
William meneropong dan ia melihat dua orang lelaki mendekati mobilnya. Kening Sia berkerut saat ia mengamati sang kekasih seperti mengintai seseorang.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Will?"
"Sebentar, Sayang. Aku penasaran mereka ini siapa," jawab William terlihat serius dengan aktivitasnya.
Sia yang penasaran mendekati William dan mengikuti arah intaiannya. Sia terkejut melihat dua orang lelaki berwajah Asia seperti memeriksa mobil William.
Salah seorang diantaranya melakukan panggilan telepon dan lelaki satunya menggunakan sebuah alat berbentuk seperti tongkat dengan lampu seperti pemindai untuk memeriksa kondisi mobil Mustang William.
Tiba-tiba, lelaki yang membawa alat masuk ke kolong mobil. William dan Sia makin penasaran.
"Apa yang mereka lakukan, Will? Apakah mereka pencuri?" tanya Sia curiga.
William diam sejenak. Ia lalu menatap kekasihnya seksama dan Sia juga melakukan hal sama.
"Kau ... pernah bertemu dengan Jonathan? Anak dari Vesper?"
Sia diam sejenak. Nama itu terasa familiar baginya.
"Oh ya! Aku bertemu dengannya saat di Kastil Borka. Kenapa?"
"Mobil Mustang yang kupakai itu, salah satu hasil karya modifikasinya. Aku curiga saat CIA mengambil mobil itu di Bandara. Aku rasa ... mereka meletakkan pelacak atau alat untuk mengawasi pergerakanku di mobil tersebut. Aku sedikit tak percaya dengan orang-orang yang selama ini membantuku, Sia. Ada sebuah perasaan yang mengatakan jika mereka kini mengkhianatiku, bahkan Jack, Catherine dan mungkin Ara," ucap William lesu.
Sia menatap wajah kekasihnya yang seperti mengalami krisis kepercayaan setelah banyak hal dialaminya.
Hingga tiba-tiba, pandangan sepasang kekasih itu kembali beralih ke arah mobil Mustang. William meneropong dan mendapati salah satu dari mereka berhasil menemukan senjata pemberian dari Denzel.
"Mereka bisa menemukannya bahkan CIA saja tidak. Orang-orang Jonathan bukan pegawai biasa," batin William menilai.
Dua orang itu mengambil salah satu senjata dengan sarung tangan dan memasukkannya ke sebuah koper khusus.
Hampir 45 menit lamanya, orang-orang itu memeriksa setiap inci dari mobil Mustang. Bahkan mereka memiliki kunci untuk mengoperasikan mobil William.
Bahkan lelaki berambut ikal seperti menemukan sesuatu dari dalam mesin mobil. William tersenyum tipis melihat anak buah Jonathan seperti membantunya membersihkan mobil tersebut.
Dua lelaki itu lalu masuk ke dalam mobil entah apa yang dilakukan.
Hingga akhirnya, mereka berdua keluar dengan membawa beberapa benda yang dimasukkan dalam bagasi mobil mereka.
Keduanya pergi begitu saja seperti tukang servis mobil panggilan. Alarm mobil Mustang bahkan tak menyala.
William dan Sia saling berpandangan. Keduanya keluar dari kamar dan mendatangi mobil Mustang tersebut.
"Kira-kira ... apa yang mereka lakukan, Will?" tanya Sia panasaran saat ia kembali masuk ke dalam mobil.
"Prosedur. Tessa memberikanku mobil ini sebagai salah satu bentuk kesepakatan untuk melenyapkan Denzel Flame. Senjata yang diambil mereka tadi pemberian Denzel. Untuk kali ini saja, aku terpaksa melibatkan orang-orang dalam jajaranmu untuk membantu misi kita, Sia," ucap William duduk di bangku kemudi terlihat serius dengan ucapannya.
__ADS_1
Sia tersenyum lebar. "Kami tak seburuk itu, Will."
