Secret Mission

Secret Mission
New Delhi, India*


__ADS_3

Akhirnya, pagi pun tiba. William sudah bersiap pergi ke apartement Theresia untuk menjemput Rahul, bos barunya.


Mafia asal India anak dari Raja Khrisna. Salah satu anggota 13 Demon Heads.


William menunggu di basement depan mobil Mustang sembari memakan sebuah donat dan segelas kopi dengan santai.


Ia sudah mengirim pesan pada Rahul jika ia menunggunya di parkiran bawah apartement itu.


Tak lama, Rahul pun datang. William segera bergegas menghabiskan sarapannya dimana Rahul berjalan sembari bertolak pinggang melihat William dengan seksama yang kini berdiri di depannya.


"Aku sudah siapkan passport untukmu dan segala berkas-berkasnya. Kau kini resmi jadi bodyguard-ku. Berterima kasihlah karena aku masih mau menampungmu setelah Axton mencampakkanmu, William," ucap Rahul sembari memakai kacamata hitamnya.


"Yes, Boss. Thank you," ucap William ramah sembari memegang gelas kopi dalam genggaman tangan kanannya.


"Kita akan ke India hari ini juga. Pergi ke bandara," ucap Rahul sembari melemparkan kunci mobil kepada William dan dengan sigap, William menangkap kunci mobil itu dengan satu tangan lainnya.


Rahul melihat respon cepat dari William. Ia merasa, jika William akan menjadi bodyguard yang bisa diandalkan.


William segera masuk ke dalam dan duduk di kursi kemudi sembari meletakkan gelas kopinya di tempat dekat persneling.


"Ini mobilku. Singkirkan kopimu. Aku ingin mobilku selalu bersih. Kau paham, William?" ucap Rahul menegaskan kepemilikannya.


William mengangguk dimana ia menyadari jika mobil Mustang ini sudah bukan miliknya lagi.


William mengambil kembali gelas kopinya dan membuangnya ke tempat sampah.


Saat William kembali masuk ke mobil, ia terkejut melihat Rahul membuka dashboard mobil dan menemukan sekardus pulpen pemberian Jack yang ia gunakan sebagai perekam suara. William panik seketika.


"Kenapa kau memiliki banyak sekali pena, tapi tak ada kertas di sini?" tanya Rahul heran sembari menatap pulpen itu seksama.


William diam sejenak memikirkan alibinya.


"Itu karena aku kehabisan kertas, Tuan. Aku berencana untuk membelinya nanti, jika kau tak keberatan kita mampir ke mini market sebelum ke bandara," ucap William terlihat semeyakinkan mungkin.


"Hem, aku punya banyak kertas di pesawat. Tak perlu mampir, jadwal kita padat. Aku harus segera kembali ke India, kakakku sudah berisik sekali ingin mendengar laporanku. Menyebalkan," ucap Rahul melemparkan pulpen William kembali ke dasboard dan segera menutupnya dengan kesal.


William lega karena Rahul tak menucurigai pulpen itu. Ia pun duduk di kursi kemudi dengan tenang dan segera menyalakan mesin mobilnya.


Ia jadi semakin penasaran akan sosok Rahul berikut seluruh mafia dalam jajarannya.


"Di India, tepatnya Anda tinggal dimana, Tuan?" tanya William sopan sembari melaju mobilnya dengan kecepatan sedang.


"New Delhi. Aku tinggal bersama kakak laki-lakiku. Ia bernama Jamal. Banyak yang bilang aku dan ayah mirip hanya saja dia sudah tua dan beruban. Ayahku berencana memberikan tahtanya kepada kakakku. Mm, sebenarnya kau akan bekerja pada kakakku, Jamal. Ia butuh bodyguard dan diutamakan orang Amerika. Ini rahasia kita berdua saja ya karena aku merasa kita ini cocok," ucap Rahul tiba-tiba berbisik.


William mengangguk dalam diamnya dan mendengarkan dengan serius.


"Jamal berencana untuk menguasai Amerika. Ia ingin menyingkirkan Axton. Semua mafia sebenarnya ingin menggulingkan kekuasaan Axton karena ia dinilai tak bisa mempertahankan wilayahnya. Kekuasaan Axton semakin menyusut dari tahun ke tahun karena kebiasaan buruknya," ucap Rahul serius.


"Kebiasaan buruk?" tanya William dimana ia jadi sering menoleh ke arah Rahul karena penasaran dengan ceritanya.


"Yah. Kebiasaannya main perempuan. Ia tak menikah dan tak memiliki keturunan. Ia selama ini masih bisa bertahan karena Antony Boleslav melindungi dan mendukungnya, begitupula Vesper. Namun, Boleslav juga sebentar lagi akan lengser. Ia sudah tua dan sakit-sakitan, tapi ku dengar saat pertemuan dewan kemarin jika ia akan digantikan oleh anak perempuannya. Sia, nah ya itu dia namanya," ucap Rahul cerita panjang lebar dengan santai.


Sontak jantung William berdebar kencang tak karuan tiap nama Sia disebut. Ia berusaha menutupi rasa ingin tahunya agar tak dicurigai seperti saat di mansion Arjuna.

__ADS_1


"Sia? Seorang wanita? Oh, pasti dia jelek dan sudah memiliki anak," ucap William spontan.


"Ah, jangan salah. Dia sangat cantik, masih muda, bahkan ku dengar ia sendiri yang membunuh keluarga dari mantan suami ibunya dulu. Ia kejam meski tak terlihat dari wajahnya. Wanita cantik beringas seperti itu benar-benar membuatku terangsang," ucap Rahul dengan wajah mesumnya.


Sontak William melotot tajam pada Rahul. Ingin rasanya ia mencekiknya dan melemparkannya dari mobil.


Nafas William menderu dan berusaha sekuat tenaga menahan emosinya.


Cengkraman kedua tangan di kemudinya itupun menjadi pelampiasan emosi yang sedang ia rasakan saat ini.


Sedang Rahul terlihat asik berimajinasi dalam pikiran liarnya membayangkan sosok Sia.


"Tenang, William ... kau harus bersabar, ini hanya permulaan, tenang ...." ucap William pada dirinya sendiri dalam hati.


"Jadi, apakah si Sia itu bisa ditemui?" tanya William menahan emosi dengan pandangan lurus ke depan.


"Entahlah. Mungkin saat pelantikan anggota dewan yang baru. Namun, aku kurang yakin jika ia bisa duduk menggantikan kursi ayahnya. Meski dari segi kekayaan, dia lebih unggul ketimbang kakakku, tapi catatan kejahatannya kurang "menggigit". Aku yakin dia takkan lolos," ucap Rahul yakin sambil mengangguk-anggukan kepala.


William menganggukkan kepala. Tanpa sadar, mereka sudah tiba di bandara. Pesawat pribadi yang akan membawa Rahul dan rombongan sudah siap untuk lepas landas.


Dengan berat hati, William meninggalkan Amerika menuju ke India. Dimana ia kini akan menjadi salah satu bodyguard mafia dari jajaran 13 Demon Heads.


Dua wanita India sudah duduk mengapit Rahul yang kini ada dalam pelukannya.


William diam saja mencoba untuk tak tertarik. Ia tak ingin sifat playboy-nya muncul kembali dimana ia sudah memantabkan hatinya untuk Sia seorang.


"Will, kenapa kau kaku begitu? Kemarilah, kau boleh bersama salah satu wanitaku," ucap Rahul menawarkan salah satu wanitanya.


William tertegun seketika.


William gugup, tapi tak bisa berkutik. Ia menolak dengan halus, tapi Nandra malah duduk di pangkuannya dan tersenyum manja padanya.


William berusaha mengatur nafasnya dan mencoba terlihat santai.


"Nandra, kau cantik. Hanya saja, maaf ... bisakah kau duduk sendiri? Kau berat," ucap William frontal yang seketika mengejutkan semua orang.


Nandra yang merasa dihina William itupun dengan sigap, PLAKK!!


"Ugh, hahahahahaha!" tawa Rahul meledak, begitupula semua orang di sana.


Sedang William yang sudah siap menerima tamparan itu hanya mengelus pipinya sambil meringis.


Nandra yang kesal itupun segera pergi meninggalkan William dan kembali ke pelukan Rahul.


William seperti muka tembok tak merasa bersalah dengan ucapannya barusan, cuek saja saat meneguk vodka di meja depannya.


Rahul merasa jika William ini sedikit unik dan iapun makin penasaran akan bodyguard barunya.


Akhirnya, perjalanan dari Amerika ke New Delhi, India berakhir. Penerbangan hampir 20 jam itu cukup melelahkan bagi William.



Pagi itu, ia tiba di New Delhi. Mobil Mustang yang dibeli oleh Rahul ditinggal di bandara.

__ADS_1


Untung saja, William sempat mengamankan segala jenis peralatan mata-matanya sebelum meninggalkan Amerika.


Mereka dijemput oleh konvoi mobil SUV hitam menuju ke sebuah mansion yang berada di dekat bukit.


Suasana baru yang ia rasakan saat di negara itu membuat rasa bosannya hilang seketika.


Budaya, adat, orang-orang bahkan makanannya membuat William cukup terhibur hari itu selama perjalanan di mobil menuju mansion dimana mereka melewati banyak keramaian.



William terlihat kagum akan mansion yang menurutnya sangat indah itu. Mereka turun dan disambut oleh banyak bodyguard di sana.


Dua wanita Rahul tetap berada di samping kanan kirinya mendampinginya memasuki mansion itu. William berjalan mengikuti di belakang Rahul mengamati sekitar.



"Penjaga di setiap sudut mansion. CCTV di tiap sudut ruangan. Cukup ketat, mansion ini sangat luas. Kolam renang dan ciri khas, patung gajah. Oh, dia pemeluk Hindu. Itu patung Dewa Siwa. Wajar saja," ucap William dalam hati dan mencoba terlihat senormal mungkin agar tak menarik perhatian.



Hingga akhirnya, Rahul meminta kepada dua wanitanya untuk pergi darinya karena ia akan menemui kakaknya.


William diajak olehnya untuk bertemu dengan kakaknya, Jamal. William mengangguk dan jantungnya berdebar kencang.


William masuk ke sebuah ruangan dengan gugup. Ia melihat sosok lelaki yang sedang duduk di kursi kerja dijaga dua bodyguard di kanan kirinya yang berdiri dengan pistol siaga dalam dekapan salah satu tangannya di depan kejantanan mereka.


William merasakan aura tegang ditambah, tiba-tiba pandangannya teralih pada seekor harimau yang duduk di atas sebuah karpet sedang menjilati kaki depannya. William pucat seketika.


"Rajesh, pindai dia," ucap Jamal sembari menandatangani sebuah dokumen yang disodorkan oleh sekretaris wanitanya yang kini berdiri di sampingnya menatap William tajam.


"Dia bersih, Kakak. Aku sudah mengeceknya," ucap Rahul menegaskan.


Namun, lelaki yang bernama Rajesh yang berbadan kekar itu tetap mendekati William.


Ia tiba-tiba mengeluarkan sebuah alat berbentuk seperti tongkat dengan papan scanner di depannya dan lampu berwarna biru yang dihadapkan ke tubuh William.


William mengangkat kedua tangannya dimana ia yakin jika ia bersih. Namun, tiba-tiba ....


"Dia memakai penyadap di punggungnya, Tuan Jamal," ucap Rajesh lantang dan sontak mengejutkan semua orang.


"Tangkap dia!" pekik Jamal melotot tiba-tiba menunjuk William.


William kaget setengah mati saat dua buah pistol ditodongkan ke arahnya oleh dua bodyguard yang berdiri di belakang Jamal.


Rajesh segera memegangi kedua pergelangan tangan William kuat di belakang tubuhnya.


Saat William mencoba memberontak, harimau yang tadi sedang duduk itu mendekatinya sembari mengeram dan menunjukkan taringnya.


William menelan ludah. Ia menatap karnivora itu seksama dimana ia tak pernah berhadapan dengan hewas buas sebelumnya.


-------


ILUSTRASI

__ADS_1


SOURCE : GOOGLE & PINTEREST


__ADS_2