
William dan rombongannya begitu tiba di Villa yang sengaja disewa dekat dengan mansion Axton di Boston segera menyiapkan strategi untuk menjalankan misinya.
William kembali dibebankan menjadi komandan dalam misi yang diberikan oleh Jamal tersebut. Ia mengomandoi Ace, Shamus, Rajesh dan dua bodyguard Jamal.
Jamal sengaja tak ingin melibatkan banyak orang karena ini adalah misi rahasia dan tertutup karena targetnya adalah salah satu anggota dewan, yakni Adrian Axton.
Obsesi Jamal yang ingin duduk dikursi dewan menggantikan Axton yang dinilai sudah tak mumpuni untuk menjadi anggota dewan, membuatnya begitu berambisi untuk menjatuhkannya dan memiliki seluruh aset yang dimiliki mafia senior tersebut.
"Will, sampai sekarang Jamal belum meneleponku. Itu masih pertanda baik, tapi segera selesaikan dengan cepat dan rapi. Aku tak ingin jika aksi kita ketahuan oleh para mafia lain terutama dalam jajaran 13 Demon Heads. Kau paham?" ucap Rahul menunjuk wajah William menegaskan.
"Yes, Sir," jawab William sopan.
"Dan bawa Nandraku kembali tanpa lecet sedikitpun. Jika kau sampai tertangkap, kau tak boleh mengatakan siapa bosmu atau apapun tentang kami. Kau paham 'kan hal sepele ini?" tanya Rahul bertolak pinggang menatap William tajam.
"Yes, Sir," jawab William dengan anggukan kepala.
Rahul yang merasa yakin jika William bisa diandalkan segera kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri selagi William dan team-nya mempersiapkan segala peralatan.
Dua bodyguard Jamal yang sudah dipasangi alat pelacak, alat penyadap dan senjata, siap untuk menjadi mata akan aksi yang akan mereka jalankan malam nanti di sekitar mansion Axton.
Rajesh dan Shamus akan menjadi team barikade dan penghalang kepada siapa saja yang ingin mengunjungi mansion Axton.
Sedang William akan menjadi pemimpin pasukan dimana ia juga akan turun langsung ke lapangan.
Ace ditugaskan sebagai eksekutor yang nantinya akan menembak mati Axton seperti sebelumnya.
Dan akhirnya, malam yang mendebarkan itu tiba. Operasi dijalankan pukul 1 dini hari.
Dua bodyguard Jamal yang menamai diri mereka sebagai A dan B sudah mengintai sejak matahari tenggelam dan bersembunyi di balik pepohonan, mengawasi dari kejauhan.
Kamera yang terpasang di atas helm yang mereka pakai tersambung langsung ke villa tempat Rahul memantau setiap laporan dan pergerakan dari misi.
Rahul melihat jika Nandra diajak berkeliling oleh Axton memamerkan mansion mewahnya.
Rahul yang juga terhubung dengan sambungan earphone terlihat kesal. Ia mengumpat berulang kali saat Axton menciumi Nandra dan memeluknya mesra.
William dan lainnya juga ikut melihat hasil pengintaian dari layar tablet yang mereka bawa hanya bisa menghela nafas karena Rahul terbakar cemburu.
Hingga akhirnya Axton mengajak Nandra tidur bersamanya malam itu. William melihat jika Nandra terlihat nyaman saat bersama Axton.
William menyadari jika Nandra sudah jatuh dalam pesona Axton tanpa disadarinya.
"Ini akan semakin sulit, hmpf ...." lirih William yang ternyata terdengar oleh semua orang yang tersambung.
"Apa maksudmu, William?" tanya Rahul tiba-tiba dengan intonasi terdengar kesal.
William tertegun dan mencoba untuk beralibi.
"Kau lihat penjagaan sekitar mansion, Tuan Rahul? Penjagaannya tak seketat saat aku pernah mendatangi rumahnya. Sepertinya ia tahu jika diincar, Axton menambah keamanannya. Penjaga ada disetiap sudut ruangan. Ada kamera CCTV juga terpasang di sekitar tempat. Dari manapun kita datang pasti akan tertangkap kamera," ucap William yang akhirnya membicarakan tentang pengamatannya.
"Benar, Tuan Rahul. Terakhir kami meninggalkan mansion tak seramai ini. Kita harus cari jalan lain untuk bisa mendekati Axton. Ace, bagaimana posisimu?" tanya Shamus yang ikut mengintai dari sisi barat mansion di sebuah semak dimana mereka menjaga jalanan agar tak ada kendaraan yang memasuki mansion.
__ADS_1
"Buruk. Banyak pohon yang menghalangi. Ini hanya bisa dilakukan jika ada helicam atau drone bersenjata. Atau jika kalian memiliki pengalih perhatian agar Axton keluar dari sarangnya, itu akan sangat membantu," jawab Ace dari tempatnya membidik di sisi timur mansion.
"Hmm, pengalih ya. Rajesh, berapa peledak yang kau miliki?" tanya William dari sambungan earphone-nya.
"Banyak. Bahkan cukup untuk meruntuhkan mansion Axton. Kau ingin kami melakukan apa?" tanya Rajesh yang merasa jika akan menimbulkan keributan di malam yang sudah larut itu.
"Apakah, kau menyetujuinya, Tuan Rahul?" tanya William meminta izin untuk membuat serangan kejutan.
"Hah. Tak ada cara lain yang lebih senyap tanpa harus membuat kerusuhan?" tanya Rahul kesal.
"Jika kau memiliki pasukan ninja mungkin itu bisa dilakukan," jawab William menahan tawa.
"Jangan bercanda denganku, William. Kau makin berani bicara padaku," geram Rahul dan William diam seketika.
Suasana tegang kembali terasa setelah William menyadari jika Rahul tipe orang yang mudah tersulut emosi.
William kembali memikirkan cara. Ia tak mungkin menyusup ke dalam karena banyak penjaga di sekitar mansion.
Ditambah, Axton berada jauh di dalam mansion dimana sangat sulit untuk menuju ke sana.
William juga yakin pasti banyak jebakan di mansion tersebut meski William sudah pernah mengunjungi mansion Axton sebelumnya. William berfikir keras.
"Adakah jalan lain menuju ke mansion itu?" tanya William kepada seluruh team-nya dari sambungan earphone.
Dua pengintai A dan B segera mencari jalan lain menuju mansion dengan baju kamuflase yang ditutupi dedaunan. Membuat dua orang itu seperti semak belukar yang bisa berjalan.
William mengamati dari pantauan kamera yang menunjukkan dua orang itu sedang menyisir sekitar dimana mansion Axton berada di pinggir pantai.
Dua orang itu menemui jalan buntu karena satu-satunya jalan harus dari arah laut. Terlihat semua orang kebingungan untuk memasuki mansion Axton yang terlihat begitu sulit ditembus.
William heran, biasanya para mafia memiliki kediaman yang jauh dari pemukiman warga, tapi Axton malah memiliki rumah yang dikelilingi oleh banyak turis serta pantai yang ramai meski kawasannya termasuk private.
Saat William sedang serius memikirkan cara menyusup, tiba-tiba Ace memberikan laporan yang mengejutkan.
"Pusat, over. Ada sebuah drone terbang di langit mansion Axton. Apakah itu milik kita?" tanya Ace dari balik teropong senapan dimana ia bertugas menjadi sniper.
Semua orang terkejut dan segera menggunakan teropong mereka untuk memastikan hasil pantauan Ace.
Mata William melebar, info dari Ace benar. Ada sebuah drone yang suara mesinnya hampir tak terdengar sedang melayang di atas mansion.
Namun, saat William sedang menyelidiki milik siapa drone tersebut, tiba-tiba ....
DWUARR!!
"Wow!" pekik William terkejut saat tiba-tiba drone itu meledak padahal tak ada tembakan ataupun peluru yang meluncur ke arah drone tersebut.
Ia segera meminta visual kepada team terdekat untuk melihat apa yang terjadi.
Ternyata ada sebuah mercusuar dekat mansion Axton dan terlihat seorang penembak yang memegang senjata seperti anti-drone.
William yakin jika orang itu yang menembak jatuh drone tersebut, tapi William heran kenapa drone tersebut meledak.
__ADS_1
Anti-drone yang pernah ia lihat sebelumnya hanya bisa membuat drone tersebut menjauh atau malah ganti dikendalikan oleh penembak anti-drone.
William merasa ada teknologi baru yang dimiliki oleh para mafia yang belum ia ketahui.
"Sial. Mereka memiliki anti-drone milik Boleslav Industries yang belum dijual masal," pekik Rahul yang tiba-tiba bicara dari sambungan earphone.
"Apakah itu senjata baru?" tanya William penasaran.
