
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Akhirnya, tim Red tiba di lokasi yang dituju. Perjalanan dengan berjalan kaki selama hampir 2 jam itu tentu saja membuat orang-orangnya lelah.
Langit sudah mulai sedikit terang di mana matahari terbit di Guatemala sekitar pukul 5.30. Red mulai mempersiapkan anggota tim-nya untuk berpencar.
Tim yang terdiri dari 9 orang itupun terbagi menjadi dua dan tiga anggota.
Jordan bersama Mix and Match mengambil sisi sebelah timur dari kawasan pemukiman yang kini hanya tersisa bekas reruntuhan bangunan.
Sia dan Yuki bergerak ke sisi barat di mana kawasan itu tak begitu luas. Zaid dan Torin berjalan mengendap di balik semak ke sisi utara. Sedang Red dan Arthur tetap berada di sisi selatan saat mereka datang.
"Apa kalian melihat pergerakan?" tanya Red berbisik dari panggilan radio berfrekuensi khusus.
"Negatif, Sir," jawab semua orang yang memakai earphone di telinga kanan dan telinga kiri sebagai earphone penerjemah.
Red ikut meneropong dan melihat sekitar. Ia melihat jam tangan di mana sebentar lagi matahari akan segera terbit.
"Jonathan, BinBin, apa kalian baik-baik saja?" tanya Red masih dalam posisi berjongkok mengawasi dari kejauhan.
"Hoam, hem, begitulah, Paman," jawab Jonathan seperti baru bangun tidur.
"Ish, dia ini. Malah tidur bukannya siaga. Benar-benar menyepelekan," gusar Torin yang ikut mendengar.
Semua orang yang sudah paham watak Jonathan hanya bisa menghela nafas.
"Paman BinBin, apa kau melihat gambar dari kamera kami?" tanya Red masih dengan teropong menempel di matanya.
"Yes, Red. Benar itu lokasinya. Namun, coba minta tim Yuki dan Sia bergerak lebih jauh ke barat. Ada sebuah bangunan seperti menara tanpa atap. Pergilah ke sana dan hati-hatilah," ucap BinBin dari layar tablet yang terpasang pada sandaran kursi bagian belakang dudukan berjumlah 9 unit.
Sia dan Yuki yang mendengar segera bergerak atas izin dari Red. Sia mengikuti Yuki di belakangnya.
Mereka berjalan mengendap, tetap merunduk dan berusaha agar tak berisik karena banyak daun kering serta ranting bertebaran di sekitar mereka.
__ADS_1
Hingga akhirnya, Yuki menemukan tempat tersebut seperti ucapan BinBin. Yuki meminta Sia untuk menjaga jarak dengan bangunan itu. Mereka kembali berjongkok dan meneropong dari kejauhan.
"Kami menemukannya. Apa kau melihatnya, Paman BinBin?" tanya Sia lirih.
"Nah, iya bangunan itu. Aku dan tim belum sempat memeriksa tempat itu karena tiba-tiba kami di sergap. Hati-hati, coba kalian selidiki tempat apa itu, tapi pastikan jika sekitar aman dan gunakan teropong sensor panas," ucap BinBin memberikan komando jarak jauh.
Sia segera mengeluarkan teropong khususnya. Yuki menyiagakan pistol di tangan kanan dan pedang Silent Gold di tangan kiri tanpa ia nyalakan lasernya.
"Tak ada tanda kehidupan, Paman. Tempat ini benar-benar sepi dan ditinggalkan," jawab Sia dari hasil pantauan teropong sensor panas memindai sekitar.
"Oke, kalian bergeraklah perlahan. Hati-hati," perintah Red pelan.
Sia dan Yuki mengangguk paham. Sia kembali memasukkan teropong besarnya ke dalam tas lalu menyiagakan kembali pistol dalam genggaman tangan kanannya.
Saat Sia dan Yuki akan keluar dari semak, tiba-tiba ....
"Tahan, Sia!" ucap Yuki langsung merentangkan tangan kanan menghadang pergerakan Sia yang akan melangkah lebih dulu darinya.
Sia dan Yuki kembali berjongkok. Mereka lalu tiarap di atas tanah karena melihat beberapa sepeda memasuki wilayah itu.
BinBin yang melihat dari tampilan monitor melebarkan matanya seketika termasuk Jonathan karena ikut terkejut akan kedatangan orang-orang itu.
