
Suasana malam yang mencekam hari itu, tentu saja membuat kawasan di sekitar kediaman Denzel menjadi perhatian sipil.
Yes yang sudah menugaskan anak buahnya dan bekerja sama dengan pihak kepolisian dengan sigap segera mengamankan lokasi kejadian.
William diterbangkan kembali ke Virginia dengan pesawat kargo bersama mobil Mustang Jonathan dan mayat Denzel Flame untuk diotopsi.
Muncul kekhawatiran dalam diri Shamus melihat perubahan sikap dalam diri William.
Agent muda itu dibaringkan pada sebuah ranjang pasien karena patah kaki. Pihak medis dengan cepat memberikan pertolongan pertama selama penerbangan hingga nanti William akan dirawat di rumah sakit khusus.
Saat salah satu petugas medis mencoba melepaskan kalung besi di leher William, Shamus tiba-tiba berteriak.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Hei! Jauhkan tanganmu dari benda itu. Jangan coba-coba untuk melepasnya atau kepala William akan terpotong," tegas Shamus menunjuk salah satu petugas medis dengan sorot mata tajam.
"Memang benda apa itu?" tanya salah satu anggota SWAT.
"Kalung pemenggal. Hadiah pernikahan dari Boleslav, ayah tiri Sia, isteri William," jawab Shamus serius.
Sontak orang-orang terkejut. Petugas medis pun tak berani memegang kalung besi yang berbentuk seperti kalung anj*ng, melingkar dan berukuran pas di leher William.
Ace, Shamus, mayat Rahul dan mayat anggota SWAT yang tewas ikut dibawa dalam pesawat kargo bersama beberapa polisi SWAT yang selamat.
Shamus yang duduk di depan salah satu anggota SWAT dibuat penasaran dengan tewasnya Rahul yang cukup mengenaskan karena banyak peluru bersangkar di tubuhnya.
"Hei. Bagaimana dia mati?" tanya Shamus menatap orang-orang berseragam hitam di depannya terlihat garang.
"Sesuai informasi dari William, kami segera menyusup ke sebuah rumah. Tempat itu dijaga ketat oleh beberapa bodyguard-nya, tapi dengan cepat dapat kami lumpuhkan. Hanya saja, saat kami menyusuri seluruh ruangan, Rahul tak ditemukan, begitupula Sia," jawab anggota SWAT tersebut dengan senapan laras panjang dalam genggaman.
"Lalu? Kemana dia?" tanya Ace ikut penasaran.
"Ia kabur. Namun, kami berhasil mendapatkannya. Ia melarikan diri dengan mobil miliknya bersama Sia. Petugas lainnya mengejar mobil itu dan berhasil dilumpuhkan. Saat Rahul keluar dan berusaha kabur seorang diri, kami terpaksa menembak kakinya," sahut anggota SWAT lainnya.
Shamus dan Ace mengangguk.
"Namun, ketika kami akan menangkap Rahul, tiba-tiba ada beberapa motor datang dan menembaki kami. Sia dibawa oleh mereka dan Rahul ditinggalkan. Kami yakin jika orang-orang itu anggota dari 13 Demon Heads. Aku mengenali persenjataan mereka," imbuh anggota SWAT yang duduk di depan Ace.
"Persenjataan 13 Demon Heads?" tanya Shamus penasaran.
Salah seorang anggota SWAT mengeluarkan sebuah benda berwarna hitam karena sudah gosong, merekah seperti bunga seukuran botol air minum 1000 mil.
Kening Ace dan Shamus berkerut. Shamus mengambil benda itu dan melihat banyak lubang mengelilingi tabung seukuran peluru.
"Granat tabung. Senjata buatan Vesper Industries. Para mafia itu sungguh-sungguh ancaman Negara. Senjata-senjata buatan mereka mematikan dan berbeda dari yang lainnya. Oleh karena itu, bukan hanya The Circle saja, tapi 13 Demon Heads juga ancaman serius keamanan dunia," ucap lelaki yang memberikan granat tabung tersebut.
"Anggota kalian tewas karena benda ini?" tanya Ace memastikan dan semua orang itu mengangguk.
"Tabung itu melontarkan 200 peluru dalam satu detik setelah suara nyaring. Hanya saja, para mafia itu tak ingin teknologinya dicuri, semua senjata mereka pasti meledak tak meninggalkan jejak. Namun, sepertinya yang itu cacat. Tabung itu tak hancur hanya gosong saja," ucap anggota SWAT lainnya sembari menunjuk tabung yang dipegang oleh Shamus.
__ADS_1
"Sayang sekali Rahul mati. Ia bisa diinterogasi tentang persenjataan 13 Demon Heads," ucap Shamus terlihat sedikit takut dengan benda di tangannya.
Polisi SWAT yang memberikan granat tabung mengambilnya kembali dari tangan Shamus dan menyimpannya.
"Setidaknya, mobil itu utuh. Kita bisa mencuri teknologi dari mobil tersebut dan mengembangkannya," sahut anggota SWAT yang lain menunjuk mobil Mustang William yang ikut di sita sebagai barang bukti.
"Wait. Jika Rahul hanya tertembak di kaki, kenapa bisa tewas?" tanya Shamus bingung sembari mengelap tangannya yang kotor terkena angus dari granat tabung.
"Terkena granat tabung," sahut anggota SWAT lainnya.
"Jadi sebenarnya, misi kali ini, tak ada satupun penjahat nomor satu yang tewas di tangan kita? Denzel dan Rahul tewas di tangan 13 Demon Heads?" tanya Ace menyimpulkan.
Semua anggota SWAT yang mendengar mengangguk pelan.
"Oh, ini sungguh memalukan. Kita hanya sebagai penghibur?" kekeh Ace menyindir kelompoknya dan semua orang menghela nafas panjang.
"Lalu, siapa yang membawa Sia? Dia diselamatkan dengan motor, tapi aku melihatnya terbang dengan helikopter," tanya Shamus heran.
"Orang-orang Boleslav. Siapa lagi?" sahut anggota SWAT yang duduk di depan Shamus.
Shamus mengangguk. Kembali, semua orang terlihat lesu dan tertunduk setelah pengakuan serta cerita mereka dalam misi kali ini.
"Oh! Lalu ... di mana Rajesh dan lainnya? Bukannya mereka mencoba menghentikan konvoi Denzel?" tanya Ace tiba-tiba.
"Kelompok lainnya berhasil menggagalkan konvoi itu. Barang bukti akan diangkut dengan pesawat kargo lainnya. Hanya saja, lelaki yang kalian bilang Rajesh, ia tak ditemukan baik mayat ataupun jejaknya. Ia hilang begitu saja. Ia kini menjadi buron," jawab anggota SWAT yang duduk di paling ujung dengan badan membungkuk.
Ace dan Shamus mendadak tegang.
Ace dan Shamus terlihat tertekan akan hal ini. Penerbangan akhirnya berakhir setelah proses bongkar muat. Ace dan Shamus diminta untuk langsung melaporkan detail misi ke CIA.
Utusan dari MI-6 yang melakukan kerja sama dengan CIA telah menunggu di Langley setelah mendapatkan kabar gembira dari Yes.
Namun, bagi Ace dan Shamus, misi kali ini sungguh menguras perasaan. Mereka berdua merasa bersalah dengan tragedi yang terjadi antara William dan Sia hingga akhirnya mereka terpaksa berpisah.
Keduanya hanya bisa diam melihat dari balik jendela mobil saat William dipindahkan ke mobil Ambulance untuk selanjutnya dibawa ke rumah sakit untuk dirawat secara intensif.
Boston, Amerika, Kediaman Adrian Axton, anggota 13 Demon Heads.
Sia dan Rajesh disambut oleh Axton dengan wajah sendu. Sia terlihat begitu sedih saat menyambut pelukan dari Sang Casanova.
Sergei melihat Rajesh seperti bersedih atas kematian Rahul. Red dan lainnya turun dari helikopter dengan wajah tanpa ekspresi usai kejadian yang menimpa jajaran 13 Demon Heads.
"Sudahlah, Sia sayang. Paman tahu kau bersedih, tapi ... itulah cinta. Selalu ada sakit hati dan kecewa. Oleh karena itu, aku tak mau menikah. Aku tak mau air mataku sia-sia hanya untuk menangisi orang yang menyakiti hatiku," ucap Axton menatap Sia dalam sembari memegangi wajahnya yang tergenang air mata.
"Tuan Axton, biarkan mereka masuk dulu ke dalam. Di luar tidak aman," ucap Red serius dan Axton mengangguk setuju.
Red tak habis pikir dengan jalan pikiran Axton yang malah memberikan ceramah dan membuat keadaan semakin runyam.
Saat Sia masuk ke dalam sembari menghapus air matanya, ia terkejut melihat Jordan, Mix and Match sudah menunggunya di dalam.
