Secret Mission

Secret Mission
He's Here


__ADS_3

Jonathan mendekati Jordan dan langsung mencengkeram kuat kerah bajunya.


Amanda memilih pergi mengejar anak susunya yang terlihat begitu terluka hatinya karena perkataan Jordan.


"Sengaja ya? Nathan tau kalo kamu sengaja ya 'kan? Biar apa? Kalo kamu bisanya cuma bikin Sandara nangis, gak usah sok jadi pahlawan lagi buatnya. Jalanin aja hidupmu tanpa Sandara, toh di Pengadilan 13 Demon Heads kubu kalian juga berlawanan. Dari situ aja keliatan kalo kalian gak mungkin bisa bersama. Inget itu," ucap Jonathan dengan bahasa Indonesia campuran terlihat begitu marah.


Mix and Match terlihat bersiap jika Jordan mengamuk karena perkataan dan sikap Jonathan, tapi ajaib.


Jordan diam saja saat Jonathan melepaskan cengkeramannya dan pergi meninggalkannya dengan langkah gusar.


Jonathan pergi bersama Zaid mencari keberadaan Sandara yang terlihat terakhir kali keluar dari ruang jamuan.


BinBin dan The Kamvret ikut mencari anak terakhir Vesper tersebut.


Namun, kepanikan malah terjadi. Amanda terlihat memanggil-manggil nama Sandara berulang kali. Jonathan berasumsi jika Sandara hilang.


"Aduh, gawat! Dara 'kan pinter banget nyelinap. Udah kaya hantu dia, langkah kakinya gak bersuara. Dara!" panggil Jonathan yang sudah memahami sifat Sandara.


Semua orang sibuk mencari keberadaan Sandara yang bahkan tak tertangkap kamera CCTV.


Para penjaga sampai masuk ke hutan, bahkan beberapa diantara mereka keluar dari radius Pemancar Fatamorgana.


Penjaga gerbang meyakinkan bahwa Sandara tak keluar gerbang. Semua pintu masuk dan keluar ke Kastil Borka di cek oleh orang-orang dalam jajaran Vesper.


"Where is she? Oh God," ucap Manda panik memegangi kepalanya karena malam sudah semakin larut dan angin berhembus kencang seperti akan hujan.


"Aku akan coba cari di dalam. Mungkin Dara ada di kamarnya," sahut Zaid dan semua orang mengangguk setuju.


Jordan melihat apa yang terjadi. Ia kembali tertunduk, berdiri diam di dekat pintu masuk Kastil.


Tiba-tiba, salah seorang Black Armys berteriak lantang dari atas menara. Praktis, semua orang langsung mendongak ke atas.


"AFRO! AKU MELIHAT AFRO!" teriak petugas itu sekencang-kencangnya.


Mata semua orang yang mengenali nama tersebut terbelalak. Petugas itu menunjuk kawasan dari sisi barat Kastil Borka.


Jordan yang mendengar segera berlari kencang. Orang-orang menyiagakan senjata. Namun, alarm tak dibunyikan.


Eiji yang mendengar hal ini langsung bersiaga dan sengaja mematikan Pemancar Fatamorgana yang berada di bagian barat Kastil.


"Nathan! Apa kau mendengarku?" panggil Eiji dari sambungan telepon.


"Hah! Hah! Ya, Om! Nathan lagi ikut ngejar, tapi rute sisi barat itu kalo diterusin tembus ke Laguna! Minta Paman BinBin dan Om-om The Kamvret siapin mobil, susul Nathan!" jawabnya lantang dan Eiji menyanggupi.


Eiji segera meminta The Kamvret dan BinBin bergegas menyusul. Zaid yang ikut dihubungi oleh Eiji panik.


Ia berinisiatif menggedor pintu ruang rapat karena menurutnya ini keadaan genting.


GREEKK!


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Hah! Maaf, Paman Kai. Hanya saja ... anakmu, Dara ... Dara menghilang dan sosok Afro tertangkap oleh kamera pemindai di sisi barat Kastil. Jonathan dan lainnya sedang mengejar Afro," ucap Zaid ngos-ngosan.


Sontak, mata Kai dan para anggota dewan terbelalak. Arjuna, Lysa dan Sia segera keluar dari ruang rapat.


Sia terlihat seperti mencari sesuatu. Zaid mendekatinya.


"Nyonya Manda berada di Pusat Komando ikut melihat pergerakan Sandara dengan pantauan GIGA," ucap Zaid melaporkan.


