Secret Mission

Secret Mission
Hapus Ingatan


__ADS_3

Masih gak nemu novel lele yang baru??


Sabar sabar. Nih lele kasih tutorialnya. Dicermati, dipahami dan langsung dipraktekkan. Semangat!



------ back to Story :


Usai acara penobatan, para anggota dewan kembali ke negara masing-masing pada malam harinya usai jamuan dan pembicaraan bisnis.


Han dan Ivan melepaskan kalung pemenggal yang membelenggu Click and Clack. Terlihat, dua orang itu begitu lega karena leher mereka kini aman dari mesin pembunuh itu.


"Kami juga melepaskan gelang pemenggal di kedua tangan kalian. Sayangnya gelang di kedua kaki tak akan dilepas sampai kami berdua yakin jika kalian sungguh mengabdi pada Jonathan," ucap Han tegas dan dua orang itu mengangguk paham tak banyak bicara.


"Lalu ... setelah ini apa?" tanya Arjuna menatap adiknya seksama.


"Nathan akan perintahkan orang-orang berjas itu mencari keberadaan No Face. Tessa ilang tau, Kak. Jangan sedih ya," jawabnya sembari menepuk pundak Arjuna terlihat iba.


"Yah, sedih juga kehilangan salah satu fans fanatik," jawabnya santai.


Jonathan terkekeh berikut semua orang yang mendengar, tapi Naomi terdiam dan memilih untuk pergi tak ikut bergabung bersama para lelaki itu.


"Hem, kalian berdua. Ceritakan padaku tentang Tessa. Aku ingin tahu tentangnya," pinta Han menunjuk Click and Clack tajam dan dua orang itu mengangguk.


"Mau ngapain, Yah?" tanya Arjuna heran dengan botol beer dingin dalam genggaman.


"Urus-urusanmu. Jumlah anggota pasukanmu belum genap 1000 orang. Siap-siap kau didepak dari kursi anggota dewan, Kim Arjuna," jawab Han melirik anaknya sadis dan wajah pucat langsung terlihat di paras tampan Arjuna.


Jonathan terkekeh berikut semua orang yang mendengar. Arjuna langsung mendekati dua bodyguard-nya, Biawak Putih dan Hijau untuk memastikan perekrutan anggota pasukannya yang diberi nama Bala Kurawa.


Rohan mendekati Jonathan dan keduanya terlihat seperti membicarakan hal serius. Jonathan mengangguk paham dan Rohan pamit pulang untuk mempersiapkan hal tersebut.


Akhirnya, Grey House sepi setelah anggota The Circle ditugaskan untuk mencari keberadaan tiga pemimpin No Face yang belum ditemukan, yakni Sierra, Tessa dan Venelope.


Sosok baru Venelope membuat orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads terlihat tegang karena ternyata Click and Clack bahkan tak pernah melihat wujud aslinya.


Gadis itu selalu mengenakan topeng dan berganti-ganti ketika pertemuan diadakan. Hal ini akan menimbulkan kerumitan tersendiri dalam pencariannya.


...***...


Tak terasa, bulan telah berganti. Kandungan Sia memasuki bulan keenam. Hari itu, William siap menjalani proses pembersihan memori dalam otaknya.


Hal itu nantinya akan membuat William lupa segalanya, seperti orang yang terlahir kembali tanpa mengingat satupun kenangan.

__ADS_1


Keputusan bulat William diapresiasi oleh banyak orang meski juga meninggalkan kesedihan yang mengingat sosoknya.


Semua orang tak ingin melewatkan proses penghapusan memori itu. Mereka yang tak bisa datang menyaksikan dari tayangan live yang direkam oleh Q dari Apartemen Theresia di New York.


Amanda dan Sia terlihat gugup, menyaksikan di balik jendela kaca ruang medis saat William sudah didudukkan pada sebuah kursi yang mengikat pergelangan tangan, kaki dan juga lehernya.


"Kau siap, William?" tanya Jeremy sebelum melakukan proses penghapusan.


"Demi mimpiku dan Sia, aku siap," jawabnya mantab.


Jeremy memberikan kode kepada Roza untuk memasangkan masker ke hidung dan mulut William.


Lelaki bermata biru itu memejamkan mata saat Roza memasangkan penutup mata berwarna hitam yang menempel di kedua kelopak matanya.


Tim medis bersiap di sekitarnya untuk mengantisipasi hal terburuk. Jeremy yang sudah mendengar pengakuan dari Afro, Click and Clack akan proses menyakitkan dari cuci otak ala The Circle, diterapkan olehnya meski dengan cara yang lebih manusiawi.


Serum yang hampir serupa ia gunakan dan dibuat menjadi sebuah gas. William menghirup gas itu kuat dan mulai memejamkan matanya.


Jeremy memberikan kode pada tim medis untuk mulai memasangkan alat yang memperangkap kepalanya dengan sebuah besi seperti helm, tapi wajah William tetap terlihat.


Alat itu tersambung dengan sebuah kabel yang akan menyetrumnya sebagai salah satu bentuk penghapusan memori.


