
Tak terasa, akhirnya Pengadilan 13 Demon Heads kembali dilangsungkan untuk memutuskan Rohan Krisna sebagai calon anggota dewan pengganti ayahnya, Raja Khrisna sebagai bentuk antisipasi ancaman dari Keluarga Khrisna kepada Keluarga Giamoco.
Pemungutan suara dari vote elektronik itu dilangsungkan. Hasil persidangan memutuskan jika Rohan akan duduk sebagai anggota dewan.
Meskipun muncul kebanggan dari Keluarga Khrisna karena anak-anak dari Raja menduduki kursi dewan, tapi Rohan mengantongi banyak catatan yang harus ia taati dan pemberlakuan yang sama seperti Arjuna, Lysa dan Sia.
Rohan diberikan waktu selama dua tahun untuk menghimpun pasukan sebanyak 1000 orang selama menjabat.
Ia juga harus memiliki daerah kekuasaan di mana kekuasaan Khrisna sebagian sudah diambil oleh Jamal.
Meskipun Rohan adik kandung dari Jamal dan mereka bersaudara akrab, tapi persaingan akan kekuasaan tetap berlaku dalam hubungan darah itu.
Kini, Rohan harus bersusah payah untuk mempertahankan kursinya sebagai anggota dewan.
Ia yang tak memiliki kekuasaan sebanyak kakaknya dan tak memiliki kekayaan seperti anggota dewan lainnya, menjadi bahan olokan para anggota dewan yang meremehkannya.
Namun, Sia melihat kesempatan dalam hal ini. Diam-diam ia mendekati Rohan saat persidangan usai dan keputusan telah dibuat. Rohan kini sendirian.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Rohan, temui aku di hutan," ucap Sia saat berjalan ke arahnya.
Rohan terkejut dan menoleh seketika saat ia mendapati sosok Sia muncul di sebelahnya sembari berjalan. Sia mengangguk pelan dan Rohan balas mengangguk.
Rajesh dan Jamal mulai berdiri dari kursinya Mereka tak bisa berbuat banyak. Rohan sadar akan konsekuensi ini dan ia berusaha menerima diskriminasi dari keputusan tersebut.
"Good luck, Brother," ucap Jamal sembari mendekati adiknya dan menepuk pundaknya. Rohan mengangguk pelan.
Ruang persidangan kini tertinggal empat dewan tertinggi yang masih terlihat membicarakan hal serius. Rohan memutuskan untuk pergi dan segera menemui Sia.
Rohan berjalan sendirian mendatangi hutan di dekat markas besar Dewan Sekretariat 13 Demon Heads.
Rohan terkejut ketika mendapati sosok Sia yang ditemani oleh saudarinya, Yena. Rohan mendekati dua gadis itu penuh kewaspadaan.
"Apa yang kau inginkan, Sia? Apa kau juga ingin mengolokku?" tanya Rohan menyipitkan mata.
"Sebegitu burukkah aku di matamu hingga kau menilaiku dengan sangat hina, Rohan?" tanya Sia tersenyum sinis.
Sia kini duduk perlahan pada sebuah batang pohon yang tumbang dengan Yena di sebelahnya.
Rohan melirik Yena yang berdiri dengan gagah di depannya. Mata Rohan kembali pada Sia.
"Semoga ini hal bagus dan menguntungkan untukku, Nona Sia," ucap Rohan berdiri tegap di depan anak Amanda.
"Sangat menguntungkan. Jadi, dengarkan baik-baik," ucap Sia serius dan Rohan mengangguk.
__ADS_1
Cukup lama mereka berbincang di dalam hutan dan Yena mengawasi sekitar dengan ketat menggunakan teropong sensor panas untuk memastikan jika tak ada pengintai dari pembicaraan tersebut.
"Bagaimana? Kurasa kau bukan orang bodoh yang akan menolak hal ini, Tuan Rohan," ucap Sia menyilangkan kedua kaki dengan elegan.
"Aku terima. Lalu, mana perjanjian resminya? Jangan berani membohongiku, Nona Sia," ucap Rohan serius.
Sia mengangguk. Ia melirik Yena dan saudari Sia tersebut mendatangi Rohan sembari menunjukkan ponsel layar sentuhnya.
"Aku sudah menyiapkan perjanjian ini. Tanda tangani dan akan ku kirim kontrak kerjasama ini ke email-mu. Aku juga akan memberikan print asli yang akan ditandatangani ulang oleh kalian berdua dengan darah. Deal?" tanya Yena sembari menunjukkan kolom tanda tangan digital.
Rohan mengangguk. Ia membubuhkan tanda tangan dengan telunjuknya pada layar ponsel yang merekam gerakan jari membentuk goresan tanda tangan.
Yena segera menyimpan tanda tangan itu dan memasukkan dalam database. Ia mengirimkan ke email Rohan lalu menunjukkan berkas file tersebut.
Rohan mengangguk begitupula Sia saat keduanya telah menerima email tersebut bersamaan. Yena tersenyum miring. Ia kini dipercaya Sia sebagai asisten dan tangan kanannya.
"Aku tunggu cetakan aslinya esok, Nona Sia. Begitu darah kita berdua dibubuhkan, aku akan memulai pekerjaan itu," ucap Rohan serius dan Sia mengangguk berterima kasih.
Rohan lalu pergi dari hutan kembali ke markas. Sia menoleh ke arah Yena dan gadis cantik itu tersenyum lebar.
"Kita juga harus segera bekerja, Sia. Ada perjanjian yang harus ditepati," ucap Yena tegas dan Sia mengangguk dengan senyuman.
Yena membantu Sia berdiri. Saat keduanya keluar dari hutan, dua wanita itu terkejut ketika mendapati Daniel berdiri diantara mereka dengan wajah serius. Jantung dua gadis itu berdebar kencang seketika.
"Da-Daniel? What are you doing here?" tanya Sia tergagap.
"Ka-kau mendengarnya?" tanya Yena panik karena ia yakin jika tak ada orang di sekitar mereka tadi.
Daniel tak menjawab dan terus menatap dua gadis itu tajam. Sia menarik nafas dalam.
"Apa Daddy tahu?" tanya Sia mencoba untuk tetap tenang.
Daniel menggeleng. Sia bernafas lega. Ia melihat sekitar untuk memastikan jika tak ada orang lain yang akan menguping pembicaraan kali ini.
"Bisa kau bawa kami membeli ice cream? Aku ingin kau yang menyetir," ucap Sia dengan wajah sendu dan Daniel mengangguk.
Akhirnya, Daniel membawa Sia dan Yena untuk membeli ice cream. Daniel mengemudikan mobil sembari melirik Sia yang duduk di belakang bersama Yena meninggalkan markas.
"Oke. Aku tak bisa melanjutkan ini, Daniel. Aku hamil dan Daddy tahu. Aku ingin kembali pada kehidupanku dulu. Aku ingin menjadi orang normal dengan William di sisiku."
CIITT!
Daniel terkejut dan langsung menoleh tajam ke arah Sia duduk. Mobil Limousine hitam tersebut berhenti seketika.
"Kau harus menghargai keputusannya, Daniel. Sia tak siap dengan semua ini. Dia sudah melakukan semua yang kalian inginkan. Ini hidupnya, kalian boleh memberikannya pilihan dan kesempatan, tapi jangan menekannya. Sia tak menginginkan hal ini, Daniel. Tak bisakah kau mengerti?" ucap Yena membela.
__ADS_1
Nafas Daniel menderu. Ia kembali menghadap jalanan sembari mengusap mulutnya.
"Aku ingin mencari William, Daniel. Aku ingin agar dia tahu jika aku hamil anaknya. Aku ingin keluar dari dunia mafia dan hidup layaknya warga sipil bersamanya. Aku ... hiks, aku tahu keputusanku akan sangat menyakiti hati Daddy, tapi ... ini hidupku," ucap Sia yang pada akhirnya menangis karena tak lagi bisa membendung kesedihannya.
Daniel melirik dari spion tengah. Ia menghembuskan nafas panjang dan kembali melaju mobil sedannya. Yena mencoba menenangkan Sia.
