
Mereka bicara dalam bahasa Inggris.
"Bukan. The Circle. Sepertinya mereka tahu jika William bermaksud untuk melenyapkan mereka. Beruntung kami belum sampai di rumah Rika. Teman polisi Rika memberitahu jika rumahnya diledakkan. Begitu mendengar kabar tersebut, kami langsung putar arah. Namun, sepertinya pelaku tahu jika kami berusaha menghindar. Kami dikejar sepanjang perjalanan. Kami sampai berganti mobil berulang kali dan ... begitulah. Kami diserang, dihujani tembakan dan Rika terluka. Kami hampir tak beristirahat, Sia," ucap Cecil menceritakan kejadian yang menimpa keduanya.
Mulut Sia menganga dan terlihat panik meski ia berusaha untuk tetap tenang. William datang membawa kotak obat untuk mengobati luka tembak di lengan Rika.
"Oh, maaf. Bisakah kau melakukannya sendiri, Will? A-aku takut," ucap Sia meringis saat melihat alat-alat yang akan William gunakan untuk mengambil peluru di dalam tubuh Rika.
"Terima kasih, Sayang. Kau sebaiknya sediakan minum untukku. Tenggorokanku terasa kering," pinta Rika lesu.
Sia mengangguk cepat. Ia segera mengambil gelas dan mengisi dengan air mineral sampai penuh.
Sia yang ngilu melihat proses pengobatan itu memilih menghindar dan menyiapkan tempat tidur untuk dua seniornya.
Ia juga memesan makan malam untuk para tamunya. Pihak hotel yang dapurnya siap 24 jam itupun segera memproses pesanan Sia.
"Agh! Hah ... thank you, Will. Ini lebih baik," ucap Rika lemas dengan keringat dingin membasahi tubuhnya.
William segera membopong Rika dan merebahkannya di kasur. Sia membantu melepaskan kaos kaki dan sepatu Rika.
Bahkan Sia membasuh wajah, tangan dan kaki Rika dengan handuk hangat karena wanita tua itu terlihat kumal.
"Kau sangat baik, Sia. Aku sangat bahagia karena William menikah denganmu. Maaf, jika awalnya aku ragu saat William bersikeras ingin menikahimu. Maafkan wanita tua ini," ucap Rika merasa bersalah.
Sia tersenyum. "Jangan dipikirkan. Ini, minumlah. Sebentar lagi makan malam datang," ucap Sia sembari memberikan gelas yang diberikan sedotan olehnya agar Rika mudah meminumnya.
William terharu melihat Sia begitu peduli pada Ibu angkatnya.
"Dia bagaikan malaikat. Sayang, dia dari keluarga mafia," ucap Cecil berbisik ke telinga William dan lelaki tampan itu hanya tersenyum tipis.
Tiba-tiba, terdengar suara pintu di ketuk. Kembali, semua orang waspada. Sia memutuskan untuk membuka pintu. William dan Cecil siap dengan pistol dalam genggaman.
CEKREK!
Sia tertegun. Namun, ia berusaha untuk terlihat normal ketika seorang lelaki masuk ke dalam kamarnya sembari mendorong rak stainless berisi makanan.
"Silakan nikmati makanannya dan ini, jika Anda membutuhkan bantuan. Selamat malam dan selamat beristirahat. Permisi," ucap lelaki berseragam karyawan hotel berbisik pada Sia saat keluar dari dalam kamar dan menutup pintu.
Sia terlihat gugup saat membaca sebuah kartu nama yang diberikan oleh lelaki tadi. William dan Cecil terlihat lega karena lelaki tersebut bukan ancaman seperti dugaan mereka.
"Apa yang dia berikan padamu, Sia?" tanya Cecil curiga.
"Oh, hanya ... password wifi. Aku akan menyimpannya untuk jaga-jaga," jawab Sia segera memasukkan kartu itu dalam saku jasnya dan kembali bersikap normal.