"Bukan. Di mana Jordan?" tanya Sia menatap Zaid seksama.


"Ia mengejar bersama Jonathan. Paman BinBin dan The Kamvret menyusul dengan kendaraan tempur," jawab Zaid cepat.

__ADS_1


Mata Sia terbelalak. Ia segera berlari kencang, tapi hal itu malah membuat Zaid mengikutinya. Ia penasaran apa yang direncanakan Sia.


Hingga akhirnya, Zaid kaget melihat Sia mendekati mobil merah mudanya. Namun, Sia terlihat ragu untuk menyentuhnya. Ia belum melakukan pemindaian.


"Sia, tangkap!" panggil Vesper lantang dari belakang.


Sia spontan membalik badannya dan menangkap jam tangan yang dilemparkan Vesper. Zaid berlari mendekati Sang Ratu karena dipanggil olehnya.


Entah apa yang Vesper sampaikan pada Zaid, tapi pemuda itu mengangguk paham. Zaid berlari mendekati Sia yang sedang memakai jam tangan merah mudanya.


"Oke. Kita pindai dirimu dulu. Sini, berikan telunjukmu," ucap Zaid memberitahukan cara mengaktifkan mobil tempurnya.


PIP!


Sia menoleh saat melihat pintu mobilnya terbuka. Zaid ikut memindai dirinya di mobil merah muda itu. Ia mengajak Sia masuk. Zaid akan menjadi pendamping aksinya kali ini.


Vesper melambaikan tangan dan berucap lirih di kejauhan, meminta mereka berhati-hati. Sia dan Zaid mengangguk paham.


Zaid mengambil alih kemudi. Sia sebagai navigator dan pengoperasian senjata.


BROOMM!!


"SIA!" panggil Antony yang ikut keluar bersama dengan Daniel setelah mendapatkan kabar mengejutkan dari Eiji.


"Relax, Mr. Boleslav. Biarkan saja anak-anak muda itu yang mengurusnya. Aku penasaran bagaimana hasilnya. Kali ini, percayakan saja pada mereka, tak usah ikut campur," ucap Vesper menahan kepergian Boleslav dengan berdiri di hadapannya.


"Bagaimana jika Sia terluka?" tanyanya panik menatap Vesper tajam.


"Itu akan sangat bagus. Semakin banyak Sia terluka, ia akan menjadi wanita kuat baik mental ataupun fisik. Bukankah ... kau yang menginginkan Sia sebagai penggantimu? Jika kau terus memanjakannya, Sia akan lebih sering dihina dan direndahkan mafia lain, Tuan Boleslav," jawab Vesper tajam.


Boleslav terdiam terlihat memikirkan ucapan Vesper barusan. Vesper meminta semua tamunya untuk masuk ke dalam. Eiji menginformasikan jika Kastil aman tak ada serangan.


Sedang, Antony masih berdiri mematung di pintu utama Kastil Borka dengan wajah tertunduk.


"Sialan. Yang dikatakan agent itu benar. Sia ... ah, sudahlah. Aku benci harus mengakuinya," ucap Boleslav terlihat menyesal.


Daniel mengerti perasaan Bos besarnya. Daniel memapah Boleslav masuk ke dalam Kastil. Mix and Match ikut dalam rombongan Paman BinBin mengejar Jordan.


Red tetap berada di Kastil dan bersiap jika dibutuhkan bantuan tambahan untuk pengejaran. Semua orang terlihat tegang.


Ternyata, para Black Armys yang berada di sisi barat telah dilumpuhkan dengan peluru bius jarak jauh sehingga tak menyalakan alarm.


Kai, Ayah dari Sandara terlihat serius di Pusat Komando. Pandangannya terfokus pada titik yang berkedip dari pelacak yang ada di kalung Sandara.


Di tempat Sandara berada.


"Ikutlah denganku, Dara. Kau percaya padaku 'kan?" tanya Afro masih menggandeng tangannya erat dan menatapnya lekat.


Sandara terlihat bingung, ia tak bisa menjawab. Afro memeluknya dengan nafas tersengal dalam gelapnya hutan.


GUK! GUK!


Sandara dan Afro terkejut saat mendengar suara gonggongan anj*ng mendekat ke arah mereka.


Afro kembali menggenggam erat tangan Sandara dan mengajaknya berlari menjauh dari kawasan Kastil Borka.


Jonathan yang berada di tanjakan bisa melihat Afro dan Sandara berlari memasuki hutan menuruni bukit.


Jonathan melihat Jordan masih berlari mengejar Sandara dengan bantuan anj*ng pelacak Kastil.


"JORDAN! AKU AKAN PERGI MENUJU KE LAGUNA!" teriak Jonathan lantang.


Jordan menoleh dan menghentikan langkah sejenak. Ia melihat Jonathan berada di permukaan yang lebih tinggi darinya. Jordan mengangguk dan kembali berlari.

__ADS_1


Dua remaja itu pun berpisah. Jonathan berlari sekencang-kencangnya karena ia memprediksi jika Afro akan membawa Sandara kabur melalui jalur air.


Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat Jonathan mendongak, ada sebuah helikopter melintas dan kapal berlabuh dengan beberapa orang bersenjata.


"Oh, shit!" pekik Jonathan panik ketika ia menyadari jika hanya membawa sebuah pistol saja dan tak ada pasukan bersamanya.


Di sisi lain.


BROOMM!!


"Belok kiri," ucap Sia sembari menunjuk layar sebuah tablet portabel yang tersedia di mobilnya.


Mobil BMW merah muda itu dengan sigap menukik saat ban mobil mulai melindas jalanan tanah. Zaid melirik Sia.


"Ini mobil sport bukan mobil untuk off road. Tak bisakah kau memilih jalan ...."


"Diam. Ini mobilku. Mau kulewati jalan mana saja itu urusanku. Belok kanan," jawab Sia ketus karena ia juga kesal karena mobilnya jadi kotor karena menerobos semak belukar.


"Yes, Mam."


BROOMM!!


"Wow! Wow! Pohon besar!" pekik Zaid saat lampu sorotnya menyinari sebuah batang pohon yang jatuh melintang menghalangi jalan.


Sia dengan sigap mengarahkan telunjuknya pada layar jam tangan merah mudanya itu. Sia menoleh ke belakang saat melihat peluncur roket siap untuk beraksi. Sia tersenyum miring.


"SIAAA!"


PIP! SWOOSHH! BLUARRR!!


"Tabrak saja!" perintahnya dan Zaid meringis sampai keningnya berkerut ketika kakinya terpaksa terus menginjak gas dan membuat moncong mobil BMW menghantam batang pohon yang terbakar.


BRAAKKK!!


"Oh!" pekik Zaid saat merasa mobil Sia akan rusak dan lecet di beberapa bagian karena aksinya. Zaid khawatir jika Sia memintanya ganti rugi.


Sia yang penasaran dengan sebuah fungsi dengan gambar kamera ditekannya. Seketika, mata Sia terbelalak.


Ia melihat pada layar tablet yang ditempel di dashboard mobil, muncul sebuah tampilan dari pantauan kamera.


Sia mencoba mengendalikannya dengan telunjuk di layar jam tangan model sentuhnya seperti ponsel.


Zaid melirik Sia yang tersenyum ketika ia mengendalikan sebuah drone yang keluar dari bagasi tempat misil berada.


"Oh! Mobil ini memiliki CD juga?" pekik Zaid saat melihat drone tersebut melintas, melewati mobilnya dan melaju lebih dulu.


"CD? Itu drone, helicam, bukan compact disc," ucap Sia bingung.


"Critical Drone. Itu drone yang memiliki senjata. Buatan Vesper Industries. Bisa menembakkan 300 peluru dan ada granat mini di dalamnya," ucap Zaid menjabarkan.


Sia tertegun dan mengangguk pelan. Zaid melihat titik dari pelacak Sandara yang berkedip di tampilan tablet.


Layar pada tablet itu terbagi dua. Atas untuk GPS dan bawah untuk kamera drone. Zaid fokus pada petunjuk lokasi sinyal dari Sandara.


Mobil merah muda itu menyusuri jalanan yang lebih lebar dan beraspal, berjarak 100 meter dari Sandara.


"Aku mulai terbiasa menggunakan pengendali ini," ucap Sia sembari mengarahkan drone-nya menuju ke pantai.


Hingga tiba-tiba, mata Sia melebar.


"Zaid!" pekik Sia menunjuk layar bawah di mana kamera drone menangkap perkelahian antara Jordan dan Afro di pinggir Laguna.


Mata Zaid terbelalak dan ia segera menginjak penuh gas mobilnya menuju ke lokasi Sandara berada.

__ADS_1


__ADS_2