Secret Mission

Secret Mission
Berdebar


__ADS_3

Di hari Sia dan rombongan berada di Kastil Borka, Rusia.


Sia terkejut saat melihat Brian juga ikut hadir di sana dan berjalan bersama seorang wanita berambut pirang yang memiliki aksen yang tegas. Sia menatap mereka berdua seksama.


"Hallo, Sia. Perkenalkan, aku Lopez. Isteri Brian. Nice to meet you," ucap Lopez sembari mengajaknya berjabat tangan.


Sia segera menyambut jabat tangan itu dengan gugup. Ia melihat Lopez dengan kagum karena ia terlihat begitu perkasa dengan gaun panjang memperlihatkan lengannya yang berotot.


"Kau, salah satu anak buah ibuku?" tanya Sia memastikan.


Lopez dan Brian tersenyum tipis saling memandang.


"Bukan. Aku masuk dalam jajaran Nyonya Vesper. Sayang, dia sedang tak bisa hadir di sini. Namun, saat pelantikan, ia pasti akan datang," jawab Lopez menjelaskan.


"Oh begitu," ucap Sia terlihat gugup karena ia merasa jika tatapan Lopez begitu tajam. Sia merasa sedikit terintimidasi.


"Setelah acara selesai, kau akan diterbangkan ke China. Kau akan pergi didampingi oleh isteriku ke sana bersama Maksim dan Yuri. Red dan aku sedang ada urusan, jadi mohon maaf, kami tak bisa ikut denganmu," ucap Brian pelan.


"Oh ya, oke. No problem," jawab Sia dengan senyum paksa karena ia bingung dengan semua hal ini.


"Oia, kulihat kau sudah berkenalan dengan Arjuna. Apa kau sudah bertemu dengan Jonathan atau Sandara Liu? Hanya saja, Lysa tak ada di sini. Dia sedang di camp militer," tanya Lopez dengan senyum menawannya.


"Oh, belum. Apa tidak apa-apa?" tanya Sia gugup.


"Tentu saja. Mereka nanti akan menjadi kawanmu juga. Ayo, ikut denganku, mereka ada di luar kastil," ucap Brian sembari merangkul punggung Sia mengajaknya keluar dari ballroom.


Sia mengangguk dan menurut. Ia jalan dengan wajah tertunduk dan kembali mengenakan topi besarnya karena ia belum terbiasa dengan tatapan para mafia kelas elite di sana.


Kehidupan Sia yang dulunya memang sudah berkutat di dunia hitam, sangat berbeda dengan yang ia rasakan saat ini.


Aura persaingan dan ancaman begitu terasa hingga membuat jantungnya berdebar kencang tak karuan.


Sia gugup dan hanya menggenggam kedua telapak tangannya yang mendadak berkeringat dalam sarung tangan panjangnya itu.


Saat Sia turun dari tangga keluar kastil yang diikuti oleh Maksim dan Yuri, salah seorang penjaga Black Armys terlihat menatap sesuatu tajam dari pergerakan sebuah pohon di dekat gerbang kastil.


Maksim yang melihat tatapan tajam penjaga itu ikut mengikuti pergerakan pandangannya. Sontak mata Maksim melebar seketika.


"Penyusup!" pekik Maksim lantang dan seketika. Semua orang yang berada di halaman kastil menyiagakan senjatanya.

__ADS_1


Alarm peringatan langsung terdengar santer di sekeliling kastil Borka yang megah itu. Brian segera mendekap Sia erat untuk diamankan.


Lopez segera keluar dari dalam kastil dan membawa Sia masuk ke dalam mobil untuk di evakuasi.


"Kita pergi sekarang," ucap Lopez dan diangguki oleh Brian.


Maksim dan Yuri segera masuk menyusul Sia yang sudah duduk di dalam mobil anti peluru. Lopez duduk di depan samping sopir untuk mengamankan keadaan.


Sia duduk diapit Maksim dan Yuri yang menyiagakan pistol di kedua tangan mereka. Jantung Sia berdebar kencang tak karuan.


Sia melihat para mafia menembaki beberapa orang yang bersembunyi di pepohonan.


Namun, saat mobil Sia akan pergi meninggalkan kastil Borka, ia melihat Red menyeret seorang lelaki yang sudah merintih kesakitan dan berdarah hebat di lengannya.


Sia sampai berkerut kening karena miris melihat lelaki itu yang disiksa oleh Red dengan sangat keji.


Sia memejamkan mata dan memalingkan wajah karena ngeri melihat adegan horor itu.


Lopez membawa Sia ke sebuah hanggar dimana ia masih mengenakan gaun lengkap. Mereka segera turun dan naik ke sebuah helikopter mewah yang tersedia di sana.


Lopez ternyata yang menjadi pilot helikopter itu ditemani sopir yang mengemudikan mobil tadi. Sia terkagum-kagum melihat Lopez yang baginya begitu hebat dalam segala hal.


Mereka akan pergi menuju ke bandara dan terbang menggunakan pesawat pribadi milik Antony Boleslav ke China.


Selama di helikopter pun, Sia hanya diam saja. Baginya kejutan hari ini mengalahkan pesta ulang tahun yang diimpikannya.


Malah keinginannya sirna seketika untuk merayakan pesta ulang tahun di camp militer. Sia kini hanya fokus pada apa yang dilihatnya saat ini.


"Relax, Sia. Hal seperti ini sudah sering terjadi. Jangan terlalu dipikirkan," ucap Lopez santai dimana ia menyadari jika Sia terlihat ketakutan saat penyerangan tadi.


"Benarkah? Aku pernah mengalami pertempuran sebelumnya. Hanya saja, yang terjadi tadi, entah kenapa terlihat begitu mengerikan. Jantungku bahkan masih berdebar-debar jika mengingatnya," ucap Sia sembari memegangi dadanya yang terasa sesak.


Semua orang yang mendengar hanya tersenyum. Bagi mereka ucapan Sia begitu lugu dan jujur. Maksim dan Yuri makin bertekad untuk melindungi Nona Mudanya itu.


Hingga akhirnya, mereka tiba di Bandara Demodedovo, Rusia. Pesawat pribadi yang akan ditumpangi Sia telah siap.


Penerbangan dari Rusia menuju ke China, Shanghai menempuh hampir 10 jam digunakan Sia untuk mengganti pakaiannya dimana semua perlengkapannya sudah disediakan di sana.


Sia mengganti pakaiannya dengan lebih casual. Lopez juga demikian, begitupula Maksim dan Yuri.

__ADS_1


Sia yang masih gugup itu melihat ketiga orang yang bersamanya terlihat santai dengan membaca majalah, makan dan minum di kabin pesawat. Seolah apa yang terjadi barusan hal yang biasa saja.


Di kastil Antony, Krasnoyarsk, Rusia.


Antony menatap Daniel dan Red tajam yang sudah kembali ke kastil malam hari setelah mengurus segala jenis administrasi di kastil Borka untuk seleksi calon anggota dewan.


"Jadi, mereka sudah berani mengincar anakku ya? Cecil dan Rika benar-benar tak tahu apa artinya pensiun," ucap Antony geram hingga tangannya mengepal.


Daniel dan Red hanya berdiri diam terlihat gugup.


"Agent itu berhasil kabur. Pasti ia akan memberikan informasi tentang Sia dalam hal ini. Ku dengar dari mata-mata Vesper yang menyusup di CIA, nama Jordan juga sudah diketahui oleh mereka," ucap Antony makin terlihat marah.


Daniel dan Red menelan ludah.


"Ya, itu benar, Tuan. Hanya saja, nama Jason tak ada. Untuk sementara ini, Jason aman. Militer belum tahu jika kau memiliki anak kembar," ucap Red menambahkan.


"Apapun yang terjadi. Jangan sampai polisi-polisi keparat itu menyentuh kedua anakku. Jika mereka berani mengusiknya, satu goresan saja di kulit anakku dan membuat mereka merasakan sakit, pastikan ... pastikan mereka merasakan kesakitan yang teramat sangat," ucap Antony penuh penekanan menunjuk dua orang yang berdiri di depannya dengan tatapan pembunuh.


Red dan Daniel mengangguk paham.


"Dan satu hal lagi. Jangan sampai dan jangan biarkan si William itu sampai bertemu dengan Sia. Kalian tahu, bagaimana aku berusaha menahan diri agar tak membunuhnya karena Manda yang memintanya. Jadi pastikan agar agent itu tak terlihat oleh Sia. Kalian paham?" ucap Antony tegas dan diangguki oleh Red dan Daniel.


"Baiklah. Sudah cukup. Aku mau istirahat," ucap Antony kembali merasakan sakit di dadanya.


Daniel dan Red segera pergi meninggalkan Antony untuk menenangkan diri. Antony benar-benar harus menjaga emosinya agar tak terkena serangan jantung.


Antony merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mulai memejamkan mata. Ia mencoba menenangkan pikiran dan amarahnya. Antony tertidur lelap setelah meminum obat malam itu.


Manda yang pergi menemui Axton segera kembali ke Rusia. Kesehatan Antony yang semakin memburuk membuatnya khawatir.


Manda bahkan berfikir untuk menyerahkan jabatannya kepada orang lain untuk menggantikannya menjadi ketua dewan sekretariat.


Namun, Vesper dan para mafia lainnya tak mengizinkan. Manda ingin fokus merawat suami dan ketiga anaknya yang mulai beranjak dewasa.


Perasaan cemas juga menyelimuti hatinya dimana ketiga anaknya itu harus mengikuti jalan mafia seperti dia dan suaminya.


-----


jangan lupa like, komen dan vote yang buanyak yaa🤩 tengkiyuw😘

__ADS_1


__ADS_2