
Tentu saja ucapan Jonathan membuat semua orang terkejut. William dan Sia bingung karena tak tahu akan hal ini.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Guatemala? Maksudmu ... misi tim gabungan Komandan Zeno kala itu?" tanya Sergei mempertegas.
Jonathan mengangguk mantab. BinBin terlihat berpikir keras.
"Paman BinBin, bisa kau ceritakan pada kami tentang misi saat itu? Mungkin ada petunjuk yang bisa ditemukan yang kau sendiri tak sadari," tanya William menatap BinBin seksama.
"Kau beruntung, daya ingatku masih bagus," ucapnya bangga.
"Baiklah, Paman. Akan aku rekam sebagai bukti saksi hidup akan misimu kala itu. Agh, kenapa aku tak terpikirkan hal ini ya?" sahut Kai merasa bodoh.
BinBin terkekeh. Ia terlihat seperti mencoba kembali ke masa saat kejadian naas tersebut,
"Aku sudah menyalakan rekaman. Ceritakan jika kau sudah siap," ucap Kai memberikan instruksi.
"Hmm, seperti yang kalian ketahui jika misi saat itu lebih mirip seperti jebakan. Awalnya tak ada yang mencurigakan. Semua berjalan sesuai prosedur, tapi memang ada yang mengganjal di hatiku karena kami bertujuh dari negara yang berbeda. Padahal, untuk melakukan kerjasama terutama bidang militer, itu sangat sulit kecuali memiliki relasi kuat dalam pemerintahan," ucap BinBin memulai ceritanya.
"Ya, kau benar, Paman. Terlebih, tempat tersebut berada di Guatemala. Masih dalam benua Amerika. Kenapa malah mengirimkan 7 orang dari berbagai negara bahkan melibatkan anggota militer dari benua lain?" timpal Kai.
"Yup, selain itu kami terbagi dalam bidang khusus. Aku saja tak kenal anggota kelompokku. Aku baru mengenal Zeno, Ketut, Rose dan lainnya ketika dalam misi. Sebelumnya, aku hanya pernah mendengar nama mereka saja," imbuh BinBin.
"Jadi, orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads memang dulunya mantan militer. Pantas saja, cara kerja mereka begitu terkoordinir. Bahkan pria tua si BinBin ini terlihat tangguh meski ia sudah berumur. Mereka seperti tak takut dan terlihat santai. Para mafia ini tak bisa diremehkan," ucap William dalam hati menatap BinBin tajam.
"Adakah hal ganjil yang mungkin kau rasakan saat tiba di Guatemala, Paman?" tanya Sia ikut penasaran.
BinBin diam sejenak terlihat berpikir.
"Oh iya! Aku baru ingat. Orang-orang yang tewas ketika kami tiba di perkampungan itu, mereka tak terlihat seperti warga sipil. Maksudku ... mereka memang mengenakan pakaian seperti masyarakat asli, tapi kami menemukan ada beberapa seragam dan senjata dalam rumah-rumah yang dibakar. Hanya saja, kami tak sempat menyelidikinya karena tau-tau kami disergap dan dituduh melakukan pembantaian," jawab BinBin antusias.
__ADS_1
"Seragam dan senjata? Maksudmu ... mereka seperti prajurit? Tentara begitu?" tanya William menebak dan BinBin langsung menunjuknya, membenarkan ucapan William.
"Apakah ... militer bermaksud untuk melenyapkan saksi hidup? Barang bukti barang kali? Atau mungkin kawasan itu dijadikan sebuah tempat semacam markas atau perkumpulan. Hmm, banyak dugaan," ucap Jonathan menimpali.
"Ya, itu bisa jadi. Kita harus ke sana untuk menyelidikinya langsung. Hanya saja, itu sudah bertahun-tahun lamanya. Tempat itu masih ada atau tidak, tak ada yang tahu," sahut Sia.
"Kita gak akan tau kalo gak ke sana. Jadi, Papa Kai! Berikan misi ini kepada kita dong. Ya ya boleh ya? Nathan penasaran banget ini, " ucapnya merengek.
"Akan Papa tanyakan pada ibumu dulu," sahut Kai malas.
"Pergilah. Bawa perlengkapan yang dibutuhkan. Pastikan kalian semua pulang dengan selamat," sahut Vesper tiba-tiba.
"Mama? Yey! Makasih Mama! Emang Mama is the best! Muach!" ucap Jonathan riang.
"Suara itu ... apakah itu Vesper?" tanya William dalam hati ikut terkejut.
"Tapi ... bagaimana dengan misimu mencari Jack, Tessa, Sierra? Belum termasuk mencari tahu keterlibatan Yes dan rumah tempat ibu William bekerja dulu. Apa akan kau tunda?" tanya BinBin melirik Jonathan.
Praktis, senyum Jonathan sirna. Ia kembali duduk dengan lesu.
William dan lainnya menatap Jonathan iba.
"Jonathan, jika Sierra memang jodohmu, takdir akan membawamu padanya. Tuhan dan semua orang tahu kau berusaha, jadi ... aku yakin jika Sierra bisa menunggu," ucap William sembari menepuk pundak Jonathan.
Jonathan menatap William seksama dan malah memeluknya erat. Semua orang kaget.
"Bro Will. Selain ganteng, kamu juga perhatian. Nathan seneng kamu ikut dalam misi ini, meski Nathan juga sebel karena kamu dulunya orang CIA," ucap Jonathan memejamkan mata memeluk William dari samping.
Orang-orang terkekeh melihat sikap Jonathan yang aneh itu. William balas dengan menepuk tangan Jonathan meski canggung.
Akhirnya, Kai menutup panggilan telepon. Sergei membawa tamunya yang akan menjalankan misi ke ruang meeting untuk membahas lebih lanjut tentang strategi mereka di Guatemala.
__ADS_1
Sore itu, usai memutuskan tindakan apa saja yang akan dilaksanakan untuk mensukseskan misi, Axton yang sudah bangun dari tidurnya ikut ke ruang rapat untuk memberikan pendapat.
"Aku tak mau terlibat. Aku ada urusan penting yang tak bisa ditinggal," ucapnya sembari melirik ke arah pintu ketika Nandra melintas di lorong dengan perut yang sudah membesar.
Sia dan William yang melihat sosok wanita India itu pun mengangguk paham.
"Namun, akan kukirimkan satu orang untuk membantu kalian. Kulihat kemampuan bertarungnya menurun karena terlalu lama mengurus bisnis dan di kantor saja. Jiwa petarungnya hilang. Aku tak mau calon penerusku loyo," ucap Axton kesal sembari menyalakan cerutu.
"Maksudmu, Torin?" tanya Jonathan menebak dan Axton mengangguk membenarkan sembari menghembuskan asap rokok.
"Kalian menginaplah semalam di sini. Besok pergi ke Los Angeles. Aku akan menghubungi Red dan Arthur untuk menyiapkan perlengkapan selama kalian menjalankan misi. Aku sedang tak ingin diganggu meski kalian sekalipun," ucapnya berwajah garang tak seperti biasa.
"Iya tau," jawab Jonathan cemberut.
Axton beranjak dari dudukan sembari menghisap cerutu. Namun, saat ia sudah di pintu, Axton membalik badannya dan meletakkan cerutu itu di asbak.
"Aku lupa jika tak boleh merokok," gumannya yang lalu pergi meninggalkan semua orang.
BinBin yang melihat cerutu Axton masih menyala dan tersisa banyak segera mengambil dan menghisapnya.
"Ih, itu kan bekas, Paman! Jorok ah," pekik Jonathan jijik.
"Hah, baju bekas mayat saja kupakai apalagi hanya sebuah cerutu dari orang hidup," timpal BinBin cuek.
William pamit untuk beristirahat dan Sia menemani sang suami. Keduanya merebahkan diri di kasur usai mandi bersama.
"Pekerjaan kita semakin banyak, Will. Aku lelah sekali," ucap Sia terlihat letih dengan mata terpejam.
William menatap isterinya seksama. Ia perlahan duduk dan memijat kaki Sia dengan penuh perhatian. Sia terkejut padahal William masih sakit dan masa penyembuhan.
"Tidurlah. Istirahatkan pikiran dan tubuhmu. Ada aku yang akan membantumu menyelesaikannya," ucap William sembari mencium kening lalu bibir Sia lembut.
__ADS_1
"Thanks, Will. I love you," ucap Sia dengan senyum merekah di wajahnya, mengusap pipi William lembut.
"I love you, too," balas William dengan senyum terkembang, ikut merebahkan diri di samping sang isteri menemaninya tidur.