Cecil mengangguk terlihat percaya dengan ucapannya.
"Aku akan menyuapi Rika," ucap Sia bergegas mengambil sebuah piring di mana ia memesan spaghetti untuk Rika.
William mengajak Cecil untuk makan bersamanya di meja makan. Rika tampak sungkan, tapi Sia memastikan jika ia tak keberatan melayaninya.
Hingga akhirnya, Rika yang sudah diobati, dibersihkan tubuhnya dan menikmati makan malam, tidur dengan pulas setelah meminum obat pereda nyeri yang William berikan.
Cecil menemani Rika tidur di sebelahnya. Sia dan William mengalah dengan tidur di sofa panjang. Sia pamit ke kamar mandi dan William pun tersenyum mengizinkan.
Sia mengunci pintu kamar mandi dan duduk di closet. Ia mengambil kartu nama pemberian pegawai hotel dan membacanya.
Sia mengeluarkan ponselnya dan membongkarnya. Ada sebuah kartu kecil dalam kartu nama itu di mana ia merasa jika harus membuang kartu lamanya dan menggantinya dengan kartu tersebut.
__ADS_1
Dengan sigap, Sia kembali menyalakan ponselnya yang sengaja ia matikan agar ibunya tak bisa melacaknya. Namun kali ini, ia percaya jika diam-diam ibunya sedang membantunya.
Sia terkejut saat melihat tampilan layar ponselnya berubah saat proses booting. Ada permintaan di layar untuk menempelkan telunjuk kanannya di kamera belakang ponsel.
Sia pun melakukannya karena ia penasaran dengan hal baru di ponselnya itu setelah ia mengganti sim card. Hingga akhirnya, muncul sebuah tulisan "GIGA SIA".
Jantung Sia berdebar kencang saat tiba-tiba layar ponsel muncul sebuah wajah anak kecil yang dikenalinya. Mulut Sia menganga.
"I-ini wajahku saat masih kecil. Apa ini?" guman Sia menahan keterkejutannya agar tak terdengar yang lain.
Saat Sia akan mencoba mengotak-atik fiture baru dalam ponselnya, GIGA SIA seperti melakukan pemindaian dengan lokasi tempat Sia berada.
Sia terlihat bingung saat layar ponselnya tertulis "Area Tidak Aman Untuk Melakukan Komunikasi". Sia makin melebarkan mata.
Ia terlihat bingung dengan hal tersebut. Ia tak tahu jenis sistem apa yang kini berada di ponselnya, tapi ia cukup yakin jika lelaki yang memberikan sim card dalam bentuk kartu nama itu adalah salah satu anggota Silhouette yang ikut bersamanya ke Kastil Borka bersama Jordan.
"Apa ... ibu ada di sini? Apa mungkin Jordan? Oh, jangan-jangan, mereka akan membawaku pergi?" tanya Sia dalam hati dengan jantung berdebar.
Sia yang khawatir jika ia dipisahkan lagi dengan William mematikan ponsel tersebut. Ia segera keluar dari kamar mandi dengan tergesa.
Sia melihat Rika, Cecil dan William sudah tertidur lelap. Sia mendatangi William yang tidur di sofa panjang dengan pistol masih dalam genggaman.
Sia ikut merebahkan diri dan mencoba untuk tidur, meski otaknya tetap memikirkan tentang ponsel barunya yang seperti memiliki pikiran sendiri.
"GIGA SIA. Kenapa pakai namaku? Apa ada hubungannya? Bahkan untuk mengaktifkannya menggunakan sidik jari pada telunjukku. Sistem itu bahkan bisa memindai sekitar dan memprediksi jika aku berada di tempat yang memiliki potensi ancaman. Ini ... sungguh membuatku malah semakin penasaran," ucap Sia dalam hati penuh pertanyaan dalam hatinya.
Hingga akhirnya, Sia tertidur lelap. Entah sudah berapa lama ia tertidur, Sia mendengar suara orang mengobrol.
