
Semua orang melihat dari kamera William yang terpasang di atas pundaknya itu. William menerobos semak menuju ke lokasi benda itu terjatuh.
Hingga akhirnya William terkejut karena itu adalah seorang lelaki yang memakai pakaian berwarna hijau lumut seperti pepohonan dengan penutup wajah.
Saat William berjongkok untuk mengecek kondisi lelaki tak dikenalnya itu, tiba-tiba orang yang ia kira mati itu membuka matanya dan membuat William terkejut seketika.
Lelaki itu segera meluncurkan tendangan kaki kirinya dengan posisi memiringkan tubuhnya yang telengkup di atas rerumputan.
Lengan kanan William terhantam dan membuatnya yang sedang berjongkok itu jatuh terlentang karena tendangan kuat lelaki tersebut.
Rajesh dan Shamus terkejut melihat serangan tiba-tiba itu dari kamera yang terpasang pada William.
Dua bodyguard Jamal yang berada di pinggiran pantai segera berlari ke arah William untuk membantunya.
William segera bangun karena lelaki itu berdiri dan bersiap berlari. William melompat dan menerkam punggung lelaki itu hingga mereka berdua jatuh tersungkur di tanah.
William memegangi penutup wajah lelaki itu berusaha untuk dilepaskan paksa dengan menaiki punggungnya.
Namun, lelaki itu memberontak dan mensikut perutnya berulang kali dengan tangan kirinya dan tangan kanan memegangi penutup wajah agar tak terlepas.
William yang memakai rompi anti peluru masih bisa menahan pukulan siku itu.
William melepaskan cengkraman tangan kanan di penutup wajah lelaki tersebut dan kini menarik penutup itu dibagian kepala belakang hingga kepala lelaki itu tertarik ke belakang dengan posisi mendongak.
William bisa saja mematahkan leher lelaki itu, tapi tak ia lakukan karena ia ingin tahu siapa dia sebenarnya. William bermaksud mengintrogasinya.
William lalu menangkap pergelangan tangan kiri lelaki itu yang sedari tadi mensikutnya dan memplintirnya dengan tangan kirinya kuat.
"ARRGHHH!"
Lelaki itu mengerang, tapi William tak memberikan ampun. Ia lalu melepaskan plintirannya dan kedua tangannya kini memegang penutup kepala itu.
Hingga akhirnya, William berhasil melepaskan penutup itu dan membuangnya jauh.
Lelaki itu dengan cepat membalik tubuhnya dan membuat William jatuh bergulung ke samping.
Mata William dan lelaki itu saling bertatapan tajam. Mereka sama-sama dalam posisi merangkak di atas tanah.
Hingga akhirnya, William kembali menyerang dengan mengaburkan pandangannya memanfaatkan serpihan dedaunan kering dalam kedua genggaman tangannya.
Lelaki itu terkejut dan segera menyingkirkan serpihan di wajahnya. William dengan cepat meluncurkan kepalan tangan kanannya ke wajah lelaki itu hingga ia jatuh terlentang seketika.
William lalu memegangi kedua pergelangan kaki lelaki itu sembari berdiri.
Lelaki itu terkejut karena William malah menyeretnya dan perlahan badan lelaki itu melayang di udara karena William memutarnya seperti baling-baling dan BRAKK!!
"ARGGGHH!"
__ADS_1
Semua orang tertegun karena William melemparkan tubuh lelaki itu ke sebuah batang pohon dan membuat ia jatuh meringkuk karena rasa sakit di dadanya.
Saat William mendatangi lelaki itu dan menarik kerah baju belakangnya, tiba-tiba sebuah lampu sorot menyilaukan pandangannya dan membuat mata William terpejam seketika di malam yang gelap itu.
Semua orang tertegun saat William dikepung oleh segerombolan laki-laki dan muncullah sosok yang ia kenali.
Segera semua orang yang mengenal lelaki itu menjauh dari lokasi begitu pula A dan B. William masih memegang kerah lelaki itu dengan satu tangan kanan dan tangan kiri ia gunakan untuk menutupi matanya.
Jantung William berdebar, ia takut jika misinya ketahuan.
Diam-diam, William menjatuhkan kamera di bahunya dengan berpura-pura berpaling karena silau cahaya.
William juga melepaskan earphone di telinga kanannya segera. Dua benda itu jatuh di tanah lalu dengan cepat William menginjak alat komunikasi tersebut hingga remuk.
William lalu menunjukkan wajahnya begitu dua benda tersebut dirasa sudah aman dan hancur. Sergei mendekati William dengan wajah tanpa ekspresi.
Ia melihat William masih memegang erat lelaki yang tak dikenalnya itu dengan gugup.
Sergei lalu meminta kepada dua anak buahnya untuk membawa paksa lelaki itu. William terpaksa melepaskannya dan mengangkat tangan diantara kedua telinganya. Ia menyerah.
"Apa yang kau lakukan di sini, William?" tanya Sergei yang memepet wajahnya hingga hembusan nafasnya terasa di kulit agent muda itu.
"Aku mengejar komplotan dari lelaki itu. Tak kusangka mereka sampai di sini," ucap William kembali membuat skenario dadakan.
