
Jantung William berdebar, ia gugup seketika. Ia bingung bagaimana untuk membuat alibi untuk kali ini.
William melihat sekitar di mana jalanan ramai dan tak mungkin melakukan pembunuhan di tempat umum.
Misinya adalah tak menarik perhatian sipil yang membuatnya terseret ke kepolisian bahkan harus dipenjara.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Oh, aku ingat. Maaf membuatmu kerepotan berpikir, William," ucap Cecil tiba-tiba dengan senyum terkembang.
William bernafas lega. Ia tak pernah sepanik ini sebelumnya. William melirik Cecil di mana ia merasa seperti dipermainkan wanita tua itu.
Hingga akhirnya, William kembali merekam dalam ingatannya rute menuju ke apartemennya. Cecil memarkirkan mobilnya di basement.
William mengikuti Cecil di belakangnya di mana terlihat wanita tua itu seperti sudah paham betul seluk-beluk rumahnya bahkan memiliki kunci untuk membuka pintu.
"Masuklah, Will," ajak Cecil dan William mengangguk pelan.
William masuk dan melihat sekitar. Ia tak mengenali rumah itu. Cecil meletakkan mantel dan tas jinjingnya di atas meja samping televisi. William masih berdiri sembari memegangi lengannya yang sakit.
"William," panggil Cecil dan lelaki bermata biru itu menoleh seketika, tapi matanya langsung melebar saat Cecil meletakkan moncong pistol tepat di keningnya.
"Who are you?" tanya Cecil tajam.
"William," jawabnya mantab.
"Siapa yang mengutusmu?" tanya Cecil yang ternyata bukan kening saja yang ditodongkan pistol, melainkan perutnya juga dari tangan lainnya.
William diam tak menjawab. Cecil menyipitkan mata.
"Ini bukan rumahmu. Ini rumahku, William Tolya," ucap Cecil tajam.
Seketika, BUAKK!
__ADS_1
"Agh!"
Cecil merintih ketika tiba-tiba William memukul wajahnya dengan kepalan tangan yang memegangi lukanya.
Cecil terhuyung ke belakang dan dengan cepat, William merebut pistolnya lalu berputar dan menendang perut mantan agent senior itu hingga ia jatuh menghantam benda-benda di belakangnya.
Cecil merintih kesakitan. William mengarahkan pistol rampasannya ke tubuh Cecil yang tersungkur di lantai.
Mata Cecil melebar saat William melepaskan peluru-pelurunya dengan cepat dan teratur ke arahnya.
DOR! DOR! DOR!
Mata William terus mengejar Cecil yang berguling ke samping menghindari tembakan. William kembali menembak Cecil yang bersembunyi di balik sofa.
"William! Enough!" pekik Cecil geram.
Namun, William tetap menembakinya membabi buta. Cecil kesal bukan main. Ia tak tahu apa yang membuat juniornya menjadi gelap mata dan ingin membunuhnya.
Cecil menyiagakan pistolnya yang masih tersisa satu. Ia mengincar pintu menuju kamarnya. Cecil menarik nafas dalam.
DOR! DOR!
Cecil melihat kesempatan dan berlari sembari terus menembakkan pelurunya ke arah persembunyian William ke pintu kamarnya.
William semakin merapatkan tubuhnya ke balik dinding agar tak terkena tembakan dari target yang harus dibunuhnya.
Cecil berhasil masuk ke kamar. Ia segera menarik sebuah koper di bawah kasur dan membuka isinya dengan tergesa.
William melihat jika Cecil tak lagi menembak. Ia mengecek sisa peluru yang dirasa masih cukup untuk membunuh targetnya meski ia juga tak tahu alasan Tessa memasukkannya dalam buruan yang harus dibunuh.
William berjalan mengendap mendekati pintu kamar Cecil dan bersembunyi di balik dinding dengan pistol siaga dalam genggamannya.
William berjongkok dan mencoba mengintip. Namun, ia tak melihat sosok Cecil di dalam kamar tersebut. William bingung dan semakin mencondongkan tubuhnya ke dalam dari bingkai pintu.
__ADS_1
Seketika, BUZZZ!!
"Uhuk! Uhuk!"
William batuk-batuk ketika tiba-tiba saja sebuah kaleng berisi gas dilemparkan ke arahnya. Asap putih menyeruak di ruangan tempat ia berada.
William segera bangun dan menyingkir. Namun, ia melihat pergerakan seseorang yang berlari keluar dari pintu kamar menuju ke ruang tamu untuk keluar dari rumah tersebut.
William kembali menembakkan peluru-pelurunya ke arah sosok yang ia yakini adalah Cecil, sedang berlari mencoba untuk kabur dari kematiannya.
Namun, ia menyadari jika Cecil berhasil kabur karena William mendengar suara pintu di buka. William menutup hidungnya dan berjalan tergesa mendekati pintu tersebut.
Ia melongok keluar di mana sosok Cecil tak ia dapati. William kesal dan segera berlari sembari membuang pistol yang telah habis peluru itu ke dalam rumah Cecil.
William mengejar Cecil yang diyakini olehnya menuju ke basement untuk kabur dengan mobil. William sampai di basement dan mencari mobil Cecil.
Mata William terbuka lebar saat melihat pintu mobil Cecil terbuka. Mantan agent itu segera berlari kencang mendatanginya. Saat William melongok ke dalam, ia terkejut karena ternyata Cecil tak ada.
William berdiri di depan mobil itu dengan kesal sembari melihat sekeliling. Saat William memutuskan untuk menggunakan mobil Cecil dan menutup pintu, tiba-tiba ....
BRANGGG!!
Sebuah mobil Hummer menghantamnya hingga bagian depan mobil sedan penyok. William pingsan meskipun air bag muncul dan menyelamatkannya dari benturan hebat.
Cecil keluar dari bangku kemudi mobil Hummer dengan wajah dingin dan sebuah pistol dalam genggaman tangan kanan mendekati William.
Cecil menodongkan pistol ke arah junior-nya siap untuk menembak. Namun, entah kenapa, Cecil tak bisa melakukannya.
"Shit! What's wrong with you?!" pekik Cecil kesal setengah mati karena perubahan sikap William.
Cecil membuka pintu mobil sedan dan menarik William paksa. Ia lalu menyeret William yang pingsan ke dalam mobil Hummer miliknya lalu memborgol kedua tangan serta kakinya. Cecil merebahkan William di bangku tengah.
"Aku akan buat perhitungan denganmu, William. Menyusahkan," gerutunya sembari mengemudikan mobil Hummer keluar dari apartement miliknya.
__ADS_1
Cecil terlihat waspada selama perjalanan. Matanya tak henti-hentinya melihat kaca spion dan jendela untuk memastikan agar mereka berdua tak diikuti ataupun diserang.