Sia membuka matanya perlahan dan melihat Rika, Cecil dan William seperti berbicara serius di dekatnya. Sia duduk perlahan sembari mengucek matanya.
"Oh, apa kami membangunkanmu?" tanya Cecil tak enak hati.
William memberikannya air minum dan Sia segera meneguknya sedikit lalu mengembalikan gelas itu lagi pada suaminya.
"Tidurmu nyenyak? Maaf, aku semalam ketiduran," ucap William tak enak hati. Sia hanya tersenyum dan mengangguk.
"Mm, apa yang kalian bicarakan?" tanya Sia penasaran sembari menerima piring berisi telur gulung dengan sosis dan daging panggang sebagai menu sarapan pemberian William.
"Sebaiknya kita segera pergi dari sini. Aku dan Rika meninggalkan mobil curian satu blok dari hotel ini. Kami sengaja berjalan kaki sampai ke tempat ini agar tak dikejar, tapi ... aku tak yakin," ucap Cecil menjelaskan.
"Yah, kami bisa lolos dari kejaran mereka seperti suatu keajaiban. Entah kami akan memiliki keberuntungan lagi atau tidak setelah keluar dari sini, kami tidak tahu," imbuh Rika terlihat masih pucat.
"Will, tujuanmu ingin bicara pada kami, apa ada tujuannya dengan The Circle? Soal Denzel Flame?" tanya Cecil memastikan. William dan Sia mengangguk.
Rika dan Cecil saling berpandangan terlihat serius.
"Aku, ah entahlah. Kami tak yakin bisa membantu kalian. Kami pensiunan, tak memiliki pasukan seperti saat masih bertugas dulu," ucap Rika terlihat lesu.
"Jika ... minta tolong kepada orang-orang dalam jajaranku bagaimana?" tanya Sia tiba-tiba yang mengejutkan semua orang.
"What? Kau bilang apa? Kau serius ingin melibatkan orang-orang seperti Axton dan lainnya?" tanya William memastikan dan Sia mengangguk pelan.
"Entahlah, aku merasa orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads lebih bisa diandalkan ketimbang CIA. Namun, kita bisa coba melibatkan orang-orang CIA terlebih dahulu. Aku penasaran saja, apa mereka sungguh bisa diandalkan seperti kata Yes dan Liev jika bantuan akan diberikan ketika kita membutuhkannya," ucap Sia sembari menusuk sosis daging sapi dan memasukkan ke mulutnya dengan cuek.
Cecil, Rika dan William saling melirik.
"Apa yang ingin kau lakukan, Sia?" tanya Cecil seperti mengetesnya.
__ADS_1
"Kau tahu di mana kediaman Denzel Flame, Agent Will?" tanya Sia melirik suaminya sembari mengunyah sosis.
William mengangguk. "Aku cukup yakin jika bangunan yang kuingat itu adalah rumahnya."
"Oke, kita datangi dan berikan kejutan padanya. Kita intai selama yah, satu dua hari untuk memastikan jika itu benar kediamannya. Setelah itu, laporkan pada Yes dan minta segera kirimkan pasukan penyerang untuk menangkap Denzel, meski aku lebih senang jika lelaki itu mati saja. Dia sungguh sebuah ancaman," ucap Sia mendadak terlihat kesal dan menusuk sosisnya dengan kejam.
William dan dua Agent pensiunan itu mengedipkan mata, tertegun akan sikap dan ucapan Sia yang tak mereka duga.
"Atau ... kita tak usah laporkan pada CIA. Kita lakukan sendiri saja. Kita bunuh Denzel dan orang-orangnya. Jika CIA memarahi kita bilang saja, keadaan mendesak, para mafia itu yang mati atau kami yang mati. Hehe, aku yakin jika Yes akan memakluminya. Bagaimana? Sepertinya rencana B lebih seru," tanya Sia dengan senyum merekah sembari mengunyah sosis di mulutnya.
