Secret Mission

Secret Mission
Tertangkap


__ADS_3

William dan Cecil mengikuti Blacky di belakang sembari menyiagakan pistol di balik pinggang. Keduanya tampak waspada saat mata mereka memindai sekitar di mana mereka kini berada di sebuah pulau pribadi.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Pernah kemari sebelumnya?" tanya William lirih berjalan berdampingan dengan seniornya.


"Belum. Ini pertama kali. Tempat ini sangat luas dan sepi, William. Mungkin ... tempat ini hanya digunakan sebagai peristirahatan. Yah, semacam disewakan untuk liburan," jawab Cecil menduga.


William mengangguk setuju. Empat lelaki yang telah menyisir tempat terlebih dulu berkumpul di depan teras Villa pulau tersebut.


"Bagaimana?" tanya Blacky serius.


"Sepi, seperti informasi yang diberikan oleh Tessa," jawab salah seorang lelaki mantab.


"Oke. Kita bagi menjadi tiga tim. Cecil bersama kau dan kau masuk ke Villa tersebut dan cek di lantai dua sampai ke loteng. Aku dan William akan menyisir di lantai satu dan mencoba mencari jalan menuju bawah tanah. Kalian berdua, pastikan lingkungan aman. Kita harus bergerak cepat. Kita berkumpul lagi di sini saat matahari tenggelam," ucap Blacky serius dan diangguki empat bodyguard-nya.


"Blacky. Apa yang kita cari? Kau tak memberikan petunjuk apapun pada kami berdua," tanya William menatap Blacky seksama dan Cecil mengangguk setuju.


Salah seorang lelaki berpakaian rapi menunjukkan gambar dari layar ponselnya.


Terlihat gambar dua buah koper hitam dengan tombol digital pada sisi koper tersebut. Cecil dan William saling memandang.


"Jangan coba-coba untuk membukanya. Koper itu tak bisa dibuka paksa atau akan meledak. Begitu menemukannya langsung hubungi aku. Kita pergi dari sini. Tessa yang akan mengurus koper itu," ucap Blacky sembari memberikan dua set earphone khusus yang terhubung dengan radio kelompok.


Cecil dan William mengangguk paham. Matahari mulai bersinar terang. Orang-orang berpencar sesuai dengan tim untuk mencari di mana koper itu disembunyikan.


William yang merasa janggal dengan misi kali ini mencuri-curi pandang ke arah Blacky di mana ia merasa jika wajah Blacky cukup tampan dan merasa pria tersebut lebih muda darinya.


"Blacky. Ini pulau siapa?" tanya William sembari meraba sebuah tembok mencoba menemukan tombol rahasia di sana.


Blacky diam saja tak menjawab. William mulai merasa jika misi pencarian ini akan sangat membosankan.


"Kita harus menemukannya, William. Dua koper itu adalah kesempatanku untuk kembali padanya," ucap Blacky tiba-tiba dengan wajah sendu.


William langsung melirik Blacky yang kini berjongkok membuka sebuah lemari pajangan di ruang tamu.


"Siapa yang kau maksud? Keluargamu?" tanya William yang kini malah lebih tertarik pada pria muda misterius di hadapannya.


Blacky menoleh dan menatap William seksama dalam diamnya. Jantung William malah berdebar karena ditatap lekat oleh lelaki itu. Blacky lalu memalingkan wajah dan kembali mencari.


"Cari koper itu dengan benar. Kita tak punya banyak waktu," ucap Blacky serius yang kini berdiri dan membuka pintu lemari di rak atas.


William mengangguk paham. Ia melihat sekitar di ruangan tempat ia berdiri dengan seksama. Ia melihat sebuah pintu ruangan yang diyakini adalah sebuah kamar.


"Kau mau kemana?" tanya Blacky melihat William malah menjauh darinya.


William menunjuk pintu ruangan sebagai tujuannya.


