Secret Mission

Secret Mission
Hukuman


__ADS_3

Sebuah misil meluncur dan meledakkan mobil yang berada di dekat Jonathan. Beruntung, Jonathan melihatnya dan segera melompat menghindar.


Namun, gelombang ledakan tentu saja membuat tubuhnya terpental jauh bahkan William dan lainnya ikut terkena dampaknya.


Jonathan tergeletak di atas rumput dengan mata terpejam. Kesadaraannya berkurang.


William dan lainnya yang terkena dampak ledakan ikut terkapar di halaman rumah dengan perlengkapan berserakan di sekitar mereka.


Sia yang masih berada di dalam rumah panik dan tetap bersembunyi saat ia melihat para lelaki berjas hitam membawa Jonathan, William, Torin dan Arthur.


Beruntung, BinBin, Sia dan Jordan masih berada di dalam rumah. Jantung Sia berdebar kencang tak karuan.


Saat Sia akan berteriak untuk menghentikan aksi sandera dari kelompok yang diyakini The Circle, Jordan dengan cepat membungkam mulutnya sembari menariknya menjauh dari jendela.


"Sia, cepat kemari," panggil BinBin merunduk dengan berbisik.


Sia mengangguk paham, ia kini mengerti kondisinya. Jordan melindungi Sia di belakang. BinBin mengajak dua orang itu untuk ke dapur dan bersembunyi.


Jantung tiga orang itu berdetak kencang saat terdengar langkah beberapa orang masuk ke dalam rumah untuk menyusuri ruangan.


Jordan sudah siap dengan pedang Silent Red tanpa ia nyalakan lasernya, agar lokasinya tak ditemukan.


BinBin siap dengan pistol dalam genggaman. Sia yang tak membawa apapun hanya bisa berjongkok di balik lemari es.


Sia mengintip dari tempatnya bersembunyi. Ia melihat dua orang mengarahkan pistol ke ruangan.


Mata mereka seperti memindai untuk menemukan hal-hal yang mencurigakan untuk ditembak.


"Cepat pergi! Tempat ini akan diledakkan," perintah salah seorang lelaki yang menyusul ke ruang makan dan terkoneksi dengan dapur.


Mata Sia, BinBin dan Jordan melebar seketika. Sia berdiri perlahan dan melihat ke arah jendela. Ia terkejut dengan apa yang ia lihat di luar.


"GO!" teriaknya lantang. Namun ....


SWOOSHH!! BLUARRR!!


"Arrghh!" Sia merintih saat tubuhnya terpental dan menghantam meja makan.


Jordan dan BinBin ikut terkena imbasnya. Mereka berdua terhempas terkena gelombang ledakan dari misil yang kembali di luncurkan tepat ke arah dapur, menjebol dinding dan memecahkan kaca serta membuat barang-barang di sekitar mereka hancur berkeping-keping.


Sia telengkup di lantai. Ia melihat BinBin mendorong meja makan di dekatnya hingga jatuh, membuatnya seperti perisai.


BinBin menarik tubuh Sia yang sudah mengalami lecet ke balik meja untuk berlindung.


Jordan merangkak di atas lantai sembari memegangi kepala belakangnya dari pecahan benda yang berterbangan di sekitarnya.


"Jordan!" panggil Sia mengulurkan tangan, membantu Adiknya yang kesulitan mendekat karena banyak serpihan di sekelilingnya.


"Kita harus pergi dari sini!" teriak BinBin yang mendengar suara ledakan bersahut-sahutan di sekitarnya.


Sia yang sudah berhasil menarik tubuh Jordan dan meringkuk di sisinya mencoba mengintip kembali, mencari celah untuk pergi.

__ADS_1


"Paman! Kita pergi lewat lubang di dinding itu saja!" tunjuk Sia dengan mata sesekali terpejam karena debu-debu mulai runtuh dari atap rumah.


BinBin mengangguk. Sia menatap Jordan dan Adik tirinya itu terlihat siap. Jordan berjongkok, siap untuk berlari.


"NOW!" teriak Sia lantang mengomandoi.


Sia berlari kencang menuju ke lubang yang muat untuk satu orang itu, diikuti Jordan dan BinBin di belakangnya. Dan benar saja, saat mereka berhasil keluar di halaman belakang ....


DWUAARRR!!


Rumah meledak hebat. Sia, Jordan dan BinBin kembali terpental. Mereka tersungkur di halaman belakang rumah dengan luka lecet di sekitar tubuh.


Ketiganya merintih memegangi anggota tubuh yang sakit. Sia mengangkat kepalanya dan melihat tiga buah mobil melaju meninggalkan rumah sewa mereka yang sudah hancur lebur. Tiba-tiba, pandangan Sia meredup dan gelap.


Beberapa jam kemudian.


SRETTT!!


"Agh!" rintih William saat penutup wajahnya di buka.


Cahaya silau membuatnya langsung menyipitkan mata. Namun, saat William menyadari ia berada di pinggir sungai dengan sebuah kursi sebagai dudukkannya, ia panik seketika.


William menoleh dan mendapati Jonathan, Arthur dan Torin diperlakukan sama.


Mereka duduk di pinggir sebuah balkon tanpa pembatas dan di bawahnya adalah sebuah sungai yang terlihat dalam. Jantung keempat orang itu berdetak cepat.


"Kalian tak jera juga. Hmm, kalian bisa sampai kemari pasti karena William. Namun, harus kuakui, Will. Ingatanmu bagus. Kau masih mengingat tempat ini," ucap Tessa yang berjalan mendekati keempat lelaki itu dari belakang.


