
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
"Paman Red!" pekik Jonathan lantang saat melihat Red berusaha untuk tetap bertahan dari luka tembak di kakinya dengan pistol dalam genggaman untuk melindungi diri.
Sopir dari anggota The Shadow segera melakukan panggilan dari sambungan radio untuk memanggil bantuan.
"Jonathan, hah ... Zaid," ucap Red dengan nafas tersengal menunjuk ke dalam menara.
Mata Jonathan melebar. Ia segera masuk ke dalam tergesa. Jonathan terkejut mendapati Zaid tak sadarkan diri tergeletak di tangga tertimbun puing-puing dari dinding menara yang roboh.
Jonathan segera menaiki tangga dan menyingkirkan puing-puing itu. Jonathan berusaha menyadarkan Zaid di mana seluruh tubuhnya tertutup oleh debu.
Jonathan menarik tubuh Zaid dan berusaha menggendongnya di punggung.
Red dan sopir The Shadow yang melihat Jonathan menolong Zaid sempat khawatir jika anak ketiga Vesper itu tak sanggup, tapi siapa sangka jika remaja itu sangat mampu menggendong saudara satu neneknya menuruni tangga perlahan.
"Segera bawa Zaid ke mobil," perintah Red dan Jonathan mengangguk.
Saat Jonathan melewati jalan setapak di hutan, ia bertemu dengan Sia sedang berbicara serius dengan gadis yang tertembak kakinya.
"Jonathan!" pekik Sia saat menyadari Jonathan berada di dekatnya sedang menggendong Zaid.
Jonathan diam saja melihat Sia mendekatinya. Jonathan menatap Yena yang juga balas melihatnya sembari menahan sakit.
"Jika sampai terjadi hal buruk pada Kak Zaid, aku tak segan mencincangmu, Cantik," ucap Jonathan bengis.
Yena terdiam dan memalingkan wajah seakan tak peduli. Ia memegangi kakinya yang sakit, duduk di atas tanah.
"Letakkan Zaid di sini. Aku akan coba menyadarkannya. Terlalu jauh jika kau membawanya ke mobil," ucap Sia dan Jonathan mengangguk setuju.
Zaid di baringkan di atas rerumputan di bawah pepohonan teduh. Jonathan melepaskan tas ransel yang digendong Zaid dan membongkar isinya.
Ia mengeluarkan semua isinya dan menyusun peralatan medis itu di samping tubuh saudaranya.
Yena melihat Sia dan lelaki yang dipanggil Jonathan seperti sibuk untuk menyadarkan dan mengobati luka lecet di tubuh Zaid karena terkena puing bangunan.
Saat keduanya begitu serius, tiba-tiba Yena merangkak mendekati mereka. Jonathan dan Sia terkejut.
Yena langsung melepaskan segala jenis benda yang menghimpit tubuh Zaid seperti ikat pinggang, topi dan jas anti peluru yang dikenakannya.
Yena mengambil sebuah stetoskop yang tersedia dalam kotak medis. Ia menggunakannya tanpa ekspresi di wajah untuk mengecek denyut jantung dan pernafasan di dada Zaid.
"Ia baik-baik saja, hanya pingsan. Cek kepalanya, apakah seperti ada benjolan atau berdarah?" tanya Yena tanpa melihat dua orang yang sedari mengamatinya.
Sia dan Jonathan terlihat bingung. Namun, Jonathan paham dengan instruksi Yena. Ia segera meraba kepala Zaid perlahan dan merasakan jika ada benjolan di sana.
"Bagaimana?" tanya Yena meliriknya sekilas.
"Ehem. Mungkin dia pingsan karena kepalanya terbentur benda keras," jawab Jonathan gugup.
"Naikkan kedua kakinya di atas tas ranselmu," ucap Yena melirik Sia.
__ADS_1
Dengan sigap, Sia segera melepaskan tas ranselnya dan meletakkan di atas rumput sebagai penopang kedua kaki Zaid.
Yena lalu membongkar kotak medis dan mengambil sebuah botol berisi cairan. Ia menuangkan cairan itu di atas kasa.
Sia dan Jonathan malah terdiam menyaksikan Yena yang cekatan menggunakan peralatan medis.
Yena lalu mendekatkan kasa basah itu ke hidung Zaid seperti berusaha menyadarkannya. Jantung Jonathan dan Sia berdegup kencang karena penasaran apakah usaha Yena berhasil.
"Empf," dengus Zaid dengan kening berkerut mulai sadar.
Jonathan dan Sia langsung bernafas lega. Yena masih terus melakukannya hingga Zaid membuka mata.
Zaid tersentak saat melihat seorang gadis cantik di depannya menatapnya tajam tanpa ekspresi di wajah.
Setelah memastikan pasiennya baik-baik saja, Yena menyingkir. Ia terlihat pucat karena terkena luka tembak di kakinya.
Jonathan tersenyum lebar karena Zaid baik-baik saja. Jonathan membantu Zaid untuk bangun dan kini lelaki tampan itu duduk di atas rumput sembari memegangi kepalanya yang sakit.
"Sakit, Kak? Gak ada alat kompres di sini," ucap Jonathan kembali membongkar isi ransel.
Zaid diam saja tak menjawab. Ia menatap gadis tak dikenalnya yang kini sedang dibantu Sia untuk diobati.
Sia terpaksa memotong celana yang dikenakan oleh Yena. Sia meringis melihat luka tembak di kaki saudarinya itu.
"Kemarikan obat-obat itu. Aku bisa mengobati lukaku sendiri," pinta Yena lemas.
Sia mengangguk. Ia segera mendatangi obat-obatan itu dan memasukkannya kembali dalam kotak obat.
Jonathan ikut membantu karena merasa Yena bukan orang jahat. Jonathan yang bingung malah mengipasi Yena dengan kardus berisi kain kasa.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Yena meliriknya tajam.
"Minggir. Kau hanya akan membuat konsentrasiku rusak," ucapnya serius.
Jonathan memonyongkan bibir. Ia tak percaya jika maksud baiknya malah ditolak mentah-mentah.
Saat Jonathan akan beranjak, tak lama Red datang dipapah oleh sopir Black Armys diikuti Yuki dan Torin.
"Oh! Kalian selamat?" tanya Sia terkejut melihat kedatangan anggota satu timnya.
Namun, Yena malah mendesah.
"Kau juga terluka? Ya sudah, kau dulu sini," ucap Yena saat melihat Red juga terkena luka tembak di kakinya.
Red dan lainnya bingung.
"Dia sangat hebat. Dia Yena, sepupuku. Ia calon perawat dulunya," ucap Sia meringis memperkenalkan Yena.
Red akhirnya ikut duduk di atas rumput. Yena menyeret kakinya yang sakit dan malah mengabaikan lukanya untuk mengobati lukanya.
"Hei. Kau terluka. Sebaiknya kau obati dulu lukamu," ucap Red memegang tangan Yena.
PLAK!!
"Agh!" rintih Red saat tangannya malah dipukul oleh Yena karena memegang tangannya.
__ADS_1
"Jangan menyentuhku," ucapnya galak.
Semua orang diam seketika. Sia meringis tak enak hati. Ia juga bingung dengan keadaan ini. Seingatnya, sepupunya dulu sangat ramah, tapi kini seakan sulit untuk tersenyum.
Sia lalu memotong celana Red agar Yena bisa leluasa mengobati lukanya.
Zaid menatap Yena seksama yang sudah terlihat pucat karena lukanya, tapi masih memikirkan orang lain untuk ditolong.
Zaid mengambil sebuah suntikan dari saku celana kantongnya dan bangun dari tempatnya duduk.
CLEB!!
"Aghh!" rintih Yena karena Zaid tiba-tiba menyuntik kakinya yang terkena luka tembak dengan sebuah benda berbentuk tabung kecil sepanjang jari telunjuk dalam genggaman entah apa isinya.
"Ini hanya pereda nyeri. Biar aku yang mengobati lukamu. Aku punya alat yang lebih canggih. Aku akan menyuntikmu lagi dengan bius lokal. Aku tak suka mendengar orang mengerang kesakitan, itu ... menyakitkan," ucap Zaid menatap Yena lekat.
Yena terdiam melihat Zaid mengeluarkan sebuah suntikan lagi dari saku celananya yang ia suntikkan di dekat area lukanya.
"Jonathan! Tabung," pinta Zaid dari kejauhan dan Jonathan mengangguk paham.
Jonathan segera melemparkan sebuah tabung berwarna silver dari tas Zaid. Lelaki tampan itu menangkapnya dan segera menyalakan tombol pada bagian bawah tabung.
Yena dan semua orang terlihat tegang ketika Zaid mengarahkan ujung dari tabung berdiameter 10 cm itu.
Seketika, lampu indikator berwarna merah menyala. Mata Yena dan Sia menajam melihat benda itu seperti akan melakukan sesuatu.
"Take a breath. Relax saja. Seharusnya ini tak sakit. Kau siap?" tanya Zaid yang malah membuat Yena gugup, tapi gadis cantik itu mengangguk.
Yena menarik nafas dalam saat melihat Zaid menekan tabung di atas luka tembaknya dan tangan lainnya menahan kakinya agar tak banyak bergerak.
PIP ... PIP ... KLIK!
KLANG!
"Oh!" pekik Sia terkejut saat mendengar seperti suara besi dari dalam tabung itu.
Zaid segera mematikan alat tersebut dan mengelap darah yang ikut tersedot dengan kasa yang sudah diberikan cairan pensteril.
"Better?" tanya Zaid saat menutup luka bekas peluru di kaki Yena dengan kasa baru.
Yena mengangguk pelan tanpa ekspresi. Zaid tersenyum manis padanya dan kembali membersihkan tabung yang terkena darah Yena.
"Zaid, bisa sekalian? Aku lebih tertarik untuk ditolong dengan alat itu. Maaf, Yena. Bukannya aku tak percaya dengan ilmu medismu, hanya saja, untuk mempersingkat waktu," ucap Red tak enak hati.
Yena memutar bola matanya dan terlihat tak mempermasalahkan hal tersebut. Sia membantu membalut luka di kaki Yena dengan penuh perhatian. Yena menatap Sia seksama.
"Kenapa kau bisa berada di sini?" tanyanya dengan bahasa Rusia.
"Aku ... melihat Selena. Kenapa kau bisa berpakaian sama dengannya? Apa kalian kini tergabung dalam komplotan mafia? Bukannya kalian ditahan oleh CIA?" tanya Sia bingung, tapi Yena malah tersenyum sinis.
"Penjara itu hanya kebohongan belaka, Sia. Kami dimanfaatkan. Selena saja yang bodoh. Ia benar-benar pel*cur," jawab Yena terlihat marah.
Sia menatap saudarinya tajam lalu memegang tangannya lembut. Yena terkejut.
"Apa kau ... tergabung dengan The Circle? No Face?" tanya Sia gugup.
__ADS_1
"Kau tahu kelompok itu?" tanya Yena dengan kening berkerut.
Sia mengangguk. Yena menelan ludah dan kini matanya bergantian menatap wajah orang-orang yang memandanginya tajam. Yena gugup seketika.