"Jangan melakukan gerakan tiba-tiba. Tetap awasi dan pantau," ucap Red berbisik dan dua perempuan cantik itu terlihat bersiaga dari tempat persembunyiannya.
Terlihat, sekitar 10 sepeda berhenti di bangunan seperti menara tersebut.
Orang-orang itu memakai topeng aneh seperti burung yang menutup wajah mereka. Seluruh tubuh mereka tertutup bahkan memakai sarung tangan.
Sia dan Yuki saling berpandangan terlihat gugup. Mereka berdua terus mengamati tanpa teropong karena takut silau dari pantulan matahari malah membuat mereka ketahuan nantinya.
Sepuluh orang itu berjaga di sekitar menara. Salah seorang diantara mereka mengeluarkan sebuah alat seperti sebuah remote. Mata Sia dan Yuki menajam menatap benda hitam tersebut.
Seketika, OAKK! OAKKK!
Suara seperti burung gagak terdengar nyaring dari alat tersebut. Sia dan Yuki sampai terkejut. Beruntung mereka tak mengeluarkan suara yang menimbulkan posisi persembunyian mereka ketahuan.
Saat suasana yang tadinya sepi kini terasa begitu mendebarkan, tiba-tiba muncul seorang wanita dari balik pintu yang tertutup besi dari menara tersebut.
__ADS_1
Praktis, mata Sia melotot dengan mulut menganga lebar. Yuki menyadari perubahan ekspresi dari wajah Sia yang kaget setengah mati seperti mengenali sosok itu.
Wanita itu menoleh ke kanan dan ke kiri lalu memakai masker penutup wajah yang sama seperti orang-orang yang menjemputnya.
Di belakang wanita itu juga muncul beberapa orang yang sudah memakai pakaian sama serba hitam seperti para pengendara sepeda.
Sia seperti ingin berteriak memanggilnya, tapi ia tahan karena takut ketahuan dan membuat kawan-kawan satu timnya terkena dampak dari kecerobohannya.
Sia membiarkan orang-orang itu pergi. Yuki dengan sigap menghubungi Red. Kumpulan orang-orang yang menggunakan sepeda itu bergerak ke sisi timur beriringan dengan rapi.
"Red," panggil Yuki lirih.
"Aku tahu. Jordan, Mix and Match, ikuti konvoi mereka. Hati-hati, jangan sampai ketahuan dan jangan sampai kehilangan jejak. Gunakan mobil pengintai," ucap Red memberikan perintah.
"Yes, Sir," jawab Mix cepat.
Segera, Match mengeluarkan mobil yang dimaksud. Mobil itu akan dikendalikan oleh Match untuk mengikuti pergerakan konvoi sepeda tepat di belakang mereka.
Sedang Jordan dan Mix akan mengikuti dari sisi kiri dan kanan dengan menjaga jarak dari konvoi sepeda agar posisi mereka tidak ketahuan.
"BinBin, bantu aku mengawasi pergerakan Jordan, Mix and Match. Ikuti mereka, biarkan Jonathan tetap di lokasi," perintah Red cepat.
Segera, sopir dari anggota The Shadow menyalakan mesin mobil dan melaju mobilnya untuk ikut membuntuti.
Jonathan dan salah satu sopir The Shadow saling berpandangan. Mereka terlihat tegang.
Ditambah, apa yang dilihat Sia tak terekam pada kamera pengintai di bahunya sehingga mereka tak bisa melihat dari layar tablet.
"Kak Sia? Kau mendengarku?" tanya Jonathan yang kini sudah bangun sepenuhnya karena matahari mulai terbit.
"Yes. Oh, aku tak percaya dengan apa yang kulihat. Bukankah ... ia menjadi tahanan CIA? Kenapa bisa berada di sini?" tanya Sia heran dengan kening berkerut.
"Siapa dia, Sia?" tanya Yuki penasaran.
"Selena. Setahuku, Selena, Yena dan paman Konstantin menjadi salah satu tahanan CIA saat kasus sekitar 2 tahun silam. Kenapa Selena bisa bebas? Lalu, paman dan Yena di mana?" tanya Sia terlihat bingung memegangi kepalanya.
__ADS_1
Red dan semua orang yang mendengar ikut bingung menyikapi hal ini. Red yang merasa keadaan sudah aman, meminta anggota tim yang tersisa untuk berkumpul di tempat Sia dan Yuki berada.