
William akhirnya beristirahat di kamar yang sudah disediakan. Ia mual, badannya menggigil dan pusing.
William tak bisa tidur malam itu. Ia bahkan tak bisa menghubungi siapapun untuk meminta bantuan.
Tubuh William berkeringat hebat, ia tak pernah merasa sakit seperti ini sebelumnya. Malam itu, William akhirnya kelelahan dan terkapar di atas ranjangnya, bertelanjang dada dan hanya memakai celana panjang.
Sergei dan Yuki masuk ke kamar William yang sudah tertidur pulas. Diam-diam, Yuki menembakkan alat pelacak di punggung William.
William sempat tersentak, tapi ia tertidur lagi. Yuki melirik Sergei yang tersenyum miring padanya. Sergei langsung mengecek alat pelacak yang dipasang pada punggung William lewat tabletnya.
"Yep, aman," ucapnya yakin dan berpaling dari William.
Yuki mengikuti Sergei di belakangnya. Mereka berdua mendatangi kamar Axton dimana ia masih terjaga dengan seorang wanita di sampingnya sedang menyuapi anggur di atas ranjang.
"Bagaimana?" tanya Axton sembari membelai punggung wanitanya.
"Dia masih terkena efek obat. Kami sudah memasang alat pelacak dan mengaktifkannya. Jadi, kau masih ingin mengetesnya?" tanya Sergei memastikan.
"Tentu saja, libatkan dia dalam misi kita besok tanpa sepengetahuannya. Katakan saja jika itu tes ketiganya," ucap Axton yang kembali membuka mulutnya menerima suapan anggur dari wanitanya.
"Baiklah. Sergei saja yang menemaninya, aku tak mau," ucap Yuki menolak.
"Kenapa?" tanya Sergei bingung.
"Aku sudah berjanji pada Lysa untuk menemaninya berlatih di camp militer dan katanya akan ada pesta ulang tahun di sana. Aku tak bisa menolaknya, ia sahabatku. Aku juga tak mau cari masalah dengan Nyonya Vesper," ucap Yuki memonyongkan bibir.
"Kau ini sebenarnya dipihakku atau di pihak Vesper, Yuki?" tanya Axton terlihat kesal.
"Tentu saja aku di pihakmu. Hanya saja, kau yang melibatkanku dalam perjanjian dengan Nyonya Vesper. Kau yang memilihku. Kau tahu 'kan peraturannya, jika Nyonya Vesper meminta aku datang ya aku harus datang. Aku menolak, maka semua perjanjianmu dengannya akan batal. Kau mau seperti itu?" tanya Yuki mengingatkan.
"Haish, jika bukan karena kau sangat hebat dalam bertarung, aku tak memilihmu," ucap Axton kesal yang kemudian di tenangkan oleh wanitanya dengan membelai lembut kepalanya.
"Tentu saja dia hebat. Oleh karena itu, aku memacarinya," ucap Sergei menatap Yuki penuh dengan maksud.
Yuki tersenyum miring, ia tersipu malu.
"Hei, jangan pacaran di depanku. Pergi sana, menyebalkan!" gerutu Axton.
Yuki dan Sergei akhirnya pergi meninggalkan kamar Axton.
Mereka berdua diberikan tugas untuk mengawasi William dan kelima calon bodyguard Axton yang nantinya akan bertarung melawan anak-anak Vesper sebagai salah satu syarat mengikuti seleksi calon anggota dewan.
Semenjak Vesper kembali berkuasa setelah digulingkan oleh para anggota dewan, Vesper makin garang dan tegas dalam memerintah. Ia tak mempercayai siapapun.
__ADS_1
Sebagai permohonan maaf para anggota dewan, merekapun mengangkat Vesper lagi sebagai ketua dewan yang sah.
Sepeninggalan Vesper, 13 Demon Heads mengalami kemunduran dan banyak mafia yang mati karena tak bisa melawan balik pasukan atau agent militer pemerintah.
Saat Vesper kembali berkuasa, seluruh armada tempur yang ia miliki tanpa sepengetahuan para dewan dan militer dunia, membuat pemerintah yang mengincarnya memilih mundur dan tak mengusiknya.
Vesper sempat menghilang selama 5 tahun, tidak tahu hidup atau mati. Bahkan saat kemunculannya kembali, banyak para mafia yang tak percaya jika itu dirinya karena sudah berganti rupa.
Namun, Tuan Robert, Ivan, Martin dan Han akhirnya memberikan bukti jika wanita di depan mereka itu adalah Vesper.
Ditambah Vesper kembali menghilang selama 3 tahun lamanya. Han menggantikan posisi sementara menjadi ketua Dewan 13 Demon Heads.
