
Sia dan Jason gugup. Sia yang belum mengenal karakter Jordan ini kebingungan menjawab pertanyaannya.
Jason melirik Sia dan beranjak dari dudukkannya. Ia duduk memepetkan dirinya di sebelah Sia. Sia makin kebingungan.
"Jawab pertanyaannya, Kak. Semua yang Jordan tanyakan harus dijawab. Cepat sebelum hal buruk terjadi," ucap Jason panik menggoyangkan lengan Sia.
Sia melihat Jordan mulai mendekati mereka berdua. Jason langsung bersembunyi dibalik tubuh Sia dimana tak sengaja Jason menyenggol perban di bahunya.
"Aduh," rintih Sia merasakan nyeri seketika sampai memejamkan mata.
"Oh, maaf, Kak Sia. Aku tak lihat lukamu ini. Maaf, maaf," ucap Jason tak enak hati dan meringis karena luka perban Sia tertutup rambut panjangnya.
Jordan menatap Sia seksama yang terlihat kesakitan itu. Tiba-tiba, Jordan duduk di depan Sia dan hal itu membuat Sia terkejut, terlebih Jason.
"Jordan, kau mau apa?" tanya Jason panik menatap saudara kembarnya itu tajam.
Jordan diam saja dan malah mengulurkan kedua tangannya diantara leher jenjang Sia.
Anak pertama Amanda itu sampai menahan nafas karena gugup ketika Jordan memegang rambutnya dan malah menariknya ke depan.
Sia baru menyadari jika Jordan bermaksud menyingkirkan rambutnya yang menutupi lukanya itu.
Jordan lalu melepaskan kedua tangannya saat rambut panjang Sia kini menutupi dadanya.
Sia hanya diam mengedipkan mata dengan jantung berdebar kencang. Ia bisa menatap wajah tampan adiknya itu yang hanya berjarak beberapa senti saja dari pandangannya. Bahkan nafas Jordan begitu terasa dikulitnya.
"Antarkan Kakak kembali ke kamar," ucap Jordan melirik Jason yang menyembunyikan dirinya di belakang tubuh Sia.
Jason mengangguk dan Jordan segera beranjak dari dudukkannya itu. Ia lalu pergi meninggalkan Sia dan Jason entah kemana. Sia akhirnya bisa bernafas lega karena kaget dengan hal barusan.
"Wah, ajaib. Baru kali ini Jordan merelakan pertanyaannya tak dijawab. Kau seperti malaikat pelindungku, Kak!" ucap Jason senang dan spontan memeluk Sia.
Sia terkejut dan hanya balas menepuk lengan Jason kikuk.
"Memang, apa yang terjadi jika pertanyaan Jordan tak dijawab? Kau harus menceritakan banyak hal padaku, meski kita baru bertemu," ucap Sia mengancam.
"Kita bicara di kamarmu saja. Siapa tahu Jordan masih mengawasi kita," bisik Jason dan diangguki oleh Sia.
Mereka berdua akhirnya pergi meninggalkan kamar Jason. Sia mengajak Jason ke kamarnya untuk melanjutkan mengobrol dan ternyata dugaan Jason benar, Jordan bersembunyi di balik pintu kamarnya sedang mengintip keduanya.
Di kamar Sia.
Kini Sia yang memanjakan tamunya. Ia memberikan Jason kudapan ice cream yang tersedia di lemari es miliknya entah sejak kapan ada di sana.
"Hmm, Kakak yang membuatnya? Ini enak," ucap Jason sembari memasukkan sesendok es krim vanilla ke dalam mulutnya.
"Bukan, aku cukup yakin jika Daddy yang melakukannya," jawab Sia menebak.
"Hah? Daddy membuat ice cream? Yang benar?" pekik Jason tak percaya.
Sia mengangguk. Jason menatap mangkok berisi ice cream vanilla lezat itu dengan seksama, tapi ia malah meletakkan mangkok itu di atas meja berikut sendoknya. Sia bingung.
"Kenapa?"
"Pasti ini spesial untukmu. Jika Daddy tahu aku mengambil yang seharusnya menjadi milikku, aku bisa gagal mendapat warisan Daddy nanti. Haruskah ku keluarkan yang sudah masuk dalam perutku, es krim-es krim itu?" tanya Jason membuka mulutnya siap muntah.
"Ahh, apa yang kau lakukan? Jangan berlebihan. Kau ini jorok," ucap Sia merasa jika Jason sama anehnya dengan Jordan.
__ADS_1
Jason malah meringis dan kini hanya meneguk susu cair cokelat yang diberikan Sia untuknya.
Sia memasukkan kembali es krim spesialnya itu ke dalam frezer dan tersenyum manis.
"Aku masih menunggumu, Jason," lirik Sia saat berjalan mendekati adiknya dan duduk di sebelahnya itu.
"Oo, Jordan ya. Hmm, jadi begini. Meskipun kami ini kembar dan sangat mirip, tapi sifat kami bertolak belakang. Kau bahkan bisa mengetahuinya dalam sekali lihat, 'kan?" tanya Jason sembari meletakkan gelas susu ke meja di depannya itu.