William mengangguk pelan. Sia memeriksa interior mobil dan merasa tak ada hal berubah di dalamnya. Padahal ia tadi melihat dua orang itu seperti membawa banyak barang dari dalam mobil.
"Pasti ada fiture rahasia, tapi di sebelah mana ya?" batin Sia menerka.
Saat Sia sibuk mencari tombol rahasia pada interior Mustang tersebut, William memegang tangannya lembut. Sia tersentak dan kini pandangannya terfokus pada William seorang.
"Sia. Selama aku mencarimu, aku bertemu dengan beberapa mafia dari beberapa kelompok. The Circle, No Face dan 13 Demon Heads. Aku bahkan tak menyangka jumlah kalian ada banyak sekali. Namun, dari sekian banyak, tak semuanya aku laporkan pada CIA. Ada perasaan mengganjal dalam hatiku jika ada orang dalam yang bekerjasama dengan para mafia itu," selidik William.
Sia mengangguk dalam senyuman.
"Hmm ... yah meskipun kita sepasang kekasih, tapi tak akan kubiarkan kau tahu secara menyeluruh tentang kinerja kami, Agent William. Aku hanya akan mengatakan yang perlu saja demi mensukseskan misi," jawab Sia berlagak.
William terkekeh. Ia tak menyangka jika kekasihnya bahkan tak sudi membongkar rahasia jajarannya.
"Kalau begitu, aku juga tak jadi bicara," jawab William sebal.
"Laki-laki itu dipegang dari ucapannya, Agent William. Jangan-jangan ... ucapanmu yang mengatakan ingin menikah denganku juga sandiwara?" tanya Sia langsung memicingkan mata.
"Hei! Ish, kau ini. Aku bersungguh-sungguh dengan hal itu. Aku bahkan sampai terjerumus dan melakukan banyak kesepakatan dengan para mafia demi siapa? Kau!" ucap William menggebu merasa perjuangannya tak dihargai, tapi Sia malah terkekeh. Kening William berkerut.
"Thank you, Will," ucap Sia sembari memegangi wajah kekasihnya dan mencium bibirnya lembut.
William terhenyak saat Sia menciumnya cukup lama. Namun tiba-tiba, William menjadi agresif. Ia menarik tubuh Sia dan wanita cantik itu melompat ke bangku William, duduk di pangkuannya.
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia.
"Jo! Si Agent sialan itu kok bisa dapet mobil kita? Padahal di berkas atas nama seorang pebisnis cewek loh. Dicolong kah?" tanya Hadi, salah satu anggota The Kamvret yang kini berdiri di sampingnya.
"Bodo amat! Biarin aja. Dengan gini, kita bisa ikut mata-matai pergerakan orang CIA itu dan kak Sia. Wah, kalo informasi ini kasih ke kak Juna, Nathan minta bayaran apa ya ...," ucapnya sudah berandai-andai.
"Mobil Han aja, Jo! Kan kamu pengen mobil sport itu," sahut Bayu semangat.
"Mobil yang mana ya? Mobil ayah Han banyak," tanya Jonathan bingung.
Hadi dengan sigap menunjukkan foto Han saat masih muda dulu yang berfoto dengan mobil miliknya.
Hanya saja, Han tak mau mobilnya dimodifikasi karena tak percaya dengan kinerja Jonathan yang masih diragukan hasilnya.
Mobil itu akhirnya diberikan pada Arjuna sebagai bayaran karena berhasil mengalahkan William saat seleksi bodyguard terselubung.
Mulut Jonathan menganga lebar dan matanya berbinar.
"Oh ... ya ya. Ide bagus, Om! Telpon kak Juna sekarang! Paksa dia! Pokoknya kudu serahin mobil itu! Wajib!" teriak Jonathan mulai mengeluarkan jurus andalannya dan Hadi siap melakukannya.
Jonathan tersenyum lebar. Ia tak sabar untuk mengotak-atik mobil sport tersebut dan berencana untuk memakainya pribadi.
