
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
------- back to Story :
Akhirnya pagi yang sejuk di Montana menyambut William yang sudah bangun. Ia berjalan-jalan di sekitar kediaman Rika sendirian bertelanjang kaki merasakan embun pagi dari rerumputan yang dipijaknya.
Hingga akhirnya, sapaan ramah terdengar olehnya dan membuat William menoleh seketika.
"Kau ingin sarapan di dalam atau di luar, Will?" tanya Rika yang mengenakan baju casual dimana William terbiasa melihatnya berpenampilan rapi layaknya orang kantoran.
"Di teras saja. Aku ingin menikmati pemandangan," jawab William dengan senyum mengembang.
Rika mengangguk dan membawakan sarapan itu ke teras. Ia meletakkan di meja kecil di sana dan duduk sembari menunggu William mendekatinya.
William melihat roti panggang lezat dengan keju dan selai coklat tersedia di sana. Ditambah secangkir kopi hitam sebagai pelengkapnya.
William duduk di kursi yang berseberangan dengan Rika dan mulai menikmati sarapannya.
"Hmm, ini enak. Kau yang membuatnya?" tanya William memakan roti itu lahap.
"Bukan. Roy yang membuatnya."
"Roy?" tanya William heran.
"Kekasihku."
"Oh. Oke."
Dua orang itu kembali canggung seketika.
"Kau datang ke sini bukan untuk mencari tahu kehidupan pribadiku 'kan, William?" tanya Rika menaikkan salah satu alis sembari menyeruput teh hangatnya.
"No. Aku merindukanmu."
Namun, pemandangan canggung kembali terlihat saat lelaki yang disebut Rika itu muncul dari balik pintu, berdiri mematung sembari membawa piring berisi kudapan lainnya. Rika ikut tertegun.
"William ini anak angkatku," ucap Rika menjelaskan agar tak terjadi salah paham.
"Oh," jawab Roy lalu meletakkan piring berisi potongan kue yang terlihat lezat dan William yakin itu buatannya.
__ADS_1
"Masakanmu enak, Roy," puji William canggung sembari mencomot kue brownies yang masih hangat itu.
"Yah. Aku seorang baker. Berkunjunglah ke tokoku kapan-kapan. Rika salah satu investorku," ucap Roy yang lalu duduk di sandaran tangan kursi kayu itu dan mengecup kepala Rika dengan senyum mengembang.
Rika balas tersenyum sembari melirik William. Agent muda itu terlihat shock bahkan mendadak merasa kesulitan untuk menelan kue itu.
"Kalian sudah lama saling mengenal?" tanya William yang rasanya ingin mengorek semua hal tentang Rika.
"Yah, sudah dua tahun ini," jawab Roy terlihat jujur.
William hanya mengangguk dan entah kenapa kue yang ia kunyah seperti terasa sulit untuk ditelan. Rika menatap William seksama yang terlihat seperti orang tertekan.
"Ingin berjalan-jalan di sekitar sini?" tawar Rika dan William mengangguk setuju tak bisa berkata-kata.
Rika balas mencium pipi Roy dan beranjak dari dudukkannya. William mencoba untuk bisa menerima kenyataan jika Ibu angkatnya telah memiliki kekasih dan terlihat bahagia bersama pria muda itu.
William pamit pada Roy dan mengikuti Rika di belakangnya. Mereka berjalan berdampingan dengan santai sembari menikmati pemandangan indah di kawasan tempat tinggal Rika.
"Aku tak pernah melihatmu tersenyum sebanyak ini, Rika. Aku ikut bahagia melihatnya," ucap William yang terdengar jujur itu.
Rika tersenyum.
"Kau terlihat tak terurus, Will. Bahkan kini kau memiliki jambang," ledek Rika.
Rika tersenyum tipis. Ia mengajak William duduk di sebuah batang pohon yang tumbang di pinggir aliran sungai kecil di depannya.
"Bagaimana Sia?" tanya Rika menoleh ke arah anak angkatnya itu.
William tertunduk memainkan kedua jempolnya seperti sedang beradu.
"Entahlah, Rika. Dia tak mau menikah denganku," jawab William lesu.
Rika diam saja tak menjawab keluhan anak angkatnya itu.
"Lupakan Sia. Kini aku sedang tertarik untuk mengejar komplotan yang bernama The Circle. Bagaimana caranya aku menemukan mereka?"
Sontak Rika terkejut dan melotot tajam pada William.
"Kau tahu darimana nama itu?" tanya Rika curiga.
"Mereka mendatanginya, Rika. Aku sudah menceritakan tentang kelompok itu padanya," sahut Cecil yang tiba-tiba muncul sembari membawa sebuah senapan dan mententeng hasil buruannya dalam genggamannya.
"Kau berburu?" tanya William terkejut.
__ADS_1
"Pemanasan," jawabnya santai sembari meletakkan seekor tupai dan seekor burung yang telah mati terkena pelurunya di atas rumput.
William menatap hewan itu seksama dan merasa iba.
"Entah kenapa aku lebih suka melihatmu membunuh orang daripada hewan-hewan malang ini," ucap William menyindir.
Cecil memalingkan wajah karena dikritik oleh William dan Rika hanya tersenyum.
"Aku sudah tak memiliki kuasa lagi di CIA, Will. Namun, Jack, Ara dan Catherine masih di sana. Mereka masih bisa membantumu. Kau juga masih diawasi oleh CIA. Kau tak sendirian, Will," ucap Rika menatap anak asuhnya itu dengan penuh kasih.
"Jangan mengasihaniku," keluhnya.
Cecil dan Rika hanya saling melirik tersenyum tipis.
"Rika. Sepertinya kita harus mengungkap seluruh jati diri kita pada William sebelum dia memberondong kita dengan ribuan pertanyaan," ucap Cecil ikut duduk di sebuah batu besar di pinggir sungai itu.
Rika terlihat gugup seketika. Entah kenapa ia seperti belum siap akan hal itu.
"Aku akan menyimpan rahasia kalian rapat-rapat. Jika sampai itu bocor, kalian tahu siapa yang harus disalahkan dan aku persilakan kalian menghabisiku," ucap William serius.
Dua agent pensiunan itupun akhirnya menceritakan apa yang mereka ketahui dan belum tersampaikan pada CIA.
Karena mereka mencurigai ada penghianat dalam agensi selama ini dan dia dilindungi oleh petinggi yang memiliki ambisi akan sebuah kekuasaan.
Namun, sampai sekarang, baik Cecil ataupun Rika tak bisa menemukan ataupun membuktikan jika ada sosok pengintai dalam agensi mereka.
William yang sudah mendengar seluruh rahasia Rika dan Cecil tentu saja shock, karena tak menyangka mereka sudah terlibat cukup jauh dalam dunia mafia, melebihi dirinya.
Ditambah, Cecil mengaku pernah masuk dalam kelompok The Circle.
"Kau? Kau bergabung dengan mereka? Lalu bagaimana kau bisa keluar dari kelompok itu?" tanya William terkejut.
"Aku hampir mati, Will. Dulu aku ditugaskan untuk mengawasi setiap misi yang diberikan pada mereka. Namun, seperti yang kuceritakan sebelumnya, mereka membangkang. Aku dan team-ku mencoba menghentikan aksi mereka kala itu. Aku selamat berkat salah satu mafia dalam jajaran 13 Demon Heads datang menolongku kala itu. Ia datang karena ternyata dia menyelidiki kelompok The Circle yang terus mengincar kematian para dewan. Namun, sebuah pengorbanan harus diberikan. Harus ada yang hidup untuk yang mati," ucap Cecil terlihat bersalah.
"Siapa?" tanya William penasaran.
Cecil diam sejenak, ia seperti enggan untuk menjawabnya.
"Siapa anggota dewan itu, Cecil?" tanya William mati penasaran.
"Dia adalah ...."
--------
__ADS_1
Happy weekend gaes. Jangan lupa like dan vote yang banyak ya. Kayaknya lele akan memberlakukan crazy up hanya untuk bulan ini saja tidak menjamin terjadi dibulan selanjutnya. On going 1 hari up 4 novel ditambah dubbing 2 novel berat gaes. Itu aja infonya dan tengkiyuw😘