William, Rika dan Cecil saling memandang terlihat memikirkan strategi Sia. William meminta waktu sebentar untuk bicara serius dengan dua seniornya itu.
Sia tak mempermasalahkan hal tersebut dan kembali menyuapi perutnya yang kelaparan. Sia makan dengan lahap hingga akhirnya ia teringat akan GIGA SIA yang masih ia rahasiakan keberadaannya dari orang-orang di depannya.
"Aku harus mencari waktu dan lokasi yang tepat untuk mengaktifkan lagi ponselku. Aku penasaran dengan kinerja GIGA SIA," ucapnya dalam hati.
"Eh tunggu. GIGA? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya. Jika tidak salah, paman Maksim pernah mengatakan jika ibu sampai memiliki julukan karena GIGA tersebut," batin Sia lagi yang makin yakin jika ibunya terlibat.
"Apa yang bisa dilakukan oleh sistem unik itu? Lalu ... jika salah satu anggota Silhouette ada di sini, mungkinkah ... Cecil dan Rika bisa selamat dari pengejaran karena bantuan dari mereka? Kira-kira di mana orang-orang itu bersembunyi?" batin Sia penuh pertanyaan di kepalanya hingga tak terasa makanan di piringnya habis.
Sia melihat piringnya sudah kosong, tapi ide baru muncul di kepalanya. Sia mengambil telepon kamar hotel dan menghubungi bagian Restaurant. William dan dua wanita tua di hadapannya menatap Sia seksama.
"Apa yang kau lakukan, Sayang?" tanya William heran.
"Aku masih lapar. Boleh pesan lagi?" tanya Sia meringis malu.
"Apa kau hamil? Nafsu makanmu besar," tebak Rika.
Sontak, William dan Sia terkejut.
"Oh, tidak. Aku semalam tak makan jadi lapar. Itu saja. Aku yakin jika tak hamil. Belum maksudnya. Sebaiknya hamilnya nanti saja ketika urusan melenyapkan The Circle usai," jawab Sia dengan gagang telepon sudah menempel di salah satu telinganya.
"Yes, the Restaurant. How can we help you?" tanya petugas di Restaurant.
Sia segera memesan makanan untuk diantarkan ke kamar. Petugas itu pun menyanggupi.
Sia terlihat tak sabar menunggu kedatangan makanan itu, meski lebih tepatnya, menunggu petugas pengantar datang.
TOK! TOK! TOK!
Sia dengan sigap berlari kecil ke arah pintu. William ikut berdiri dan menyiagakan senjata di balik pintu.
Sia membuka pintu dan ia terkejut saat yang datang bukan salah satu anggota Silhouette yang ia kenal.
Sia membiarkan lelaki itu masuk dan meletakkan pesanan Sia di meja makan. Sia mengucapkan terima kasih.
Bahkan, lelaki itu pergi begitu saja, tak menoleh dan berjalan lurus menuju ke lift. Sia menghembuskan nafas panjang.
Namun, matanya teralih pada sebuah CCTV di lorong hotel yang mengarah ke hadapannya.
Sia segera menutup pintu dan terlihat gugup. Sia kembali duduk dan segera menyantap makannya. William terlihat senang karena Sia makan dengan lahap.
"Segera habiskan makananmu. Kita pergi sekarang. Kita setuju untuk menggunakan strategimu, Sayang," ucap William tersenyum manis.
"Oh ya? Yang mana?" tanya Sia dengan wajah berbinar.
"Plan A," jawab tiga orang itu serempak.
__ADS_1
Sia terlihat lesu seketika. William dan lainnya tahu jika Sia pasti mengharapkan jika mereka menggunakan Plan B.
Namun, bukan seperti itu teknis kerjanya. Sia dan William bekerja di bawah perintah CIA. Sia mengangguk pasrah dan mengikuti arahan dari seniornya.