Secret Mission

Secret Mission
Mulai Meruntut


__ADS_3

Akhirnya, tim dari Jordan tiba di Krasnoyarsk dan telah ditunggu oleh semua orang yang menanti laporan dari mereka.


Sia masih merahasiakan kehamilannya pada semua orang sampai ia merasa waktunya tepat terutama kepada ayah tirinya, Boleslav.


Mereka bicara dalam bahasa Rusia.


Beberapa diantara mereka menggunakan earphone translator buatan Eiji yang menerjemahkan dalam bahasa pilihan pengguna sesuai kemampuan.


"Jadi bagaimana?" tanya Boleslav yang mengajak seluruh tamunya berkumpul di ruang meeting.


"Kak Lysa mengatakan jika markas yang kami kunjungi mengarah ke Belize. Agak sedikit jauh dari bibir pantai, tapi tempat itu menembus ke sebuah rumah yang dijadikan guest house. Banyak ditemukan perlengkapan untuk menyelam. Red Ribbon juga menemukan banyak dokumen yang melibatkan Gold Coorporation dalam usaha legal yang dijalankan oleh pemilik rumah yang disinyalir bernama Tessa Valdiscanosafariva Imelda Flame," jawab Sandara serius.


"Wait, what? Nama itu ... bukannya nama panjang dari Sierra? Apakah mereka ... bersaudari?" sahut Jonathan cepat.


Semua orang tertegun mendengar penjelasan dari Jonathan.


"Benarkah? Nama mereka sama?" tanya Zaid ikut terkejut karena ia juga tak ingat nama panjang Sierra yang sulit itu. Jonathan mengangguk cepat.


Boleslav dan Amanda saling melirik.


"Namun, kenapa Tessa menginginkan William, Dad? Aku membaca berkas dari No Face yang mengatakan jika mereka berambut pirang dan bermata biru. Apakah ... William salah satu anggota mereka? Dia bermata biru meskipun rambutnya cokelat," tanya Sia terlihat panik.


"Belum tentu, Sayang. Ibu sedang mengutus Arthur, Maksim dan Yuri untuk menyelidiki rumah yang dulu ditempati oleh William bersama kedua orang tuanya dulu," jawab Manda menenangkan.


"Ka-kau kenal kedua orang tua William, Mom?" tanya Sia kaget berikut beberapa orang yang tak mengetahui hal tersebut, termasuk ketiga teman CIA William.


Amanda tersenyum manis. Ia akhirnya menceritakan kisah singkatnya saat bertemu dengan Miskha pertama kali.


Manda bercerita jika ia diajak olehnya ke rumahnya di Novosibirsk lalu diperkenalkan dengan isteri dan anaknya, William. Manda bahkan menginap di sana.


Jantung Sia berdebar kencang tak karuan mengetahui kenyataan tersembunyi ini.


"Inikah ... yang dinamakan takdir?" tanya Yena ikut menimpali.


"Mungkin," jawab Manda dengan senyum manisnya.


Sia tertunduk dan terlihat memikirkan sesuatu dengan serius.


"Apakah ... William tahu, Mom?" tanya Sia perlahan menaikkan pandangan sembari memainkan jemari-jari dari kedua tangannya di bawah meja.


Amanda menggeleng pelan. Semua orang yang baru mengetahui hal ini terdiam. Jack, Ara dan Catherine saling memandang tak berkomentar.

__ADS_1


"Lalu kalian bagaimana? Aku tak yakin jika CIA akan menerima kalian lagi," tanya Amanda menoleh ke arah tiga kawan William yang menundukkan wajah.


Praktis, mereka langsung menaikkan pandangan dan terlihat gugup.


"Jujur, aku merindukan orang tuaku. Mereka pasti mencemaskan keadaanku," jawab Catherine lesu.


"Akan lebih baik jika keluargamu mengetahui jika kau hilang, Catherine. Jika kau muncul dan menemui keluargamu, CIA akan mengetahuinya. Mereka pasti mengirimkan mata-matanya untuk mengawasi keluargamu. Kalaupun kau berhasil menemui mereka tanpa sepengetahuan orang CIA, pasti rahasia kalian akan terbongkar juga. CIA pasti memiliki tim khusus yang bisa mengorek informasi dan mengetahui orang tersebut berbohong atau tidak. Jika kau ingin keluargamu selamat, tetaplah menghilang hingga keadaan dinyatakan aman," sahut BinBin memberikan nasehat.


Ara memegang tangan sahabatnya dan mengangguk setuju.


"Bersabarlah. Malah menurutku sebaiknya kita ikut membantu menyelidiki. Jujur, aku masih curiga pada Yes. Bagaimana bisa kita menjadi sandera CIA, tapi saat kita tersadar, kita menjadi tawanan No Face. Apa Yes dan The Circle memiliki hubungan kerjasama dengan wanita bernama Tessa?" tanya Ara yang kini menatap semua orang di kursi ruang meeting.


"Ya. Oleh karena itu, aku mengirimkan Yuki dan Torin untuk menyelidiki keterlibatan Yes dalam hal ini dengan kelompok The Circle," sahut Amanda cepat.


Semua orang mengangguk paham.


"CIA sudah disusupi oleh mafia di luar 13 Demon Heads. Akan sangat berbahaya jika kalian kembali. Sulit untuk mempercayai orang-orang yang bekerja di sana untuk sekarang, melihat kalian sendiri saja menjadi tersangka," sahut Daniel memperkuat dugaan.


Ara, Jack dan Catherine makin tertunduk lesu. Sandara mengangkat tangan kanan meminta waktu untuk bicara. Amanda mengizinkan.


"Lalu laporan dari paman Red dan Martin yang akhirnya menyelidiki hilangnya konvoi Tessa. Ada sebuah jalan rahasia di balik bukit yang menuju ke dermaga di Belize. Sayangnya, aku tak mendapat data apapun dari GIGA mengenai kapal yang berlabuh atau berlayar dengan membawa muatan dengan ciri-ciri seperti konvoi Tessa. Kita kehilangan jejak mereka, Mom," ucap Sandara serius.


Orang-orang kembali terlihat cemas karena keberadaan William makin sulit ditemukan.


Zaid segera mencatat apa yang Jonathan perintahkan dalam ponselnya. Ia lalu mengirimkan kepada tim survei yang beranggotakan Lucy dan Yohanes.


Dua orang itu dengan cepat merespon dan segera terbang ke tempat tersebut untuk melakukan survey sesuai dengan kriteria Jonathan.


"Mm, kalian berdua ini ... sebenarnya siapa?" tanya Yena malu-malu karena belum mengenal sosok dua pria tampan yang terlihat akrab sejak bertemu.


"Nanti kita akan mengobrol banyak. Itu pun jika kau tak keberatan," ucap Zaid tersenyum manis pada Yena dan sepupu Sia tersebut mengangguk malu.


Amanda dan lainnya yang menyadari jika ada gelombang cinta diantara keduanya hanya bisa tersenyum. Boleslav diam saja.


"Dara, minta kepada kak Lysa untuk tetap di Belize sementara waktu menunggu Lucy dan Yohanes," pinta Jonathan dan Sandara segera mengirimkan pesan kepada kakak perempuannya itu. Jonathan berterima kasih.


"Lalu kau!" pekik Jonathan tiba-tiba menunjuk Jack dan lelaki berkacamata tersebut terkejut.


"Apa? Ada apa denganku?" tanya Jack panik.


"Mulai sekarang kau ikut denganku. Aku membayar mahal hanya untuk menemukanmu. Berani kabur, akan kuledakkan rumah ibumu. Jangan mengujiku," tunjuk Jonathan bertampang garang.

__ADS_1


"Kenapa kau bawa-bawa ibuku? Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Jack panik menatap Jonathan tajam.


"Bukan hanya ibumu, tapi ayahmu bahkan pacarmu juga," sahut Jonathan lagi makin mengancam.


"Ta-tapi ... Aku tak punya pacar."


"Hah? Yang benar? Wah ... Sepertinya kita cocok. Kita bisa menjadi Trio Bujang!" sahut Jonathan gembira.


"Hah? Kau ini bicara apa?" tanya Jack yang merasa lelaki bernama Jonathan aneh.


"Oke. Kalian bisa membahas ini nanti. Karena Jonathan takut kau kabur, kalian akan sekamar dan aku tak menerima keluhan. Menolak? Tidur di penjara bawah tanah," tegas Amanda menatap Jack tajam dan lelaki itu mengangguk cepat tak berani membantah.


Jonathan tersenyum lebar sedang yang lainnya menghela nafas pelan. Jack terlihat takut melihat Jonathan menyeringai dengan tatapan penuh maksud.


"Apa dia homo? Aku takut," tanya Jack berbisik pada Ara dan Catherine, tapi dua wanita cantik itu menggeleng tidak tahu.


Hutan Guatemala, Menara Makam Lucifer Flame.


Red dan Martin melanjutkan penelusuran di menara tersebut. Namun, seperti pengakuan Yena dan Sandara jika menara tersebut kosong.


Terdapat ruangan luas dan hanya meninggalkan penjara dengan sebuah ranjang besi, kasur usang, closet jongkok yang sudah tak berfungsi, serta rantai seperti media untuk menyiksa Lucifer Flame.


Serta beberapa perlengkapan medis yang sudah kotor tertutup debu, jaring laba-laba dan beberapa botol serum tanpa sisa cairan di dalamnya sehingga tak bisa diselidiki kandungannya.


Martin dan Red diminta kembali ke Rusia oleh Boleslav. Mereka berdua pun menurut. Namun, markas yang ditemukan tetap dijaga oleh anggota The Shadow baik Menara ataupun Bunker.


Red dan Martin pamit kepada Lysa serta Red Ribbon karena harus kembali ke Rusia. Lysa memaklumi dan membiarkan para seniornya pulang.


Lysa memilih untuk tinggal di Guest House yang disinyalir milik Tessa. Ia merasa jika tempat itu masih menyimpan rahasia yang belum terungkap.


Namun, karena Lysa kelelahan karena terus melakukan penyelidikan, ia tertidur lelap di salah satu kamar dengan penjagaan ketat Red Ribbon di sekitar rumah.


Keesokan harinya.


"Mbak ... Mbak Lysa, ati-ati bangunnya dan jangan teriak ya," ucap Sumanto lirih sembari menyenggol lengan majikannya yang masih enggan membuka mata.


"Hem, ada apa?" tanya Lysa mulai membuka mata dan bangun perlahan, tapi ia merasakan jika lengannya kirinya seperti tertindih.


Kening Lysa berkerut karena ia merasakan seperti ada rambut yang menyentuh lengannya. Lysa membuka matanya semakin lebar dan menoleh.


"Ya Allah! King D!" pekik Lysa terkejut sampai matanya melotot lebar.

__ADS_1


Sumanto dan anggota Red Ribbon yang berada di ruangan tersebut tersenyum lebar, menunjukkan gigi kuning mereka ikut merasakan bahagia.


__ADS_2