
Di sisi lain. Tempat Sia dan timnya masih berada di hutan Guatemala, Amerika Tengah.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Jadi, bisa ceritakan pada kami dengan detail siapa Selena? Karena jujur, aku sedikit lupa dengan silsilah keluarga Nyonya Manda. Aku malah mengira mereka semua tewas," ucap Red yang merasa daya ingatnya tiba-tiba buruk.
Sia mengangguk pelan. Orang-orang berdiri melingkar dengan Sia berada di antara mereka untuk bercerita. Semua orang mendengarkan dengan serius.
Jonathan ditugaskan untuk fokus menerima laporan dari BinBin dan tim Jordan.
Jonathan melakukan perintah Red dengan sungguh-sungguh kali ini karena ia takut jika BinBin terluka. Bagaimanapun, keselamatan BinBin adalah tanggung jawabnya.
"Hmm, baiklah. Aku mengerti sekarang. Hal ini cukup mengejutkan buatku. Selena terlibat dalam tragedi Guatemala? Namun, sepertinya itu tidak mungkin. Selena mungkin belum lahir atau dia terlalu kecil untuk terlibat. Jika Konstantin, itu juga mustahil. Ia masih pengusaha legal dan belum terlibat dalam dunia mafia, terlebih Yena," ucap Red menganalisis.
"Ya, itu benar. Atau bisa jadi, ini ada hubungannya dengan CIA?" tanya Yuki menebak.
"Yes maksudmu? Orang itu benar-benar sebuah tanda tanya. Ia bahkan memiliki agent ganda. Jangan-jangan, Yes orang The Circle?" tanya Sia mencoba mengingat kejadian beberapa waktu lalu di mana Yes dirasa terlibat.
"Hem. William memiliki misi untuk menyelidiki Yes, hanya saja belum terwujud sampai sekarang," sahut Arthur mengingatkan dan Sia mengangguk setuju.
"Oke. Sebaiknya, kita menelusuri bangunan itu. Namun hati-hati, aku khawatir ada jebakan di sana. Orang-orang The Circle memiliki banyak tipu muslihat untuk mengamankan aset-asetnya," ucap Red menunjuk bangunan mirip menara tanpa atap.
Orang-orang mengangguk. Red mengirimkan Torin dan Yuki untuk masuk ke dalam karena tubuh mereka yang ramping. Dua orang segera bertindak.
Sia diminta untuk tetap bersiaga di luar bersama Arthur. Pria tampan itu bersiap dengan sambungan komunikasi yang terhubung ke Jonathan dan tim Jordan.
Zaid diminta untuk naik ke atas menara untuk melihat apa yang terjadi oleh Red. Pria tampan itu mengangguk dan segera melaksanakan tugasnya, menaiki tangga hingga ke atap.
Red berjaga di dalam menara dekat tangga, di mana Yuki dan Torin sedang menelusuri bawah menara karena terdapat sebuah tangga menuju ke ruang bawah tanah.
Red menyalakan tablet yang terkoneksi dengan kamera Yuki dan Torin. Terlihat, Yuki dan Torin menyalakan lampu senter yang terpasang pada topi yang mereka kenakan.
"Gelap sekali. Hati-hati," ucap Yuki pada Torin yang berjalan lebih dulu.
Torin mengangguk paham meski tak dapat dipungkiri ia terlihat gugup berada di tempat yang tak dikenalinya itu.
Hingga akhirnya, mereka berdua menemukan sebuah ruangan besar dengan cahaya redup dari lampu-lampu yang terpasang pada dinding bangunan bawah tanah.
"Red, kau melihatnya?" tanya Yuki dan Red mengangguk.
Saat Red akan memberikan perintah, tiba-tiba ....
__ADS_1
"Red! Ada helikopter menuju kemari! Aku bisa melihat salah satu dari mereka memakai seragam seperti para lelaki bersepeda tadi!" pekik Zaid yang terdengar lantang di semua sambungan komunikasi.
"Cepat turun dari sana!" teriak Red langsung mendongak ke atas melihat ke arah tangga tertinggi.
"Red! Mereka datang lagi!" pekik Sia yang kembali mengejutkan.
Arthur ikut terkejut saat tiba-tiba Sia berdiri dan menunjuk ke arah jalanan yang dilewati oleh para pesepeda bertopeng burung.
"Yuki! Torin! Keluar dari sana! Kita pergi dari sini!" perintah Red panik.
Yuki dan Torin saling memandang dengan mata membulat penuh. Ketika keduanya akan menaiki tangga, tiba-tiba ....
CRANG!!
"Oh! Red! Kami terperangkap! Jalan menuju tangga tertutup!" pekik Yuki karena tiba-tiba sebuah pintu besi menghalangi jalannya.
