
Keesokan harinya, Arjuna dan Naomi kembali ke Jepang. Tiga isteri Tora masih menemani Sia dan lainnya di rumah sakit sampai para pasien itu dinyatakan pulang oleh pihak Rumah Sakit.
Amanda dan lainnya singgah sementara waktu di kediaman Sierra sampai diputuskan kapan misi pencarian William akan dilangsungkan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Non-baku bahasa Indonesia.
"Kau mendapatkan sesuatu?" tanya Yuki yang ikut menyisir kamar Sierra.
Jonathan menggeleng terlihat sedih. Ia tak menyangka jika mimpinya yang sebentar lagi terwujud untuk bisa menemui Sierra kandas.
"Nathan. Aku harus kembali ke Boston. Aku akan pulang bersama dengan Sergei. Aku akan meninggalkan Yuki dan Torin untuk melindungimu. Kau tak masalah 'kan?" tanya Axton yang muncul tiba-tiba dari balik pintu kamar Sierra bersama Sergei.
Jonathan mengangguk pelan sembari memegang foto Sierra yang tergeletak di lantai, seperti tergesa pergi dan tertinggal.
Axton tersenyum tipis dan pamit pulang kepada semua orang yang masih bertahan di rumah tersebut. Axton terbang dengan helikopternya menyisir pinggir pantai.
Ternyata Sia, Jordan dan BinBin diizinkan pulang keesokan harinya. Boleslav terlihat senang karena anak perempuannya baik-baik saja.
Namun, timbul kekhawatiran jika Sia akan nekat untuk mencari keberadaan suaminya, William.
"Saya yang akan melakukan penjemputan besok untuk memastikan jika Sia dan Jordan baik-baik saja," ucap Daniel dengan Mix and Match berdiri di belakangnya.
Boleslav mengangguk pelan. Malam itu, Jonathan, Arthur, Torin, Zaid, Yuki, Mix and Match dan Amanda berkumpul di sebuah ruangan yang disinyalir dipergunakan sebagai ruang kerja karena ada lemari arsip di sana.
"Kami akan pergi ke Guatemala. Seperti katamu, Nyonya Manda. Kau mendapatkan petunjuk di lokasi tersebut," ucap Arthur serius.
Amanda mengangguk pelan.
"Aku akan menyertakan Mix and Match untuk ikut membantu. Aku takut jika hal buruk seperti ini terjadi lagi," tegas Manda dan semua orang mengangguk setuju.
"Kalian harus berhati-hati. Aku cukup yakin jika ada jebakan di sana. Kalian tetaplah masuk dalam kelompok kecil. Namun kupastikan, jika The Shadow dan Martin siap untuk memberikan bantuan ketika keadaan mendesak termasuk evakuasi," sahut Boleslav menambahkan.
"Terima kasih. Semoga misi nanti akan berjalan dengan lancar. Hah, padahal sedikit lagi semua ini akan terungkap," ucap Jonathan mengeluh dan meletakkan dahinya di pinggir meja kerja.
Amanda dan lainnya menatap Jonathan seksama dalam diam. Akhirnya, usai rapat, tim Guatemala segera beristirahat.
Orang-orang dari Red Skull berjaga di sekitar kediaman peninggalan Sierra. Mereka menambahkan kamera pengawas di gorong-gorong tempat Jonathan ditemukan.
Keesokan harinya.
Kepulangan Sia dan Jordan sudah disambut senyum merekah oleh semua orang. Boleslav terlihat iba karena Sia mengalami luka lecet di wajah dan beberapa bagian tubuhnya.
"Kau tak apa? Tak usah memaksakan diri. Tak perlu ikut misi jika kau merasa kurang sehat," ucap Boleslav khawatir.
Sia tersenyum. "Jika Mommy diculik meski kau terluka, apa kau akan diam saja, Dad?"
Praktis, ucapan Sia membuat Boleslav tak bisa berkata apa-apa. Amanda tak percaya jika Sia tahu kelemahan Ayah tirinya.
Boleslav memalingkan wajah dan meminta semua orang masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Di ruang meeting.
"Karena aku masih keseleo, aku tak bisa menjadi pemimpin tim lagi. Aku hanya akan memperlambat misi kalian. Sebaiknya, aku memantau saja di kejauhan. Aku akan tetap ikut ke Guatemala, tapi aku menunggu di mobil. Kalian yang akan menyusuri tempat itu. Aku akan mengawasi dari kamera saja," ucap BinBin lesu.
"Oke kalau begitu. Nathan yang akan menggantikan Paman BinBin sebagai pemimpin tim," sahutnya mantab.
"Wow, wow, wow! Siapa yang menunjukmu, Jagoan? Tidak. tidak," sahut Torin langsung protes.
Jonathan heran karena ide jeniusnya langsung ditolak mentah-mentah.
"Mix and Match akan fokus melindungi Sia dan Jordan. Tugas anggota yang sudah ditentukan sebelumnya tetap sama. Hanya saja, ada tambahan Yuki dan Zaid dalam kelompok kita. Yuki akan membantu Torin dalam persenjataan. Zaid bagian medis dan Sia akan fokus pada perbekalan," ucap Amanda menegaskan.
Semua anggota tim baru Guatemala mengangguk.
"Melihat tak ada sosok senior dalam misi, aku dan suamiku sudah memutuskan jika pemimpin kalian adalah Red. Dia akan datang kemari besok," imbuh Amanda lagi.
Jonathan menghela nafas kecewa karena ia tak bisa memimpin tim. Jonathan melirik Ivan, tapi pria itu menggeleng tak bisa ikut dalam misi karena harus pulang ke Inggris. Jonathan makin cemberut.
"Dan kau, Jonathan. Karena dari awal bertugas untuk selalu mendampingi BinBin, kau tak ikut masuk ke dalam. Kau menunggu di mobil bersama BinBin, mengawasi di kejauhan dan sebagai bantuan tercepat jika terjadi hal buruk pada timmu."
Mulut Jonathan menganga lebar. Semua orang menahan senyum karena Jonathan kesal tak dilibatkan dalam tim yang menelusuri wilayah tersebut.
Jonathan merajuk, ia bermuka masam selama rapat berlangsung. BinBin hanya terkekeh karena Jonathan marah.
Keesokan harinya, Red sudah tiba dengan senyum merekah.
"Om Red. Kau pakai balsem pengawet mayat kaya om Tora kah? Kayaknya dari dulu gak tua-tua, Nathan curiga?" tanya Jonathan yang menyambutnya dengan menghadang calon pemimpin tim di depan pintu masuk rumah.
Bagi mereka, saat hidup di luar Indonesia, akan lebih aman jika memakai bahasa negara lain apalagi bahasa itu non-formal.
"Intinya, jangan suka marah-marah. Rajin berolah raga, atur pola makan, berpikir positif dan jaga penampilanmu. Kulihat kau sudah punya itu semua, Jonathan. Tinggal tunggu saja waktunya hingga kau tua," jawab Red santai.
Jonathan ber-Oh. Awalnya ia ingin marah pada Red karena mengambil posisinya sebagai ketua tim.
Namun, melihat Red santai menanggapi pertanyaannya, Jonathan langsung tersenyum lebar. Red menahan tawa melihat ekspresi remaja tampan itu.
"Baiklah cukup sesi tanya jawabnya. Sebaiknya kalian bersiap. Esok kalian sudah harus terbang meninggalkan Wilmington menuju Guatemala," ucap Boleslav serius dan dua lelaki itu mengangguk pelan.
Malam itu, Sia terlihat merenung di pinggir balkon kamar saat semua orang sudah tertidur lelap.
Ia memandangi sungai di depannya dengan perasaan sedih karena harus berpisah lagi dengan kekasih hatinya, William.
"Kau di mana, Will?" tanya Sia berlinang air mata.
Saat Sia memutuskan untuk tidur, ia terkejut melihat lampu di samping balkon kamarnya menyala.
Kamarnya yang bersebelahan dengan Jonathan, membuat Sia yakin jika remaja itu terbangun dari tidurnya.
Dan benar, Sia mendapati pintu balkon terbuka. Ia melihat Jonathan sama sepertinya, memandangi genangan air luas di hadapannya dengan wajah sendu.
__ADS_1
"Kita senasib, Jonathan. Kau pasti sangat sedih karena gagal bertemu Sierra. Kenapa kisah percintaan kita sama buruknya? Semoga ... semua berakhir indah," ucap Sia dalam hati yang kemudian kembali masuk ke dalam untuk tidur.