"Biar aku yang menggantikan Sia, Daniel. Aku siap untuk hidup dalam dunia mafia. Namun, aku tak mau menjadi anggota dewan. Mungkin, aku bisa menjadi salah satu anggota dewan sekretariat atau pendukung bagi Jordan nantinya. Terserah kalian tempatkan aku di mana. Asalkan kalian bebaskan Sia," ucap Yena balas menatap Daniel dari kaca spion tengah di mana mata lelaki asisten kepercayaan Boleslav masih menyorot mereka berdua tajam.
Daniel menghembuskan nafas panjang untuk kedua kalianya. Ia mengangguk pelan dalam diamnya. Yena terlihat senang begitu pula Sia.
"Kau mendukung kami?" tanya Sia yang langsung menghentikan tangisannya.
"Jujur, Nona Sia. Aku juga takut kau terbunuh jika berada dalam dunia mafia. Aku tak pernah melihat Tuan Boleslav sepanik ini saat kemunculanmu. Ia menambah keamanan di seluruh markas baik miliknya atau nyonya Amanda agar saat kau berkunjung ke sana tak terluka dan terancam. Namun karena hal itu, ia mengabaikan keselamatan dan kesehantannya. Itu ... membuatku khawatir," jawab Daniel dengan wajah sendu.
"Aku tahu, Daniel. Aku tahu Daddy sangat menyayangiku dan aku juga. Aku tak pernah diperlakukan dengan begitu baik oleh seorang lelaki bahkan William sekalipun. Daddy memang yang terbaik. Dia sangat hebat dan aku sangat menghormatinya," ucap Sia kembali meneteskan air mata.
"Ya, itu sudah sangat cukup, Nona Sia," ucap Daniel tersenyum tipis dan Sia mengangguk dalam senyuman.
"Jadi ... Rohan ya? Baiklah, aku akan membantumu diam-diam meski pada nantinya juga akan ketahuan oleh Tuan. Hmpf, semoga saat ia mengamuk nanti tak membuat penyakit jantungnya kambuh," ucap Daniel kembali mendesah ketiga kalinya.
Sia dan Yena meringis karena mereka berdua juga khawatir jika Boleslav marah besar. Mobil tersebut akhirnya sampai ke toko ice cream langganan Jordan selama di Italia.
Daniel turun dan membeli makanan dingin itu. Sia dan Yena menunggu di mobil. Namun, saat Daniel akan masuk ke mobil, ia malah berdiri mematung ketika matanya menangkap sesuatu di kejauhan.
Sia melihat jika Daniel malah berdiri diam tak masuk ke mobil. Sia menyenggol lengan Yena yang asik membalas chat dari Zaid di ponselnya.
Yena ikut melongok dan matanya terbelalak lebar seketika. Sia bingung karena pandangannya tertutup oleh tubuh Daniel, tapi heran melihat Yena heboh sendiri.
Tiba-tiba, Daniel masuk ke dalam dan langsung menyalakan mesin mobil. Ia meletakkan kantong berisi ice cream dalam kemasan itu di samping tempat duduk begitu saja.
"Ada apa?" tanya Sia bingung.
"Paman Konstantin! Apa yang ia lakukan di sini?" tanya Yena dengan mata melotot yang duduk diantara dua bangku di depannya.
"What? Paman di sini?" tanya Sia ikut kaget dan berusaha mencari keberadaan pamannya yang lama tak ia jumpai itu.
"Daniel, ikuti," perintah Yena sembari menepuk pundaknya.
"Itu yang sedang saya lakukan, Nona Yena. Sebaiknya Anda segera menghubungi Nona Manda tentang hal ini. Saya khawatir jika Yes atau pasukan Mask seperti yang kau katakan waktu itu juga berada di sini sedang melakukan aktifitas yang bisa membahayakan nyawa kita atau orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads," jawab Daniel yang matanya fokus menghadap ke jalanan dan mengemudi dengan serius.
Yena mengangguk paham. Namun, bukan Amanda yang ia telepon malah Zaid. Sia bingung, tapi diam saja.
"Kenapa kau malah menghubungi dia?" tanya Daniel keheranan karena ikut mendengar pembicaraan tersebut.
"Maaf, reflek. Aku akan menghubungi bibi," jawabnya tersipu malu dan kembali melakukan panggilan telepon.
__ADS_1
Sia terkekeh dan Daniel geleng-geleng kepala. Yena memalingkan wajah menahan malu karena isi kepalanya kini hanya ada Zaid seorang.