Sia mengangguk.
"Sejak kecil kami berdua terpisah. Kata Mommy, Jordan hanya minum ASI darinya selama 6 bulan saja, setelah itu Jordan minum susu formula. Berbeda denganku, aku minum ASI sampai umur 2 tahun lebih. Jordan dulu pernah mengalami panas tinggi sampai kejang dan itu terjadi selama beberapa kali. Mommy sedih begitupula Daddy. Jordan sampai di rawat di rumah sakit bahkan memiliki petugas medis khusus yang menjaganya. Hingga akhirnya, Jordan dibawa ke Florida," ucap Jason mulai bercerita.
"Florida?"
"Yup, Mommy membeli sebuah rumah pinggir pantai hanya saja ini rahasia ya. Para mafia tahunya jika Mommy masih memiliki pulau pribadi peninggalan nenek, padahal sebenarnya tidak. Pulau itu sudah lenyap karena diledakkan oleh Mommy saat masih muda dulu, tapi sampai sekarang tak ada yang mau cerita padaku apa alasan Mommy meledakkannya," lanjut Jason bercerita.
Sia diam saja mendengarkan dengan seksama. Ia malah jadi ikut penasaran dengan cerita Jason yang mengatakan ibunya meledakkan sebuah pulau.
Ia berpikir jika ibunya sudah mulai gila dan tak sayang akan warisan dari neneknya itu dimana harga pulau pribadi sekarang nilainya hampir USD 100 juta atau setara 1600 triliyun rupiah.
"Lalu?' tanya Sia masih penasaran.
"Mommy membawa Jordan ke ahli terapi dan menyembunyikannya dari orang-orang bahkan dalam jajaran 13 Demon Heads. Aku tahu cerita ini dari paman Maksim, Yuri, Daniel dan Red. Selama di Florida, Jordan diawasi ketat perkembangan kesehatannya oleh ahli medis dan juga paman Mix and Match dari segala serangan siapapun yang ingin menyakiti Jordan," kata Jason lagi makin lihai bercerita.
Sia mengangguk dan makin serius mendengarkan.
"Aku sering diajak pergi Mommy ke beberapa tempat baik urusan bisnis atau hanya sekedar liburan saja. Sebenarnya, saat itu Mommy sering mengawasimu dari kejauhan, Kak. Ia selalu berkata padaku," seandainya kakakmu Sia bisa bergabung dengan kita, alangkah lengkap keluarga kita ini."
Sia tertegun mendengar ucapan Jason barusan.
"Aku pernah menanyakannya, tapi Mommy malah menangis. Mungkin sebaiknya kau tanya sendiri saja, Kak," jawab Jason lugu.
Sia mengangguk dan merasa ucapan Jason ada benarnya. Jason lalu melanjutkan ceritanya dan memberikan banyak nasehat pada Sia untuk menghadapi Jordan terutama saat jiwa psikopatnya muncul.
Sia mendengarkan dengan serius karena tak mau membuat kesalahan yang membuatnya dalam kesulitan nantinya saat menghadapi Jordan ketika tak ada orang lain yang membantunya.
Sudah 2 jam lebih mereka bercerita hingga sebuah ketukan pintu terdengar. Sia dan Jason terkejut. Sia segera beranjak dari dudukkannya dan membuka pintu perlahan.
"Sudah malam waktunya Kakak tidur," ucap Jordan tiba-tiba tanpa basa-basi.
Jason terkejut dan langsung berdiri dari tempatnya duduk. Ia bergegas mendatangi Jordan dengan senyum paksa.
"Good nite, Kak Sia. Besok kita lanjutkan lagi ya. Bye," ucap Jason sembari melambaikan tangan dan berjalan tergesa meninggalkan kamar Sia.
Jordan juga langsung pergi begitu saja meninggalkan Sia yang kebingungan. Sia akhirnya masuk ke kamarnya dan baru menyadari malam sudah larut.
Perjalanan panjang dari Amerika ke Rusia hampir 13 jam itu tentu saja membuatnya lelah dan ia baru merasakan rasa letihnya.
Sia segera membersihkan diri dan kembali mengobati lukanya. Ia lalu bersiap tidur meski cerita Jason tentang Jordan membuatnya teriang-iang.
"Psikopat ya, padahal masih kecil. Apa karena ia kurang mendapatkan asupan ASI dari Mommy? Atau mungkin karena Mommy pernah mengalami depresi saat hamil si kembar? Atau karena Jordan yang sering mengalami panas dan kejang saat masih kecil? Kasihan, Jordan," ucap Sia sedih memikirkan keadaan adik tirinya itu.
Tak lama mata Sia terpejam. Malam itu Sia melupakan kesedihannya pada William karena munculnya dua adik kembarnya itu, Jordan dan Jason yang mengalihkan pikirannya.
