
William merasakan ada beberapa orang sedang berbicara di tempatnya berada. Agent muda itu membuka matanya perlahan. Ia merasa jika pandangannya kabur dan kakinya terasa ngilu.
Matanya memindai sekitar dan akhirnya ia menyadari jika berada di Rumah Sakit karena beberapa alat medis terpasang di sebagian tubuhnya.
William mencoba menggerakkan kakinya, tapi terasa terhimpit. Ia teringat jika kakinya terluka saat itu. Ia berspekulasi jika kakinya di gips karena mengalami patah tulang.
William mencoba untuk tetap tenang sembari mengingat hal terakhir hingga ia berakhir di tempat itu.
Ia tak menghiraukan siapa saja orang-orang yang ada di ruangannya, ia fokus pada ingatannya.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Agent Will. Welcome back," sapa Yes mendatangi William diikuti beberapa orang di belakangnya.
William yang tadinya memejamkan mata, membukanya perlahan saat mengenali suara itu. Tiba-tiba, amarah menyelimuti hatinya saat ia teringat akan kejadian di kediaman Denzel.
William melirik dan mendapati Yes, Shamus, Ace dan beberapa orang di sana termasuk Catherine, Jack, Ara dan Rika.
William diam saja tak menjawab sapaan Yes dan memasang wajah dingin. Senyum semua orang sirna. Mereka merasakan jika lelaki bermata biru itu berubah dalam bersikap.
"Kerjamu bagus. Para petinggi bahkan Menteri memberikan pujian padamu. Cepatlah sembuh karena misi selanjutnya menunggumu," ucap Yes dengan senyum merekah.
"Oh, begitukah?" tanya William sambil mengangguk-anggukkan kepala.
Semua orang menyipitkan mata melihat William berwajah tengil.
"Kau mendapatkan promosi dari Direktur, William. Kau berhasil memimpin misi, membunuh Denzel dan Rahul," ucap Yes tetap tenang.
"Apa mata Direktur buta? Apa dia sungguh melihat yang kulakukan? Aku bahkan tak menyentuh Denzel sedikitpun. Keberadaan Rahul saja tak ku ketahui. Apakah kalian kurang orang untuk dijadikan maskot hingga menggunakan aku?"
"William! Jaga bicaramu! Beginikah caramu berterima kasih?" bentak Yes dengan mata melotot.
"Oh, yes. Thank you, Sir. Terima kasih semuanya. Terutama kau, Ace. Terima kasih sudah menembak isteriku meski ia tak mati. Sepertinya kemampuan menembakmu mulai diragukan. Kau harusnya menembak kepalanya agar Sia sungguh mati tak bangun lagi," ucap William dengan wajah bengis hingga rahangnya mengeras.
Ace diam tertunduk. Semua orang saling memandang, terlihat jika sikap William sungguh berbeda.
"Aku tahu kau marah. Kau pasti kecewa dengan keputusan kami dengan memanfaatkan Sia," jawab Yes tenang.
"Kami? Aku hanya mendengar suaramu saja saat itu, Yes. Kau yang memerintahkan Ace untuk menembak Sia! Kau mengatasnamakan 'kami' agar tak disalahkan olehku? Wah, sepertinya aku setuju dengan ucapan Denzel sebelum ia mati. Kau bukan seorang lelaki yang bisa dipegang janjinya, Yes. Kau sama saja denganku. Hanya memikirkan misi. Kau berbohong padaku. Kau bilang tak akan menyakiti Sia, tapi kau berencana membunuhnya," ucap William mulai menaikkan intonasinya hingga dadanya naik turun menahan marah.
"William," panggil Rika mencoba mendekatinya.
William langsung menunjuk Ibu angkatnya itu meski wajahnya tertunduk. Ia meminta Rika tetap berada di tempatnya. Rika menghentikan langkah terlihat sedih.
