang.
William bangun perlahan dan melepaskan selang infus itu dengan hati-hati. Ia bahkan bisa membersihkan bekas infus dan menggulung selang agar cairannya tak menetes.
Saat William akan menyingkirkan selimut di tubuhnya, ia terkejut ketika mendapati wanita cantik di sampingnya mengandung.
Kening William berkerut dan dengan segera, ia beranjak dari kasur. William melihat sekitar dan segera mendatangi sebuah almari.
Ia menemukan sepasang sepatu boots dan setelan pria di dalam. William segera memakainya dan ia kaget ketika menyadari jika pakaian itu pas dengan ukurannya.
William kembali melihat sosok wanita yang tertidur pulas di ranjang dengan sorot mata tajam. Namun dengan segera, ia mendatangi kamar pintu dan pergi dari tempat itu.
***
Maap gaes. Jadwal up berantakan sampai seminggu ya. Lele lagi di Pemalang tapi mau otw ke Jogja. Alhamdulilah hasil swab negatif. Horee🥳 Trims tipsnya. Kalo ada tipo2 harap maklum. Koreksi aja nanti lele benerin pas udah mendarat dg sempurna di kota selanjutnya😆 Lele padamu💋💋💋
__ADS_1