"Ya. Senjata itu bisa menembak jatuh semua jenis benda terbang yang dikendalikan jarak jauh dengan remote. Aghhh!! Axton sialan! Bagaimana aku merebut Nandraku kembali!" teriak Rahul geram.
William kini mengerti jika ada senjata jenis baru yang para mafia itu miliki. William makin berambisi untuk bisa menyusup ke mansion Axton. Namun, ia penasaran siapa penerbang drone itu.
"A dan B. Kalian cari tahu siapa penerbang drone tersebut. Bisa jadi, itu adalah pihak yang ikut menyerang Axton di kasino. Segera temukan mereka!" titah William tegas dan dua bodyguard Jamal segera meninggalkan lokasi pengintaian.
Namun, Rahul kembali marah.
"Hei! Siapa yang meminta kalian pergi dari misi? Aku bosnya bukan William! Dan kau William, kau semakin kurang ajar padaku. Kau berani memberikan perintah untuk mangkir dari misi pada anak buahku, huh?!" pekik Rahul kesal dari sambungan earphone.
"Rahul! Kita harus menyelidiki pihak yang ingin menyerang Axton. Mereka ada di sini. Kita harus memastikan mereka ini sekutu atau lawan. Jangan sampai misi kita malah terganggu karena keberadaan mereka," jawab William menjelaskan.
"Sudah kubilang! Kita tak perlu tahu! Aku tak peduli mereka itu dari pihak militer ataupun mafia sekalipun. Jika mereka mempunyai tujuan sama untuk membunuh Axton, segera ikuti saja permainannya. Jangan terlalu banyak berpikir, cepat habisi dia!" teriak Rahul penuh emosi karena sudah tak sabar ingin membunuh anggota dewan tersebut.
Semua orang yang mendengar diam seketika saat Rahul terdengar begitu egois akan keputusannya.
William yang berprofesi sebagai agent dimana kerja team sangat diprioritaskan merasa jika Rahul ini tak tahu apapun soal penyergapan, penyerangan dan aksi penyelamatan.
"Tuan Rahul. Dengan segala hormat, jika kau tetap bersikap egois seperti ini, kau cari orang lain saja untuk melakukan misi pembunuhan Axton. Sikapmu bisa membuat kami semua terbunuh jika tak direncanakan dengan matang. Lawanmu ini mafia tersohor, bahkan kau barusaja lihat bagaimana persenjataan mereka menjatuhkan sebuah drone. Salah langkah sedikit saja, usahamu sia-sia dan Nandramu tak akan pernah kembali padamu," ucap William tegas yang sudah cukup bersabar dengan sikap Rahul.
"Kau berani ... kau berani mendekteku!" teriak Rahul dengan emosi meluap-luap.
"Rahul. Sebaiknya kita tunda dulu penyerangan hari ini. Kita harus menyusun ulang strategi dan aku sepakat dengan William. Kita harus memastikan siapa orang yang dari kemarin ikut campur dalam urusan kita, kita harus mengambil tindakan jika ternyata mereka malah menjadi pengganggu," sahut Rajesh menasehati.
"Kau juga? Kau juga berani mengaturku, Rajesh!" pekik Rahul makin emosi.
Semua orang terlihat malas seketika akan sikap Rahul yang tak dewasa dalam menyikapi sebuah misi.
Saat semua orang sedang bosan mendengarkan gerutu Rahul dari sambungan earphone, tiba-tiba William melihat ada pergerakan dari sebuah pohon dimana tak ada team darinya yang berada di posisi itu.
"Ace, arah jam satu," bisik William dari sambungan earphone dan sontak semua orang diam seketika.
Ace melihat pergerakan itu dan segera melepaskan tembakannya tanpa membuang waktu. Tiba-tiba, suara benda jatuh dari atas pohon yang mengenai dahan serta ranting.
BRUKK!!
"Aku akan mengeceknya," ucap William yang paling dekat dengan lokasi.
--------
hehehe yang belom kasih like dibeberapa eps boleh puter balik sembari nunggu dobel eps SM hari ini ya dan ada info tambahan nih.
jam 7 malam nanti tgl 26 Agustus di AR lele, 100114. chit chat ciatt akan ada acara tanya jawab mengenai novel dari karya-karya lele persembahan dari Mangatoon.
__ADS_1
Ada gift juga yg akan diberikan pada peserta yg ikut partisipasi.
siapa tau lele bakal ksh spoiler😁 yg kepo bs segera join nanti malam jam7 sd jm9 ya. lele tunggu kehadirannya. tengkiuu😘