"Kalian tak lihat aku sedang sakit dan butuh istirahat? Jika kalian datang kemari hanya untuk memperparah penyakitku, pergilah. Aku tak mau dijenguk oleh siapapun. Aku akan datang ke CIA begitu pulih. Terima kasih atas cutinya, Yes," ucap William yang kembali memejamkan mata dan terlihat tak mau diganggu.
Semua orang saling melirik. Mereka meninggalkan kamar perawatan William dengan sedih karena Agent muda itu terlihat membenci kehadiran mereka.
Yes menatap William seksama yang berbaring di ranjang, memalingkan wajah dengan mata terpejam seperti enggan untuk bertemu dengan kawan-kawannya.
__ADS_1
Shamus dan Ace ikut keluar mengikuti Yes di belakang. William membuka matanya perlahan dan meraba kalung pemenggal yang masih terpasang di lehernya dengan wajah datar entah apa yang dipikirkannya.
Di luar kamar perawatan William.
"Awasi ketat pergerakan William. Jangan sampai ketahuan jika kita mengawasinya," tegas Yes menunjuk orang-orang CIA yang bertugas dengan menyamar sebagai perawat dan dokter.
Mereka pun mengangguk paham. Yes dan orang-orangnya kembali ke CIA, tapi Rika memutuskan untuk kembali ke Apartement William dan Yes mengizinkan.
Namun, diam-diam. Yes meminta anak buahnya untuk memata-matai pergerakan Rika selama pensiunan tersebut menikmati hari tuanya. Bagaimanapun, William dan Rika memiliki hubungan Ibu-anak.
Di kantor CIA, Langley, Virginia, Amerika.
Yes terkejut saat bertemu dengan Cecil di koridor menuju ke kantor Jack. Yes yang berjalan bersama Shamus, Jack dan Ace menghentikan langkah saat berpapasan dengan Agent senior pensiunan itu.
"Apa yang kau lakukan, Cecil? Memberikan laporan?" tanya Yes dengan kedua tangan di dalam saku celananya.
Kening Cecil berkerut. "Laporan apa?" tanyanya curiga.
Yes diam sejenak terlihat gugup. Cecil masih menatapnya tajam berikut Jack, Shamus dan Ace yang ikut berkerut kening.
"Entahlah. Mungkin kau ingin memberikan informasi padaku tentang William?" tanya Yes kikuk.
"Kau sudah mendapatkan semua berkas tentang William dan agent lainnya ketika kau menjabat, Yes," jawab Cecil tajam.
Yes mengangguk dengan senyum paksa.
"Aku punya rumah sendiri. Terima kasih sudah mengabarkan," jawab Cecil dengan wajah datar menatap Yes tajam tanpa berkedip.
"Well. Aku pergi dulu. Kami masih ada urusan dengan teknologi 13 Demon Heads. Hati-hati, Agent Cecil," ucap Yes pamit mohon diri dan meninggalkan Cecil yang masih berdiri menatap kepergiannya.
Di ruangan Jack, tempat mobil Mustang William di tempatkan untuk dibongkar dan dipelajari lebih lanjut.
"Oke. Kita mulai. Apa kamera sudah terhubung?" tanya Yes kepada anak buahnya yang merekam pembongkaran mobil Mustang William dengan Jack sebagai pemimpin tim.
Anak buah Yes memberikan kode pada bosnya. Jack dan lainnya berdiri dengan baju mekanik bersama tim-nya mengitari mobil Mustang William.
"Selamat siang, Pak Direktur," sapa Yes sopan di mana Direktur CIA menyaksikan siaran live di kantornya.
Direktur CIA mengangguk dan mempersilakan Yes dan tim Jack untuk memulai pembongkaran. Jack terlihat gugup saat memperkenalkan diri.
"Hallo. Hai. Good afternoon. Mm, baiklah. Ini adalah mobil Mustang yang diyakini adalah salah satu kendaraan tempur sipil modifikasi buatan 13 Demon Heads. Dari luar tampak mobil ini biasa saja. Sebuah kamuflase yang sempurna. Namun, kita lihat sendiri bagaimana aksinya saat ia menyerang anak buah Danzel," ucap Jack gugup saat melakukan presentasi.
Yes dan lainnya mengangguk setuju. Jack lalu meminta kepada salah satu montir untuk membuka pintu mobil.
Lelaki itu mengangguk dan mendatangi mobil Mustang hitam tersebut.
KLEK!
BLUARRRR!!
__ADS_1
TRINGGGG!!
Jack dan semua orang terkejut ketika mobil Mustang itu tiba-tiba meledak hebat saat pintu kemudi dibuka.
Alarm kebakaran pun langsung berbunyi nyaring. Semprotan air pemadam kebakaran segera menyembur dari atap ruangan, membasahi semua benda di bawahnya.
Yes dan lainnya terpental karena gelombang ledakan dahsyat hingga tersungkur di lantai dengan luka-luka di beberapa bagian tubuh.
Direktur CIA dan para petinggi yang ikut melihat ledakan tersebut dibuat terkejut sampai ikut tiarap padahal mereka tak ada di lokasi kejadian.
Jack terlempar hingga tubuhnya menghantam perlengkapan yang sudah di susun rapi dalam rak bertingkat.
Ruangan itu kini porak-poranda terkena lontaran puing dari mobil Mustang yang meledak hebat dengan kobaran api besar dan membuat semua orang menggelepar di lantai merintih kesakitan.
Petugas medis dan keamanan segera datang ke ruangan tersebut. Semua orang yang terluka segera diamankan dan di evakuasi.
Yes berdiri perlahan dengan luka di wajahnya terkena serpihan ledakan mobil. Tubuh semua orang basah terguyur air.
Yes memegangi kepalanya yang terasa pusing dan telinga berdengung kencang.
Ia melihat di layar monitor besar saat Direktur CIA seperti bicara sesuatu padanya, tapi ia tak bisa mendengarnya.
Hingga akhirnya, Catherine dan Ara masuk ke ruangan. Mereka terkejut melihat orang-orang terluka.
Segera, keduanya mendatangi Jack dan membantunya keluar dari rak yang menimpa tubuhnya.
"Apa yang terjadi?" tanya Ara bingung melihat orang-orang diselamatkan untuk dievakuasi.
"Entahlah, mobil itu tiba-tiba meledak," jawab Jack yang mulai sadar meski ia merasakan sakit di kepala dan telinganya.
Ara dan Catherine shock melihat salah satu petugas tewas terbakar dengan luka mengerikan di sekujur tubuhnya.
Jack memejamkan mata melihat montir yang membuka pintu kemudi tewas mengenaskan.
"Mungkinkah mobil itu disabotase tanpa sepengetahuan kalian?" tanya Catherine yang ikut basah karena ruangan itu mulai tergenang air dari semprotan pemadam kebakaran.
Jack diam sejenak hingga ia menyadari sesuatu. Ara dan Catherine menatap Jack seksama.
"Cecil?" ucapnya menebak.
Yes mendengar apa yang diucapkan oleh Jack. Terlihat Yes marah besar, kedua tangannya mengepal.
"Tangkap Cecil hidup-hidup! Temukan dia!" pekik Yes memberikan perintah kepada anak buahnya yang selamat dari ledakan.
Yes mendatangi Jack, Ara dan Catherine dengan nafas menderu. Ketiganya terlihat ketakutan saat Yes menunjuk dengan mata melotot.
"Kalian ikut bertanggungjawab dalam hal ini," ucapnya bengis. Jack dan lainnya tertegun.
"Amankan mereka! Jangan sampai kabur dan jangan biarkan siapapun menemui mereka!" perintah Yes lagi yang praktis, mengejutkan Ara, Jack dan Catherine karena mereka dilibatkan dalam hal yang tak diketahui.
__ADS_1