"Agh! Sial! Mereka pasti tahu kedatangan kita!" geram Red karena timnya kini dalam bahaya.
"Misil! Misil!" teriak Zaid lantang yang membuat semua orang langsung melebarkan mata.
Seketika, BLUARR!!
Zaid yang masih berusaha untuk menuruni tangga terkena puing-puing yang membuatnya jatuh bergulung-gulung di tangga batu menara.
Red langsung membungkuk memegangi kepalanya melindungi diri dari lontaran puing akibat ledakan.
"ZAID!" teriak Red saat ia melihat Zaid tergeletak di tangga tertutup bongkahan puing tak sadarkan diri.
"Arthur! Bawa Sia pergi dari sini! Aku akan menyusul kalian di titik penjemputan!" teriak Red lantang.
Sia yang jatuh tengkurap segera ditarik oleh Arthur untuk masuk ke dalam hutan. Sia kebingungan dan panik.
Arthur membawanya berlari di mana mereka kini di kejar oleh orang-orang yang memakai topeng burung gagak dengan sepeda mereka.
"JONATHAN! JONATHAN!" panggil Arthur panik sambil berlari kencang dengan Sia di depannya.
"ON MY WAY!" balasnya ikut berteriak.
Sia dan Arthur berlari kencang. Namun, Sia menyadari sesuatu. Jika para pengendara sepeda itu tak melakukan serangan pada mereka berdua.
Tiba-tiba, Sia berhenti. Arthur kaget setengah mati ketika anak dari Amanda membalik tubuhnya dan berdiri di tengah jalan setapak dalam hutan.
__ADS_1
"Sia! What are you doing?!" pekik Arthur melotot.
Namun, Sia tetap berdiri kokoh dengan nafas tersengal. Sia menatap segerombolan pengendara sepeda yang kini sudah berada di hadapannya.
Salah seorang di antara mereka turun dan berjalan gusar mendekatinya. Sia terlihat gugup dan menelan ludah. Arthur langsung mengarahkan pistolnya, tapi DOR! BRUKK!
"ARTHUR!" teriak Sia kaget setengah mati karena Arthur langsung roboh tak sadarkan diri dengan tubuh tengkurap, ditembak oleh orang bertopeng gagak yang mendekatinya.
Saat Sia akan menolongnya, tangannya ditarik kuat oleh orang yang memakai topeng gagak itu. Sia berusaha melawan, tapi kedua tangannya dipegangi kuat olehnya.
Sia melakukan perlawanan. Ia menendang kaki kiri orang itu hingga tubuh lawannya seakan mau roboh. Sia nekat menggigit tangan musuhnya meski tertutup sarung tangan.
Orang itu seperti merintih meski suaranya tak terdengar karena topeng burung yang ia kenakan menutupi wajahnya.
Sia melihat lawannya ini lemah. Ia kembali melakukan tendangan-tendangan ke tubuh bagian bawah orang tersebut hingga akhirnya, cengkeraman di kedua tangan Sia terlepas.
Sia langsung memegang paruh pada topeng burung itu. Orang itu terkejut dan berusaha mempertahankannya, tapi Sia kembali menendangnya dan kini mengenai perutnya.
Dengan sigap, Sia langsung melepaskan topeng itu dengan sekuat tenaga. Namun, wajah orang itu kembali membuatnya terkejut.
"Yena?!" pekiknya lantang.
BROOM!
"Kak Sia!" teriak Jonathan yang langsung turun dari mobil dan menyalakan sinar laser pedang Silent Blue.
Yena terkejut dan segera berpaling untuk kabur berikut orang-orang berseragam hitam dengan topeng mirip burung gagak.
Namun, DOR!
"Aghhh!" rintih Yena saat kakinya ditembak oleh sopir The Shadow dan membuat saudari Sia roboh di atas tanah.
Orang-orang berseragam hitam berlari kencang melarikan diri, kembali ke arah menara meninggalkan sepeda mereka.
Saat Jonathan dan sopir The Shadow mengejar, tiba-tiba terpaan dari baling-baling helikopter membuat mereka melangkah mundur.
Helikopter bersama orang-orang bertopeng gagak itu pergi meninggalkan lokasi. Terlihat, Red duduk dengan nafas tersengal pada bingkai pintu dengan pistol dalam genggaman dan luka tembak di paha kanannya.
***
Jangan lupa votenya. Itu vocer gratis loh kasih ke novel Secret Mission dong. Vote poinnya juga kalau gak punya koin kalau dikasih koin lebih gembira lagi lele secara di novel masih jauh dari harapan untuk segi level. Biar lele semangat gitu. Oke oke, makasih loh.
__ADS_1