
William tercengang. Dugaan bahwa lelaki di depannya ini adalah salah satu anggota 8 Mens benar, seperti yang diceritakan oleh Cecil.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Denzel Flame, The Circle. Axton dan Cecil menginginkan agar organisasi ini dilenyapkan. Hmm, kau memilihku Denzel? Baiklah akan kuturuti. Maaf, Sia. Sepertinya aku akan datang terlambat untuk menjemputmu," ucap William dalam hati dengan seringainya.
"Apa bayaranku?" tanya William menaikkan pandangan menunjukkan wajah tengilnya.
"Nothing," jawab Denzel menggelengkan kepala.
"Baiklah. Aku menolak atas permintaanmu untuk membunuh para mafia itu. Kau tahu? Jika aku berhasil melakukannya dan aku laporkan pada agensi, aku bisa menggantikan posisi Rika bahkan mungkin aku bisa menjadi ketua CIA. Wow, itu sebuah jabatan yang sangat menggiurkan, Tuan Denzel Flame," ucap William santai.
Mata semua orang kini terfokus pada **A**gent muda itu.
"Tak ada satupun orang di agensiku yang mampu sedekat ini dengan para mafia 13 Demon Heads. No one except me. Kau memilihku, kau tahu cara kerjaku, sejauh ini pilihanmu tepat menunjukku, tapi maaf. Pria di depanmu ini suka mobil, uang dan mengharapkan memiliki hunian indah untuk bisa menikahi kekasihnya, Sia," ucap William dengan senyum penuh maksud.
Denzel menyipitkan mata. Bagi William, tak ada gunanya ia menutupi sosok Sia di depan Denzel. Lelaki itu sudah tahu semuanya termasuk keinginannya untuk menikahi gadis cantik itu.
"Kau ingin imbalan itu? Mobil, uang dan rumah?" tanya Denzel memastikan.
"Dan Sia. Kau melupakan point pentingnya, Tuan Denzel Flame," sahut William cepat memperjelas keinginannya.
Denzel tersenyum miring. Semua anak buahnya menatapnya seksama. Jantung William berdebar kencang tak karuan.
Ia nekat mengatakan semua hal bodoh dipikirannya untuk menyelamatkan nyawanya dan kekasihnya, Sia.
"Oke. Sebagai awal. Kuberikan mobil dan senjata. Ingat, William. GIGA mengawasi tiap pergerakanmu. Jangan berani membodohiku," tunjuk Denzel dengan sorot mata tajam.
"Terserah. GIGA, Transformers atau apalah itu, aku tak peduli. Aku tak mau kerja kerasku tak dibayar. Maaf, aku bukan pengangguran," jawabnya masih bersikap menjengkelkan.
Denzel tersenyum miring. Ia memberikan kode kepada anak buahnya untuk melepaskan borgol di tangan Agent muda itu.
William tetap tenang dan santai saat ia dibawa keluar ruangan. Ia dikawal dan digiring ke sebuah tempat menuju bawah tanah. William gugup, tapi ia menutupi dengan gaya cueknya.
Hingga akhirnya, ia tertegun ketika mendapati sebuah ruangan besar dengan banyak mobil keren dan mewah di sana.
"Pilih salah satu kecuali helikopter itu. Mobil rusak ataupun hancur, itu konsekuensimu. Sudah termasuk dalam pembayaran," ucap Denzel berdiri dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya.
William merasa seperti mendapat jackpot. Namun, semua mobil keren itu terasa berlebihan untuknya meski ia sangat menginginkannya.
"Semua mobil ini tetap design standar. Tak ada pelindung tambahan. Terlalu mencolok dan tak sesuai gayaku. Aku bagaikan masuk dalam oven yang bisa melaju pesat di jalanan dan siap terpanggang ketika misil dari para anggota dewan 13 Demon Heads meledakkan mobilku. No, thanks. Aku punya rekanan yang bisa menyediakan mobil bagus. Antarkan saja aku," ucap William terlihat tak tertarik dengan penawaran Denzel.
"Kau tak bisa meminta anak buahku sebagai partner kerjamu. Pakai itu. Penawaran terakhir. Tak menerima penolakan ataupun penukaran. Tak suka? Jalan kaki," ucap Denzel berpaling begitu saja meninggalkan William yang banyak maunya.
William tersenyum tipis. Ia mendekati sebuah mobil sedan sport berwarna kuning cerah keluaran Audi type R8 V10.
"Gila! Apa aku jadi mafia saja? Eh? Aku pasti sudah tak waras. Tahan dirimu, William. Denzel sengaja memberikan mobil ini untukmu. Ingat misimu ... ya Tuhan, godaan ini sungguh menyiksaku," ucap William dalam hati terlihat tertekan saat ia melihat senjata-senjata pemberian Denzel di masukkan dalam bagasi depan dengan pelapis dan anti detektor logam.
"Para mafia ini. 13 Demon Heads dan The Circle, mereka bukan kelompok dan orang-orang sembarangan. Aku bisa merasakan ketegangan dan aura kekuasaan yang mereka miliki. Berbeda jauh dengan para mafia yang kujumpai sebelumnya," ucap William dalam hati dengan jantung berdebar.
"William. Mobilmu sudah siap. Ingat, semua gerak-gerikmu terpantau oleh Tuan Flame. Good luck," ucap salah satu bodyguard Denzel sembari memberikan kunci mobil padanya.
__ADS_1
William mengangguk pelan dan segera masuk ke mobil barunya. Senyum merekah muncul dan membuat wajah tampannya makin memukau.
GPS pada mobil Audi menunjukkan sebuah jalan di mana Agent muda itu akan keluar dari kediaman Denzel.
William pun mengikuti arahannya dan ia terkejut, saat tiba-tiba lorong yang ia susuri menembus gang menuju ke perkotaan.
"Wow! Aku ada dimana?" pekik William kaget.
Saat ia menoleh, pintu lorong itu sudah tertutup bahkan ia sampai tak sempat melihat di mana mobilnya keluar tadi. Kamuflase itu dibuat begitu sempurna. William menelan ludah.
Ia menarik nafas dalam dan kembali melaju. Ia kembali menyalakan GPS mobil untuk mencari letak kediaman Axton.
"Aku berada di New Hampshire?" guman William terkejut.
William yang penasaran segera keluar dari gang tersebut. William tak menyangka jika arahan GPS benar. Ia berada di kota Portsmouth lebih tepatnya.
Terlihat ada sebuah dermaga dekat laut. William mencoba mengingat lokasi itu dan sengaja mengemudikan mobilnya perlahan.
William mengintip dari kaca tengah spion dan mencurigai sebuah rumah bertingkat di mana ia yakin jika itu adalah kediaman Denzel Flame. William tersenyum tipis.
"Tak secerdas itu, Denzel Flame. Helikoptermu terlalu mencolok untuk sebuah rumah di kampung nelayan," ucap William meledek saat melihat sebuah helikopter terbang meninggalkan landasan dari atap sebuah rumah.
William melaju kencang mobilnya menuju ke Boston yang kurang lebih menempuh 1 jam lebih perjalanan.
William sangat bersemangat. Namun, saat ia sudah hampir tiba di kediaman Axton, William malah menurunkan kecepatan mobilnya dan menepi di pinggir jalan.
Saat William merasa kepalanya panas karena banyak beban pikiran yang diterimanya, ia melihat anak geng sedang berkumpul di dekat gang. William tersenyum miring.
Ia keluar dari mobil dan mendekati kumpulan remaja-remaja berandalan yang bergaya seperti anak punk.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Hei, hei," senggol salah satu remaja yang menyemir rambutnya berwarna merah terang.
"Kau siapa?" tanya lelaki berumur sekitar 25 tahun terlihat seperti ketua geng itu.
"Punya ponsel?" tanya William to the point.
Para remaja itu terkekeh.
"Kau mau ini? Boleh. 1000 USD," jawab lelaki berambut mohawk sembari menunjukkan ponselnya yang sudah usang, tapi masih bisa digunakan.
"Bagaimana jika kutukar dengan ini?"
"Wow! Wow!" pekik para lelaki muda itu terkejut saat melihat pria tampan di depannya menunjukkan sebuah pistol dengan amunisi penuh di dalam.
"Kau siapa? Police?" tanya lelaki berambut merah memundurkan langkah terlihat takut.
__ADS_1
"Sama seperti kalian. Hanya saja aku kehilangan ponselku. Aku malas untuk membeli dan registrasi ulang. Aku harus menghubungi bosku. Jadi ... barter?" tanya William menunjukkan pistolnya dengan tenang.
"Siapa bosmu?" tanya remaja berambut mohawk gugup.
William diam sejenak menatap para remaja di depannya.
"Pernah dengar 13 Demon Heads?" bisik William dan lelaki berambut mohawk itu terkejut.
"Ka-kau salah satu bodyguard mereka?" tanyanya dengan mata terbelalak.
William mengangguk pelan. Terlihat para lelaki muda itu saling berpandangan.
"Tak mungkin. Mereka mafia elite berkelas. Mana buktinya?" tanya lelaki mohawk menantang.
William menghela nafas. Ia mengeluarkan remote mobilnya dan mata para lelaki muda itu terbelalak seketika.
Atap mobil Audi warna kuning terang milik William terbuka. William malah mengajak lelaki rambut mohawk dan rambut merah ikut dengannya.
William membuka bagasi depan mobilnya dan menunjukkan banyak senjata dalam cover khususnya.
"Barter?" tanya William lagi dan dengan segera, lelaki berambut mohawk memberikan ponselnya dan milik kawannya berambut merah.
William tersenyum dan berterima kasih. Terlihat dua lelaki muda itu begitu gembira.
"Sir! Sir! What is your name?" tanya lelaki rambut merah saat William masuk ke mobil.
"S-E-C-R-E-T."
BROOMM!!
"Wow, he's cool," ucap lelaki rambut merah terkagum-kagum akan sosok William.
Sedang di mobil, William terkekeh mengingat aksinya mengelabuhi remaja berandalan tadi. William mengambil ponsel milik si rambut merah dan menghubungi seseorang sambil berkendara.
"Hallo?"
"Jack! Temui aku di cafe biasa besok siang. Bawakan perlengkapanku," pinta William cepat.
"William?" tanya Jack memperjelas.
"Jangan terlambat."
TUT ... TUT ... TUT.
"Hmm, GIGA? Apakah itu semacam sistem peretas? The Circle memilikinya? Pasti mereka memiliki satelit pribadi. Saat Denzel memamerkannya tadi, GIGA bisa masuk ke sistem keamanan kamera," ucap William menganalisa.
Mobil William berhenti di traffic light jalan raya. Ia melirik ke kamera pengawas yang berada di jalanan. Ia melihat orang-orang yang melintas dengan ponsel mereka.
William melirik ponselnya dan pandangannya kembali ke jalanan. Ia kembali melajukan mobilnya agar segera sampai di Virginia. Ia mengurungkan niat untuk menemui Axton.
"Mobil ini pasti dilengkapi pelacak. Atau bahkan peledak jarak jauh yang terkoneksi satelit dan GIGA sialan itu. Aku bisa dibunuh kapan pun jika aku memberontak dan tak meninggalkan jejak. Sial! Kemewahan membawa petaka," geram William merasa dipermainkan.
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE