Secret Mission

Secret Mission
Meet The Queen*


__ADS_3

Sia panik saat Vesper turun dari singgasananya dan diikuti oleh beberapa orang berwajah seram.


Lysa menahan senyum melihat Sia seperti orang terkena serangan jantung.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Sia," sapa Vesper, tapi suaranya malah seperti ular mendesis.


Sia mengangguk cepat. Rahangnya serasa mengeras, suaranya tercekat tak bisa bicara. Namun, ketakutan Sia sirna saat Vesper menunjukkan senyum manisnya dan mengulurkan tangan mengajak bersalaman.


"Kau akan membiarkan tanganku seperti ini?" tanya Vesper menaikkan kedua alis.


Sia akhirnya lolos dari tubuhnya yang membeku seakan dia masuk dalam akuarium es di depannya. Sia menyambut jabat tangan Vesper dengan gugup.


"Sendirian?" tanya Vesper sembari melepaskan jabat tangannya.


"Ah, tidak. Jordan bersamaku, Mix and Match dan Silhouette," jawab Sia terlihat takut-takut menatap Vesper.


"Hmm, tumben. Ada apa dia datang kemari?" tanya Vesper heran.


"Katanya, Afro akan muncul. Seingatku dia bicara seperti itu."


Sontak mata semua orang melebar seketika. Sia merasa jika ucapannya barusan memiliki dampak karena orang-orang di sekitarnya terlihat bersiaga seketika.


"Jordan bilang begitu?" tanya lelaki Asia yang berdiri di samping Vesper. Sia mengangguk lugu.


"Siapkan protokol, Kai," ucap Vesper pelan dan lelaki Asia yang dipanggil Kai mengangguk.


Lysa mendekati Ibunya seperti berbicara serius dengan bahasa yang Sia tak mengerti. Ruangan itu mendadak riuh dengan beberapa orang saling berbisik.


"Kau datang dan membuat keributan, Gadis Sial," ucap Arjuna mendekatinya sembari memakai kaos menutupi tubuh atletisnya.


Sia menoleh, tapi ia tak mengerti yang Arjuna ucapkan. Anak kedua Vesper menatap Sia tajam, tapi Sia terlihat tak peduli padanya. Masih teringat jelas perlakuan buruk Arjuna padanya kala itu.


"Where's your CIA lover?" tanya Arjuna dan praktis, semua orang tertegun.


"Arjuna!" teriak Vesper lantang dan membuat orang-orang terkejut.


Arjuna diam seketika dan menjauh dari Sia. Yusuke mendekati Arjuna dan kedua lelaki itu pergi dari ruangan.


"CIA? Dia terlibat dengan CIA? Apa kau mata-matai kami?" tanya Raja Khrisna yang ikut hadir melihat penyeleksian akhir calon penerus kursi dewan.


"No," jawab Sia cepat dengan gelengan kepala.


Vesper dan Lysa memegangi kepala. Sia merasa dia salah tempat.


"Akan aku jelaskan," ucap Vesper ke hadapan semua orang yang kini menatapnya penuh curiga.


Sia terlihat bingung dan hanya diam mematung dengan wajah tertunduk.


"Lysa, bawa dia," pinta Vesper dan Lysa mengangguk.


Sia menurut ketika Lysa membawanya pergi dari tempat tersebut. Sia terlihat ketakutan saat mata semua orang menatapnya tajam.


"Kau tunggulah di sini. Ini kamarmu dan itu tasmu," ucap Lysa membuka sebuah pintu dan Sia mengangguk pelan.


Lysa pergi meninggalkan ruangan dan kembali menutup pintu. Sia langsung duduk lemas di sofa.


Namun, ia kembali terkejut saat mendapati seorang lelaki muncul dari kamar mandi dan hanya menutupi kejantanannya dengan handuk.


"Wow! Who are you?!" pekiknya lantang menunjuk Sia sembari memegangi handuknya kuat.


"I-i ... i am Sia! Sorry!" jawabnya ikut panik.


Namun, pria muda itu terlihat berpikir sejenak. Saat keduanya merasa canggung, pintu kamar kembali terbuka dan dua orang itu terkejut ketika mendapati seorang gadis Asia masuk ke dalam.


"Sia?" tanyanya to the point menunjuk anak Amanda.

__ADS_1


Sia mengangguk pelan. Gadis itu menutup pintu. Pria muda itu ikut mendatangi si gadis Asia dan bertolak pinggang menatap dua perempuan di hadapannya.


"Kak Nathan. Please," ucap si gadis Asia melirik Jonathan yang berdiri gagah di antara mereka berdua.


"Apa? Aku pakai boxer. Kalo melorot juga gak masalah. Kayaknya seru. Kalian mau ngobrol apa?" tanyanya santai menggunakan bahasa Indonesia dan melipat kedua tangan di depan dada.


Sia merasa kejadian hari ini penuh kejutan. Ia sampai tak bisa berpikir jernih dan pasrah dengan apa yang terjadi.


"Hey, my name is Sandara Liu," ucap Sandara mengajak berjabat tangan dan Sia segera menyambutnya.


Sandara duduk di samping Sia dan anak Amanda duduk dengan sopan, merapatkan kedua kakinya menatap Sandara seksama yang berwajah datar seperti Jordan.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Apa benar yang kau katakan tadi? Bahwa Afro akan muncul, seperti prediksi dari Jordan?"


Sia mengangguk. Ia bingung karena semua orang seperti penasaran dengan berita yang ia sampaikan. Jonathan juga langsung berwajah serius seketika.


"Hello. I am Jonathan," ucap Jonathan mengulurkan tangan mengajak Sia berjabat tangan dan gadis cantik itu menyambutnya dengan senyum menawan.


Tiba-tiba, CEKREK!


"Kau di sini rupanya. Ikut aku," ucap seorang gadis berambut merah muda membuka pintu.


Pandangan semua orang kini tertuju pada sosoknya yang hampir tak dikenali.


"Hahaha! Kak Yuki? Kenapa rambutnya jadi pink gitu? Tapi, keren sih," tawa Jonathan menunjuknya.


Yuki mendesis dan meminta Sia segera keluar dari kamar. Sia menurut. Ia sungguh bingung. Ia dibawa ke sana-kemari, bertemu dengan banyak orang dalam waktu dekat bahkan ia sampai kesulitan menghafal wajah serta nama-nama mereka.


"Y-you," ucap Sia tergagap melirik Yuki.


"Hem, it's me. Yuki, your mentor at military camp," jawab Yuki yang merubah penampilannya dengan rambut panjang merah muda terlihat begitu mencolok. Sia mengangguk.



"What?" pekik Sia bingung, tapi Yuki tak menggubrisnya.


Saat mereka tiba di basement tempat seluruh mobil para tamu di sembunyikan, Sia terkejut mendapati Arjuna sudah duduk di dalam mobil memasang wajah masam.


"You?" kejut Sia melihat sosoknya. Arjuna memalingkan wajah terlihat kesal.


"Itu salahmu, Juna. Kau harus memplester bibirmu. Kau membuat kekacauan di hari penting ini. Untung tugasmu sudah selesai," ucap Yuki terlihat kesal.


"Dan kini aku harus bertanggung jawab melindunginya? Apa kini tugasku menjadi baby sitter?" ucapnya kesal.


Sia berkerut kening, ia tersinggung dengan ucapan anak kedua Vesper.


"Aku tak meminta kau menjagaku. Aku juga tak sudi didampingi olehmu. Lebih baik aku bertemu orang-orang CIA ketimbang berurusan denganmu," ucap Sia kesal.


GRAB!


"Emph!" pekik Sia kaget saat Arjuna malah mencengkeram kuat kedua pipinya hingga bibir Sia mengerucut.


Semua orang di tempat tersebut menatap dua orang itu seksama. Yuki ikut tegang.


"Kau pikir aku suka, ha? Dengar. Kau gadis lemah, manja, menyebalkan dan sok kuat. Aku muak dengan gadis sepertimu. Kau sama saja dengan lainnya, berpikir dengan kekuasaan orang tuamu bisa mengendalikan semua," ucap Arjuna tajam dan kini melepaskan cengkeramannya hingga Sia terdorong mundur hampir jatuh, tapi dengan segera tubuhnya ditangkap oleh seorang gadis cantik di belakangnya.


"Are you oke?" tanya gadis berambut sebahu tersenyum padanya.


Arjuna langsung memalingkan wajah. Sia mengangguk. Yuki memejamkan mata terlihat pusing memikirkan dua orang yang berselisih ini.


"Jangan diambil hati. Tuan Muda Arjuna sedang kesal. Masuklah, aku akan duduk menemanimu," ucap gadis cantik itu memegangi bahu Sia lembut.


"Kau, duduk di sebelahku, Naomi. Biarkan dia duduk di belakang. Jangan memanjakannya," tegas Arjuna menunjuk sekretarisnya.


Naomi mendekati Arjuna dan duduk di sebelahnya seperti berbicara serius. Sia mengamati gerak-gerik dua orang itu seksama.

__ADS_1


Ia melihat gadis bernama Naomi seperti mengatakan sesuatu yang membuat amarah Arjuna reda seketika.


Yuki melirik Sia yang pandangannya terfokus pada dua orang di dalam mobil.


"Berjanjilah kau tetap di dekatku untuk memastikan aku tak membunuhnya," tunjuk Arjuna tegas ke wajah sekretarisnya dan Naomi mengangguk pelan.


"Silakan masuk, Nona Sia. Kita duduk di belakang saja. Perjalanan kita akan cukup jauh," ucap Naomi yang kini duduk di bangku belakang dan tersenyum manis padanya.


Sia mengangguk dan masuk ke dalam terlihat tertekan. Yuki merasa masalah sudah beres.


"Aku mengandalkanmu, Naomi!" teriak Yuki melambaikan tangan ke hadapan bodyguard Arjuna dan Naomi mengangguk pelan.


Namun, saat Yuki akan menutup pintu, ia terkejut ketika Jordan tiba-tiba masuk dan duduk di samping Arjuna. Semua orang bingung.


"Kenapa kau ke sini?" tanya Arjuna heran.


"Aku juga dihukum dan kini diungsikan. Menyebalkan," jawabnya kesal.


Arjuna tersenyum tipis. Namun, kepala mereka menoleh bersamaan saat Vesper tiba-tiba berjalan mendekati mobil yang ditumpangi para remaja itu. Yuki mengangguk hormat dan Vesper tersenyum tipis.


"Kalian tinggallah di Mansion Ramos untuk sementara waktu sampai keadaan stabil. Jangan melakukan hal bodoh sampai aku datang atau aku tak segan membuat kalian tidur dengan Lion di kandang," tegas Vesper menunjuk Arjuna, Jordan dan Sia bergantian.


"Lion?" tanya Sia bingung.


"Peliharaan Tuan Kai, seekor singa," jawab Naomi santai.


"What?!" pekik Sia kaget.


"Tak perlu berteriak. Berisik!" pekik Arjuna kesal.


"Kenapa kau membentak Kakakku?" tanya Jordan melotot pada Arjuna.


"Tak usah membelanya. Dia bahkan bukan Kakak kandungmu," balas Arjuna terlihat penuh emosi.


BUAKK!


"Oh God," keluh Vesper langsung tertunduk malas.


Sia panik ketika melihat Arjuna dan Jordan malah berkelahi di bangku mobil. Yuki segera memegangi Jordan dan Naomi memegangi Arjuna.


DUAKK!


"Agh!" rintih Naomi karena wajahnya terkena sikutan tangan kiri Arjuna.


Perkelahian terhenti seketika. Vesper terlihat malas dan memilih pergi. Arjuna terlihat bingung dan merasa bersalah. Naomi memegangi pipinya yang sakit dengan mata terpejam.


"Naomi, sorry," ucapnya lirih.


"Duduk diam!" teriaknya marah dan Arjuna langsung duduk dengan tenang.


Yuki, Jordan dan Sia terheran-heran, tapi mereka juga ikut duduk dengan tenang. Yuki merasa keadaan sudah terkendali.


Gadis berambut pink itu menutup pintu dan melambaikan tangan sambil meringis lebar entah apa maksudnya.


Mobil yang ditumpangi Arjuna, Jordan, Sia dan Naomi melaju meninggalkan Kastil Borka. Suasana terasa canggung.


Sia terlihat iba pada kondisi Naomi, tapi gadis Jepang itu hanya tersenyum sembari memegangi pipinya yang mulai terlihat lebam.


Arjuna berulang kali menoleh ke belakang seperti merasa bersalah dan ingin memastikan jika Naomi baik-baik saja.


Sia menatap gerak-gerik dan raut wajah Arjuna yang menurutnya berbeda ketika ia bicara dengannya.


"Kau menyukainya. Aku bisa melihatnya, Kim Arjuna," ucap Sia dalam hati dengan seringainya.


ILUSTRASI


SOURCE : PINTEREST

__ADS_1


__ADS_2