Kening William mulai berkerut saat dampak dari serum itu masuk ke tubuh melalui aliran darah.


"Semua organ vital aman, Profesor," ucap petugas medis yang memantau pergerakan dari monitor di hadapannya.


"Oke, jalankan Fase 1," perintah Jeremy mantap.


Jantung semua orang berdebar. Roza menjauh karena ia tak tahu efek dari proses penghapusan memori ini. Seketika, KLIK! JREETT!!


"AARRGGHHH!"


Sia tersentak begitupula semua orang. Masker gas sampai hampir terlepas. Jeremy tak menyangka jika efeknya tetap menyakitkan padahal ia sudah mengantisipasi hal tersebut.


Bahkan muatan listriknya pun tak sebesar yang dilakukan Tessa kala itu. Ia juga tak menggunakan kilatan cahaya untuk membuyarkan mata William.


Seluruh otot William menegang hingga wajahnya merah padam. William terus berteriak lantang saat proses penghapusan memori itu.


Jeremy terlihat tegang dan terus melihat pergerakan dari denyut jantung, paru-paru dan semua organ dalam William yang terpantau dari alat pemindai di bangku yang di dudukinya.


"Denyut jantungnya melonjak, Prof," ucap petugas medis menginformasikan terlihat cemas.


"Suntikkan antiaritmia!" teriaknya lantang.

__ADS_1


Segera, sebuah suntikan muncul dari penahan leher. Otot William menegang saat merasakan jarum menusuk kulitnya, tapi dengan cepat, detak jantungnya kembali normal. Jeremy dan petugas medis bernafas lega.


Namun, perlahan William terlihat lemas. Keringatnya bercucuran dan kepalanya tertunduk. Jeremy terkejut dan langsung mendekati William.


"Tak ada kerusakan dalam organ vital, Prof. Hanya saja, tekanan darahnya menurun begitupula denyut nadinya. William kehilangan kesadaran," jawab petugas menginformasikan.


Jeremy meminta kepada petugas medis untuk segera melepaskan alat yang membelenggu William. Jeremy memegangi wajah lelaki itu yang lemas tak sadarkan diri.


Jeremy memeriksa denyut nadi di leher dan pergelangan William secara manual. Ia cukup yakin jika William baik-baik saja.


"Jeremy, apa yang terjadi?" tanya Amanda yang suaranya terdengar cemas dari speaker yang terhubung dengan ruang medis.


"Dia pingsan. Namun kupastikan, William baik-baik saja. Kami akan terus memantaunya. William akan dipindahkan ke ruang perawatan," jawab Jeremy cepat.


Sia terlihat shock karena suaminya tiba-tiba berteriak lalu tak sadarkan diri. Para petugas medis segera memindahkan tubuh William ke ranjang pasien untuk dilakukan observasi lebih lanjut.


Orang-orang yang melihat tayangan itu ikut dibuat cemas dan panik. Namun, setelah mendengar penuturan Jeremy, mereka sedikit lega dan berharap William baik-baik saja.


Sia segera menuju ke ruang perawatan untuk melihat kondisi suaminya. Ia sangat cemas setelah melihat proses pembersihan memori itu.


Selang infus kembali dipasangkan ke punggung tangan William agar lelaki bermata biru itu tetap mendapatkan nutrisi selama ia tak sadarkan diri.


William dibiarkan bertelanjang dada. Tubuhnya dipasangi detektor agar organ vitalnya tetap terpantau oleh tim medis.


"Prof, apa William akan baik-baik saja?" tanya Sia cemas.


"Kita akan terus pantau perkembangannya, Sia. Kita doakan saja yang terbaik. Aku sudah melakukan sesuai prosedur dan aku yakin, apa yang kami lakukan sudah benar. Seharusnya, William akan baik-baik saja dan saat sadar nanti, ia akan lupa segalanya," jawab Jeremy yakin, tapi entah kenapa malah membuat hati Sia sedih.


Sia mengangguk pelan. Jeremy dan tim medis yang telah selesai melakukan prosedur perawatan selama William tak sadarkan diri mengizinkan Sia menemani sampai nanti suaminya itu sadar.


Sia mendekati suaminya dengan perasaan sedih yang mendalam. Ia tak menyangka jika usaha William untuk mewujudkan mimpinya ternyata membuatnya harus menderita.


"Semoga semua pengorbananmu sepadan, Will. Aku sangat mengharapkan kau segera kembali ke sisiku," ucap Sia sedih.


Sia menenggelamkan wajahnya di dada sang suami yang masih memejamkan mata, terlihat seperti orang sehat yang tertidur lelap.


***


Makasih tips koinnya๐Ÿ˜. Wah SM bentar lagi tamat uyy. Jangan lupa like di eps yang terlewat ya.


Terus segera favoritin 4YMS2 karena novel itu akan jadi ending dari cerita mafia lele khususnya dalam kisah 13 Demon Heads. Tengkiu atas dukungannya selama ini. Besok masih dobel eps๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


__ADS_1


__ADS_2