
Tak terasa. Usia kehamilan Sia sudah memasuki bulan ketiga. Usaha pencarian William tak membuahkan hasil.
Hingga hari itu, Amanda mengajak Sia, Yena dan Jordan untuk ikut terbang bersamanya ke Black Castle, Inggris.
Tujuan utamanya adalah rapat besar membahas penetapan markas baru Dewan Sekretariat 13 Demon Heads pasca penyerangan kala itu di Italia.
Dalam pesawat pribadi Amanda Theresia. Penerbangan dari Krasnoyarsk, Rusia menuju Inggris.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Sia. Ibu memikirkan hal ini dengan sungguh-sungguh mengingat kehamilanmu," ucap Amanda serius menatap anak perempuannya yang duduk di seberangnya di mana rahasia kehamilan Sia sudah dibongkar oleh suaminya, Antony Boleslav.
"Tentang apa itu, Mom?" tanya Sia gugup.
"Aku tahu perjanjianmu dengan Rohan."
Sia dan Yena terkejut. Jordan tersenyum tipis dari tempatnya duduk dengan Mix and Match mengapitnya.
"Maaf, Mom, jika aku mengecewakanmu," ucap Sia tertunduk merasa bersalah.
Amanda tersenyum.
"No. Pilihanmu sudah tepat. Bahkan Daddy juga setuju jika kau nanti dipindahkan sebagai salah satu anggota dewan sekretariat bersama Yena. Kau tak perlu jadi anggota dewan lagi."
Mata Sia dan Yena terbelalak lebar. Mereka terlihat sungguh bahagia dan memeluk Amanda bergantian dengan senyum merekah.
Keesokan harinya di Black Castle, Inggris.
Mobil Limousine jemputan orang-orang dalam jajaran Boleslav telah tiba di kastil peninggalan mendiang Charles.
Para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads, 150 mafia yang tergabung dalam kelas elite sudah berkumpul di dalam bangunan megah tersebut.
Sia sudah tak terlihat gugup lagi bahkan Rohan langsung mendatangi Amanda dan kelompoknya menyambut dengan jabat tangan.
"Nyonya Amanda," sapa Rohan sembari membungkuk hormat.
"Rohan," balasnya dengan anggukan kepala dan jabat tangan.
"Maaf. Bukannya aku suka bergosip. Hanya saja, aku merasa jika Ibumu dan Tuan Boleslav harus tahu. Aku ingin kesepakatan yang kita buat di hutan tak berakhir dengan petaka. Aku sendirian meski masih dalam keluarga Khrisna, jadi ... aku ingin memulai hal ini dengan benar," ucap Rohan menatap Sia seksama.
__ADS_1
"Kau melakukan hal yang tepat, Rohan. Terima kasih karena sempat membuatku terkena serangan jantung meski hanya sedetik," jawab Sia sembari menyambut jabat tangannya.
Yena ikut tersenyum dan ikut menyalami Rohan. Sia melihat sekeliling di mana para mafia tersebut terlihat tak mengalami trauma atas penyerangan kemarin.
DOK! DOK! DOK!
Kepala semua orang menoleh ke asal suara.
"Saudara-saudara, silakan," ucap Zaid ramah dengan sebuah tongkat dalam genggaman berkepala ular.
Para mafia itu mengangguk. Dua Black Armys membuka pintu menuju ruang meeting berkeamanan khusus.
"Para mafia sudah memasuki ruangan. Guard-One. Status?" tanya Zaid dari sambungan radio earphone-nya.
"Yes, Sir. Situasi aman terkendali. Over," jawab petugas yang berjaga di luar dengan pakaian kamuflase.
Mereka menjaga pemancar fatamorgana agar tak ada satupun musuh yang berniat untuk menghancurkannya.
Di ruang meeting.
"Pantas saja markas dewan sekretariat bisa di temukan! Jadi ada yang mengikuti Konstantin saat di bawa? Mereka lalu mengirimkan pasukan militer untuk membunuh kita?" tanya Bojan geram.
"Lalu bagaimana Konstantin tak terkena dampak dari gas halusinasi?" tanya Jamal heran.
"Jordan melihat botol serum penawar gas tersebut saat Konstantin berusaha melepaskan borgol. Namun, temuan menakjubkan didapat oleh tim penelusur setelah kejadian tersebut. Sepatu pada Konstantin ternyata memiliki jarum pada bagian alasnya. Saat Konstantin menekan kakinya ke lantai, jarum yang telah berisi serum tersebut menembus kulitnya. Malah Eiji berpikir untuk membuatnya juga hanya saja, Nyonya Vesper tak mengizinkan. Rasanya menyakitkan," jawab Monica lagi.
Vesper meringis membenarkan ucapan Monica. Para mafia mengangguk setuju.
"Yes muncul malam harinya setelah tragedi bersama dengan para pasukan khusus militer Italia ke rerentuhan markas. Mereka membawa mayat Konstantin dan mencoba menelusuri reruntuhan," imbuh Roza menyampaikan.
"Beruntung, kita memiliki mata-mata. Tim menggagalkan usaha militer untuk mencari jejak para mafia dengan ledakan yang sengaja dibuat secara berkesinambungan sehingga militer memilih mundur dan sekarang, tempat itu masih dijaga ketat oleh polisi setempat. Sipil dilarang masuk," sahut Merry menambahkan.
Para mafia elit mengangguk paham.
"Namun, kita kehilangan markas besar. Meskipun semua aset berhasil diamankan, tapi ... siapa yang mau memberikan tempatnya untuk menyimpan benda berharga itu?" tanya Yusuke Tendo cemas.
"Black Castle. Setidaknya tempat ini juga menyimpan sejarah tentang perjalanan 13 Demon Heads. Tempat ini diwariskan untukku dan aku tak keberatan menggunakannya sebagai markas pengganti Dewan Sekretariat yang sebelumnya berada di Italia," sahut Jonathan dengan pakaian formal layaknya eksekutif muda.
Semua orang terkejut, tapi tidak dengan orang-orang dalam jajaran Vesper.
__ADS_1
"Aku akan memperketat penjagaan dan sistem keamanan. Tempat ini masih memiliki banyak ruangan kosong jadi ... kita manfaatkan saja. Bagaimana? Kalian tak akan menolak kebaikan hati Tuan Muda Jonathan, 'kan?" tanya Vesper menaikkan salah satu alis menatap semua orang.
Para mafia itu saling berbisik dan pada akhirnya mengangguk. Jonathan terlihat senang begitu pula semua orang.
"Oke! Hah, bagi kalian yang pesan mobil modifikasi, Nathan akan stop dulu perhari ini sampai Black Castle dinyatakan layak sebagai markas besar dewan sekretariat 13 Demon Heads," ucap Jonathan bangga.
Semua orang bertepuk tangan dan Jonathan langsung sigap berdiri, membungkuk dan merentangkan tangan mencoba untuk terlihat merendah.
"Makin lama dia makin berlagak," keluh Han menghela nafas panjang.
"Terkadang aku merasa jika dia bukan Jonathan melainkan Tuan Erik. Sekilas sungguh mirip. Ini gawat Han, aku takut jika nona Lily akan terbuai dengan pesona anaknya sendiri," sahut Kai dengan wajah masam saat Jonathan memeluk Ibunya dengan senyum merekah dan Vesper terlihat bangga padanya.
Acara lalu di jeda dengan makan siang bersama di Ballroom. Selanjutnya, acara lelang aset milik mendiang Axton akan dilaksanakan. Para mafia terlihat begitu antusias.
Ruang Lelang, Black Castle, Inggris.
Terlihat ruang lelang ramai dan dipadati para mafia yang antusias untuk membeli aset milik Axton di mana mantan anggota dewan tersebut ternyata tak meninggalkan wasiat tertulis seperti para mafia lainnya.
Kali ini, Tuan Robert dan Wilson dibuat bekerja keras karena kelalaian Adrian Axton. Vesper dan Amanda duduk bersebelahan terlihat siap untuk bersaing dalam membeli aset tersebut.
"Jangan tamak, Vesper. Kau sudah memiliki banyak. Berbagilah pada kami," ucap Sherly mewakili Ivan.
"Hem, lupakan saja. Aku tak ada niatan untuk mengalah kali ini," jawab Vesper sudah siap membawa papan peserta lelang.
Sedang Nandra dan Torin hanya bisa duduk dengan pasrah ditemani oleh Yuki di sampingnya.
"Setelah ini, bagaimana dengan nasibku dan Ryan, Yuki?" tanya Nandra cemas.
"Kita saksikan saja, Nandra. Aku penasaran siapa pemenangnya. Sepertinya Nyonya Vesper akan memborong banyak. Diantara semua mafia, dia yang paling kaya," jawab Yuki tersenyum licik.
Mata Nandra kini tertuju ke para mafia yang sudah duduk berderet di kursi kekuasan mereka masing-masing termasuk ketiga anak Vesper.
Torin melirik Nandra yang terlihat gugup dengan acara lelang karena ia khawatir jika hidupnya dan penerus keluarga Giamoco, Ryan, akan berakhir mengenaskan seperti gelandangan.
------
ILUSTRASI
__ADS_1
SOURCE : PINTEREST