Secret Mission

Secret Mission
Terguncang


__ADS_3

Usai mandi bersama, Sia membantu William mengeringkan badan. William merasa bahagia karena dimanjakan oleh kekasih hatinya.


Saat Sia akan keluar dari kamar, William dengan cepat menangkap tangan sang isteri. Sia bingung.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Kau mau kemana?" tanya William yang kembali duduk di kursi roda.


"Mengambil makan siang untuk kita berdua. Kenapa?" tanya Sia heran.


"Aku ikut. Kau tak boleh jauh-jauh lagi dariku. Aku memiliki firasat buruk jika ayahmu tahu kau menemuiku," ucap William terlihat serius dan menggenggam tangan Sia erat.


Sia tersenyum dan menggangguk. Ia juga berpikir demikian. Ia tak mau dipisahkan dengan suaminya lagi.


Sia mendorong kursi roda William model manual, bukan jenis elektrik. Keduanya menyusuri lorong menuju ke ruang makan.


Sia dan William terlihat begitu mesra. Sia merangkul William dari belakang sembari mendorong kursi roda dengan perutnya.


William balas mencium pipi sang isteri saat Sia mencondongkan tubuhnya hingga wajah keduanya berdempetan.


Senyum keduanya merekah hingga tiba-tiba sirna ketika memasuki ruang makan dan wajah pertama yang mereka jumpai adalah Antony Boleslav.


"Dilarang bermesraan di hadapanku! Tidak menurut, akan kupisahkan kalian selama-lamanya."


Jantung Sia dan William berdebar kencang. Boleslav memberikan kode dengan telunjuknya agar tangan Sia menyingkir dari kursi roda William.


Sia menghela nafas keras menunjukkan penolakan, tapi Boleslav melotot tajam. William menoleh dan tersenyum pada isterinya yang cemberut itu.


"Aku akan baik-baik saja. Pergilah," ucapnya lirih, tapi Sia menatap tajam sang Ayah di kejauhan.


"Jangan manja. Urusanmu di sini denganku belum selesai, William. Interogasimu belum tuntas. Kau belum mengatakan semua," ucap Boleslav ketus kepada menantunya.


William mengangguk pelan. Sia berjalan mendahului William dan duduk di samping Jason yang terlihat bingung dalam bersikap.


William mendorong kursi rodanya dan duduk di meja terpisah bersama P-807 dan bodyguard lainnya di sisi lain ruang makan khusus keluarga.


"Dia suamiku, Daddy," tegas Sia tak menatap Ayahnya.


"Kau menikah tak meminta restu dariku dan ibumu. Itu tidak sah," jawabnya balas tak menatap Sia.


Suasana tegang seketika. Jason dan Jordan kali ini terlihat satu pemikiran. Keduanya ikut canggung karena duduk diantara dua orang yang mereka sayangi dan tak tahu harus memihak siapa. Dua remaja itu menghela nafas berat.


"Oia, Mommy mana?" tanya Jason yang baru menyadari ibunya tak ada.


"Pergi ke Borka."


"Memang ada apa?" tanya Jason bingung.


"Sandara sudah kembali."


KLANG!


"JORDAN! SIT!" bentak Boleslav saat Jordan langsung berdiri dan meletakkan perlengkapan makannya begitu saja di atas meja.


Jordan mematung memunggungi Ayahnya.


"Ingat harga dirimu. Mau sampai kapan kau mengejar Sandara? Duduk dan lanjutkan makan," tegas Boleslav.


Jordan berdiri diam dengan kedua tangan mengepal.


"Membantahku?" sambung Boleslav melirik anaknya tajam.


Jordan membalik tubuhnya dan kembali duduk. Sia dan Jason melirik Jordan sekilas yang kembali mengambil garpu serta pisaunya, melanjutkan makan siang.

__ADS_1


William melihat apa yang terjadi di ruang makan keluarga. Suara Boleslav yang lantang, tentu saja menarik perhatiannya.


"Huff, dia sungguh kolot. Boleslav memang sosok yang tak bisa dibantah," guman William dan ternyata di dengar P-807.


Lelaki itu tersenyum tipis melihat William seperti tertekan akan sosok mertuanya. Akhirnya, acara makan siang berlangsung dengan tenang meski terasa ketegangan di sana.


"William! Kemari," panggil Boleslav dari seberang ruangan yang suaranya santer terdengar hingga ke ruang makan tempat William berada.


Dengan segera, William bergegas mendorong kursi rodanya menuju ke ruang makan keluarga.


"Yes, Sir," jawabnya dengan hormat.


"Kali ini aku yang akan menginterogasimu. Segera ke ruangan," ucap Boleslav sembari mengelap mulutnya dengan serbet.


"Yes, Sir," jawabnya sembari hormat lalu berpaling, tapi meninggalkan senyuman untuk sang isteri tercinta.


"Singkirkan senyumanmu. Aku bisa melihatnya."


Senyum Sia dan William sirna seketika. Sia gemas bukan main. Ingin rasanya ia meremat-remat sang Ayah yang begitu posesif. Jason meringis melihat Kakaknya sebal sedang Jordan tertunduk diam.


"Daddy. Aku mau lihat. Aku ingin tahu masa lalu William. Aku ... ingin lebih mengenal suamiku. Boleh ya," pinta Sia memelas.


Boleslav melirik Sia sekilas dan mengangguk pelan. Jason yang penasaran ingin ikut serta dan Boleslav mengizinkan.


"Jordan?" tanya Sia ikut mengajaknya.


Jordan segera beranjak dan berjalan meninggalkan ruang makan meninggalkan semua orang. Sia dan lainnya terlihat bingung dengan sikap Jordan yang pelit dalam berucap.


Namun, saat di ruang interogasi, ternyata Jordan telah ada di sana menunggu di pusat kendali. Sia tersenyum tipis. Ia duduk bersama Jason yang ikut menyaksikan interogasi siang itu di ruang khusus.


"Sir," sapa William sopan saat Boleslav duduk di hadapannya di dampingi Roza dan Maksim.


William menatap gerak-gerik Boleslav yang tak menatapnya sama sekali sejak kedatangannya ke ruang interogasi. Boleslav disuntik serum penangkal oleh Roza.


BUZZ!


Gas halusinasi kembali menyeruak di dalam ruangan. Sia yang baru pertama kali melihat interogasi semacam ini dibuat tegang dan panik karena takut William terluka.


"Jangan khawatir, Kak Sia. Ini interogasi paling aman dan ampuh. Tidak ada penyiksaan sama sekali. Memakai kekerasan itu sudah kuno, menguras emosi dan membuat kotor ruangan," ucap Jason menjelaskan.


Sia mengangguk dan bernafas lega. Ia melihat William terlihat seperti orang mabuk. Bagaimanapun, Sia tetap mencemaskan keadaan suaminya yang terlihat seperti orang sakit.


"Who am i?"


"Boleslav. Antony Boleslav," jawab William dengan mata melotot seperti ingin memastikan jika lelaki di depannya sungguh mertuanya.


"Apa kau pernah bertemu Tessa No Face?"


William mengangguk.


"Di mana rumahnya? Katakan dengan detail."


Orang-orang saling memandang. Boleslav to the point dengan pertanyaannya. Roza dan Maksim saling melirik dalam diam.


"Sebuah bar. Aku tak ingat namanya. Philadelphia," jawab William dengan pandangan tak menentu.


"Kau ingat di mana lokasinya?" tanya Boleslav dan William mengangguk.


"Tunjukkan padaku rutenya setelah memasuki Philadelphia," tegas Boleslav dan William memberitahu dengan detail arah menuju bar sesuai ingatannya malam itu.


P-807 dengan cepat membuka peta Philadelphia dan melakukan penelusuran dengan pantauan satelit.


"Kami menemukannya, Tuan. Sesuai ciri-ciri yang William katakan," ucap P-807 yang terdengar di pengeras suara.

__ADS_1


Boleslav mengangguk dan menunjuk Maksim untuk segera menyiapkan pasukan. Maksim keluar ruangan melaksanakan perintah bosnya.


Suasana kembali tegang. Yuri masuk menggantikan Maksim di ruang interogasi.


"Katakan padaku seperti apa sistem keamanan tempat itu," desak Boleslav yang makin semangat menginterogasi William.


"Aku tak tahu. Aku hanya mengetahui sebuah ruang bawah tanah tempat Tessa menyimpan mobilnya."


"Berapa jumlah pasukannya? Bagaimana persenjataan mereka? Apa ada protokol khusus untuk masuk ke sana?" tanya Boleslav menekan.


"Aku tidak tahu."


"Ingat lagi! Apakah ada orang-orang yang mencurigakan di sekitar tempat itu? Seragam khusus? Tato?"


"Aku tak tahu."


BRAK!!


Semua orang tertegun. Boleslav emosi karena tak mendapatkan jawaban memuaskan dari lelaki di hadapannya.


Sia panik karena Ayahnya terus mendesak William untuk mengatakan hal yang tak diketahuinya.


"Daddy, enough!" teriaknya dari ruang kendali.


"DIAM! JANGAN IKUT CAMPUR!" bentak Boleslav menunjuk Sia dari balik jendela.


Mulut Sia menganga lebar. Semua orang dibuat panik. Nafas Sia menderu. Ia keluar dari ruangan dengan penuh emosi.


BRAKK!!


"Cukup! Jangan memaksa William mengatakan hal yang tak ia ketahui," ucap Sia tiba-tiba masuk ke ruangan interogasi yang masih tertutup samar gas halusinasi.


"Sia! Apa yang kau lakukan?!" pekik Roza panik karena Sia tiba-tiba linglung dan sempoyongan.


"Berikan serumnya cepat!" teriak Boleslav dan Roza segera menyuntikkan ke leher Sia.


Yuri juga melakukan hal yang sama kepada William. Sia memegangi kepalanya yang pusing. Ia melihat semua orang di hadapannya dengan pandangan kabur.


"Sia. Kenapa kau nekat masuk kemari?" tanya Boleslav mendekati anak perempuannya menatap tajam.


"William. Aku memilih William," jawabnya seperti orang mabuk.


Mata Boleslav melebar. Ia semakin mendekati Sia dan memegangi kedua lengannya erat.


"Apa maksudmu? Apa yang ingin kau lakukan dengan William?" tanya Boleslav dengan kening berkerut.


"Meninggalkanmu. Meninggalkan kalian semua dan hidup berdua bersama William."


DEG.


Boleslav langsung tersentak dan melepaskan cengkeraman di kedua lengan anak perempuannya. Nafas Boleslav menderu dan terlihat shock dengan ungkapan Sia.


Roza dan Yuri panik. P-807 segera menetralkan ruang interogasi dari gas halusinasi. Ia meminta petugas membawa Sia dan William ke kamar. Dua orang itu segera dipindahkan.


Boleslav memegangi dadanya yang terasa sesak seketika. Semua orang panik. Jason dan Jordan menyusul masuk ke ruangan.


"Daddy! Daddy!" panggil Jason cemas.


Pandangan Boleslav tak menentu. Ia terlihat seperti orang yang terguncang. Yuri segera memerintahkan petugas untuk membawa kursi roda elektrik milik Boleslav.


Dengan segera, Boleslav di bawa keluar dari ruang interogasi menuju ke mobil untuk dilarikan ke Rumah Sakit.


Jason dan Jordan menemani sang Ayah di dalam mobil. Keduanya terlihat cemas.

__ADS_1


Boleslav terus memegangi dadanya dengan kening berkerut seperti menahan sakit yang teramat sangat. Ia terlihat begitu sedih seperti akan menangis, tapi tak ada air mata di sana.


__ADS_2