"Oh, kau masih ingat. Baguslah," jawab Tessa yang kini berdiri di samping William sembari bertolak pinggang, memandangi sungai di depannya.


"Perjanjian? Kau melakukan perjanjian dengan No Face?" tanya Jonathan melotot menatap William tajam.


William terlihat bingung. Ia berusaha menyelamatkan kawan-kawannya.


"Ya, dia memintaku untuk membunuh Denzel. Sudah kulakukan. Tepati janjimu, Tessa," ucap William menoleh ke arah gadis pirang itu yang memasang wajah datar.


"Oke, baiklah. Kau ada benarnya juga. Denzel mati, kau kubiarkan hidup. Satu kematian ditukar dengan satu kehidupan," jawab Tessa tersenyum sembari memberikan kode pada anak buahnya untuk melepaskan William.


Jonathan dan lainnya kebingungan karena yang dilepaskan hanya William saja.


"Lalu bagaimana dengan kami?" tanya Torin panik.


"Hmm, waktu itu Denzel meminta 5 orang untuk dibunuh. William baru membunuh satu, Rahul," ucap Tessa santai, tapi mengejutkan semua orang.


"What? Rahul tewas karena ulahmu?" tanya Arthur menatapnya tajam.


Nafas William menderu, ia terpojok.


"Jika Rahul tak mati, Sia yang akan mati. Kau ingin hal itu terjadi?" tanya William balas bertanya, melotot tajam pada Arthur.


Tessa tersenyum senang karena melihat William dan anggota timnya saling berselisih.

__ADS_1


"Rahul mati, lepaskan aku. Satu kematian ditukar dengan satu kehidupan. Kau yang bilang sendiri," ucap Torin menatap Tessa tegas.


"Well, oke," jawab Tessa memberikan kode pada anak buahnya untuk melepaskan Torin.


William dan Torin diberdirikan di dekat pintu dengan kedua tangan terborgol di depan. Namun, masih ada Arthur dan Jonathan yang belum dilepaskan. William terlihat panik.


"Kau belum membunuh sisanya, William. Jadi, mereka berdua harus mati," ucap Tessa sembari memegang sandaran kursi kayu, siap mendorong dan dua lelaki yang akan jatuh ke dalam sungai.


Jonathan dan Arthur panik seketika.


"Wait! Wait! Arjuna! Kim Arjuna! Aku tak membunuhnya, aku membiarkannya hidup. Kau yang memintanya 'kan? Lepaskan Jonathan, dia saudaranya," ucap William panik sembari menunjuk Jonathan.


Kembali, Jonathan dan lainnya terkejut karena tak tahu sama sekali perjanjian William dengan Tessa ataupun Denzel.


"Hmm, oke. Tapi, bukan Jonathan. Aku lepaskan dia saja," ucap Tessa memberikan kode pada anak buahnya melepaskan Arthur.


Terlihat, Arthur begitu lega karena ia hampir saja terjun dari atas balkon dan tercebur ke sungai.


Jonathan terlihat panik, ia menatap Tessa seksama yang balas memandanginya tajam.


"Kau harus melepaskannya, Tessa. Dia Jonathan yang membuat mobil Mustang untukmu," ucap William di kejauhan, bicara hati-hati takut Tessa nekat melakukan hal buruk yang bisa menewaskan Jonathan.


"Ha? Kau? Oh, jadi kau yang memesan Mustang modifikasi itu?" tanya Jonathan menatap Tessa seksama dan wanita pirang itu tersenyum lebar.


"Ya, itu benar. Sayang Mustang-nya sudah meledak. Karena Mustang-ku hancur, kau juga," jawab Tessa memegangi sandaran kursi Jonathan dan mulai mendorongnya hingga tubuh Jonathan condong ke depan, siap untuk terjun dari ketinggian.


"Waaaaa!" pekik Jonathan panik karena tak bisa bergerak, tubuhnya diikat kuat.


"Tessa! No! Jangan! Dia melakukan semua ini karena ingin bertemu Sierra. Biarkan dia bertemu dengannya. Kau ... tak sekejam itu 'kan?" tanya William kembali mengajak negosiasi.


Tessa tertegun begitupula Jonathan. Tessa masih memegang sandaran kursi dan mencondongkannya ke depan.


"Ya, ya, itu benar. Ku akui itu benar. Biarkan aku bertemu dengan Sierra, please," pinta Jonathan memelas menoleh ke arah Tessa yang menatapnya tanpa ekspresi.


"Hah, baiklah. Jujur, aku juga penasaran dengan hasilnya," jawab Tessa sembari menarik kursi dan menegakkannya.


Semua orang bernafas lega.


"Tapi, lain kali saja. Sampai jumpa, hahahahaha!" ucap Tessa tiba-tiba yang mendorong kursi kayu Jonathan kuat hingga remaja itu berteriak lantang, ketika tubuhnya yang terikat menghantam permukaan air dan menenggelamkannya.


"JONATHAN!" teriak William dan lainnya dengan mata melotot lebar.


"Lempar mereka. Menyusahkan," perintah Tessa bertolak pinggang kepada anak buah yang menjaga tiga orang lelaki yang dilepaskan dari jeratan kursi.


William dan lainnya panik. Punggung mereka ditendang dengan kuat hingga ketiganya melompat dengan tangan terborgol dari ketinggian lima meter ke dalam sungai.


"AARRRRGHHH!!"


BYURRR!!


"Hem. Kita pergi dari sini," perintah Tessa setelah melihat semua sanderanya terjun ke dalam sungai dan tak terlihat.

__ADS_1


__ADS_2