Secret Mission

Secret Mission
Disappointed


__ADS_3

William melaju kencang kendaraannya menuju ke rumah sakit terdekat, tapi saat William berkendara melewati jalan raya, ia melihat sebuah klinik dan tempat parkir tersebut kosong.


Ia pun segera membelokkan setir memasuki halaman klinik itu.


Petugas keamanan yang berjaga segera mendatangi mobil William dimana agent muda itu membuka pintu mobilnya tergesa dan terlihat mempopong seorang gadis yang mengalami pendarahan di bahunya.


"Sebelah sini, Tuan!" ucap petugas keamanan itu segera membukakan pintu klinik agar gadis yang dibopong oleh William bisa segera diobati.


Para petugas medis dengan sigap segera mengarahkan William ke ruang perawatan. William menunggu di ruang operasi itu saat Sia sedang diobati lukanya.


Sia sudah terlihat pucat dan berkeringat dingin. William diminta untuk menunggu di luar ruangan, tapi Sia menggenggam tangan William erat meski matanya terpejam.


William melihat ke arah dokter dan iapun mengizinkan William untuk tetap berada disisi Sia.


Sia ditelengkupkan karena luka itu ada di salah satu dibahunya. Baju Sia terpaksa dipotong agar dokter bisa segera mengeluarkan peluru tersebut.


"Tuan, Anda jangan pingsan ya. Kebanyakan para pendamping pasien mengalami trauma ketika melihat keluarganya mengalami cidera seperti ini," ucap dokter itu takut jika William akan shock.


"Ya, aku akan baik-baik saja," jawab William santai karena bagaimanpun, cidera adalah makanan sehari-harinya saat bertugas menjadi agent dulu.


Sia yang masih tersadar malah terkekeh mendengar hal tersebut. William menyadarinya dan kini berjongkok agar bisa melihat wajah Sia seksama.


Ia begitu merindukan kekasihnya ini dan saat kembali bertemu malah mendapatinya dalam keadaan cidera.


"Kenapa kau tertawa, Sayang?" tanya William menatap Sia dengan kening berkerut dimana tangan kiri Sia masih menggenggam erat tangan kanan William.


"Tak ada, hanya saja ... terdengar lucu," jawab Sia dengan tersenyum meski matanya masih terpejam dan keningnya berkerut.


William balas tersenyum. Ia merasa jika dia dan Sia sudah sehati. Tak perlu diungkapkan dengan beribu kata, Sia sudah tahu betul seperti apa dirinya ini.


William mendekatkan wajahnya ke muka Sia dan mengecup keningnya lembut. Seketika, Sia membuka matanya dan terlihat senyumnya kembali terpancar.


Dokter dan suster fokus mengeluarkan peluru di bahu Sia dengan menyuntukkan bius lokal agar Sia tak kesakitan, tapi tetap saja saat jarum itu menusuk bahunya, Sia menjerit.


"Aw! Ahh," keluh Sia dan William spontan melirik tajam ke arah dokter itu.


Dengan santainya dokter itu balas melihat William seperti mengatakan, "Sudah kubilang, 'kan? Jangan terkejut."


William kembali mengelus kepala Sia lembut berusaha menenangkan. William berjongkok dan tersenyum pada kekasihnya itu. Sia balas menatap William seksama.


"Ada banyak pertanyaan yang harus kau jawab dan jelaskan, Sayang," ucap William penuh penekanan.


Sia hanya memonyongkan bibir dan meringis. Hingga akhirnya proses pengobatan itu selesai.


William minta agar peluru itu bisa dibawanya untuk diidentifikasi. William mengaku seorang polisi yang sedang bertugas bersama Sia, rekannya.


Para petugas medis itupun percaya karena William membawa pistol begitupula Sia. Ditambah dua orang ini memang terlihat bukan seperti seorang penjahat.


William mengaku sebagai seorang agent rahasia yang sedang menyamar, tapi mereka berdua ketahuan penjahat dan Sia kena tembak.


William yang makin lancar mengarang itu terlihat begitu serius dalam bercerita seperti tak terlihat satupun kebohongan dalam setiap katanya.


"Semoga dengan peluru ini, kau bisa segera menemukan penjahat yang melukai rekanmu, Detektif," ucap dokter itu dan diangguki William.