"Instingku mengatakan jika kita harus mencari ruangan seperti kamar utama atau ruang kerja. Biasanya tempat itu memiliki akses untuk ke suatu tempat terutama ruang bawah tanah," jawab William santai.


Blacky mengangguk terlihat setuju. Ia berjalan mendahului William mendatangi kamar itu. Saat Blacky membuka pintu, tiba-tiba ....


SHOOT!!


"Agh!"

__ADS_1


"BLACK!" pekik William terkejut saat dari dalam ruangan muncul sebuah senjata tembak dengan jaring besar yang memperangkap tubuh Blacky.


William waspada seketika sembari mengeluarkan pistol di balik pinggang. Blacky meronta mencoba melepaskan diri dari jaring yang menangkapnya seperti ikan.


"William! Lepaskan aku!" teriaknya lantang menggelepar di lantai.


William yang mengarahkan pistolnya ke segala arah segera berjongkok dan mengambil belati yang di selipkan di alas sepatu khususnya.


Ia mencoba memotong jaring penjerat tersebut, tapi ternyata itu bukan jaring biasa.


"Tidak bisa, Black. Ini seperti dibuat dari kawat tebal," jawab William memegang jaring itu kuat.


Hingga tiba-tiba, terdengar suara tembakan dari luar Villa. William dan Blacky waspada seketika. William membantu Blacky untuk segera bangun meski masih terperangkap.


Blacky melompat-lompat karena tak bisa melangkah. William memegangi salah satu lengannya dengan tangan kiri dan tangan kanan siaga dengan pistol.


"CECIL!" teriak William lantang memanggil kawannya yang diduga masih berada di atas.


Namun lagi-lagi, suara gaduh terdengar di lantai atas. Tembakan bersahut-sahutan membuat dua lelaki tampan itu panik.


Saat William dan Blacky berhasil keluar dari Villa tersebut mencoba untuk kabur dengan mendatangi pesawat, tiba-tiba ....


BLUARRR!! BRUKK!!


"SHIT!" pekik William kaget sampai ia dan Blacky terpental ke belakang jatuh di tanah.


William tak melihat apapun di luar. Ia bingung di mana posisi para penyerang tersebut.


Namun, ia kembali terkejut saat mendapati dua orang yang berjaga di luar telah tewas tergeletak di sisi bagian timur Villa.


William menyiagakan pistolnya ke segala sudut untuk melindungi diri dan Blacky. Hingga William melihat sebuah speed boat di dermaga kecil.


"Blacky! Kita bisa pergi dengan perahu itu!" ucap William membantunya kembali berdiri dan Blacky mengangguk setuju.


Saat Blacky kembali melompat-lompat karena jaring itu membungkus tubuhnya seperti kepompong, mata keduanya terbelalak ketika mendapati Cecil mengalami hal sama.


Cecil ikut terjerat jaring perangkap dan sedang dibawa oleh dua orang berpakaian hitam dengan topeng tertutup.


DOR! DOR!


William terkejut. Pelurunya tak membunuh dua orang yang membopong Cecil dan malah membuat posisinya diketahui.


Saat William kembali membidik dua lelaki berseragam sama dari pihak musuh yang menuju ke arahnya dengan senapan laras panjang, tiba-tiba ....


BRUKK!! SREEKKK!!


"WILLIAM!" teriak Blacky yang mengejutkan lelaki bermata biru itu.


Mata William melebar saat melihat jaring Blacky di tarik kuat dengan sebuah tali pengait panjang yang muncul dari dalam air dan tak terlihat sosok yang menangkapnya.


William menembakkan peluru-pelurunya ke dalam air dan seketika, tali pengait itu terlepas.


Nafas Blacky tersengal. William membantu Blacky berdiri dan melepaskan pengait tersebut dengan tergesa.


"Ini jebakan, William! Mereka tahu kedatangan kita!" pekik Blacky terlihat panik.

__ADS_1


Tiba-tiba, kumpulan drone terbang mendekati keduanya dengan senjata diarahkan ke tubuh dua lelaki itu. William terkejut dan spontan mengangkat kedua tangan.


BROOM!!


William menoleh seketika saat melihat Cecil sudah dibawa kabur dengan speed boat yang rencananya akan ia gunakan untuk kabur bersama Blacky.


William kembali melebarkan mata ketika jendela atap Villa dibuka lebar. Dua bodyguard bersetelan rapi satu tim dengan Cecil telah tewas.


Mayatnya dilemparkan begitu saja dari atas. William dan Blacky saling memandang karena sosok yang melakukan hal tersebut tak terlihat.


Hingga tiba-tiba, kening William berkerut. Ia melihat seorang perempuan mendatanginya.


Perempuan itu muncul dari bawah tanah dengan pakaian kamuflase berwarna cokelat mirip tanah di area itu, tapi rambut panjangnya begitu mencolok karena berwarna merah muda.


Ia keluar dari sebuah palka yang atasnya ditutupi semak berjejer dibuat bagaikan hiasan taman.


William melihat Blacky tertunduk dan masih duduk di atas tanah terlihat pasrah. William bingung.


"Ingat aku, William Tolya?" tanya perempuan berambut pink tersebut.


Ia tersenyum miring sembari mendorong dada Blacky hingga pria muda itu terlentang di tanah tak bisa melawan.


William menggeleng pelan saat dirinya tak bisa melawan karena sudah ditodongkan banyak moncong senjata ke tubuh. William menyerah saat kedua tangannya diborgol.


"Hai, Afro. Lama tak jumpa. Kau ... makin tampan. Pantas saja Sandara rela menunggumu padahal kau sudah meninggalkannya sekian lama," ucap perempuan Asia tersebut mengejek dengan pistol di arahkan ke wajahnya.


Kening William kembali berkerut. "Afro?"


"Yes. Dulu dia adalah salah satu orang kami dalam jajaran 13 Demon Heads. Hanya saja, aku bingung. Aku harus membawamu ke Pengadilan atau ke Sandara? Aku tak akan membiarkanmu kembali pada The Circle, Afro. Sudah cukup pengorbananmu," ucap Yuki menatap Blacky tajam.


"Sandara. Aku ingin bertemu Sandara. Dia satu-satunya rumah yang kumiliki, Yuki. Please," jawabnya sendu.


"Yuki?" lirih William dan Yuki menaikkan kedua alisnya dengan cuek.


"Pilihan tepat. Oke, kalau begitu, jangan melawan dan ini prosedurnya, Afro. Diam," ucap Yuki serius dan seketika, CLEB!


"Agh ...."


"Blacky! Apa yang kau lakukan padanya?!" teriak William panik meski tubuhnya sudah dipegangi kuat.


"Kau tak dengar katanya? Afro akan pulang dan namanya bukan Blacky. Siapa yang memberikan nama aneh mirip anj*ng itu? Seleranya benar-benar buruk," jawab Yuki geleng-geleng kepala.


William melihat Blacky diangkat dan dinaikkan ke sebuah yacht yang merapat ke pulau. Yuki meminta orang-orangnya untuk membawa William masuk kembali ke dalam Villa.


William tak bisa melawan saat mulutnya ikut di lakban. Pulau ramai seketika dengan banyak orang berpakaian hitam membereskan kekacauan.


William di dudukkan di sebuah ruang kerja dengan seorang pria muda di depannya sedang menutup gagang telepon.


William menatap lelaki itu seksama di mana ia tak mengenali sosoknya. Ruang kerja itu di jaga ketat oleh para tentara berseragam hitam, lengkap dengan senjata api diarahkan ke tubuhnya.


William mencoba untuk tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang karena tak tahu apa yang terjadi.


***


makasih tips koinnya. besok dobel eps ya💋💋

__ADS_1



__ADS_2