"Mereka siapa?" tanya Sergei mengetes William dimana ia sudah tahu siapa William sebenarnya.
"Karena aku masih menyelidikinya, aku belum tahu," jawab William tegas.
"Ka-kau tahu mereka?" sahut William menelan ludah.
Sergei tersenyum tipis dan malah mengajak William untuk ikut bersamanya. William kebingungan, tapi ia menurut.
Ia yang sedari tadi bingung bagaimana masuk ke mansion Axton kini malah seperti tamu istimewa yang dibentangkan sebuah karpet merah dimana ia masuk ke rumah salah satu anggota dewan berpenjagaan ketat dengan begitu mudahnya. William tersenyum miring.
Axton yang menyadari terjadi serangan ternyata sudah menunggu William di ruang kerjanya mengenakan piyama tidur dan celana boxer saja.
Seluruh bawaan dan pakaian William dilucuti dan hanya disisakan celana boxer seperti saat ia ikut tes dulu.
William tak bisa melawan. Ia sengaja menurut karena memiliki maksud terselubung kali ini.
Hingga akhirnya, William tertegun karena tak menyangka akan bertemu dengan Adrian Axton lagi.
William dijaga ketat oleh empat bodyguard Axton bersenjata lengkap menodongkan pistol di tubuhnya.
Sergei berdiri di samping Axton yang sedang menghisap cerutu dan duduk dengan kaki dinaikkan ke atas meja kerja bertelanjang dada.
"Kau tahu ini jam berapa, William? Jam dua pagi! Kau membuat keributan di rumahku," ucap Axton kesal.
__ADS_1
William diam saja terlihat bersalah.
"Apalagi sekarang? Apa Nandra salah satu agent-mu? Lalu kau bermaksud untuk membawanya kembali?" tanya Axton menebak.
Sontak William terkejut dengan ucapan Axton barusan. Axton mengira jika Nandra salah satu agent CIA sepertinya. William tersenyum tipis.
"Kau sangat pintar, Tuan Axton. Kau langsung bisa menebaknya. Benar kata Rika, jika kau adalah mafia paling jenius yang pernah ada," ucap William memuji.
Axton terkejut dengan ucapan William barusan. Sergei meliriknya tajam.
"Hahahaha! Rika bilang begitu? Wah tak kusangka nenek tua itu berkata demikian. Lalu bagaimana Cecil?" tanya Axton penasaran.
"Yah. Cecil bilang jika kau tampan untuk seorang mafia. Kau juga berkuasa dan kaya. Siapa yang tak mengenalmu. Bisa menangkapmu, akan menjadi promosi jabatan yang bagus untukku. Apakah ... kau mau menyerahkan diri secara sukarela padaku, Tuan Axton?" tanya William dengan senyum penuh maksud.
"Hah ... terima kasih tawarannya, tapi aku tak tertarik," jawab Axton santai tak merasa terintimidasi sedikitpun.
William merasa jika Axton benar-benar orang yang cuek. Sergei lalu membisikkan sesuatu pada Axton dan membuat salah satu anggota dewan itu terkejut.
"Benarkah? Wow. Ini kejutan," ucap Axton tiba-tiba.
William penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Will. Berhentilah jadi agent. Aku akan memberikanmu banyak uang dan wanita cantik. Bagaimana?" tawar Axton.
William terkekeh dan menggeleng pelan. Ia menolak dengan halus.
"Bagaimana jika kau lakukan sesuatu untukku dan akan kuberikan sebuah hadiah menarik yang tak mungkin akan kau tolak," ucap Axton menaikkan salah satu alisnya.
William berkerut kening. Tak lama, salah satu bodyguard Axton tiba dimana ia mengumpulkan seluruh bawaan William berikut ponselnya. William terlihat tegang seketika.
"Dari sekian banyak kebongan yang kau lontarkan padaku, ada satu kejujuran yang membuatku masih memberikan kesempatan padamu," ucap Axton sembari mengambil dua buah ponsel milik William dimana ada ponsel pemberian dari Rahul dan Rika untuknya.
William tertegun dan diam seketika mengamati gerak-gerik Axton seksama.
"Kau sedang mencari tahu logo ini, 'kan?" ucap Axton yang ternyata anak buahnya berhasil mengembalikan seluruh pesan yang ia kirim pada Jack padahal sudah ia hapus permanen entah bagaimana caranya.
William tertegun dan matanya melebar seketika.
"Ini adalah logo dari kelompok The Circle. Kami juga sudah mengintrogasi lelaki yang kau tangkap tadi. Good job, Will. Oleh karena itu, sebagai hadiahnya ... kau ingin bertemu Sia? Sebelum tugasmu memburu The Circle untukku?" tanya Axton dengan seringainya.
William terkejut setengah mati. Ia tak menyangka jika Axton tahu kisahnya dengan Sia. Jantung William berdetak cepat.
Ia kini berada dalam posisi sulit. Antara tetap menjadi sekutu Rahul atau harus beralih dan memihak Axton. William memejamkan matanya rapat seketika. Ia tertekan.
------
dobel eps uhuy. jangan lupa like, komen dan vote yg banyak ya.
__ADS_1
yg pakai aplikasi mangatoon nanti malam jm7 jangan lupa mampir ke audio room lele ya. terima kasih😍