__ADS_1
***
Akhirnya, waktu yang ditentukan itu telah tiba. Sia dan William akan melangsungkan pernikahan.
Rika dan Cecil datang ke gereja tempat sepasang kekasih itu akan mengingat janji suci meskipun tak ada satupun dari keluarga Sia datang karena memang tak dilibatkan.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Aku takut sekali, Cecil. Bagaimana jika Sia kabur lagi? Aku bisa bunuh diri," ucap William panik sembari membetulkan dasinya yang mendadak terasa mencekik lehernya.
Cecil dan Rika tertawa. Pernikahan yang hanya dihadiri oleh 10 orang termasuk pendeta, Cecil, Rika, Agent Liev, Yes, Jack, Catherine, Ara, William dan Sia.
Sisanya, para Agent yang menjaga sekitar Gereja untuk memastikan pernikahan berjalan lancar tanpa serangan dari pihak manapun.
Cukup lama orang-orang itu menunggu, hingga akhirnya, pintu menuju altar dibuka. Terlihat Sia melangkahkan kaki dengan gaun pengantin sederhana yang tampak begitu cantik dikenakan olehnya dan sebuket bunga mawar indah dalam genggaman.
William terpesona saat Sia mendatanginya dengan kelambu menutupi parasnya yang cantik. Jantung William berdebar.
Moment yang sudah sangat ia nantikan bahkan banyak pengorbanan yang harus ia lakukan demi bisa menikahi wanita pujaan hatinya meski dari kalangan berbeda, musuh lebih tepatnya.
William memuji kemampuan Sia dalam merias wajahnya sendiri bahkan bisa menutupi bekas luka dan lebam akibat perbuatan Liev tempo hari.
Sia akhirnya berdiri di samping William dan terlihat gugup. William juga merasakan hal yang sama, tapi ia tetap berusaha tegar layaknya lelaki sejati.
Dan ... janji suci itu pun diucapkan oleh keduanya. Orang-orang bertepuk tangan. Sia dan William bergantian menyematkan cincin di jari manis pasangan. Senyum keduanya merekah.
William dan Sia saling berciuman dan senyum bahagia ikut terpancar di wajah tamu undangan.
Namun, Catherine terlihat cemberut sejak datang ke acara tersebut. Jack dan Ara tahu jika gadis itu patah hati, tapi memilih diam membiarkannya.
"Selamat untuk kalian berdua. Meski pernikahan ini sederhana dan yah ... sepi, tapi setidaknya kalian kini sudah sepasang suami isteri," ucap Catherine sembari menyalami Sia dan William bergantian.
"Thank you, Cat. Ini sudah lebih dari cukup," jawab William sembari menyambut jabat tangannya.
"Semoga kau segera menemukan cinta sejatimu, Cat," sahut Sia saat bergantian menyambut jabat tangannya.
Catherine tersenyum hambar. Sia menyadari jika Catherine seperti tak menyukainya, tapi Sia memilih diam.
Sedang, semua orang memberikan Sia selamat termasuk Agent Liev meski tak ada ucapan permintaan maaf karena pernah menganiayanya.
"Awas aja. Akan kubalas kau suatu saat nanti, Liev," batin Sia dengan senyum palsu saat menjabat tangan Agent tersebut.
Acara dilanjutkan makan siang sederhana. Sebuah meja bundar diisi oleh kesepuluh orang meski terlihat tak ada obrolan menarik di dalamnya.
Usai makan siang, semua tamu meninggalkan tempat pernikahan. Namun, Sia dan William, mengajak pertemuan diam-diam kepada dua pensiunan CIA di Montana, kediaman Rika.
Rika dan Cecil menyanggupi hal tersebut. Mereka berdua pergi lebih dahulu ke Montana.
Sedang Sia dan William kembali ke Apartment untuk menyiapkan perlengkapan di mana esok hari, sesuai kesepakatan, misi menghancurkan The Cirlce, target Danzel Flame, akan dimulai.
__ADS_1
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST