Secret Mission

Secret Mission
My Partner


__ADS_3

Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.


"Mah, Juna gak mau terlibat lagi dengan gadis Sial itu! Kenapa kau selalu memaksa dan menyeretku? Jika kau terus saja memintaku untuk membantu keluarga Boleslav, sebaiknya ... jangan pernah menghubungiku lagi. Aku tak suka dikekang!" bentak Arjuna ketus terlihat begitu membenci permintaan dari ibunya.


Seketika, suasana hening. Arjuna diam sejenak dan kembali melihat layar ponselnya. Panggilannya masih terhubung, tapi tak ada lagi suara Vesper di sana.


Tiba-tiba, "Nona Lily! Nona! Kau tidak apa-apa? Jeremy!" terdengar suara Kai berteriak dari ponsel Vesper.


Mata Arjuna terbelalak. Ia terkejut mendengar suara orang-orang panik seperti terjadi hal buruk pada ibunya.


"Ma-mamah?" panggil Arjuna lirih, tapi tak ada jawaban.


Tiba-tiba, "Juna! Apa yang kau katakan pada Nona Lily hingga dia pingsan?!" tanya Kai membentaknya.


"A-aku ... aku belum selesai bicara. Jika mama sadar, katakan ... a-aku akan membantu keluarga Boleslav, tapi ini yang terakhir kali. Da-dan jangan libatkan aku lagi. Pa-papa Kai, apa mama baik-baik saja?" tanya Arjuna gugup.


"Hehehe. Terima kasih Juna sayang. Kau memang selalu bisa diandalkan. Mama menyayangimu."


KLEK! TUT ... TUT ... TUT.


"Arghhh! Mama!"


BYURR!!


"Tuan Muda, kau tak apa?" tanya Naomi panik saat melihat Arjuna melemparkan ponselnya ke kolam renang.


Arjuna mengumpat berulang kali. Mondar-mandir di pinggir kolam renang karena dibodohi oleh ibunya karena menolak misi darinya.


Naomi tersenyum tipis di kejauhan. Arjuna yang sedang marah tak menyadari kedatangan sekretarisnya itu.


"Ia sepertinya baik-baik saja," guman Naomi lirih dan pada akhirnya pergi meninggalkan Tuan Mudanya sendirian yang masih kesal karena sikap ibunya, Vesper.


***


Sia dan rombongan tiba di Virginia, kantor CIA. Beberapa mata langsung menatap tajam anak Amanda yang diborgol kedua tangannya dan dikawal oleh beberapa lelaki berseragam hitam serta bersenjata.


Saat Sia memasuki ruang interogasi, betapa terkejutnya ketika William melihat kekasihnya mengalami lebam dan lecet di wajahnya.


Mereka bicara dalam bahasa Inggris.


"Sia! Liev! Apa yang kau lakukan padanya?!" teriak William lantang, mengepalkan kedua tangan, mendatangi Liev dengan nafas menderu penuh emosi.


GRAB!!


William melihat wajah Sia pucat dan tubuhnya tak bertenaga. Tangan William yang sudah tak terborgol, mencengkeram kuat baju Liev.


"Kau menyakiti kekasihku, kau melukai sekutu kita. Aku tak segan melaporkan perbuatan burukmu pada agensi, Liev."


Namun, Liev melepaskan cengkeraman William dengan satu tangannya yang masih berfungsi dengan baik terlihat tak peduli.


Seorang petugas mendudukkan Sia dan melepaskan borgolnya. Liev meninggalkan Sia bersama William di ruang interogasi. William mendekati Sia dan memegangi wajahnya yang babak belur.

__ADS_1


"Liev pasti menyakitimu. Apa yang dia lakukan? Memukulmu? Menamparmu?" tanya William terlihat begitu marah.


"Apa bedanya? Dia menyakitiku, Will. Apa kau akan membiarkannya?" tanya Sia terlihat begitu sedih.


Nafas William menderu. Ia mengecup kening Sia hingga matanya terpejam. Ia melirik ke jendela di hadapannya dengan sorot mata tajam.


Tak lama, Liev kembali muncul, tapi kini Yes ikut bersamanya. Sia dan William menatap dua orang itu tajam penuh kebencian.


Yes duduk di hadapan keduanya dengan Liev berdiri di belakangnya dan satu orang lelaki yang menjaga di pintu.


"Maaf, Nona Sia jika sikap Agent Liev berlebihan."


"Tak ada maaf baginya. Akan kuingat yang ia lakukan padaku," jawab Sia dengan dendam menyelimuti hatinya.


"Sir. Kau memintaku menyelesaikan misi yang telah kumulai. Akan kulakukan, tapi berhentilah mengekang Sia. Dia sekutu kita. Yang Liev lakukan sudah di luar batas. Dia menyakiti kekasihku," ucap William tegas di hadapan bosnya.


Namun, Yes hanya mengangguk pelan seakan keluhan William tak berarti untuknya.


"Nona Sia. Kau orang yang sangat beruntung karena kami lindungi. Bahkan, kami membantumu keluar dari kejaran keluarga mafiamu. Kau yang meminta agar menjadi partner William untuk melenyapkan The Circle. Kau ... berkontribusi banyak dan kami akan mengabulkan permintaanmu," ucap Yes tenang.


Sia mendengarkan kata demi kata yang dilontarkan Yes dengan seksama.


"Semua tindak kejahatanmu akan kami bersihkan. Setelah ini semua selesai, kau bisa menjadi warga sipil. Bahkan kau akan mendapatkan ijazah kelulusan dari fakultasmu dulu yang belum kau selesaikan. Kau bisa mencari pekerjaan bahkan kami bisa memberikan banyak resume tambahan keahlian agar kau bisa masuk ke perusahaan ternama. Sangat menarik bukan?" tanya Yes dengan senyum terkembang.


"Wow, sangat menggiurkan, Sir," jawab Sia sambil mengangguk-anggukkan kepala.


Yes dan lainnya diam melihat gerak-gerik Sia yang memiliki maksud di belakang aksinya.


William tertegun karena sang kekasih masih memikirkan nasibnya. William makin bersalah.


"Well, kami tahu yang kalian berdua inginkan. Dengar, ini adalah hadiah ekslusif dari kami. Sebuah pernikahan resmi dan legal. Anggaplah sebagai bentuk persetujuan dari kesepakatan kita. Bagaimana?" tanya Yes dengan senyum lebar.


Praktis, mata William dan Sia terbelalak. Mereka tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar. Kening Liev berkerut.


"Jika setuju, dua hari lagi pernikahan akan dilangsungkan. Semua akan kami atur. Aku juga akan mendatangkan Rika dan Cecil untuk ikut hadir. Hanya saja, bukan pernikahan mewah. Apa ... kalian akan menolak kebaikan hati kami?" tanya Liev lagi yang semakin menguji keteguhan hati mereka.


William menatap Sia seksama di mana wajah kekasihnya itu tertunduk sedari tadi.


"Sia? Apapun keputusanmu akan kuterima. Jika kau keberatan dengan kesepakatan ini, aku tak ...."


"Fine, aku terima. Pernikahan sebagai uang muka CIA untuk tugas kami berdua melenyapkan The Circle. Jika berhasil, hadiah utamaku ialah ijazah kelulusan, hidup normal seperti warga sipil bersama William. Namun, William juga harus mendapatkan hadiahnya. Bebaskan dia. Aku ingin William menjadi warga sipil sepertiku bukan seorang agent lagi," ucap Sia tegas yang mengejutkan semua orang.


William diam saja saat Sia menatap Yes tajam. Tak disangka, Yes mengangguk setuju. Liev terkejut termasuk William. Senyum Sia terkembang.


"Namun, Agent Liev menjanjikan pengecualian untuk keluargaku. Boleslav dan seluruh jajarannya dibiarkan hidup, sisanya dari kedua belas anggota dewan, aku tak peduli akan kalian apakan. Deal?" tanya Sia menyodorkan tangan.


William menatap Sia dan Yes bergantian. Yes mengulurkan tangan, menyambut jabat tangan Sia dengan mantap.


"Baiklah. Satu anggota dewan yang tersisa. Boleslav bisa apa? Menjadi mafia tunggal? Sepertinya kekuasaan itu tidak akan lama. Jika militer tak bisa membunuhnya, biarkan tangan Tuhan yang melakukannya," ucap Yes berwajah bengis sembari berdiri dari dudukkannya.


Sia menatap kepergian Yes dari ruangan itu diikuti oleh Liev. Sia menghembuskan nafas terlihat tertekan dengan kesepakatan yang ia buat barusan.

__ADS_1


"Apakah yang kulakukan ini benar, Will? Aku takut sekali. Aku tak ingin Daddy dan orang-orangnya terluka, tapi ...," ucap Sia sedih seperti akan menangis.


William memeluk kekasihnya erat. Ia ikut tertekan dengan kondisinya saat ini. Tak lama, seorang petugas masuk ke ruangan dan meletakkan dua buah koper di atas meja.


"Ini perlengkapan kalian dan ini kunci mobilmu, Will. Kami sudah mengambilnya dari Bandara. Kalian bisa pulang," ucap lelaki berkulit hitam menatap William seksama.


"Thank you, Agent D," jawab William sembari menerima kunci mobilnya.


William mengajak Sia beranjak dari dudukkannya, keluar dari ruang interogasi tersebut.


Sia merangkul lengan William dan tertunduk lesu menyusuri lorong hingga ke tempat mobil di parkir.


William menyalakan mesin mobilnya dan segera melaju kencang meninggalkan kantor CIA. Keduanya diam selama perjalanan hingga mereka tiba di Apartment William.


Namun, saat William telah memarkirkan mobilnya dan mematikan mesin kendaraan, ia tak keluar.


Sia bingung dan melihat William melompat ke bangku belakang untuk membuka koper yang diberikan Agent D.


William seperti mengecek perlengkapan tersebut. Bahkan Sia terkejut karena William memiliki 5 ponsel.


William juga membuka koper Sia di mana sang kekasih memiliki 2 ponsel. Sia diam menatap William yang membongkar ponsel-ponsel itu seperti mencari sesuatu.


"Apakah ... disadap?" tanya Sia curiga. William mengangguk.


Sia dan William mendesah kesal. William keluar dari mobil dengan penyamarannya. Ia membuka bagasi mobil dan mengecek isinya. Sia masih menunggu di dalam mobil.


Diam-diam, William berjongkok dan menekan sebuah tombol di bagian bawah bumper mobil. William melihat benda itu berkedip, ia tersenyum miring.


"Will?" panggil Sia khawatir karena William belum kembali.


William kembali berdiri dan tersenyum di balik kaca belakang. Sia masih sabar menunggu di dalam karena William belum memberikannya kode untuk keluar.


William mengecek bagasi yang menyimpan senjata-senjata ilegal pemberian Denzel padanya.


Ia mengecek secara cepat dan melihat jika senjata-senjata itu tak tersentuh oleh CIA karena Tessa sudah mengamankannya.


Sistem pengendali dan pengatur pada fitur-fitur rahasia hanya bisa dilakukan oleh user yang terpindai sidik jarinya pada remote khusus. Beruntung, remote itu juga tak ditemukan oleh CIA.


"Sia, ayo keluar. Kita aman," ajak William mendekati jendela mobil tempat kekasihnya duduk.


Sia mengangguk. Ia segera keluar sembari menenteng koper miliknya. William memasukkan beberapa pistol dan amunisi ke dalam kopernya saat Sia masih menunggunya di dalam mobil.


William mengajak Sia masuk ke rumahnya. Namun, ia meminta kepada Sia untuk membantunya mencari letak kamera tersembunyi di beberapa tempat.


Sia yang sudah lelah dan kesal itu pun semakin marah. William membiarkan Sia mengobrak-abrik perabotan di rumahnya dan hebatnya, Sia dengan cepat menemukan 5 buah kamera pengintai di beberapa perabotan.


Sia menghancurkannya dan membuangnya ke tempat sampah. William masuk ke kamarnya dan membongkar kembali barang-barang yang ia amankan dari mobil.


Hingga tiba-tiba, mata William tertuju pada sebuah mobil SUV hitam yang memarkirkan kendaraannya di samping Mustang miliknya.


William meneropong dan ia melihat dua orang lelaki mendekati mobilnya. Kening Sia berkerut saat ia mengamati sang kekasih seperti mengintai seseorang.

__ADS_1


__ADS_2