Namun, saat Vesper ditemukan dan kembali menjadi ketua, ia telah banyak berubah. Semua mafia dalam jajaran 13 Demon Heads memuja diusianya yang mulai senja.
Meski Vesper semakin tegas dan garang dalam memimpin, tapi ia tak pernah berkata kasar lagi dan lebih santun dalam bersikap.
Sikap Vesper berubah menjadi lembut, sering memuji dan mudah tersenyum mirip Tuan Charles, tapi tetap menyukai barang-barang mewah serta uang.
Pengalaman pahit yang dikemas dalam balutan cinta kasih orang-orang di sekitarnya, membuat Vesper banyak berubah.
***
Pagi itu, William terbangun karena ia merasakan ada seseorang di sebelahnya. William yang tidur tengkurap itupun berusaha bangun dan membalikkan badannya.
Ia terkejut karena Sergei yang berada di sebelahnya sedang menghisap rokok dan hanya melirik William sekilas.
William mengangguk dan langsung duduk mengusap wajahnya. Ia heran, badannya sudah tak sakit lagi. Pusing di kepalanya juga sudah hilang, ia tak mual lagi.
William segera membersihkan diri dan bersiap. Ia meninggalkan gaya agent-nya. William hanya memakai kaos polos ketat dan celana jeans serta sepatu boots.
Ia keluar kamar dan menemui Sergei yang ternyata sudah menunggunya di mobil.
Saat William berjalan mendekatinya, ia terkejut melihat para bodyguard Axton membawa beberapa kantong mayat yang dimasukkan ke dalam mobil ambulance.
William menatapnya seksama sembari berjalan mendekati Sergei.
"Apa ada yang mati semalam?" tanya William yang kini berdiri di depan Sergei.
"Ya, para calon yang kemarin lolos seleksi. Kini hanya tersisa kau, petinju itu dan si tukang tembak," ucap Sergei sembari menghisap kuat rokoknya lalu melemparnya ke tanah.
William spontan menginjak putung rokok yang masih ada bara apinya itu. Sergei diam menatap gerak gerik William seksama. William kembali menatap kantong mayat itu.
"Kenapa mereka bisa tewas?" tanya William heran.
__ADS_1
"Mereka tak bisa melawan reaksi obat yang diberikan, jadi ya begitulah ...." jawab Sergei enteng.
William berkerut kening. Ia masih tak paham dengan maksud pemberian obat kemarin. Sergei masih penasaran dengan William.
"Kau anak tunggal, William?" tanya Sergei menyilangkan kedua tangan di dadanya menatap mata William tajam.
"Yup. Kedua orang tuaku sudah meninggal," ucapnya berdiri tegap di depan Sergei.
Sergei mengangguk dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. William mengikutinya dan duduk di sebelahnya. Namun, William bingung, ia yang diminta menyetir.
"Kita mau kemana?" tanya William.
"Apa kau suka panjat tebing?" tanya Sergei.
"Mm ... aku pernah mencobanya. Kenapa?" tanya William heran.
"Baiklah, aku ingin lihat kemampuanmu. Ada tebing curam yang bagus di sekitar sini," ucap Sergei santai.
William diam sejenak. Tak lama, 2 kandidat calon bodyguard Axton datang dan ikut masuk ke mobil. Mereka akan ikut test ketiga.
Akhirnya, William melaju kendaraannya menuju ke lokasi yang ditunjukkan oleh Sergei. Mereka sampai di sebuah hanggar pesawat terbengkalai.
Di sana sudah ada sebuah helikopter yang menunggu mereka. William turun dari mobil bersama Sergei dan kedua kandidat lainnya menuju ke helikopter itu.
Sergei duduk sebagai co-pilot di depan. William bersama dua kandidat duduk di tengah. William mencoba membuka obrolan untuk mengenal teman satu teamnya nanti.
"Hai, aku William," ucap William sembari menyodorkan tangan kepada petinju nomor 13.
"Aku Shamus," jawabnya menyambut jabat tangan William.
"Aku Ace, sniper," ucap kandidat lainnya yang duduk di sebelah Shamus.
Merekapun saling berjabat tangan dan mengobrol sedikit. Tak lama, merekapun sampai di tempat tujuan di sebuah perbukitan hijau dimana terdapat banyak tebing tinggi yang curam.
Terlihat seorang lelaki muda bertato dan bertelanjang dada sedang mencoba memanjat bahkan tanpa pengaman di tubuhnya.
William dan yang lainnya sampai melongo melihat aksi lelaki berwajah Asia itu dari dalam helikopter.
"Nah, dia lawan tanding kalian nanti. Namanya Arjuna, anak kedua dari Vesper?" ucap Sergei menunjuk Arjuna yang masih bergelantungan di tebing.
-------
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST