
William menatap Konstantin lekat dan merekam kejadian yang terjadi padanya hari ini sebagai bentuk ingatan baru.
William menoleh ke arah kaca belakang mobil yang pecah di mana mobil dari timnya masih mencoba mengejar.
Konstantin melihat jika William lengah, seketika ....
DUAKK!!
"Aghh!"
BRUKK! SRAKK! SRAKK!!
Dada William ditendang kuat oleh Konstantin. Bodyguard yang pura-pura pingsan dengan cepat membuka pintu samping mobil dan menarik bahu mantan agent CIA tersebut.
William dilempar dari dalam mobil dan ia jatuh bergulung-gulung ke semak-semak dalam posisi tak siap.
Mobil Konstantin melaju kencang meninggalkan William sembari menyiramkan oli ke jalanan.
CIIITT!! BRAKKK!!
BLUARRR!!!
"Rasakan itu," ucap Konstantin dengan seringainya saat anak buahnya menuangkan minyak dari derigen yang tersimpan dari balik dudukan jok mobil yang ia duduki ke aspal.
Konstantin melemparkan korek api gasnya ke genangan oli yang sudah tercampur bensin tersebut.
Seketika, mobil yang mengejarnya tadi terbakar hebat setelah sebelumnya tergelincir karena licinnya oli dan menghantam pembatas jalan.
Ban mobil yang sudah terlumuri oleh minyak langsung meledak hebat berikut orang-orang di dalamnya yang terpanggang hidup-hidup.
Praktis, kejadian ini tentu saja membuat kepanikan para pengendara yang melintas. Mereka segera melaporkan kejadian ke polisi untuk di selidiki.
William yang tersangkut di dalam semak dan masih sadar meskipun mengalami lecet di beberapa bagian tubuhnya karena hanya mengenakan pakaian sipil, berusaha bangun dan menjauh dari keramaian, khawatir jika dirinya ditangkap dan dibawa ke kepolisian.
Tessa memberikan peringatan padanya agar tak mencolok di depan umum. Ia mengatakan jika William diincar oleh banyak orang karena kemampuannya dalam bertempur. William mempercayainya.
Tessa memberikan dongeng manipulasi yang mengatakan jika dirinya menyelamatkan William dari pertempuran sengit antara mafia dan polisi kala itu.
Tessa menemukan William di sungai dalam kondisi kritis. Tessa iba dan membawanya.
__ADS_1
William bahkan percaya dengan cerita sedih Tessa yang mengatakan jika seluruh keluarganya tewas karena banyak orang-orang baik militer ataupun mafia yang ingin menghancurkan kelompok milik mendiang kakeknya, Lucifer Flame.
Tessa bercerita jika dia mengemban tugas berat yang harus dipikul untuk membuat The Circle tetap berjaya dan bertahan dari segala gempuran.
"Hanya kau satu-satunya penolong kami, Will. Nasibmu sama dengan kami semua, sebatang kara. Kita orang-orang yang disalahkan atas kejadian masa lalu. Kami selama ini menjagamu dari mara bahaya, Will, agar kau tak tewas seperti kedua orang tuamu. Jadi, kau mau membantuku, William? Anggaplah sebagai balas budi karena aku telah menyelamatkanmu. Kita memiliki musuh yang sama, militer dan para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads," ucap Tessa dengan air mata yang masih teringat jelas dalam pikiran William.
William mengangguk menyanggupi dan menganggap ia memang memiliki hutang budi bahkan nyawa pada No Face.
William memegangi lengannya yang sakit, bahkan bajunya robek dan kotor karena insiden tadi.
"Konstantin. Lelaki sialan itu, awas saja jika bertemu lagi. Akan ku bunuh dan kulemparkan mayatnya ke tengah jalan," ucap William kesal.
William menyusuri jalan di balik semak tak muncul ke aspal. William memutuskan untuk kembali ke markas Tessa di mana ia ingat betul jalan ke sana. William merasa jika daya ingatnya semakin tajam entah apa yang terjadi.
Saat William sudah hampir tiba di markas, tiba-tiba ....
CITTT!!
"Get in!" pekik seorang wanita tua membuka pintu samping kemudi dan menatap William tajam.
Kening William berkerut, tapi tak lama matanya melebar.
"Cecil?"
William tersenyum menyeringai tanpa diketahui oleh Cecil karena mantan senior agent CIA itu sibuk melihat sekeliling.
William segera masuk ke dalam. Ia tak menyangka jika terget selanjutnya malah muncul di depan mata di mana Tessa dan orang-orangnya bahkan tak bisa menemukan keberadaan Cecil selama ini.
Cecil segera melaju kencang mobil sedannya. Mata William terfokus pada Cecil yang duduk di sebelahnya.
Ia melihat isi dari mobil yang ditumpanginya seksama, mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membunuh wanita tua tersebut.
"Kau kemana saja, William? Aku mencarimu ke Rusia! Aku bahkan ke mansion Axton! Aku juga menyeberangi lautan sampai ke tempat Raja Khrisna, tapi kau tak ada! Kau benar-benar menyusahkan!" pekik Cecil kesal sembari mengemudikan mobilnya.
Pandangan William kembali ke arah Cecil. Kening William berkerut, ia menatap Cecil tajam.
"Kau mencariku? Kenapa? Ingin membunuhku?" tanya William to the point. Namun, Cecil terkekeh.
"Dasar gila, kau sudah tak waras ya?" jawab Cecil melirik William sekilas.
__ADS_1
Namun, Cecil kembali menatapnya, tapi kini lebih detail. Ia melihat William dari atas sampai bawah. Agent juniornya itu terlihat berantakan dan mengalami luka-luka.
"Bagaimana kakimu? Apakah sudah sembuh?" tanya Cecil berwajah serius seketika dan tetap fokus mengemudi.
"Kaki? Maksudmu ... patah kakiku karena tercebur di sungai?" tanya William memastikan.
CIITTT!
William tertegun karena Cecil langsung menghentikan mobilnya dan meminggirkan ke bahu jalan.
Cecil menoleh dan menatap mata William tajam. Lelaki bermata biru itu balas menatap Cecil.
"Sungai? Kakimu patah karena tertimbun puing besar saat menyerang markas Denzel Flame. Lebih tepatnya karena kau mengecewakan Sia hingga isterimu itu nekat membom markas," ucap Cecil geleng-geleng kepala dan kembali menginjak gas mobil lalu mengemudikannya.
William terkejut. Ia sungguh bingung dengan hal ini. Pertama Konstantin lalu sekarang Cecil. Banyak cerita yang di dengarnya dalam satu hari di mana ia tak pernah tahu hal itu sebelumnya.
"Isteri? Sia?" tanya William kebingungan.
Cecil melirik William sekilas dan menghela nafas.
"Sepertinya kau mengalami hal buruk, Will. Baiklah, kita obati dulu lukamu, lalu makan siang, ganti pakaian kumalmu itu dan beristirahat. Kita pernah mengalami hal lebih buruk dari ini. Kita akan baik-baik saja, yah setidaknya sejauh ini ... baik-baik saja," jawab Cecil lesu.
William terdiam. Ia masih memegangi lengannya yang sakit. Ia lalu duduk dengan benar kali ini, menyenderkan punggung dan menatap jalanan.
William berpikir untuk mencari tahu lebih lanjut saat mereka singgah nanti. William ingin mengorek semua informasi dari target yang harus dibunuhnya, Cecil sebelum menghabisi nyawanya.
Tiba-tiba, ponsel William berdering. Cecil melirik tajam, tapi kembali mengemudi. William mengambil ponsel dari balik saku belakang celana jeans-nya dan menerima panggilan telepon itu.
"Blue eyes, status," tanya seseorang dari suara yang William kenal, Black.
"Sedang dijalankan. Aku akan menghubungimu lagi," jawab William sembari memalingkan wajah dan kini menghadap ke jendela.
Black tak menjawab dan segera menutup telepon. Cecil melirik dan melihat huruf B pada layar ponsel William sebelum padam.
Pandangan Cecil kembali menghadap ke arah jalanan seolah ia tak melihat dan mendengar apa yang terjadi.
"William, kita menginap di apartemenmu saja. Kau tak keberatan 'kan?" tanya Cecil menoleh ke arahnya sekilas.
"Apartement?" tanya William bingung. Cecil mengangguk cepat.
__ADS_1
"Hanya saja, aku lupa jalannya. Tolong tunjukkan. Jadi setelah traffic light, kita kemana?" tanya Cecil terlihat tenang dengan pandangan lurus ke depan.
William menelan ludah, ia terlihat bingung karena tak tahu di mana letak apartement tempat tinggalnya itu.