Tak terasa, pagi menjelang. Suara gaduh di lantai bawah tempat orang-orang mempersiapkan keberangkatan, membuat para penghuni sementara yang masih tertidur di kamar terbangun.
Aroma masakan untuk sarapan pagi tercium di seluruh ruangan dan membuat perut langsung bergemuruh meronta kelaparan.
Tak lama, ruang makan pun ramai. Karena tempat yang tak terlalu besar, banyak diantara penghuni rumah yang memilih makan di halaman belakang sembari menikmati pemandangan.
Ivan memberikan informasi jika dia akan kembali ke Inggris siang nanti dengan bahasa isyarat. Jonathan terlihat sedih karena merasa waktunya bersama Ayah Baptisnya kurang.
Ivan juga merasa demikian. Ivan lalu memeluk Jonathan erat. Ia meminta agar Jonathan menjaga diri selama misi berlangsung. Remaja itu mengangguk mantab.
"Red Skull akan berjaga di tempat ini sampai misi Guatemala dinyatakan selesai oleh BinBin dan Red. Kalian jagalah diri baik-baik," ucap Manda saat akan melepaskan kepergian tim Guatemala pagi itu.
Sia dan lainnya mengangguk mengerti. Sia memeluk erat Ayah Ibunya bergantian, begitupula Jordan.
"Hati-hati dan tetaplah terhubung dengan kami. Ingat, jangan sampai GPS di tubuhmu terlepas. Kau paham?" tegas Boleslav menunjuk Sia.
Sia tersenyum dan mengangguk paham. Semua anggota tim Guatemala dipasangi pelacak yang ditembakkan dalam tubuh mereka di lengan sebelah kanan agar keberadaan mereka tetap terpantau oleh GIGA.
Sayangnya, William belum sempat dipasangi alat itu ketika akan menjalankan misi karena ia masih masa penyembuhan dari patah tulang kaki.
Tora dan tiga isterinya ikut pamit karena harus kembali ke Pemalang, Indonesia, mengurus usaha legal serta ilegal milik bos mereka, Vesper.
Akhirnya, pesawat pribadi peninggalan Tuan Charles terbang meninggalkan Wilmington membawa Red, Arthur, Jordan, Torin, Jonathan, BinBin, Yuki, Zaid, Sia, Mix and Match.
Pesawat type Airbus ACJ319Neo adalah Airbus Corporate Jet versi bisnis di mana pesawat besar dan mewah ini akan menjadi hak milik Jonathan dengan kapasitas hingga 14 orang setelah ia berumur 25 tahun.
Hingga akhirnya, mereka tiba sore hari di Bandar Udara Internasional La Aurora, Guatemala.
The Shadow yang sudah menunggu di lokasi sebagai tim penjemput, siap mengantarkan tim Red ke lokasi yang dituju meski Martin tak bisa hadir menemani.
"Sir, kami sudah sempat melakukan penelusuran satu hari sebelumnya. Sejauh ini, tempat itu kosong. Tak ada sipil yang mendekat, seperti ditinggalkan. Namun, kami tetap akan melindungi kalian dari kejauhan. Kami sudah memilih titik penjemputan selain tempat BinBin dan Jonathan menunggu agar tak mencurigakan. Kami harus berpencar," ucap salah seorang anggota The Shadow menginformasikan.
"Good. Terus pantau pergerakan kami dan pastikan komunikasi kita tak mengalami gangguan selama misi berlangsung," jawab Red serius.
"Lalu, apa ada tanda-tanda William datang ke tempat ini?" tanya Sia masih mencemaskan kondisi suaminya yang belum ada kabar.
"No, Mam. Kami memantau selama seharian penuh sejak kemarin di Bandara, tapi tak ada tanda-tanda kemunculan William, Tessa, Sierra dan orang-orang The Circle. Kami tak yakin jika mereka datang kemari," jawab pemimpin tim dari The Shadow menginformasikan.
Sia tertunduk dan mengangguk pelan. Ia sangat mencemaskan keadaan suaminya di mana kondisi kesehatan William belum pulih sepenuhnya dari cedera patah tulang.
"Semoga kau baik-baik, Will ... dan semoga, kita segera bertemu kembali," ucap Sia dalam hati terlihat sedih.
***
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE