
Sia panik, ia segera melaju kencang kendaraannya pergi dari tempat itu. Panggilan radio dari Olya ke seluruh tim membuat Sia tak bisa berpikir jernih karena ia mengendarai BMW itu sendirian.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Oh, wait. Jonathan waktu itu ... ah, ini dia," ucapnya sembari menekan sebuah tombol bertuliskan T.
PIP!
Markas Rio, Krasnodar, Rusia.
"Nathan!" panggil BinBin yang beranjak dari sofa panjang mendekatinya.
Jonathan yang sedang mengawasi pemasangan CamGun dengan Monica sebagai penanggungjawab langsung menoleh.
"Terminator Sia," imbuhnya datar.
Mata Jonathan dan semua orang yang mendengar melebar seketika.
"Hubungi markas Red Skull!" teriak Jonathan lantang dari tempatnya berdiri.
Monica dengan segera menghubungi Bykov dan tentu saja, William ikut panik mendengar hal tersebut.
"Di mana Sia sekarang?" tanyanya yang langsung berdiri dari kursi roda seakan ia lupa jika terluka.
"Mobilnya masih berada di pinggir Kuban River. Monica menggunakan GIGA untuk memantau pergerakan Sia. Kita segera bergegas, Will," jawab Bykov berjalan mendekati William yang terlihat panik karena Sia diserang.
William tak mau menggunakan kursi roda. Ia nekat dengan tongkat penyangga meski harus jalan tergopoh menuju mobil.
Anggota Blue dan Athena rekrutan baru yang mendengar kejadian itu ikut mendekat.
"Kami ikut! Kami harus menguji kemampuan dalam bertempur," ucap lelaki berambut punk yang kini sudah berpenampilan lebih rapi.
William menatap kedua puluh anggota barunya tajam. Ia akhirnya mengangguk mengizinkan.
Maksim dan Yuri terpaksa ikut dan meninggalkan Jason yang dijaga anggota Red Skull dan Beruang Hitam di mansion.
"Hati-hati, selamatkan kak Sia. Bawa dia pulang, Will," ucap Jason cemas dan William tersenyum dengan anggukan.
Akhirnya, 5 buah mobil rancangan khusus dari Boleslav Industries melaju kencang menuju ke lokasi tempat Sia dan timnya berusaha kabur dari kejaran orang-orang tak dikenal.
Sia melihat jika para lelaki bermotor itu terus menembaki mobil-mobil timnya. Namun perlahan, Sia mulai tenang. Ia yakin dengan mobil modifikasi Jonathan jika ia tak akan terluka.
"Olya! Giring mereka menuju ke markas Rio! Kita habisi mereka di sana!" pekik Sia sembari terus melaju kencang mobilnya mengindari kejaran pengendara motor.
"Aku mengerti!" jawab Olya cepat dan segera, mobil di depan Sia menukik tajam menuju ke markas Rio.
Namun, saat mereka mulai menjauh dari kawasan sungai, tiba-tiba muncul mobil-mobil SUV hitam dengan lelaki berseragam hitam layaknya pasukan khusus, siap dengan pelontar misil muncul dari balik atap mobil/sunroof.
"SIA!" pekik Olya panik dan seketika, SWOOSH!!
"OLYA!"
BLUARRR!! BRANGG!!
"NO! OLYA!" teriak Sia lantang langsung berlinang air mata ketika mobil yang beradu dengan Olya meluncurkan RPG.
Mobil yang ditumpangi Olya langsung meledak hebat dan terpental, menggelinding dengan keras hingga menabrak bangunan di pinggir jalan.
Mobil Sia terus menerobos karena mobil Olya tak lagi melindunginya di depan. Jantung Sia berdebar kencang dan tubuhnya kaku seketika.
Ia melihat mobil Olya terbakar hebat dan tak ada yang keluar. Sia meneteskan air mata.
Seakan suara bising dari pertempuran di sekelilingnya menghilang karena perasaan kalut menyelimuti hatinya.
__ADS_1
Sia begitu sedih dan tak bisa menahan tangisannya. Saat ia sedang dilanda kebingungan, tiba-tiba ....
DODODODODOOR!!
"Agh!" pekik Sia saat menyadari jika mobilnya dihujani peluru dari depan.
Lamunan Sia buyar. Ia melihat jika mobil di depannya siap untuk meluncurkan RPG lagi. Sia panik. Ia melihat banyak tombol di mobilnya. Konsenterasinya hilang.
"Kak Sia! Kak Sia!" panggil Jonathan dari alat pemutar musik yang mengejutkannya.
"Nathan?"
"Apa yang kau lakukan? Serang mereka! Mobilmu memiliki banyak persenjataan! Kau bisa mengalahkan mereka! Jangan diam saja!" teriak Jonathan kesal.
Jonathan melihat dari kamera tersembunyi bagian depan mobil yang terkoneksi dengan jaringannya jika mobil Sia tak melakukan apapun.
Sia melihat lelaki yang tadi meluncurkan RPG kembali bersiap. Sia langsung memutar kemudi dan membuat mobil BMW-nya menukik tajam masuk ke sebuah jalan sempit.
Lelaki peluncur RPG terkejut saat misilnya sudah terlontar. Hanya saja ....
BLUARRR!!
Sia menoleh seketika. Matanya melebar dengan mulut menganga. Ternyata aksinya malah membuat mobil dari anggota tim yang melindungi di belakang menjadi sasaran dari RPG yang tak mengenainya.
Rasa bersalah semakin menyelimuti hati Sia. Kini ia benar-benar terpuruk. Ia tak tahu harus melakukan apa.
Bahkan suara Jonathan yang terus memanggil namanya dan memberikan instruksi tentang apa yang harus dilakukan seolah tak terdengar.
Sia mengendarai mobilnya tanpa arah dan malah menjauh dari markas Rio sesuai dengan instruksinya tadi pada Olya.
"Dia kenapa? Kak Sia mau kemana?" pekik Jonathan panik karena Sia tak merespon panggilannya.
"Dia pasti shock, Nathan. Sia tak siap dengan hal ini," jawab BinBin menilai saat melihat dari layar monitor yang terpasang di dinding di mana pergerakan mobil Sia terlihat di sana dari kamera tersembunyi.
Monica ikut bingung. Ia heran kemana Sia akan pergi karena ia seperti keluar dari Krasnodar. Mobil Sia dikejar oleh konvoi mobil hitam dan motor yang terus menembakinya.
Sia diam saja di dalam mobil dan terus melaju dengan kencang. Ia seakan tak peduli jika tewas dalam kejadian hari itu.
William yang mendapat kabar dari Monica dan terhubung dengan Bykov membuat lelaki bermata biru itu ikut keheranan. Sia kabur bahkan tak melawan.
"Bisa kau sambungkan aku ke Sia. Please," pinta William mendekatkan tubuhnya ke ponsel yang Bykov speaker dan ia letakkan di hadapannya.
"Oke," sahut Monica cepat.
Semua orang terdiam. Jonathan yang mulai tenang bertolak pinggang melihat ke layar lain di mana kini wajah William muncul di layar monitor dekat dashboard mobil BMW.
"Sia? Sia sayang. Kau mendengarku? Aku mengikutimu di belakang. Teruslah melaju, tapi beritahukan padaku kemana tujuanmu agar kita nanti bertemu di titik temu," ucap William berusaha tetap tenang.
"Will?" jawab Sia langsung menoleh saat layar tablet di mobilnya tiba-tiba menyala.
"Hei, hei, it's oke," ucap William tersenyum.
Orang-orang akhirnya bisa melihat Sia yang menangis dengan wajah tergenang air matanya.
"Hiks, mereka tewas, Will. Hiks, itu salahku. Aku yang membuat mereka terbunuh," ucap Sia kembali meneteskan air mata dan terus mengemudi.
"Ya, ya aku tahu. Namun, itu bukan salahmu. Kita tak pernah tahu dengan penyerangan ini. Sekarang masalahnya, kami berusaha untuk menghalau para penyerang itu. Kau tak ingin kami ikut tewas karena melindungimu 'kan, Sayang?"
Sia tertegun dan langsung menggeleng cepat. Tangisannya mereda seketika.
"Hmm. Kalau begitu, aku mengandalkanmu, Sayang. Mobil yang kau kendarai 100 kali lebih hebat dari mobil yang kutumpangi sekarang. Jadi, bisakah kau berbalik dan melawan mereka sebelum orang-orang itu menyadari jika kami bermaksud untuk mengusik aksi orang-orang itu?" tanya William tersenyum.
Sia mengangguk pelan. Ia terlihat mulai fokus dengan yang dilakukan. Jonathan memajukan bibir bawahnya sembari bertolak pinggang. Ia juga baru menyadari jika ujung kakinya sakit karena menendang barang-barang keras.
__ADS_1
"Aduh, Nathan duduk dulu," ucapnya sembari berjalan pincang mendekati Paman BinBin yang terkekeh melihat Jonathan baru menyadari sikap bar-barnya merusak beberapa benda karena kesal.
Sia melihat dari kaca spion dan juga monitor yang terkoneksi dengan kamera belakang.
Kamera menyorot mobil dan motor yang berusaha mengejarnya meski masih terbilang jauh karena kecepatan mobil Sia lebih kencang ketimbang mobil dan motor para penyerang.
Sia membawa mobilnya kembali ke dekat sungai. Hingga akhirnya, Sia melihat dari pantauan GPS. Ia tahu kemana harus pergi dan menghentikan aksi kaburnya.
CITTT!! BROOM!!
"Wow! Dia bermanuver!" pekik BinBin kaget saat tiba-tiba Sia memutar mobilnya hingga berbalik arah dan langsung tancap gas melewati jalan yang ia lalui tadi.
"Hehe, kayaknya seru nih, Paman. Satu lawan 9," ucap Jonathan sembari memijat ujung kakinya yang sakit di sofa.
Sia menyalakan auto pilot sehingga mobil tersebut melaju dengan sendirinya selama ia menyiapkan persenjataan.
"Hem, Kak Sia mulai paham cara mengoperasikan mobil. Baguslah," puji Jonathan lagi yang kini menerima segelas jus jeruk dari salah satu Black Armys.
Monica terlihat tegang karena aksi Sia terpantau dari satelit dan tersambung dengan Amanda serta Bolesalv di tempat mereka berada di sekarang.
"Halangi jalan mereka, Sayang," ucap William dan Sia mengangguk pelan.
Sia menggunakan jam tangannya untuk menyiapkan misil. Sia menarik nafas dalam dan senyumnya liciknya muncul saat ia mulai meluncurkan misil, tepat ke mobil hitam yang menembak mobil Olya.
"Boom," ucapnya lirih dan seketika, sebuah misil meluncur ke sebuah mobil penyerang yang berada di barisan terdepan.
Namun, mobil itu berhasil menukik karena melihat misil tersebut. Sia mendesis kesal. Ia kembali meluncurkan misil-misil itu, tapi kini ia arahkan ke konvoi motor.
BLUARR!!
NGENGG! BRANGG!!
Para pengendara motor itu terkena luncuran misil dan membuat mereka mengalami kecelakaan hebat di jalanan. Orang-orang itu terkena luka serius di sekujur tubuh dan Sia tak peduli.
Ia melewati mereka yang mengerang kesakitan. Sia kembali menekan sebuah tombol dan asap warna hitam pekat muncul dari balik knalpot modifikasi itu.
Gas perusak syaraf menyeruak dan kini terhirup para lelaki itu. Kepulan gas hitam pekat menutup mobil Sia.
Tiga mobil penyerang terkejut saat mendapati mobil Sia hilang dari pandangan mereka. Saat tiga mobil itu akan menerobos kepulan asap hitam, tiba-tiba ....
"Menghindar!" teriak salah seorang lelaki yang duduk di samping sopir, mobil terdepan.
SWOOSH!! BLUARRR!!
BLANGG! BLANG! BLANG!
Sebuah misil tiba-tiba muncul dari balik kepulan asap. Mobil penyerang terdepan berhasil dilumpuhkan dan meledak hebat di jalanan.
Dua mobil yang berhasil menghindar terus melaju saat asap hitam itu mulai memudar dan mobil Sia kembali terlihat.
Mereka melihat mobil Sia kembali melaju melewati motor-motor dengan pengendara motor yang telah tewas mengenaskan di pinggir jalan.
"Jika kita tak bisa menangkapnya, bunuh dia!" pekik salah seorang lelaki dari panggilan radio mobil penyerang terlihat geram.
Dua mobil kembali mengejar mobil Sia. Namun, tiba-tiba ....
"AWAS!" pekik lelaki yang duduk di samping sopir ketika melihat ada banyak besi runcing berwarna hitam hampir tak terlihat karena mirip hitam aspal berhamburan di jalan.
Seketika, terdengar suara ban-ban meletus yang membuat dua mobil tersebut langsung tergelincir dan bergulung hebat di jalanan aspal.
Sia menghentikan laju mobilnya dan melihat dari spion tengah mobil. Dua mobil tersebut tak terbakar, tapi sudah terbalik tak lagi bisa mengejarnya.
Sia menyiagakan pistol di tangan kanan dan turun dari mobil dengan wajah datar. Ia mendatangi dua mobil yang sudah berasap dengan langkah mantap tak terlihat ketakutan lagi di wajahnya
__ADS_1