Tak terasa, fajar sudah menyingsing. Sia tidur miring karena bahunya masih terasa sakit jika ia tidur terlentang.
Namun, ia terkejut saat membuka mata karena melihat wajah yang ia kenali tidur di sampingnya.
__ADS_1
"Ini ... Jordan atau Jason?" tanya Sia dalam hati karena masih tak bisa membedakan keduanya.
Sia lalu bangun perlahan dimana lukanya itu kembali terasa nyeri. Ia yang hanya mengenakan dress tidur bertali tanpa lengan dan panjang selutut itu menyingkirkan selimutnya lalu beranjak dari ranjang karena tak ingin membangunkan adiknya.
Sia segera ke kamar mandi untuk bersiap. Sekitar satu jam, Sia keluar dari kamar mandi dan ia sudah bersiap. Ia juga sudah mengobati lukanya lagi dan mengganti perban.
Namun, Sia tertegun karena adik lelakinya itu sudah tak ada di atas kasur dan ranjangnya pun sudah rapi.
"Siapa yang merapikannya? Jordan eh Jason? Bagaimana aku membedakan mereka berdua saat tak bersuara? Mereka benar-benar kembar identik," tanya Sia dalam hati kebingungan.
Tak lama, pintu kamar Sia diketuk dan mendapati adik kembarnya itu lagi. Sia pusing tujuh keliling.
"Kau dari mana? Eh, kau ganti baju?" tanya Sia yang menyadari jika adiknya tadi hanya memakai kemeja putih, tapi sekarang sudah menggunakan sweater.
"Kau bicara apa, Kak? Aku baru saja datang. Aku bangun pagi karena ingin melanjutkan obrolan denganmu soal Jordan kemarin," jawab Jason segera masuk ke dalam kamar Sia dan dengan santai membuka lemari es mengambil sekotak susu cokelat dingin di sana.
Sia hanya tersenyum dan menutup pintu. Ia jadi berpikir, jika Jordan lah yang tidur di kasurnya tadi.
Namun, kenapa Jordan bisa tidur dengannya, Sia masih kebingungan dengan hal itu.
"Kau ingin cerita apa? Masih pagi kita sudah menggosip," ledek Sia.
"Karena masih pagi itu, mulut juga butuh olah raga. Kakak tak mau tahu soal Jordan?" tanya Jason memancing.
Sia meringis dan mengangguk. Akhirnya, kakak beradik beda ayah itu kembali melanjutkan obrolannya hingga tak sadar sudah 1 jam mereka bercengkrama hingga ketukan pintu kembali terdengar dan membuat percakapan mereka terhenti seketika.
Sia segera berdiri dan Jason menghabiskan susu cokelat dalam gelasnya itu. Saat Sia membuka pintu, ia terkejut karena ternyata ibunya yang datang di hari yang masih menunjukkan pukul 8.
"Oh, kalian berdua di sini. Sudah waktunya sarapan, ayo turun," ajak Manda dengan senyum merekah. Sia balas tersenyum dan mengajak Jason ikut serta.
Namun, dua orang itu kembali terkejut saat melihat Jordan ternyata ada di belakang Ibu mereka.
Jantung Sia kembali berdebar dan Jason tersenyum paksa seketika karena takut jika Jordan menguping.
"Ha-hai, Jordan, my brother!" sapa Jason merentangkan tangan berharap Jordan memeluknya, tapi ia tahu jika itu tak mungkin dan benar, Jordan tak memeluknya. Jason tersenyum getir.
Namun, keanehan terjadi. Jordan malah mendatangi Sia dan menarik tangannya. Manda dan Jason ikut terkejut karena Jordan malah menggandeng Sia untuk berjalan bersamanya.
"Wah, apa aku tak salah liat, Mom?" tanya Jason menatap Ibunya keheranan.
"Entahlah. Apa terjadi sesuatu antara kalian sebelumnya?" tanya Manda ikut penasaran.
Jason menggeleng tak tahu. Sia diam saja digandeng oleh salah satu adik kembarnya itu menuruni tangga sampai ke ruang makan. Ternyata Mix and Match sudah berada di sana bersama Daddy mereka.
Antony menyambut dengan senyum lebar dan mempersilakan keluarga tercintanya itu duduk bersama.
Manda duduk di sebelah Antony. Mix and Match duduk di kursi paling ujung di sisi kiri dan kanan meja makan.
Sia duduk di seberang ayah ibunya dengan Jordan dan Jason mengapit mereka.
"Oh, lihatlah pemandangan ini, Sayang. Aku sangat menantikannya," ucap Manda tersenyum lebar dan Antony mengangguk membenarkan.
Acara makan keluarga itupun berlangsung dengan penuh kehangatan. Jordan diam saja selama acara makan.
Sia dan Jason terlihat akrab karena mereka berdua saling menimpali tiap ucapan yang terlontar.
Manda dan Antony ikut menimpali percakapan anak-anak mereka itu. Mix and Match diam saja mendengarkan yang orang-orang itu bicarakan.
__ADS_1