William mengangguk dan menerima peluru yang tadi bersarang di bahu Sia. Peluru tersebut sudah dimasukkan dalam plastik.


William segera membawa Sia pergi dari klinik itu dan akan menjalani rawat jalan. Sia diberikan banyak obat agar lukanya segera sembuh.


William kembali membopong Sia dan kini ia dudukkan di bangku depan, sebelah kemudi tempatnya menyetir.


William meninggalkan klinik itu dan pergi ke sebuah tempat dimana Sia tak mengetahui tempat tersebut.


"Kita mau kemana, Will?" tanya Sia penasaran.


"Membawamu sejauh mungkin dari para mafia, Sia. Kau takkan kubiarkan pergi lagi dari sisiku. Kita akan selalu bersama mulai sekarang," jawab William serius dari tempatnya duduk.

__ADS_1


Entah kenapa ucapan William membuat jantung Sia berdebar kencang. Sia yang sebelumnya meminum obat pereda nyeri itupun tertidur selama perjalanan yang entah ia akan dibawa kemana oleh kekasihnya.


William mengelus kepala Sia lembut dan fokus pada tujuannya.


William menggunakan mobil pemberian Axton dimana William sudah tahu jika mobil itu dipasangi GPS dan juga sebuah jam tangan khusus dimana ada pelacak di dalamnya. Axton akan tahu kemanapun William pergi.


William merasa jika Axton mafia yang unik. Ia seperti tak takut jika ditangkap oleh militer atau bahkan dibunuhnya. Bahkan dengan sombongnya, Axton mengatakan.


"Siapa yang berani membunuhku? Berani menembakku saja dia akan menjumpai neraka lebih dulu sebelum aku. Kematianku itu sakral dan tak sembarang orang bisa membunuhku, meski Cecil dan Rika sekalipun. Aku sudah mengajak kesepakatan dengan dewa kematianku. Axton hanya boleh dibunuh ketika Axton bisa mencintai seorang wanita, jika Axton tak pernah merasakan cinta, Dewa Kematianku setuju untuk menunda kematianku. Kau harus percaya omong kosongku ini, Will dan tunggulah moment itu dimana ... hal itu takkan pernah terjadi. Aku abadi," ucap Axton tegas dan William hanya mengangguk mengiyakan omongan tak masuk akal mafia tersohor itu.


William menandatangani banyak sekali perjanjian dengan Axton agar bisa bersama dengan Sia hingga akhir hidupnya.


William sungguh tak menyangka jika ia akan bekerjasama dengan mafia. Ia bahkan yakin jika CIA mengetahui hal tersebut, ia pasti akan dibunuh mereka.


Beruntungnya, William yang kini berstatus agent bayangan malah merasa sedikit bebas dalam bertindak tak seperti terikat aturan oleh CIA.


Ia juga heran, bagaimana CIA bisa memberikan jenis misi dan pekerjaan seperti itu dimana tak pernah dalam sejarah CIA ada agent-nya yang dibebaskan seperti William yang termasuk masih agent baru dalam agensi militer tersebut.


Hingga akhirnya, William mampir ke berbagai tempat saat Sia masih tertidur pulas di kursi dudukkan mobilnya.


William membeli berbagai pelengkapan dan terlihat sibuk hari itu.


Cuaca dan matahari makin terik siang itu. Sia yang merasa jika silau matahari mulai mengusik tidurnya itupun membuka matanya perlahan dan terkejut saat mobil William berhenti di sebuah halaman luas yang terlihat sepi tak ada mobil lain di sekitarnya.


William juga tak ada di kursi kemudinya. Mesin mobil dimatikan dan Sia terlihat gugup seketika karena ia sendirian.


Sia yang masih merasakan nyeri pada lukanya itupun perlahan menggerakan tubuhnya yang kaku. Ia membuka pintu mobilnya perlahan dan melangkahkan kakinya keluar.


Ia melihat sebuah bangunan di dekat William memarkirkan mobil. Sia masuk ke bangunan itu untuk mencari tahu keberadaan William.


Saat Sia masuk ke dalam, ia terkejut melihat William seperti berbicara dengan seseorang. Berpakaian rapi mengenakan stelan, memakai dasi dan sepatu fantovel mengkilat berikut rambutnya yang disisir rapi.


William yang menyadari jika Sia sudah tersadar segera mendatanginya. Sia berdiri mematung di depan pintu gedung itu dan terbengong-bengong melihat William yang mendatanginya dengan senyum menawan.


"Kau juga harus bersiap. Ayo aku bantu berdandan," ucap William yang merangkul pinggul Sia perlahan dan mengajaknya ke sebuah ruangan dimana ada seorang suster yang akan membantu Sia berdandan.


Sia bingung, tapi ia menurut. Sia bahkan merasa malu karena sudah lama William tak menyentuhnya.


Suster itu bahkan berdehem karena William terlihat cuek saat melepaskan pakaian Sia.


"Bahunya sedang terluka, jadi aku tak mau pakaiannya nanti menyakitinya," ucap William menatap suster itu dimana William sudah mulai melepaskan kancing kemeja Sia.


Sia mengenakan kemeja milik William sebagai baju gantinya karena bajunya sudah dirobek saat diobati di klinik tadi.


"Sebaiknya Anda tetap di luar, Tuan William," sahut suster itu ramah.


Sia setuju dengan ucapan suster itu dan William pun akhirnya mau keluar ruangan. Suster itu meyakinkan jika ia akan berhati-hati memakaian baju pada Sia.


Sia dan suster yang berada di dalam ruangan hanya saling diam. Mereka berdua terlihat fokus saat melepaskan kemeja Sia berikut celananya.


Sia yang penasaran dengan yang terjadi itupun menanyakan pada suster tersebut.


"Mm ... maaf. Sebenarnya ada apa ya? Kenapa aku merasa jika akan terjadi sesuatu di greja ini," tanya Sia gugup.


"Kau akan menikah, Sayang," jawab suster itu sembari mengeluarkan sebuah gaun pengantin dari dalam lemari.


Mata Sia melebar seketika berikut dengan mulutnya yang menganga karena terkejut akan hal ini.


Sia shock saat itu juga dan terlihat gugup serta kebingungan. Ia tak menyangka jika William sungguh serius ingin menikahinya.


Sia berpikir keinginan William saat itu akan kandas ketika ia meninggalkannya di mansion Rio.


"Wa-wait. Menikah? Sekarang?" tanya Sia kebingungan dan suster itupun mengangguk dimana ia sudah memegang baju pengantin itu.


Sia memegangi kepalanya karena ia tak tahu harus bagaimana. Sia mondar-mandir di ruangan itu seperti tak siap dengan hal mengejutkan ini.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kau tak mencintainya? Kulihat lelaki itu sungguh mencintaimu, Nona. Ia menceritakan betapa ia sangat peduli padamu, bahkan ia rela memasuki sarang penjahat agar bisa membawamu keluar dari tempat terkutuk itu. Ia mengorbankan banyak hal untukmu seorang, Nona Sia," ucap suster itu menatap Sia tajam.


Sia menelan ludah. Ia terlihat gugup dan panik tak tahu harus bagaimana. Suster itu mendekati Sia dan tetap memintanya memakai gaun tersebut seperti sebuah paksaan.


Sia yang awalnya enggan itupun akhirnya bersedia memakai gaun pengantinnya meski ia ragu.


Suster itu memakaian rangkaian bunga di kepala Sia dan memoles wajahnya dengan make up seadanya. Sia duduk tertunduk dan seperti berpikir keras akan kejadian ini.


Tiba-tiba ...


TOK! TOK! TOK!


Sia dan suster itupun terkejut karena sesorang mengetuk pintu ruang ganti pengantin. Suster itu beranjak dari dudukkannya dan membuka pintu itu.


"Maaf, apa masih lama?" tanya William tak sabaran.


"Bersabarlah anakku. Kau saja bersabar saat mencarinya lalu kenapa kau tak bisa menunggu 5 menit saja?" tanya Suster itu meledek dan William hanya mengangguk malu.


Suster itu kembali menutup pintunya dan saat ia membalik tubuhnya ia spontan mengangkat kedua tangan.


Sia menodongkan pistol dimana ia masih menyimpan dari saku celananya. Suster itu terkejut karena Sia terlihat gugup akan aksinya itu.


"Mana jalan lain untuk keluar dari tampat ini? Kau punya ponsel? Berikan ponselmu padaku," ucap Sia dengan suara bergetar.


Suster itu mendekati Sia dan tersenyum tipis padanya dengan kedua tangan masih diangkat ke atas.


Sia terkejut karena suster itu tak takut padanya yang sudah membawa pistol berpeluru penuh tersebut.


"Apa kau akan kembali pada keluarga mafiamu, Sia? Kau sungguh ingin kembali ke tempat terkutuk itu? William sangat mencintaimu, apa kau tak bisa merasakannya? Tak bisakah kau lihat dari matanya?" tanya suster itu melihat tajam pada Sia.


Sia menelan ludah dan mundur perlahan hingga ia malah terpepet tembok karena suster itu terlihat tak takut dengan aksinya.


Hingga akhirnya, pintu ruangan itu terbuka dan muncullah William yang tak sabar bertemu calon pengantinnya.


Mata William melebar seketika. Sia terkejut, tapi masih memegang pistolnya erat dan mengarahkan ke arah suster itu.


"Apa yang kau lakukan, Sia? Turunkan senjatamu," pinta William mendekati Sia perlahan.


Sia kebingungan dan ia melihat jendela besar di sisi kanannya. Sia nekat berlari dimana ia masih bertelanjang kaki untuk kabur melewati jendela itu. William dan suster itu terkejut seketika.


"Lalu kenapa kau berteriak dan berlari memanggil namaku jika kau tak ingin kembali padaku? Apakah itu hanya sebuah kebohongan, Sia?!" teriak William lantang dari tempatnya berdiri dimana Sia sudah menaikkan salah satu kakinya di bingkai jendela itu.


Sia tertegun dan menghentikan aksinya seketika. Kedua tangan Sia memegang bingkai jendela itu dimana ia masih membawa pistolnya di tangan kanannya.


"Jika kau tak mencintaiku, kenapa kau nekat keluar dari mansion Arjuna? Kenapa kau tak membiarkanku pergi saat di klinik dan terus menggenggam tanganku? Apakah semua itu hanya kebohongan?" tanya William dengan nafas menderu dan tanpa disadarinya matanya berlinang.


Suster itu melirik William yang terlihat seperti begitu kecewa pada sikap Sia yang ternyata tak mau menikah dengannya. William merasa jika usahanya selama ini sia-sia.


"Jika kau tak mencitnaiku ... pergilah, tapi ... jangan muncul lagi dihadapanku meskipun itu acara pemakamanku. Pergilah dan aku tak akan mengejarmu lagi. Aku tak akan mengusik hidupmu lagi dan aku akan ... melupakanmu. Aku akan berhenti mencintaimu saat ini juga, Sia," ucap William yang tanpa ia sadari air matanya menetes.


Sia hanya tertunduk diam dengan air mata menetes, tapi ia memalingkan wajahnya agar tangisannya tak terlihat.


William tak menyangka jika Sia tak membalas cinta dan pengorbanannya selama ini.


"Sudahlah, Cecil. Kita sudah selesai. Dia tak mencintaiku. Aku minta maaf sudah merepotkanmu dan benar apa kata Rika. Selamanya, polisi takkan pernah bisa menikahi dan hidup bersama dengan seorang penjahat. Aku terlalu naif dan menganggap ucapan Rika hanya omong kosong. Bodohnya aku," imbuh William terlihat sangat kecewa.


William membalik badannya dan melepaskan dasi kupu-kupunya. Ia melemparkannya ke lantai berikut jas yang ia kenakan dimana sebuah bunga mawar merah menjadi hiasan dalam saku jas di dadanya.


William berjalan dengan langkah gusar keluar dari pintu itu dimana nafasnya yang menderu begitu jelas terdengar.


William menahan air mata kesedihannya. Cecil begitu iba akan kisah cinta agent mudanya ini.


"William ...." panggil Cecil lirih yang menyamar sebagai suster di gereja tersebut.


Cecil segera berlari mengejar agent mudanya itu yang sudah tak terlihat dari balik pintu entah pergi kemana.

__ADS_1


__ADS_2