
Hai hai ... kwkwkw cuma info aja. Kayaknya eps kemarin bikin banyak pertanyaan ampe lele puyeng jawabnya. Hahaha. Kapan lysa nikah? Nah ini tar dijelasin saat di novel 4 Young Mobsters.
Kan lele udah bilang kalo novel SM itu cerita masa depan Vesper, ADW dan 4YM. Jadi di novel ini si Vesper dan Manda udah umur hampir 50 tahun. Perjalanan anak2 Vesper akan diceritain detail di 4YM, di SM cuma numpang lewat aja.
Jadi nantikan saja kerusuhan Arjuna dan Jonathan saat mengobrak abrik hari-hari menjelang pernihakan Lysa karena tau sendiri kan kalo dua sejoli ini gak suka sama Javier dan apakah Liu akan ikut dalam kerusuhan dua kakaknya ini?
Nantikan saja lanjutan 4YM awal sept nanti. Gitu aj infonya dan jangan lupa kasih like, komen, rate bintang 5 dan tips yang buanyak yaaaa, kwkwkwkw. Lele padamu😘
--------- back to Story :
William sibuk membuat asumsi-asumsi dalam pikirannya tentang keterlibatan keluarga Sia dengan Rahul.
Malam itu, Rahul akan menginap di apartment mewah yang masih berada di New York.
Lagi-lagi sebuah logo berbentuk huruf T dilihatnya pada gedung yang ditunjuk oleh Rahul dimana mereka masih berada di perempatan traffic light satu blok sebelum ke gedung tersebut dan berhenti karena lampu merah.
"T? Dalam berkas tak disebutkan mengenai T. Apakah itu inisial sebuah nama? Jika aku tidak salah ingat, apartement mewah itu milih mendiang pebisnis ternama pada jamannya. Theresia. There ... sia?"
William diam sejenak dan seketika, matanya melebar saat ia menyadari jika Theresia adalah nama baptis dari kekasihnya, Sia. Jantung William berdebar kencang tak karuan.
Rahul sepertinya menyadari gelagat William yang terlihat berulang kali seperti orang gelisah membenarkan dudukannya.
"Kau sakit perut? Ingin kentut? Jika iya, keluar dari mobilku!" pekik Rahul emosi seketika.
William tak menyangka jika Rahul berpikir demikian, tapi itu malah membuatnya mendapatkan kesempatan.
Ia teringat akan titik-titik dimana ia bisa menyerahkan informasi pada CIA atas semua kejadian yang dilakukannya selama dalam misi sesuai petunjuk yang diberikan Catherine saat di markas.
"Oh, kita singgah di gas station di sana ya. Aku harus ke toilet. Maaf, Tuan Rahul," ucap William dengan wajah seperti orang ingin buang hajat.
Spontan, Rahul langsung memencet hidungnya sembari menatap William dengan jijik.
Ia pun segera memintanya keluar dari mobil begitu sampai di stasiun pengisi bahan bakar itu.
William segera keluar dengan pulpen khusus buatan Jack yang sudah ia kantongi. Ia pergi ke toilet dan melihat sekitar untuk memastikan jika ia tak diikuti.
William masuk dan melihat bilik toilet lelaki paling ujung dimana tertulis "STAFF JANITOR".
William mendekatinya dan mengetuk pintu itu. Pintu itu terbuka dan terlihat lelaki tua sedang memegang alat pel. Ia menatap William seksama.
"Toilet ini seindah wajahmu," ucapnya dengan senyum tengil.
"Keparat tengik, kau menghinaku?" pekik lelaki tua itu kesal.
"Aromanya bahkan seharum pinus," ucap William lagi dan sontak lelaki itu melongok keluar dari bilik tersebut.
William segera memberikan pulpen yang dibawanya dan lelaki tua itupun menerimanya segera.
Lelaki tua itu mengangguk dan kembali menutup pintunya. William menyempatkan membasuh tangan sembari menatap wajahnya yang tampan di cermin.
Ia lalu keluar dan segera kembali ke mobil. Rahul menatapnya seksama.
"Sudah? Jika belum, selesaikan," tanya Rahul yang masih terlihat jijik dengan William.
"Aman, Bos," jawab William santai.
__ADS_1
Merekapun melanjutkan perjalanan yang tak sampai 10 menit sampai di depan gedung apartment mewah itu.
Rahul meminta mobilnya di parkirkan di basement. William menuruti segala perintah Rahul karena ia yakin jika Rahul bisa membawanya kepada Sia.
Malam sudah larut dan Rahul terlihat sudah sangat lelah. Namun, saat turun dari mobil, Rahul teringat sesuatu dan meminta William untuk diam di tempat.
"Ada apa?" tanya William heran.
"Kau belum terdaftar sebagai bodyguard resmiku. Kau tak bisa menginap di sini. Keamanannya sangat ketat. Jadi, karena kau masih orang baru dan aku khawatir kau akan membawa lari mobilku, kau carilah penginapan dan kembali ke sini besok untuk menjemputku," ucap Rahul sambil menunjuk William yang berada di samping pintu kemudi.
"Aku menginap di luar? Oke, tak masalah. Namun, bagaimana aku menghubungimu?" tanya William memulai aksinya.
"Nah, ini ambilah. Ponsel itu kuberikan padamu. Kau harus selalu siap 24 jam. Kau harus datang ketika ku panggil dan pergi ketika ku suruh. Kau paham, William?" ucap Rahul sembari melemparkan sebuah ponsel layar sentuh padanya.
"Yes, Sir. Ini kunci mobilnya," ucap William sembari memberikan kunci mobil Mustang padanya meski ia sedikit merasa sedih karena harus kehilangan mobil kesayangannya yang ia anggap sebagai pacar kedua setelah Sia.
"Jangan lupa, siapkan juga surat-surat mobilmu ini. Jika ada surat asli, kenapa aku harus membuat yang palsu. Benar 'kan, William?" ucap Rahul sembari mengedipkan salah satu matanya.
William hanya tertawa tak bersuara dimana ia merasa jika tingkah Rahul hampir mirip dengan Tomy, mantan kekasih Sia yang telah tewas.
"Oke. Good nite, William," ucap Rahul sembari berpaling padanya dan berjalan dengan gaya swagger memutar-mutar kunci mobilnya.
"Kenapa para mafia selalu bertingkah aneh?" ucap William melihat sosok Rahul ini begitu menggelikan baginya.
William segera pergi dari apartement Theresia dan mencari penginapan terdekat.
Ia memilih tinggal di sebuah hostel biasa kali ini dalam rangka berhemat karena ia tak tahu kehidupannya nanti jika memang harus ke India.
William kembali melakukan rekaman dengan pulpen yang sempat ia ambil sebelum turun dari mobil Mustang-nya.
Wiliam khawatir jika Rahul akan mengecek mobilnya atau bahkan membongkarnya dan menemukan hal-hal aneh yang membuatnya bisa terbunuh dalam misi.
Setelah ia melakukan rekaman dengan pulpen barunya, ia keluar dari hostel untuk kembali ke gas station yang tadi ia sambangi.
Namun, saat William sudah hampir sampai di gas station tersebut, ia bertemu empat lelaki yang mirip preman. William menghela nafas, ia tahu jika akan terjadi masalah.
William tetap berjalan dengan santai menuju ke gas station itu dan benar saja, para lelaki berwajah bengis seperti orang-orang dari geng motor menghadangnya. William menghentikan langkahnya seketika.
"Kau nekat keluar di malam yang sudah sangat larut, Bung. Ini sudah pukul 2 pagi. Jadi, ada pajak khusus untuk orang-orang yang berkeliaran di jam malam," ucap lelaki yang memakai tindik di telinganya dan membuat William teringat akan Sergei.
"Aku bukan orang sini jadi aku tak tahu akan peraturan itu. Maaf, aku terburu-buru," jawab William santai.
Namun, ucapan William yang membuat jengkel para lelaki geng itu, praktis menimbulkan perkelahian dan William menyadari hal itu.
Lelaki bertindik itu memegang salah satu bahu William erat dan dengan sigap William membalik tubuhnya sembari melontarkan pukulan ke wajah lelaki bertindik itu, tepat mengenai hidungnya.
BUAKK!!
"Ugh!!"
"Serang dia!" perintah lelaki brewok di belakang lelaki bertindik kepada kawan-kawannya.
Seketika, dua lelaki yang memakai jaket kulit berwarna hitam itu mengeluarkan pisau lipat dan bersiap untuk melukai William.
William langsung menjaga jarak dan menyiapkan kuda-kudanya. William fokus pada tiap serangan yang diluncurkan padanya.
__ADS_1
Kedua lelaki itu bersamaan menghunuskan pisau tajam ke perut William. Dengan cepat, William memundurkan perutnya dan menepak tangan dua lelaki di depannya dengan kuat.
Dua lelaki itu tertegun, tapi serangan William tak menjatuhkan pisau mereka. Dua lelaki itu kembali meluncurkan tusukan-tusukan bertubi-tubi ke arah tubuh William.
Dengan sigap, William mengelak dan menangkis serangan-serangan itu dengan tangan kosong.
Lelaki bertindik dan memiliki brewok yang berada di belakang dua lelaki berjaket yang mencoba menusuk William ikut serta.
Mereka mencoba menusuk William dari sisi kanan dan kiri, William terkepung.
Malam yang gelap dan hanya bercahaya lampu jalan, membuat William menajamkan matanya karena gerakan dari keempat lelaki yang mencoba membunuhnya di pinggir jalan.
William sengaja tak mau mengeluarkan pistolnya karena tak ingin menimbulkan keributan di sana dan membuat dirinya diincar polisi karena ia sedang dalam agent tak berstatus.
Jika ia sampai tertangkap dan CIA harus melepaskannya, para mafia bisa mencurigainya karena William bebas dengan mudah. William dalam posisi yang sulit dimana ia seperti warga sipil.
Namun, tiba-tiba ....
DOR! DOR! DOR! DOR!
William tertegun bahkan matanya sampai melebar seketika saat keempat lelaki itu roboh begitu saja di depannya dengan peluru bersarang tepat di belakang kepala mereka.
Pandangan William kini tertuju pada lelaki tua yang tadi berjaga di toilet. William menelan ludah dan terbengong.
Lelaki tua itu mendekati William sembari mengulurkan telapak tangannya seperti meminta sesuatu.
William sadar yang ia inginkan dan segera ia memberikan pulpen itu padanya. Lelaki tua itu mengangguk dan segera pergi dari tempatnya. Ia kembali ke gas station sembari menelepon.
William yang masih kebingungan itu segera pergi tergesa dan langsung berlari kembali ke hostel.
Ia melihat sekitar sebelum masuk ke kamarnya apakah diikuti atau tidak, karena kejadian tadi cukup menghebohkan jika diketahui oleh sipil.
Dirasa aman, William menutup pintunya rapat dan segera membersihkan diri. Ia menset alarm pada ponselnya agar ia bangun pagi dan segera pergi ke apartement Theresia untuk menjemput Rahul, bos barunya.
William segera merebahkan diri sembari mengotak-atik ponsel pemberian Rahul. Ia mengeceknya dan tak menemukan apapun di sana.
"Pasti ada pelacak di dalamnya. Anak anggota dewan ya. Rahul, sepertinya CIA belum tahu tentang dirinya. Hmm, lucky day. Aku senang karena selalu menjadi orang yang beruntung. Baguslah, aku masih selamat sampai hari ini. Hmpf ...." ucap William dalam hati karena ia takut jika ia salah berucap, ponsel pemberian Rahul ada semacam perekam suara yang tak diketahuinya.
William meletakkan ponsel itu di meja kayu samping ranjang dan mulai memejamkan mata.
Ia merasa sangat lelah dimana banyak kejadian tak terduga yang dialaminya selama seharian ini.
Di apartment Theresia ....
"Dia bersih, Tuan. Ponsel menunjukkan jika William berada di hostel yang berjarak 500 meter dari sini. Gambarnya pun sudah kami selidiki dari database baik militer ataupun mafia. Kami bahkan meminta klarifikasi data dari team Tuan Axton. Benar, William pernah mendaftarkan diri sebagai bodyguard, tapi kalah seleksi saat penyisihan dengan Arjuna. Hanya saja, Tuan Axton sedang tak ada di tempat. Apakah saya harus menghubungi Sergei untuk menyelidiknya lebih lanjut?" tanya anak buah Rahul yang masih duduk dengan laptop di depannya.
"Hmm, tak usah. Sergei pasti sedang sibuk mencari bodyguard untuk bosnya itu. Salah sendiri Axton tak memiliki keturunan, kini ia kerepotan mempertahankan kedudukannya," ucap Rahul terkekeh yang sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan dua wanita India yang sedang memanjakan di kanan kirinya.
"Sudah malam, aku mengantuk, Sayang," ucap salah satu wanita Rahul sembari meletakkan dagunya di pundak lelaki mafia itu.
"Aku juga, Sayang. Namun, bermain dulu sebelum tidur," ucap Rahul dengan senyum penuh maksud pada wanitanya itu.
Anak buah Rahul yang sudah paham posisinya segera pamit pergi dari kamar bosnya dan menutup pintunya rapat.
Rahul dipuaskan oleh dua wanitanya malam itu sebagai pengantar tidurnya.
__ADS_1