__ADS_1
"Kau tak apa?" tanya Jordan mendatanginya dengan wajah datar.
Sia mengangguk cepat meski wajahnya masih basah tergenang air mata.
"Aku antar ke kamarmu. Istirahatlah, jangan terlalu dipikirkan," ucap Jordan sembari menggandeng tangan Kakak tirinya.
Sia mengangguk pelan dan mengikuti Jordan yang membawanya ke lantai dua. Jordan menunjukkan kamar Sia dan wanita cantik itu berterima kasih padanya.
Jordan meninggalkan Sia di dalam setelah memastikan Kakaknya aman di sana. Jordan menutup pintu dan membiarkan Sia duduk di pinggir ranjang terlihat sedih.
Saat Sia sedang mencoba menenangkan diri, tiba-tiba pintunya diketuk. Sia terkejut dan kembali berdiri untuk membuka pintu.
CEKREK!
Sia kaget ketika mendapati seorang wanita muda yang terlihat murung berdiri di depannya.
"Apakah ... Rahul tewas?" tanyanya tiba-tiba dan Sia spontan mengangguk.
Wanita cantik berparas India itu terlihat bersedih dan menangis. Sia bingung, ia meminta wanita itu masuk ke dalam dan ia pun menurut.
"Kau mengenal Rahul? Kau siapanya?" tanya Sia merasa jika wanita cantik di depannya memiliki hubungan dengan Rahul.
"Aku ... calon isterinya," jawabnya lirih mencoba menahan tangisannya.
Sia terkejut dan mulutnya spontan menganga. Sia diam sejenak seperti memikirkan sesuatu.
"Nandra? Itukah namamu?"
Nandra tertegun karena tak menyangka Sia mengenalinya. Ia mengangguk cepat.
"Maaf, Nandra. Aku turut bersedih. Tadinya aku akan kabur bersamanya, tapi saat Rahul keluar lebih dulu dari mobil, ia ditembak. Kami tak bisa menolongnya karena jumlah polisi sangat banyak yang mengejar. Aku ... sungguh minta maaf," ucap Sia kembali bersedih dan Nandra mengangguk.
Sia merasa bersalah dan kini memeluknya erat. Axton mendengar yang dibicarakan oleh dua wanita cantik di salah satu kamarnya itu.
Axton memilih pergi dan meninggalkan keduanya untuk saling mencurahkan isi hati. Axton kembali mendatangi orang-orang yang kini berkumpul di ruang tengah.
Terlihat Rajesh sedang diobati lukanya karena mengalami lecet di beberapa bagian. Mata semua orang kini tertuju pada Axton yang menuruni tangga dengan wajah datar.
"Ini gawat. Tadi Jonathan memberitahuku jika mobil Mustang modifikasinya dibawa ke CIA. Mereka pasti akan mencuri teknologinya. Jadi ... adakah yang berminat untuk menyusup ke sana dan meledakkan mobil tersebut? Sinyal GIGA terhalang saat mobil memasuki markas CIA," ucap Axton yang mengejutkan semua orang.
Terlihat beberapa orang saling berpandangan terlihat enggan. Masuk ke markas CIA sama saja cari mati. Tiba-tiba, Rajesh berdiri dengan bertelanjang dada. Axton menatapnya seksama.
"Biar aku saja. Jika perlu, tak perlu mobil Mustang yang diledakkan, tapi markas itu juga. Pembalasan dendamku atas kematian Rahul," ucap Rajesh serius dan Axton mengangguk mengizinkan.
"Aku bisa membantumu, malah mungkin kau tak perlu masuk ke CIA," sahut Jordan tiba-tiba duduk dengan kaki menyilang dan menyenderkan punggung, terlihat elegan.
"Oh ya? Bagaimana?" tanya Sergei penasaran.
Jordan hanya tersenyum tipis dan pergi meninggalkan kumpulan orang-orang itu tak memberitahukan rencananya. Mix and Match saling berpandangan.
__ADS_1
"Aku akan meminta Vesper untuk membuat alat pembaca pikiran. Anak itu sama seperti Sandara. Benar-benar membuatku ingin mengumpat berulang kali. Menyebalkan, aku tak suka main rahasia-rahasiaan dan tebak-tebakan," gerutu Axton bertolak pinggang.
Semua orang tersenyum tipis dan mulai terlihat santai tak tegang seperti saat datang tadi. Red melihat ponselnya dan menghela nafas panjang seperti membaca sebuah pesan penting dari seseorang.