
William melangkahkan kakinya dengan gusar meninggalkan gereja itu.
Sia yang awalnya nekat untuk kabur melalui jendela itupun segera turun. Ia kembali merasa jika bahunya sakit karena terlalu banyak bergerak.
Sia yang masih mencintai William itupun kembali mengejarnya dimana William sudah masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin.
Sia memegangi rok dari gaun pengantinnya yang panjang dengan bertelanjang kaki.
Cecil yang berusaha menahan kepergian William terlihat seperti gagal. William menutup pintu berikut jendela mobilnya.
Sia yang sudah berderai air mata karena tahu jika sikapnya sudah menyakiti William, berusaha untuk menjelaskan alasan kenapa ia tak bisa menikah dengannya saat ini.
Keadaan sudah berubah. Sia tak lagi sendiri, ia kini memiliki keluarga meski Sia tahu jika William tak seberuntung dirinya.
Sia mencoba mengejar William yang sudah terlihat tak peduli lagi padanya meski Sia memanggil namanya berulang kali.
BROOM!!
"William! Wait!" teriak Sia lantang mengenakan gaun pengantin berusaha mengejar mobil William yang lagi-lagi berlalu meninggalkannya.
Sia merasakan nyeri di bahunya dan seketika, BRUKK!
"Agh."
Sia roboh karena masih merasakan sakit di bahunya itu. Cecil terkejut dan mendatangi Sia dengan tergesa.
Tiba-tiba, mobil William berhenti dan ia turun mendekati Sia dengan wajah serius.
Sia tersenyum karena William mau kembali lagi padanya. Cecil berjongkok memegangi Sia yang terlihat kesakitan akibat lukanya.
"Aku lupa sesuatu. Cecil, kita segera pergi dari sini. Aku sudah tak ada urusan lagi dengannya. Aku tak peduli jika wanita di depanku ini ditembak, ditabrak atau dibunuh. Jangan buang waktumu menyelamatkan seorang penjahat. Ku ampuni kau kali ini, Nona Sia, tapi tidak lain kali," ucap William tajam penuh kebencian menatap Sia tanpa belas kasih.
Sia begitu sakit mendengar ucapan William yang tak disangkanya. Lengan Cecil ditarik oleh William hingga membuatnya berdiri.
Cecil terlihat bingung dengan keadaan ini dimana Sia menangis karena sikap dingin kekasihnya.
Sia memegang kaki William mencoba menahannya agar tak pergi darinya. William yang sudah diliputi kekecewaan itu malah menendang pundak Sia kuat hingga dia terdorong ke belakang dan jatuh terlentang.
Cecil terkejut karena William bersikap kasar pada mantan kekasihnya. William menatap Sia tanpa ekspresi di wajahnya, terlihat ia seperti begitu membenci gadis di depannya ini.
William mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dimana ia menyimpan cincin untuk pernikahannya hari ini.
Milik almarhum ibunya dimana ia sangat berharap cincin itu bisa melingkar dijari manis Sia.
"Merasa bersalah padaku? Baguslah. Kau bisa menyimpan benda itu sebagai rasa penyesalanmu padaku hingga akhir hidupmu. Good bye, Sia."
William melemparkan kotak itu dan mengenai tepat ke wajah Sia. Sia menangis tersedu membungkam mulutnya agar isak tangisnya tak terdengar.
William menarik lengan Cecil dan membawanya menuju ke mobil. Sia sudah tak bisa bersuara lagi.
Ia hanya ingin menangis sejadi-jadinya akan sikap William yang tak pernah disangkanya.
Sia membiarkan dirinya menangis di jalanan sendirian. Mobil William melaju pergi meninggalkan Sia seorang diri.
Sia tak bisa menghentikan tangisannya yang menderu. Tubuhnya sampai gemetaran. Ia tahu jika William begitu kecewa dan sakit hati padanya.
Hingga akhirnya, tubuh Sia lunglai dan ia terbaring miring membiarkan air matanya menetes karena terlalu banyak menangis.
Sia melihat kotak yang William lemparkan padanya dengan perasaan sedih yang teramat sangat.
Sia mengambil kotak itu dan membuka isinya dengan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya.
Ia melihat cincin yang William ingin pakaikan di jemarinya. Sia memejamkan mata dan kembali menangis.
Sia menggenggam erat kotak itu dan menutupnya kembali agar cincin tersebut tidak rusak.
__ADS_1
Entah sudah berapa lama Sia menangis hingga akhirnya suara mobil terdengar. Mobil itu datang ke arahnya dan mendapati Sia masih berbaring di atas aspal.
"Ya Tuhan, Sia!" pekik suara seorang lelaki yang turun dari mobil dengan jalan tergopoh.
Sia yang sudah lemas tak bisa bergerak. Ia tak tahu siapa orang-orang yang datang padanya.
