
Keesokan harinya, William dan team-nya bersiap pergi meninggalkan kediaman Axton untuk terbang ke Los Angeles, Amerika.
Mereka akan tinggal di mansion milik Antony Boleslav untuk mempersiapkan diri dan pada akhirnya terbang ke Guatemala.
Mansion Boleslav, Los Angeles, Amerika.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Pembicaraan tak baku, Indonesia.
"Kalian pakailah alat translator buatan Eiji ini. Alat ini juga sebagai penghubung komunikasi mirip radio dengan frekuensi khusus. Aku tahu kalian berdua kesulitan dalam menerjemahkan bahasa Indonesia. Alat ini juga bisa menerjemahkan dalam bahasa lain juga. Sangat membantu ketika kalian menjalani misi nanti," ucap Red sembari memberikan alat mirip earphone wireless dengan sebuah kotak kecil sebesar korek api sebagai baterai dan mesin dari alat itu sendiri.
"Wow, thanks, Red. Ini akan sangat membantu," ucap Sia langsung mencoba alat itu termasuk William.
"Hai, Sia. Kau mengenalku? Aku Torin. Senang berkenalan denganmu," sapa Torin berjalan mendekati Sia yang muncul dari pintu masuk mansion.
Torin mengulurkan tangan mengajak jabat tangan, tapi lelaki itu malah mencium punggung tangan Sia. William tertegun.
"Oh, hai. Nice to meet you too, Torin," jawab Sia canggung karena tak tahu jika Torin akan bersikap mesra padanya.
"Hah, musim panas masih lama, tapi kenapa Nathan ngerasa cuaca di rumah ini mendadak gerah ya," sindirnya sembari mengibas-ngibaskan kaos yang dipakainya dan memandangi langit-langit.
William tersenyum. Ia tak menyangka jika rasa cemburunya dipergoki oleh Jonathan. William malu sendiri.
"Alat translator ini bekerja. Padahal jarak Jonathan denganku sekitar 1 meter. Sensor tangkapan gelombang suaranya sangat bagus, sensitif sekali," ucap William mengagumi alat buatan Eiji dalam hati.
Tiba-tiba, muncul sosok yang tak disangka oleh mereka.
"Kau ikut kemari?" tanya Sia keheranan.
"Hem, aku tahu kau merindukanku, Kak," jawab Jordan dengan wajah datar.
Sia meringis, padahal bukan itu yang ingin dikatakannya. Mendadak, mansion Boleslav ramai sore itu.
Arthur dan Red sudah menyiapkan perlengkapan untuk tim William yang akan melakukan misi ke Guatemala.
Di ruang meeting.
__ADS_1
"Baiklah. Paman BinBin ditunjuk sebagai ketua tim dalam penelusuran atas tragedi Guatemala. Jadi, kerjasama tim akan sangat dibutuhkan dalam misi kali ini. Anggota tim kalian terdiri dari Paman BinBin, Jonathan, William, Sia, Torin, Jordan dan Arthur. Jumlahnya sama persis seperti saat itu, tujuh orang," ucap Red memimpin rapat.
"Hehe, seperti kembali ke masa lalu," celetuk BinBin tersenyum lebar.
"Baiklah. Arthur akan bertugas di bagian komunikasi. William, kau masih sakit, jadi kau ditunjuk oleh Tuan Boleslav sebagai sniper. Kemampuan menembakmu lumayan," ucap Red menatap William seksama dan mantan Agent CIA itu mengangguk pelan.
"Lalu Sia bagian perbekalan. Mungkin terlihat sepele, tapi ini penting untuk kelangsungan hidup teman dalam satu timmu. Kau juga ditunjuk sebagai bagian medis. Jumlah anggota tim terbatas, jadi kerja ganda. Kau tak masalah 'kan?" tanya Red kini meliriknya dan Sia mengangguk cepat.
"Good. Lalu Jonathan dan Jordan. Hmm, aku hanya menyampaikan pesan dari Tuan Boleslav. Kalian berdua diminta untuk melindungi tim. Jonathan harus terus bersama BinBin di barisan depan. Jordan dan Torin berada di barisan belakang. Torin bertugas bagian persenjataan. Axton yang memintanya, bukan aku," ucap Red menunjuk Torin dan lelaki itu tak mempermasalahkan hal tersebut.
Jonathan dan Jordan saling berpandangan. Keduanya terlihat malas dan memalingkan wajah.
Orang-orang yang melihat menghembuskan nafas pelan. Mereka khawatir jika dua remaja itu malah berselisih nantinya saat misi dilangsungkan.
"Dan William. Tuan Boleslav meminjamkan ini padamu. Ia minta agar barang ini dikembalikan dalam keadaan utuh, tak lecet sedikitpun. Jika kau bisa pulang dengan selamat bersama Sia dan Jordan, ia berjanji akan melepaskan kalung pemenggal di lehermu."
"Oh, benarkah? Terima kasih," ucap William lega karena kalung yang membelenggunya selama ini sebentar lagi akan terlepas, Sia terlihat senang.
Arthur lalu memberikan sebuah koper hitam dan meletakkan di samping William. Lelaki bermata biru itu terlihat penasaran dengan isinya. Sia membantunya membuka koper tersebut.
"Wah, kau beruntung, Bro Will. Itu kaki robot. Hmm, kau akan sangat terbantu. Ini buatan papa Kai atas permintaan ayah Nathan dulu," ucap Jonathan ikut memandangi kaki robot itu dengan senyuman.
"Kaki robot? Maksudmu ... jika aku menggunakan benda ini, aku bisa berjalan dengan normal lagi?" tanya William memastikan.
"Tergantung dari kondisi fisik penggunanya. Besok kau akan melakukan check up untuk melihat perkembangan dari kesembuhan patah tulangmu. Kita lihat hasilnya besok, jika bagus, kau bisa memakainya. Jika tidak, yah ... kau akan merepotkan kami pastinya," sahut BinBin terlihat malas sembari menyenderkan punggung di kursi dan melipat kedua tangan depan dada.
William terlihat kagum akan kaki robot yang baginya keren dan tangguh. Ia merabanya perlahan dan tanpa sadar, senyumnya terpancar.
"Tuan Boleslav percaya padamu, Will. Jangan kecewakan dia," ucap Arthur sembari menutup koper itu lalu menentengnya.
William mengangguk pelan. Ia tahu, jika orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads masih tak mempercayainya.
Arthur membawa koper itu dan akan memberikannya setelah Jeremy memutuskan, apakah William layak memakainya atau tidak dari hasil check up besok.
Malam harinya. Di ruang makan.
"Aku meminta bantuan pada Martin selama kalian bertugas di sana. The Shadow siap mengevakuasi kalian jika terjadi hal buruk. Yah, mungkin seperti kejadian tim Guatemala Komandan Zeno," ucap Red menginformasikan kepada orang-orang yang akan pergi beberapa hari lagi.
__ADS_1
"Kau menyumpahi kami tertangkap dan dihukum mati, Paman Red?" tanya Jonathan langsung meliriknya sadis.
Red dan lainnya terkekeh.
"Oleh karena itu, berhati-hatilah. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di sana. GIGA sudah melakukan penelusuran di tempat tersebut, lokasi misi tim Guatemala kala itu. Sebenarnya, tak ada yang berubah. Hanya saja, kawasan itu ditinggalkan, sepi tak ada kehidupan di sekitarnya. Ini bisa jadi pertanda baik karena tak perlu ada yang terluka dari pihak sipil," sambung Red sembari mengiris steak di piringnya.
Semua orang mengangguk paham. Malam itu, acara makan malam berlangsung dengan hikmat.
Usai makan, William dan Sia kembali ke kamar untuk beristirahat karena esok ia akan melakukan control check up.
"Sia, aku sangat penasaran dengan kaki robot. Aku tak pernah melihat hal semacam itu sebelumnya. Seperti film saja," ucap William terlihat bersemangat membayangkan dirinya memakai kaki robot.
"Hehe, kau membayangkan seperti RoboCop, begitu? Kau pasti akan terlihat keren, Sayang," ucap Sia memeluknya erat dengan senyum terkembang.
"Hem, jujur Sia. Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Kalian para mafia dalam jajaran 13 Demon Heads sungguh di atas rata-rata. Kalian memiliki segalanya. Kalian bagaikan sebuah negara dengan pemerintahan absolut. Senjata, teknologi, bahkan orang-orangnya pun memiliki keahlian khusus. Kalian sungguh hebat. Pantas militer dibuat gerah akan aksi kalian. Jika kalian tak menahan diri, aku yakin kalian sudah memporak-porandakan dunia bahkan mungkin melenyapkan negara hingga tempat itu menghilang dari peta."
Sia tertawa mendengar penilaian William akan orang-orang dalam jajarannya. Sia tak berkomentar karena baginya ucapan William benar.
"Aku juga awalnya tak tahu akan hal ini, Will. Bahkan sampai sekarang aku masih selalu dibuat terkejut akan hal-hal yang tiba-tiba muncul di hadapanku. Orang-orang dalam jajaran 13 Demon Heads bukan orang sembarangan. Lihat saja ayah tiriku, dia sangat berkuasa, kaya dan tentu saja ... dia mafia," ucap Sia menambahkan dan William mengangguk setuju.
"Sudahlah. Kita tidur saja. Aku harap, esok hasil check up bagus. Aku ingin sekali memakai kaki robot itu," ucap William memeluk Sia erat yang tidur di pelukannya.
Keduanya pun memejamkan mata dan tak lama tertidur lelap. Diam-diam, Jordan menguping pembicaraan sepasang suami isteri itu dari balik pintu.
Namun, ketika Jordan akan melangkah pergi, ia terkejut ketika mendapati Jonathan berdiri di lorong, menyender pada dinding sembari memakan keripik kentang dengan wajah tengilnya.
"Tau namanya timbilen gak? Jangan suka menguping dan jangan usik kehidupan mereka berdua, Jordan. Fokuslah pada misi kita," ucap Jonathan menasehati.
Jordan terlihat tak peduli. Ia berjalan begitu saja melewati Jonathan yang ikut cuek menatapnya yang berjalan di sampingnya dengan wajah datar.
"Patung es," ucapnya kesal dan kembali melangkah menuju ke kamar, bersebelahan dengan kamar Sia.
****
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST
__ADS_1