
William memberanikan diri untuk mendekati sang isteri meski ia tak mengingat satupun kenangan bersamanya.
William berjongkok di depannya, tapi Sia memalingkan wajah sembari menghapus air mata.
"Aku minta maaf jika ini menyakitkan. Aku sudah berusaha untuk mengingat kenangan kita dulu. Semua orang membantu untuk memulihkan ingatanku, tapi ... ingatan itu tetap tak kembali," ucap William pelan.
Sia masih berusaha untuk menenangkan hatinya yang begitu hancur mendengar pengakuan sang suami.
"Jika ada obat atau mungkin terapi yang bisa dilakukan untuk memulihkan ingatanku, aku siap menerimanya. Demi ... demi anak kita," sambung William memberanikan diri untuk menyentuh lutut isterinya dan Sia langsung memandanginya lekat.
"Cara seperti apa itu?" tanya Sia sedih. William menggeleng.
"Gas halusinasi, mungkin," sahut Yena tiba-tiba yang mengejutkan sepasang suami isteri itu.
Sia tertegun dan baru menyadari jika hal tersebut bisa dicoba. Wiliam menatap Yena seksama dengan kening berkerut.
"Mengenalku?" tanya Yena terlihat kesal. William menggeleng.
"Syukurlah kau tak ingat. Jika ya, aku tak segan menghajarmu, William. Ingat baik-baik, namaku Yena dan aku masih menyalahkanmu atas kematian ayahku, Roberto. Kau tak becus menjadi seorang bodyguard hingga ia mati dengan sebelas peluru! Sebelas peluru di tubuhnya, William!" teriak Yena melotot tajam padanya dan William tertegun akan hal itu.
"Maaf, Sia. Ini harus kuluapkan. Jika tidak, aku bisa meledak," ucap Yena meringis dan Sia mengangguk paham.
"Sepertinya ... aku berperan banyak di hidup kalian ya? Sayang sekali, aku sungguh tak mengingatnya," ucap William lesu.
Sia dan Yena mengangguk bersamaan. William menatap wajah Sia seksama.
"Aku tak menyangka jika aslinya, Sia sungguh cantik. Kini aku yakin kenapa aku bisa melakukan banyak hal bodoh. Dia terlihat begitu sedih mengetahui diriku yang berbeda. Aku bisa melihat kejujuran dari air matanya. Ia tak berbohong. Orang-orang ini tak berbohong dengan mengatakan tahu tentang masa laluku. Baiklah, dari semuanya, aku percaya padamu, Nyonya Manda. Aku sudah sepakat dengan Antony Boleslav dan sebagai lelaki, aku akan menepatinya," batin William mantab penuh keyakinan.
Sia terkejut saat William tiba-tiba berdiri dan menatapnya tajam. Jantung Sia berdebar kencang. William mengulurkan tangan dan Sia menyambutnya meski terlihat ragu.
"Kita coba menggunakan cara seperti yang Yena katakan, gas halusinasi. Kapan kita bisa melakukannya?" tanya William tegas.
Sia dan Yena tersenyum lebar. Sia mengajak William keluar kamar di dampingi Yena. Anak dari Roberto berjalan lebih dulu memimpin di depan menuju ke ruang interogasi.
William menggenggam tangan Sia erat. Ia bisa merasakan kehangatan dan halus kulit sang isteri. Ia juga melihat perut Sia sedikit buncit meski tak terlalu besar.
Muncul perasaan bahagia dalam hatinya karena tak menyangka ia telah menikah, memiliki isteri yang cantik dan sebentar lagi menjadi seorang Ayah.
"Hem, lihat siapa yang datang," ucap Red berkesan menyindir dengan kedua tangan menyilang di dada.
"Dia Red. Salah satu orang kepercayaan Daddy-ku, Boleslav," ucap Sia mengenalkan dan William mengangguk.
"Alasanmu datang kemari, apakah ingin mencoba gas halusinasi? Mencoba mengembalikan ingatan lamamu, begitu?" tanya seorang wanita yang tak William kenal.
William mengangguk.
"Baiklah. Sebelumnya kita berkenalan lagi. Aku Roza. Anak buah dari Nyonya Amanda. Kau beruntung karena Professor Jeremy datang kemari khusus untukmu. Ia penasaran dengan sistem kerja cuci otak milik The Circle hingga kau bisa lupa segalanya kecuali sebagaian kecil dari kehidupanmu dulu," ucap Roza menunjuk Jeremy yang mendatangi William sembari mengajak berjabat tangan.
William menyambut dengan gugup dan menatap Jeremy lekat.
"Ada banyak dugaan di kepalaku, William. Jadi sebaiknya, segera kita buktikan saja," ucapnya sembari melepaskan jabat tangan dan William mengangguk.
Sia terlihat cemas ketika William masuk ke dalam ruangan. Namun, interogasi kali ini sedikit berbeda.
Jeremy membawa alat yang cukup memakan tempat di ruangan itu seperti detektor untuk melihat kinerja pada tubuh William.
__ADS_1
Kepala, dada dan leher William dipasangi sebuah benda yang menempel di kulitnya. William menanggalkan pakaian bagian atas dan bertelanjang dada.
"Aku ingin melihat pergerakan dari semua titik denyut yang ditempel oleh alat ini. Layar ini akan menunjukkan setiap respon yang akan kau jawab dari tiap pertanyaan yang Roza ajukan. Santai saja, ini tak menyakitimu sama sekali. Malah aku khawatir kau akan menyakiti alatku," ucap Jeremy yang sudah memakai jas lab berwarna putih sembari memasukkan kedua tangan dalam saku celana.
Orang-orang yang mendengar terkekeh. William mengangguk paham. Kedua tangan William diikat pada sandaran kursi empuk begitu pula pergelangan kakinya.
Jeremy khawatir jika terjadi pemberontakan oleh tubuh William tanpa ia sadari. Tim medis belum mengetahui reaksi dari gas halusinasi jika bersinergi dengan obat kimia yang telah masuk ke tubuh William.
"William, apa kau siap?" tanya Roza dan William mengangguk.
William dipakaikan masker gas dan diminta untuk menghirupnya dalam. Merry memegangi masker tersebut sampai William seperti mengantuk.
Jeremy mengangguk dan Merry melepaskan masker gasnya. Mata William mulai terlihat sayu dan kepalanya mengangguk-angguk seperti menahan kantuk. Roza memulai proses interogasinya.
"Hei, hei, William Tolya. Apa kau mendengarku?" tanya Roza menjentikkan jarinya ke wajah William.
William menaikkan pandangan dan seperti berusaha untuk fokus menatap Roza. William mengangguk.
"Baiklah. Siapa namaku?"
"Kau Roza. Lalu dia ... mm, Jeremy. Di dalam sana ada isteriku Sia, Yena, Red dan sisanya aku tak berkenalan."
Jeremy dan semua orang terkejut. Jeremy langsung melihat layar di hadapannya dengan mata melotot. Roza ikut bingung.
Seharusnya, William tak bisa mengingat dengan jelas orang-orang itu. Jeremy memberikan kode pada Roza dengan dua jarinya membentuk huruf V. Roza mengangguk.
"William. Apa kau mengenal Julius Adam?"
Jantung semua orang berdebar. William terlihat seperti orang mabuk dan berusaha untuk mengingat.
Kembali, Jeremy dan semua orang terkejut.
"Bagaimana dengan Igor?" sahut Jeremy tiba-tiba, tapi William menggeleng.
"Lalu ... apa saja yang kau ingat?" tanya Jeremy mengambil alih pertanyaan dan kini duduk di bangku Roza menggantikannya.
"Mm ... aku bersumpah untuk setia pada No Face, The Circle dan Big Mother. Tessa dan Madam. Misiku untuk membunuh semua anggota dewan 13 Demon Heads kecuali Vesper dan keempat anaknya."
Mata semua orang melebar. Sia terlihat shock mendengarnya.
"Bahkan Sia?" tanya Roza menimpali. William mengangguk.
Semua orang tertegun. Red langsung menyiagakan senjata untuk melindungi anak perempuan Amanda di sampingnya.
"But, wait ... aku tak mau melakukannya lagi. Aku tak ingin membunuh anak dan isteriku. Agh, kepalaku sakit. Ini semua tidak benar," ucapnya menutup dan membuka mata berulang kali seperti melawan sesuatu.
"Apa yang kau rasakan, Will?" tanya Jeremy mencondongkan tubuhnya menatap wajah William lekat.
"Aku ... agh, aku tak bisa mengingat apapun. Hanya misi dari Tessa yang ada di kepalaku," jawab William dengan kening berkerut terlihat tegang.
Jeremy mengusap mulutnya. Ia menatap orang-orang yang kini memandanginya dengan seksama.
"Dia tak bisa disembuhkan."
BRANGG!!
__ADS_1
William sampai ikut terkejut ketika Jeremy menggebrak meja dan kini malah ikut frustasi karenanya.
"Kenapa bisa ada teknik dan obat seperti itu? Menghapus semua ingatan? Namun, kenapa hanya disisakan tentang kenangan masa lalu William bersama ayah ibunya? Bahkan, Manda ada di dalam? Kenapa tak menghapus semuanya?" tanya Jeremy geram.
"Mungkin, obat dari Tessa itu memiliki titik lemah, Jeremy. Tak sepenuhnya sempurna. Atau bisa jadi, saat Tessa melakukannya, ia tak terpikir jika kenangan dengan ayah ibu William sebuah petaka. Mungkin Tessa tak menyadari jika Amanda pernah masuk di dalamnya," sahut Roza menimpali.
"Ya, bisa banyak kemungkinan terjadi," sahut Jeremy kembali menatap William lekat yang masih tertunduk dan terlihat tegang sampai wajahnya memerah.
"Apa kau sungguh tak mengingat kenanganmu bersama Sia, William?" tanya Roza.
Jantung Sia berdebar kencang, menunggu kejujuran dari suaminya. Namun sayangnya, William menggeleng.
Semua orang mendesah keras. Sia kembali menangis, hatinya begitu sedih dan pilu. Jeremy merasa jika ini sia-sia saja.
"Akhiri saja. Jika aku terus mencekokinya, aku khawatir malah akan menimbulkan kerusakan otak. Namun, aku jadi penasaran bagaimana Tessa melakukannya. Formula apa yang ia gunakan sehingga William bisa jadi seperti ini. Merubahnya menjadi sesuatu yang lain. Beruntung, ia tak menjadi lebih buruk," ucap Jeremy menatap William tajam yang kini balas menatapnya seperti berusaha melawan efek dari gas halusinasi.
Roza menghentikan proses interogasi. Belenggu di kaki dan pergelangan tangan William di lepaskan.
William bahkan tak disuntikkan penawar karena gas halusinasi tak memberikan dampak apapun padanya.
Sia masuk ke ruangan dengan air mata sudah membasahi wajah. William segera berdiri meski ia masih merasa pusing. Entah kenapa, ia ikut sedih melihat isterinya menangis.
"Kemarilah, ada yang ingin kukatakan padamu," pinta William mengulurkan tangan mendekati Sia dan anak perempuan Amanda berjalan pelan sembari berusaha menghentikan tangisannya.
"Aku minta maaf, Sia. Aku sudah mencoba, tapi ... kenangan itu tetap tak kembali. Aku tahu jika kau pasti sangat kecewa padaku. Jadi ... aku memohon dengan sangat dan semoga kau bisa mengabulkannya," ucap William menatap wajah Sia yang tertunduk sedih.
Sia menaikkan pandangan dan mengangguk pelan. Red dan Yena menyusul masuk ke dalam ikut mendengarkan.
"Tuan Jeremy. Apakah ... gas milikmu itu bisa menghapus seluruh ingatan hingga tak bersisa?" tanya William menoleh padanya.
"Apa maksudmu?" tanya Jeremy gugup.
"Seperti yang kukatakan tadi. Bisakah aku menjadi lupa segalanya?" tanya William menegaskan.
Jeremy diam sejenak, tapi tak lama mengangguk yakin. Mata Sia melebar.
"Apa yang kau pikirkan, Will? Kau mau apa?" tanya Sia terlihat ketakutan.
"Sia. Berjanjilah padaku. Aku sangat yakin jika kau mencintaiku, begitupula aku yang dulu. Aku sampai nekat melakukan hal-hal bodoh pasti karena aku sangat mencintaimu. Kau setuju dengan ucapanku barusan?" tanya William menggenggam kedua tangan Sia erat. Sia mengangguk cepat.
Semua orang terlihat serius mendengarkan.
"Aku ingin, ketika penebusan dosaku selesai, Jeremy menghapus semua ingatanku. Biarlah aku menjadi orang yang baru, William yang tak mengenali siapapun."
Sia terperanjat sampai mulutnya menganga lebar. William memegang kedua lengannya erat dan menatap wajah isterinya tajam.
"Berjanjilah, kau akan berusaha sebaik mungkin untuk meyakinkanku, bahwa kau adalah tujuan akhirku, Sia. Yakinkan aku jika akulah Williammu. Jangan pernah menyerah untuk membuatku kembali mencintaimu lagi. Kau bisa melakukan hal itu untukku, Sia?" tanya Wiliam menatap isterinya penuh harap.
Sia shock mendengar permintaan mengejutkan William begitupula orang-orang di ruangan tersebut.
***
Wah ada tips😍 Makasih ya. Lele jadi makin syemangat nih upnya meski sistem MT suka eror tiba-tiba😆 Jgn lupa 4YMS2 up jam 5 sore ini. Langsung favoritin ya ❤️
__ADS_1