Hingga sebuah wajah yang ia kenali membantu mendudukkannya dan memberikan dadanya sebagai sandaran tubuhnya yang lunglai.
"Sia, kau tak apa? Kenapa kau ada di tengah jalan dan kenapa kau memakai baju pengantin?" tanya Antony Boleslav ayah tiri Sia yang muncul di depannya.
Sia kembali menangis dan memeluk ayahnya itu. Antony bingung dan balas menepuk lengan anaknya dimana ia melihat luka perban di bahunya.
Antony lalu melirik Red dan iapun segera membopong Sia masuk ke dalam mobil.
Antony ikut berdiri dibantu oleh Daniel. Antony melihat sebuah kotak yang dijatuhkan Sia dan meminta Daniel mengambilnya.
Daniel memberikan kotak itu dan Antony menerimanya. Ia membuka kotak itu dan melirik Sia yang terlihat begitu sedih dan matanya sembab karena banyak menangis.
Antony menggenggam erat kotak itu dan memasukkan ke dalam saku jas terluarnya.
Daniel diam saja menatap Antony yang terlihat seperti menahan emosi dan mencoba untuk tetap tenang.
"Kita pulang," ucap Antony dan diangguki oleh Daniel.
Antony jalan tergopoh dengan tongkat yang membantunya berjalan. Ia masuk ke mobil yang sama dengan Sia di dalamnya.
Red duduk di samping sopir dan Daniel duduk di kursi belakang Sia. Sia memalingkan wajah dan menyenderkan tubuhnya ke dekat jendela seperti tak ingin orang-orang tahu kesedihannya.
Antony memberikan kode agar segera pergi dari tempat itu.
Antony yang berada di Amerika karena mendapat kabar dari Axton jika kini ia bekerjasama dengan William tentu saja membuat salah anggota dewan senior itu terkejut.
Ditambah, Vesper juga menghubunginya jika Sia tak lolos seleksi dewan. Antony segera terbang sehari sebelum Sia menerima map dari Arjuna saat itu di mansion-nya.
Antony menemukan keberadaan Sia karena sebuah pesan dikirimkan ke ponsel Daniel dan memberitahu jika Sia berada di sebuah tempat.
Antony yang cemas jika Sia mengalami cidera ditambah kini namanya dikumandangkan dalam jajaran dewan, membuat anak tirinya ini menjadi sasaran empuk para penjahat dan polisi di luar sana.
Antony membawa Sia ke Boston dan menginap di sebuah hotel sebelum esok terbang ke Rusia.
Amanda yang mendengar jika anaknya terluka dari Daniel itupun segera kembali ke kastil karena ia pergi lagi ke Krasnodar untuk mengadakan pertemuan dengan geng Red Skull serta Beruang Hitam yang berpusat di sana.
Di hotel bintang lima, penjagaan ketat para Black Suit Antony Boleslav baik di dalam ataupun di sekitar hotel.
Antony menyewa sebuah ruangan type Luxury Family Room yang memiliki 3 kamar terkoneksi untuk kenyamanan Sia karena tahu jika anaknya mengalami hal buruk hari itu.
Antony meminta kepada Daniel untuk membelikan baju ganti yang menurutnya cocok dikenakan Sia.
Daniel mengangguk paham dan segera pergi bersama Red untuk menemaninya berbelanja.
Antony mengajak Sia duduk di ruang tengah dimana Sia hanya diam tertunduk dan masih mengenakan gaun pengantin berwarna putih dengan atasan terbuka karena bahunya masih terluka.
"Kau kotor sekali. Sebaiknya kau bersihkan diri dulu. Kau bisa melakukannya sendiri, 'kan? Atau kau ingin aku minta pelayan kamar menolongmu?" tanya Antony pelan.
Sia menggeleng dan tersenyum tipis.
"Aku bisa sendiri, Daddy," jawab Sia lirih.
Antony masih menatap Sia seksama dan mulai memasukkan tangan ke saku jasnya.
"Benda ini, kau ingin aku yang menyimpannya atau ku bakar saja?" tanya Antony mengeluarkan kotak cincin milik William.
Mata Sia melebar seketika. Ia sampai lupa tentang cincin itu. Sia segera merebutnya dari tangan Antony dan menggenggamnya erat.
Antony menatap Sia tajam, ia tahu jika Sia masih mencintai agent muda itu. Antony masih mencoba untuk bersabar karena bagaimanapun, ia tak menyukai lelaki itu.
__ADS_1
"Hanya lelaki pecundang yang berani membuat seorang gadis menangis dan pergi meninggalkannya," ucap Antony tegas.
Sia tertegun dan menatap Antony dengan takut-takut. Ia mencoba menjelaskan perlahan pada ayah tirinya itu karena Sia merasa jika sikap Antony sekilas mirip William ketika sedang marah.
"Aku membuatnya menangis, Daddy. Aku mengecewakannya dan ia pergi meninggalkanku," jawab Sia menahan air matanya yang nyaris tumpah lagi.
Antony terkejut dengan jawaban puterinya itu. Ia menatap Sia seksama terlihat keheranan.
"Kau yang mencampakkannya? Sungguh? Wah, kau hebat sekali. Kau luar biasa, Sia! Itu baru anak Daddy. Hahahahaha ...." tawa Antony terlihat begitu gembira.
Sia tertegun dan menatap ayahnya itu seksama. Ia tak pernah melihat Antony tertawa seriang ini dan terlihat begitu puas akan jawabannya barusan.
"Hmm, jangan takut Sia. Memang rasanya menyakitkan ketika pengorbanan dan cintamu ditolak, dulu ibumu juga kejam sepertimu. Namun, akhirnya kami bisa kembali bersama," ucap Antony mengenang masa-masa kelam itu dengan tersenyum.
"Benarkah?" tanya Sia dengan mata berbinar seketika.
"Ya, tapi itu tak berlaku untukmu dan agent keparat itu. Kau itu mafia dia polisi. Selamanya ..."
"... kalian takkan pernah bersatu. Bagaikan langit dan bumi. Yah, aku sudah pernah mendengarnya," jawab Sia memotong pembicaraan ayahnya dengan lesu.
"Kau tahu dari mana?"
"He?? Oh, film," jawab Sia asal.
Antony mengangguk dan tak lama, Daniel serta Red muncul membawakan banyak tas belanjaan dengan berbagai merk di sana.
Antony sampai terheran-heran karena dua lelaki yang tak kunjung datang ternyata malah asyik berbelanja.
"Nona Sia. Aku sudah pilihkan banyak pakaian yang pastinya akan membuatmu terlihat sangat cantik. Semua model terbaru dari merk-merk ternama. Cobalah," ucap Red sembari memberikan empat buah tas belanjaan terbuat dari kertas itu.
"Oh, thank you, Red," jawab Sia sungkan sembari menerima tas-tas itu.
"Aku juga. Karena kami berdua memiliki selera yang berbeda jadi aku memilihkan pakaian yang menurutku akan sangat menawan jika kau kenakan. Terimalah," ucap Daniel sembari memberikan empat buah tas belanjaan itu pada Sia dan iapun kembali menerimanya dengan gugup.
"Te-terima kasih, Daniel," ucap Sia tersenyum paksa.
Akhirnya, Sia pamit untuk membersihkan diri dan mengobati lukanya.
Daniel membelikan beberapa peralatan dan obat-obatan untuk membantu menyembuhkan lukanya.
Sia sangat berterima kasih karena perhatian dua orang kepercayaan ayah tirinya itu.
Sepeninggalan Sia, Antony duduk di sofa empuk itu sembari meremat-remat kepala tongkatnya dengan wajah penuh amarah.
Daniel dan Red gugup seketika yang kini berdiri tegap di depan bos mereka.
"Cari agent muda itu. Buat perhitungan dengannya dan pastikan dia menyesal karena sudah membuat Sia menangis," titah Antony geram.
"Tapi, Tuan. Sergei mengatakan jika William membuat kesepakatan dengan Tuan Axton. Mereka mengatakan jika William menjadi sekutu mereka untuk menumpas The Circle," timpal Daniel mengingatkan.
"Kau pikir aku sepikun itu hingga tak ingat yang Axton katakan padaku? Apa perintahku kurang jelas untukmu, Daniel?" tanya Antony tajam.
"Maaf, Tuan. Baik, saya mengerti," jawab Daniel tertunduk dengan jantung berdebar.
"Aku akan tetap terbang ke Rusia dengan Sia. Daniel, kau tinggal bersama Red sampai kalian berdua membuat perhitungan pada agent muda itu. Jangan sampai gagal, atau aku sendiri yang akan membuat perhitungan dengan agent muda itu."
"Jangan, Tuan. Perhatikan kondisi kesehatan Anda. Percayakan pada kami. Aku dan Daniel bisa mengurusnya, tenang saja," sahut Red cepat karena khawatir pada Tuan besarnya itu.
Antony mengangguk paham. Red lalu membantu Antony untuk bangun dari kursi duduknya.
Ia memapah Antony yang terlihat kesakitan akan luka di kakinya yang tak bisa sembuh itu.
Hanya obat pereda nyeri dan serum dari Jeremy-lah yang membuatnya masih bisa berjalan.
Sia yang sudah selesai membersihkan diri dan mengobati lukanya itupun ikut bergabung di ruang makan bersama Antony, Daniel dan Red untuk makan bersama.
__ADS_1
Terlihat mereka berempat begitu akrab seperti apa yang barusaja terjadi sudah dilupakan begitu saja seiring berjalannya waktu.